Arsip

Archive for the ‘Peluang Bisnis’ Category

Peluang Bisnis Salon Panggilan

Sudah lumrah wanita ingin selalu terlihat cantik dari ujung kepala sampai ujung kaki. Demi menjaga penampilan, mereka rela merogoh kocek dalam-dalam untuk merawat tubuh. Salon kecantikan menjadi tempat favorit kaum hawa memanjakan tubuh, mulai sekadar memotong rambut, creambath,luluran, spa, facial, hingga manicure dan pedicure.

Namun, tak semua orang memiliki banyak waktu luang agar bisa menyambangi salon. Kesibukan, kemacetan, atau malas antre menjadi alasan mereka ogah mampir ke salon. Gejala inilah yang tercium oleh sejumlah orang bernaluri bisnis. Mereka menawarkan jasa salon panggilan ke rumah.

Pangaduan Manurung, pemilik Duarte Salon, di Yogyakarta, salah seorang pengusaha kecil yang memanfaatkan situasi ini. Ia memulai usaha salon panggilan pada pertengahan 2008. Karena bosan menjadi pekerja di salon orang lain, dia menggandeng teman untuk membuka usaha ini. Keterbatasan modal mendorong mereka memilih jasa salon panggilan di awal usaha.

Usaha nekat itu maju pesat. perempuan yang biasa disapa Duan ini menyatakan bisa balik modal dalam tempo setengah tahun. “Keuntungan salon panggilan lumayan. Karena mengerjakan layanan sendiri, margin bisa mencapai 80%,” ujar dia.

Padahal, di lain sisi, Duan berani mematok tarif dua sampai tiga kali lipat lebih mahal ketimbang tarif normal di salon. Ambil contoh, dia memasang tarif potong rambut Rp 30.000, padahal tarif layanan serupa di salon hanya Rp 15.000.

Sekarang, sebagai juragan, Duan tidak lagi melayani pelanggan dari rumah ke rumah. Dia sudah mempekerjakan 20 orang karyawan. Meski begitu keuntungan wanita berumur 27 tahun ini tak lantas surut drastis. Omzet Duarte Salon dari jasa salon panggilan minimal Rp 15 juta per bulan. Dari omzet sebesar itu Duan harus membayar komisi bagi karyawan yang datang ke rumah pelanggan sebesar 30% serta biaya operasional, peralatan, dan bahan sekitar 40%. Ujung-ujungnya Duan masih bisa mengantongi laba 30% dari omzet per bulan.

Kelebihan lain bisnis ini, kata pemilik Salon ke Rumah, Melok Siti, adalah jam kerja fleksibel. “Kalau jadwal sudah penuh, permintaan bisa ditolak atau diatur ulang,” kata Melok yang memulai usaha ini di Jakarta sejak tujuh tahun silam.

Melok yang kini berusia mendekati kepala enam ini dibantu tiga orang asisten. Dari bisnis ini, omzetnya Rp 10 juta–Rp 11 juta sebulan dengan keuntungan antara 30%–35%. “Saya lupa sejak kapan balik modal,” ujarnya tersenyum.

Memulai bisnis ini tak melulu harus mengerti kecantikan atau perawatan tubuh. Loise Michelle, 30 tahun, bisa menjadi contoh. Semula pendiri Mobila Spa di Jakarta ini awam dengan dunia salon. Tapi, seorang teman yang berprofesi sebagai terapis mengajak Michelle dan suami membuka bisnis perawatan tubuh panggilan, Mei tahun 2008.

Agak berbeda dengan salon panggilan lain, Mobila Spa tak melayani jasa stylist, tapi perawatan tubuh, seperti pijat tradisional, pijat hamil, pijat bayi, lulur, dan refleksi. Saat ini Mobile Spa memiliki dua mes untuk menampung 20 terapisnya di Palmerah dan Cilandak.

Dengan jumlah pelanggan rata-rata 15–20 orang per hari, omzet Mobila Spa per bulan bisa mencapai Rp 50 juta. Pendapatan itu akan dipotong gaji terapis Rp 15 juta, gaji pembantu, sopir, dan operator Rp 6 juta, bahan-bahan Rp 1 juta. Dikurangi lagi sewa mes, kantor, serta biaya-biaya lain, seperti bensin, listrik, dan air. Biasanya keuntungan bersih yang bisa dikantongi Michelle mencapai 30% dari omzet.

Lain lagi dengan Dea Shanta Pariuri di Jakarta. Usaha perawatan tubuh panggilan miliknya, Dshome Spa, bukanlah bisnis utama. Awalnya, Dea adalah distributor alat pelangsing tubuh. “Saya melakukan kunjungan ke rumah karena pelanggan yang membeli alat itu malas melakukan sendiri,” urai Dea.

Dea pun memperluas layanan ke jasa rias dan salon panggilan. Omzet bulanan bisnis wanita berusia 30 tahun itu mencapai Rp 10 juta, sekitar 70% berasal dari jasa pelangsingan tubuh. Sayang, Dea enggan memberi tahu berapa keuntungannya. Tertarik? Nah, agar tak salah langkah, ada beberapa persiapan yang perlu Anda perhatikan.

Modal dan peralatan

Biaya terbesar membuka salon kecantikan terletak pada sewa gedung. Karena itu, modal salon panggilan lebih enteng karena usaha bisa dijalankan dari rumah, tanpa perlu menyewa tempat.

Tapi, tentu saja, Anda tetap harus menyediakan peralatan utama sesuai jasa yang Anda tawarkan. Ambil contoh, agar dapat memberikan layanan potong rambut, Anda perlu membeli satu set alat menggunting rambut. Demikian pula dengan alat catok atau pelurusan, pewarnaan, sampai hair extension. Peralatanmake up lengkap juga harus ada untuk jasa rias. Adapun untuk perawatan, perlengkapan dibutuhkan untuk lulur, facial, pijat, totok, dan refleksi. Handuk badan, handuk rambut, dan kain juga harus tersedia.

Duan mengeluarkan modal Rp 10 juta untuk membeli peralatan rambut dan make up. “Saya membeli peralatan dan make up yang bagus agar hasilnya bagus dan pelanggan puas. Jadi agak mahal,” jelas dia.

Adapun modal awal Michelle Rp 15 juta. Sebagian besar dialokasikan ke sewa rumah dan mencicil sepeda motor. “Karena mobile, terapis butuh kendaraan untuk menyambangi pelanggan,” urainya.

Keahlian & layanan

Hal lain yang perlu diperhatikan di bisnis ini adalah keahlian dan layanan yang diberikan. Kalau tidak punya keahlian, sebaiknya Anda memiliki pengetahuan soal kecantikan dan perawatan tubuh. Jadi, Anda bisa menyeleksi dan mendapat pekerja yang betul-betul ahli.

Soal layanan, semakin beragam yang bisa Anda berikan, peluang mendapat banyak pelanggan pun semakin besar. Duan bilang, pelanggan biasanya tidak cuma sekadar ingin potong rambut. “Mereka juga ingin mendapatkan layanan yang lengkap sama seperti kalau mereka datang ke salon biasa,” ujarnya.

Duan sendiri selain menyediakan jasa potong rambut, juga creambath, pelurusan rambut, pewarnaan rambut, hair extension, manicure-pedicure, facial, rias wajah, pijat, dan lulur.

Salon ke Rumah milik Melok juga menyediakan layanan yang sama. Tapi, dia menambah dengan layanan masker dan totok wajah. Spesialis Melok lainnya adalah rias pengantin. “Biasanya pelanggan mengambil paket, facial, masker, lulur, dan totok wajah,” tambah dia.

Di Mobila Spa, beragam jenis perawatan tubuh disediakan. Mulai dari pijat, lulur biasa, sampai body butter, body mask, dan body scrub. Layanan lain, face accupressure, spa anak, ratus, pijat bayi, pijat kehamilan, dan refleksi.

Adapun Dshome Spa milik Dea menawarkan tiga jenis layanan, yaitu paket slimming, salon, dan rias pengantin. Untuk paket salon, jenisnya sama dengan salon lain. Tapi salon ini punya tambahan, yakni ear candle therapy atau pembersihan telinga.

Karena tarif yang relatif lebih mahal ketimbang salon biasa, segmen salon dan perawatan tubuh panggilan ini biasanya kalangan menengah atas. Soal harga mereka tidak terlalu mempersoalkan. Makanya, para pemilik salon panggilan ini sepakat bahwa pelayanan berkualitas menjadi syarat utama keberhasilan. “Jangan lupa ketepatan waktu kita datang ke rumah pelanggan,” kata Dea.

Target pasar

Umumnya, para pemilik salon panggilan ini mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Pelanggan yang puas dengan layanan mereka biasanya akan merekomendasikan ke teman atau saudara mereka.

Sarana promosi lain adalah internet. Kebanyakan dari pelaku usaha ini memiliki website sendiri untuk mempromosikan usaha mereka. Walau cukup membantu, tapi menurut para pemilik bisnis ini, yang paling manjur tetap promosi berantai dari pelanggan mereka.

Tapi, demi efisiensi waktu dan biaya, mereka tetap membatasi wilayah operasional. Michelle, misalnya, hanya melayani wilayah order si seputar Jakarta Selatan. Jangkauan operasi Molek lebih luas lagi, yakni wilayah Jakarta dan sekitarnya, termasuk Tangerang. Nah, Dea lebih fokus, membidik para penghuni apartemen di Jakarta.

Nah, kalau kini sudah merasa paham seluk-beluk bisnis ini, Anda bisa memulainya segera. Selamat mencoba dan semoga beruntung. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Modifikasi Mobil

Meski kontes modifikasi mobil mulai jarang digelar, bisnis seputar bodywork atau modifikasi badan mobil tetap menyimpan potensi pendapatan yang menggiurkan. Tak salah jika pemain baru maupun lama sama-sama menumpahkan kreasinya demi meraup untung.

Pada awal dekade 2000-an, bisnis bodywork atau pengerjaan bodi mobil sempat naik daun. Ini berkat banyaknya event atau kontes modifikasi mobil. Para modifikator banyak meraup untung setelah menggarap permintaan modifikasi. Maklum, para pemilik mobil rela merogoh kantong hingga ratusan juta rupiah agar bisa memiliki kendaraan yang elok dan terlihat berkelas.

Seiring perjalanan waktu, kontes modifikasi mobil mulai jarang digelar. Meski kontes meredup, bisnis modifikasi bodi mobil tidak pernah kesepian permintaan. Bedanya, kini bengkel modifikasi lebih fokus menggarap modifikasi mobil untuk keperluan sehari-hari.

Contohnya adalah modifikasi badan mobil dengan pemasangan komponen body kit. Body kit merupakan komponen tambahan modifikasi yang dilekatkan atau dipasang pada bagian bumper depan, bemper belakang, serta badan mobil bagian samping.

Proses pengerjaannya berbeda dengan modifikasi untuk kontes. Pada ajang ini, modifikasi tak sekadar menambah komponen body kit, namun juga mengubah bentuk badan mobil sesuai dengan konsep dan desain yang diinginkan. Otomatis, harga modifikasi mobil untuk kontes jadi lebih mahal.

Menurut Siswo Juwarno, pemilik bengkel modifikasi Auto Art, modifikasi mobil secara menyeluruh atau ekstrem tak hanya untuk keperluan kontes. Sebab, modifikasi badan mobil adalah karya seni hasil kreativitas modifikator yang dapat dinikmati oleh siapa pun. Tak terkecuali pemilik mobil, yang tidak bertujuan kontes.

Ia menambahkan, anggaran modifikasi badan mobil secara ekstrem memang cukup besar. Biaya modifikasi yang harus mengucur dari kantong pemilik mobil mulai dari Rp 300 juta per unit. “Saya hanya mengakomodasi orang-orang yang berniat dan menghargai kreativitas,” tukas Siswo.

Dengan biaya sebesar itu, dia tidak pernah bermain-main dalam menggarap modifikasi mobil. Auto Art dapat melakukan modifikasi ekstrem untuk mobil jenis apapun. Sehingga, terlihat seperti mobil mewah berkelas dunia, layaknya Lamborghini, Ferrari, atau Porsche.

Sedangkan untuk modifikasi ringan, Auto Art yang terletak di kawasan Jatibening, Bekasi ini, mengenakan tarif antara Rp 6 juta sampai Rp 60 juta per unit. Biaya itu untuk pemasangan body kit berbahan fiber dan besi.

Siswo enggan memaparkan besarnya omzet bulanan yang diraih. Yang jelas, dia mengaku, dapat mengerjakan modifikasi sebanyak 45 unit mobil dalam satu tahun atau rata-rata tiga unit mobil sebulan. “Komposisi jumlah modifikasi ringan dan ekstrem cukup seimbang, sekitar 50:50,” ujarnya.

Margin sampai 30%

Seperti halnya Siswo, Aldy Antonius di bengkel SAS Bodywork mengatakan bahwa permintaan pemasanganbody kit tidak pernah sepi. Misalnya, modifikasi ringan terutama digunakan untuk keperluan berkendara sehari-hari, sehingga mobil tampak lebih elegan dan menarik.

Bengkel yang terletak di Warung Buncit, Jakarta Selatan ini telah meraih berbagai piala. Terakhir kali, hasil modifikasi garapan SAS Bodywork meraih penghargaan kategori Tomb Rider atau mobil modifikasi yang dimiliki perempuan pada ajang Autoblackthrough 2009. “Kami mengerjakan mobil Honda Jazz keluaran tahun 2007,” katanya.

Tiap bulan, Aldy dapat meraup omzet rata-rata antara Rp 40 juta sampai Rp 50 juta dari pembuatan body kit. Dari omzet itu, dia bisa mengantongi keuntungan bersih sebesar 30%.

Menurut Aldy, modifikasinya disukai pelanggan karena memiliki ciri khas desain yang elegan. Apalagi body kit yang dikerjakan untuk keperluan harian lebih simpel dan nyaman tanpa mengganggu fungsi berkendara.

Di sisi lain, dia melihat, sepinya pelaksanaan kontes modifikasi mobil lebih disebabkan faktor kemampuan finansial pemilik mobil yang menurun. “Pelanggan akan berpikir sebelum mengeluarkan uang, jika pemasangan body kit terlalu tinggi. Beda dengan awal tahun 2000-an,” katanya.

SAS menawarkan dua jenis body kit.

Pertama, body kit custom dengan bahan pelat galvanis setebal 8 milimeter (mm). Tarif minimalnya Rp 10 juta, dengan lama pengerjaan sekitar tiga pekan. Menurutnya, harga setinggi itu cukup sepadan untuk dua pelat galvanis 8 mm sepanjang 1,6 meter dan lebar 80 cm, yang digunakan untuk sekali pembuatan body kit custom standar. Pasalnya, harga bahan baku selalu naik tiap tahun. “Kenaikan bahan baku kami bebankan ke tarif pengerjaan, karena kami tak mau menurunkan kualitas bahan,” imbuh Aldy.

Kedua, body kit berbahan fiber. Tarif pengerjaan untuk body kit ini minimal Rp 7 juta. Jenis ini lebih murah, karena proses pengerjaannya tak terlalu rumit. Waktu pengerjaan juga lebih cepat, hanya sekitar dua pekan. “Lebih cepat dan mudah, karena sudah ada cetakannya. Jadi tinggal setting dua hari dan mobil tak perlu ditinggal,” papar Aldy.

Di sisi lain, hampir 80% pelanggan SAS berasal dari Jakarta Selatan. Karenanya, Aldy sedang mencari lokasi bengkel baru. Selain untuk mendekatkan lokasi ke pelanggan lainnya, juga untuk mencari tempat lebih luas bagi pengembangan usahanya. Maklum, tak jarang pelangganya datang dari luar kota, seperti Bandung.

Plastik atau fiber

Meski tak semahal modifikasi ekstrem untuk kontes, setidaknya modifikasi sederhana dengan body kitcukup menguntungkan. Ricki Sen, pemilik Victory Auto, mengatakan bahwa kini modifikasi jenis ini cukup ramai.

Sejak setahun lalu dia menjual body kit berbahan dasar plastik untuk mobil keluaran Jepang. Banyaknya jenis mobil keluaran negara Sakura ini menjadi target pangsa pasar yang empuk baginya.

Victory Auto, yang berlokasi di Kelapa Gading, Jakarta Utara, ini mampu meraup omzet rata-rata Rp 25 juta per bulan. Omzet ini berasal dari penjualan body kit sebanyak 10 set per bulan. Jumlahnya akan bertambah pada musim setelah Lebaran atau mendekati pergantian tahun. Saat itu dia bisa menjual sekitar 50 set body kit saban bulannya.

Selain pasar yang besar, dagangan Ricky lebih laris karena harganya lebih murah. Satu set body kit plastik dijual seharga Rp 2,5 juta hingga Rp 8 juta tergantung ketebalan plastik.

Ricky mengatakan, dia lebih suka menggunakan body kit berbahan plastik karena bahan fiber terlalu fleksibel. Akibatnya, bentuknya mudah berubah jika terkena panas sinar matahari.

“Daripada diprotes pelanggan, lebih baik menjual yang plastik. Bahannya lebih kuat selama tidak terjadi benturan,” kata dia. Body kit berbahan plastik bisa tahan hingga tiga tahun.

Namun, bagi Soni, pemilik Cipta Karya Fiberglass, produsen sekaligus penjual body kit mobil, bahan fiber lebih disukai. Alasannya fiber lebih fleksibel sehingga mudah dibentuk sesuai dengan keinginan pelanggan.

Body kit fiber juga sudah familiar di masyarakat. Apalagi, kisaran harganya tak setinggi body kit berbahan plastik. Soni menjual produknya sekitar Rp 200.000 sampai Rp 5 juta. “Harga tergantung kesulitan desain,” imbuhnya.

Namun, bengkel body kit Soni yang terletak di daerah Pamulang, Tangerang, itu belum meraup omzet yang besar. Soni mengaku, omzet dari penjualan body kit rata-rata Rp 10 juta sebulan.

Selain belum terlalu lama bergelut di bisnis modifikasi, jenis mobil yang dia kerjakan juga mempengaruhi omzet. Sejak berdiri, Cipta Karya memang fokus memodifikasi mobil dengan body kit untuk mobil produksi Korea Selatan. Padahal, jenis mobil ini belum terlalu banyak beredar di jalan-jalan di Indonesia. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Cangkang Kerang

Kerang tidak cuma enak disantap. Bagi sebagian orang, rumah kerang yang biasa disebut cangkang juga barang yang layak dikoleksi. Asal Anda tahu, harga cangkang kerang bisa terbang seperti layaknya collectible item.

Jika Anda masih meragukan nilai ekonomis setangkup cangkang, simak saja pengalaman tak enak Widodo Latip. Pria yang mengoleksi cangkang sejak 1990, saat masih berusia 25 tahun, ini pernah dikejar-kejar Federal Bureau of Investigation (FBI) dan polisi New York, beberapa tahun lalu. Latip dituding menadah kerang jenis Chimaera incomparabilis yang dimiliki American Museum of Natural History New York. Asal tahu saja, jumlah kerang jenis ini dengan ukuran diameter 66,3 mm hanya ada empat–lima biji di dunia. Akibatnya, satu cangkang bisa seharga US$ 20.000.

Belakangan, Latip berhasil membuktikan kepada para penegak hukum Negeri Paman Sam bahwa koleksinya berbeda dengan kerang milik museum yang hilang. Latip juga menyodorkan bukti transaksi yang sah, sehingga lolos dari tudingan. “Saya membeli kerang itu resmi dari kolektor bernama Ted Baer,” tutur Widodo.

Memang, tak semua cangkang kerang semahal Chimaera koleksi Widodo. Jenis kerang yang bisa berlari kencang tentu kelompok kerang yang jumlahnya langka. Sekadar menyebut nama familia kerang langka nan mahal itu, antara lain Pleurotomaria, Cypraidae, Muricidae, Conidae, dan Volutidae.

Jika Anda tertarik mengoleksi cangkang kerang, informasi awal bisa Anda cari dari sesama kolektor. Di Indonesia, wadah yang menghimpun para penggemar kerang adalah Solaris Shell Club (SSC). Para anggota kelompok ini sering mengadakan pameran bareng. Bahkan, para anggota SSC kerap hunting bareng cangkang kerang sampai ke pulau-pulau kecil.

Banyak rujukan penambah pemahaman koleksi maupun investasi kerang. “Bisa kita lihat dihttp://www.ofseaandshore.com atau buku katalog karangan Tom Rice,” ujar George Hadiprajitno, Ketua SSC. Isi buku Rice adalah seluruh kerang jenis moluska, laut maupun darat, beserta harga wajarnya. Itu sebabnya, buku yang diperbarui setiap enam bulan sekali itu merupakan pegangan wajib bagi mereka yang ingin berdagang cangkang kerang. Rice mengumpulkan harga dari berbagai balai lelang maupun diler penjual kerang.

Rice menuliskan dengan cukup detail, misalnya nama familia, kelas, sub-kelas, spesies, kapan penemuannya, dan siapa penemu pertamanya. Di katalog tersebut dia juga menunjukkan peringkat yang menjelaskan kondisi setiap kerang.

Ambil contoh peringkat F untuk fine, yang berarti cangkang dalam kondisi bersih dan warnanya tidak pudar. Berikutnya, peringkat F++ untuk kualitas bagus dan mendekati sempurna. Di atasnya adalah G untuk cangkang yang memiliki kualitas gem alias sempurna.

Kendati negara kepulauan, Indonesia belum pernah menggelar lelang cangkang kerang. Kebanyakan kolektor moluska negeri ini berbelanja di lelang yang berlangsung di Amerika Serikat atau Filipina.

Di masa digital seperti sekarang, lelang cangkang kerang juga bisa diikuti secara online dengan mengakses alamat http://www.shellauction.net. Situs tersebut akan menghubungkan Anda dengan diler penjual ataupun pembeli.

Tapi, George menyarankan mereka yang baru akrab dengan jagat cangkang melakukan transaksi tatap muka secara langsung. Jadi, bisa menyaksikan secara langsung corak warna, pahatan, dan lekukan cangkang.

Harga bisa anjlok

Seperti layaknya investasi, koleksi kerang juga menyebar risiko. George menceritakan, pernah sekali harga kerang di pasar internasional anjlok dari kisaran US$ 1.000 sampai US$ 3.000, menjadi cuma US$ 30. “Penyebabnya tak lain karena tiba-tiba ada penemuan kerang berjenis sama dalam jumlah banyak,” kata George, tanpa memerinci jenis kerang yang mengalami penurunan harga.

Widodo menyarankan, kolektor kerang tak perlu buru-buru menjual kerang di saat harga naik tinggi. Adapun George menyarankan kolektor melakukan one on one meeting dengan pembeli untuk mendapatkan harga yang lebih baik.

Jika menyimak penuturan para kolektor kerang kelas kakap, seperti Widodo atau George, memutar uang di cangkang kerang memang tak mudah. Harus ada rasa suka alias hobi dan niat mengoleksi. “Beruntung kalau mendapatkan return yang bagus,” kata Widodo.

Dari sejumlah kerang milik Widodo, banyak yang memang mengalami kenaikan harga. Terutama koleksi yang dibeli Widodo di sekitar 1998–1999. Saat harga dolar cuma Rp 2.500, Widodo sempat membeli kerang seharga US$ 10.000. Tapi, Widodo hanya tersenyum ketika di tanya berapa besar gain yang ia dapat dari kerang koleksinya. “Saya hanya untung dari selisih kurs,” ujar Widodo dengan nada merendah.

Koleksi kerang Widodo terbilang gemerlap. Tengok saja, selain memiliki Chimaera incomparabilis, Widodo juga mengoleksi Conidae conus primus yang hanya ada empat biji di dunia. Harga kerang langka itu US$ 20.000. Ada juga Pataovula horohitoi yang berasal dari wilayah perairan Filipina. Kerang berukuran 5,6 mm itu ditaksir berharga US$ 1.000.

Kini jelas, tak mudah meraih gain dari investasi kerang. Anda masih berminat menyemai dana ke kerang? (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Souvenir Kain Flanel

Kain flanel kini banyak digunakan sebagai bahan pembuat suvenir. Tak hanya boneka, bentuk lain seperti bingkai foto dan ikat rambut bisa dibuat dari bahan ini. Karena unik dan menarik, kerajinan dari flanel kian diminati. Salah satu perajinnya di Solo meraup omzet Rp 15 juta setiap bulan.

Kain flanel dulu dipandang sebelah mata sebagai bahan pakaian. Tapi, kini kerajinan dari kain flanel kian berkembang. Banyak kerajinan tangan yang bisa dihasilkan dari kain jenis ini.

Misalnya boneka, ikat rambut, dan bingkai foto. Selain itu, salah satu produk kerajinan kain flanel yang saat ini digemari adalah bros dan magnet pintu kulkas.

Eka Dewi, seorang produsen suvenir dari bahan flanel di Solo, Jawa Tengah, bilang, saat ini produk suvenir dari bahan kain flanel banyak dicari. Selain digunakan sendiri, kerajinan ini bisa juga dijadikan suvenir acara pernikahan.

Dalam sebulan, Eka menjual minimal 500 buah produk berbahan flanel. Mulai dari bros, gantungan kunci, dan magnet. Tidak hanya dari Solo, permintaan datang dari Jakarta hingga kota-kota di Sumatra.

Eka menjual produknya dengan harga Rp 1.500 hingga Rp 4.000 per unit. Harga tersebut mengacu pada ukuran dan tingkat kerumitan bentuk. Untuk suvenir pernikahan, dia menjualnya lebih murah, yaitu sekitar
Rp 2.500. “Total pendapatan sebulan bisa mencapai Rp 15 juta,” imbuhnya.

Wenni Nurfi, pemilik toko Wennies Flanel di Yogyakarta, mengatakan biasanya produsen suvenir kain flanel akan mengalami peningkatan penjualan saat liburan sekolah dan musim hujan.
Mengapa musim hujan? Dia menjelaskan, pada musim itulah banyak orang yang menggelar pernikahan sehingga pesanan pernik untuk suvenir meningkat.

Saat musim seperti itu, penjualan Wenni akan meningkat dari biasanya 500 buah suvenir flanel menjadi 800 buah sebulan. Bahkan, hingga pertengahan bulan ini pesanannya sudah mencapai 300 buah. Wenni menjual suvenir dari kain flanel jenis gantungan kunci dan magnet dengan harga Rp 1.500-Rp 2.000 per buah.

Lantaran setiap bulan permintaan bentuk suvenir berubah-ubah, maka kapasitas produksi workshop Wennies Flanel juga berubah. “Yang paling rumit jika bentuknya tidak bisa dijahit dengan satu pola,” ujar dia. Seperti gajah, yang kepala dan badannya harus dijahit secara terpisah. Lain halnya jika suvenir berbentuk bunga, yang bisa dikerjakan langsung dengan satu pola, sehingga proses pengerjaannya lebih cepat.

Bisnis suvenir dari kain flanel yang cukup menjanjikan ini juga menarik minat Atik Savitri. Sudah setahun ini, mahasiswi Universitas Airlangga, Surabaya ini membuat kerajinan dari kain flanel ini.

Meski terbilang baru, Atik sudah mampu menjual berbagai produk kain flanel hingga ke luar Surabaya. Seperti Jakarta, Batam, Yogyakarta, hingga kota-kota lain di Kalimantan. “Semua kerajinan dari kain flanel saya bisa kerjakan,” katanya, berpromosi.

Untuk ouvenir berupa bros, Atik menjualnya dengan harga Rp 1.800 per unit. Dalam sebulan, dia bisa menjual hingga 250 buah bros. “Kalau pesanan di atas 50 pieces, biasanya saya minta batuan teman-teman di kampus,” tuturnya. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Kubah Masjid

Usaha pembuatan kubah masjid di negeri ini sudah ada sejak puluhan tahun lampau. Belakangan, usaha ini makin berkembang seiring dengan maraknya proyek pembangunan dan renovasi rumah ibadah umat muslim di berbagai daerah. Seorang produsen kubah masjid bisa meraup omzet Rp 50 juta per bulan seiring peningkatan permintaan kubah masjid.

Kubah identik dengan masjid, tempat beribadah umat Islam. Kehadiran kubah di atap masjid juga memperelok bangunan masjid. Banyak masjid berdiri pertanda kesadaran beribadah makin meningkat. Nah, bagi para pengusaha kubah, banyak proyek masjid pertanda rezeki makin lancar.

Dengar saja penuturan Afifudin Hidayat, salah seorang perajin kubah masjid. Pria yang akrab disapa Afif itu menekuni usaha pembuatan kubah masjid sejak tahun 1995. Bendera usahanya adalah CV Sinar Surya Abadi di Sidoarjo, Jawa Timur.

Sebelum menekuni usaha pembuatan kubah, dia pernah mendirikan rumah industri pembuatan peralatan rumahtangga dari bahan pelat baja tahan karat (stainless), seperti pembuatan panci, wajan, dan perkakas rumah tangga lainnya.

Dalam perjalanannya, Afif mendapat pesanan dari salah satu pelanggannya untuk membuat kubah masjid. Sejak itulah, dia mulai melirik bisnis kubah.

Awalnya, pria berusia 45 tahun ini hanya menerima pesanan dari pelanggan di sekitar Sidoarjo. Pesanan kubah pun makin bertambah, apalagi Afif sering mengajukan proposal penawaran kubah ke proyek pembangunan masjid. “Permintaannya datang dari seluruh Indonesia,” imbuh dia.

Sekarang, dalam sebulan, Sinar Surya Abadi rata-rata menerima lima permintaan pembuatan kubah dengan bentuk, ukuran, bahan baku, dan motif yang berbeda-beda. Dari usaha ini, Afif bisa mengantongi omzet sekitar Rp 50 juta per bulan.

Biasanya, Afif dan 15 orang karyawannya membuat kubah dengan diameter 10 meter-17 meter (m). Kubah itu dijual dengan harga berkisar Rp 20 juta hingga
Rp 150 juta per unit. “Harganya bisa lebih mahal jika ditambah dengan desain bentuk dan motif yang rumit,” jelasnya.

Afif memberi contoh, dia pernah membuat kubah ukuran raksasa dengan ornamen tulisan kaligrafi di dalamnya. Pengerjaan kubah itu memakan waktu hingga sekitar dua bulan. Beberapa contoh kubah karya Afif saat ini menghiasai atas Masjid Agung Balikpapan di Kalimantan Timur, serta masjid di salah satu politeknik di Semarang, Jawa Tengah.

Pelaku usaha lainnya yang juga tergiur mendulang rezeki dari bisnis kubah adalah Juriani Rizki di Kendal, Jawa Tengah. Dengan bendera usaha Kuncup Abadi, dia baru mulai menekuni usaha ini pada tahun 2006.

Berbeda dengan Afif, Juriani mengaku, bisnisnya masih dalam tahap pengembangan. Maklum, pria berusia 52 tahun ini masih menganggap bisnis pembuatan kubah sebagai usaha sambilan. Profesi utamanya adalah bertani. Karena itu, Juriani tidak terlalu gencar menawarkan kubah ke berbagai proyek pembangunan masjid. Pelanggannya pun masih terbatas dari proyek-proyek masjid di daerah Kendal.

Selain menganggap sebagai usaha sampingan, Juriani belum mengembangkan bisnis kubah masjid karena modal promosi ke berbagai daerah masih minim.

Kendati hanya usaha sampingan, hasil berbisnis kubah masih lumayan. Sebulan, Juriani mengklaim mampu memenuhi permintaan pembuatan kubah tiga hingga 10 unit.

Harga jual kubah produksi Kuncup Abadi bervariasi, mulai dari Rp 175.000 per unit dengan diameter 60-70 cm, hingga Rp 150 juta per unit untuk kubah berdiameter 20 meter. Setiap bulan, Juriani bisa meraup omzet sekitar Rp 10 juta.

Dia selama ini kerap mendapat order pembuatan kubah kecil dengan nilai pas-pasan saja. “Pemesan kubah dengan nilai proyek besar mungkin sekitar dua tahun sekali,” katanya.

Sebelum memulai proses pembuatan kubah, biasanya Juriani melakukan survei lokasi terlebih dahulu. Tujuannya agar dia bisa berdiskusi dengan kliennya tentang bentuk, bahan, dan ukuran kubah yang cocok dengan ukuran masjid. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Safety Shoes

Januari 5, 2011 1 komentar

Tak kalah dengan produk impor, kini pemilik pabrik atau proyek ikut melirik sepatu pengaman atau safety shoes produksi dalam negeri. Selain harga lebih murah, produsen lokal telah merilis produk berkualitas yang mampu bersaing dengan produk asing. Bahkan, mereka ingin mengembangkan produk yang dapat diserap oleh masyarakat umum.

Untuk mengurangi berbagai risiko saat bekerja di pabrik atau lokasi proyek, banyak pemilik pabrik yang mewajibkan para pekerjanya memakai sepatu khusus industri atau safety shoes. Dengan menggunakan sepatu ini, risiko kaki cedera ketika bekerja di lokasi pabrik bisa diminimalisir.

Ada beberapa merek terkenal safety shoes, seperti Caterpillar atau Kings, yang telah membanjiri pasar domestik. Sayangnya, banderol harga merek-merek terkenal masih cukup tinggi.

Padahal, potensi pasar sepatu jenis ini cukup tinggi. “Permintaan dari pelaku industri tak pernah surut,” ujar Andri Topan, pemilik merek Topan Safety Shoes.

Tak heran, para produsen lokal pun menangkap peluang pasar itu. Apalagi ada celah untuk menyediakan safety shoes dengan harga miring.

Kini, produsen sepatu lokal juga mengembangkan produk sepatu pengaman yang berkualitas. Mereka menawarkan harga yang jauh lebih rendah dari sepatu impor.

Mayoritas produsen yang masih mengandalkan pembuatan secara hand made ini menawarkan harga antara Rp 125.000 sampai Rp 155.000 per pasang. Dari penjualan sepatu itu, mereka bisa meraup keuntungan bersih 20% hingga 25% dari nilai omzet bulanan.

Salah satu produsen sepatu pengaman ini adalah Mochammad Mahrus. Produsen yang berlokasi di Surabaya ini mengaku, telah lama menggeluti bisnis pembuatan sepatu pengaman. Hanya saja, dia baru menggunakan merek sendiri sejak bulan Agustus tahun ini.

Merek yang diusung oleh Mahrus adalah Wreckers Safety Shoes. Meski baru seumur jagung, ia telah menuai banyak pesanan dari perusahaan kelas menengah yang terletak di beberapa daerah. Di antaranya, dari Palembang, Surabaya, Pangkalan Bun, Samarinda, serta Merauke.

Meski produknya laris, Mahrus tak berpuas diri. Pasalnya, pengembangan model sepatu tak pernah berhenti. Selain itu, ia menyadari perlunya peningkatan standar kualitas produk safety shoes Wreckers. Sehingga lebih mudah diserap pasar.

Tiap hari, Mahruf dengan enam pekerjanya, mampu memproduksi sebanyak 50 hingga 75 pasang sepatu. Sedangkan saban bulan ia menghabiskan bahan kulit sapi hingga 3.750 kaki. “Itu dihitung dari kebutuhan bahan kulit tiap pasang sepatu antara 2,5 kaki sampai 3,5 kaki,” ujarnya.

Dengan menjual sebanyak 2.500 pasang sepatu setiap bulannya, Andri bisa mengumpulkan omzet sekitar Rp 500 juta hingga Rp 600 juta. Maklum, beberapa perusahaan sudah menjadi pelanggan tetapnya. Mereka memesan sepatu setiap enam bulan sekali. “Karena siklusnya seperti itu. Masa penggunaan sepatu untuk keperluan pabrik cenderung cepat,” imbuhnya.

Andri menjual sepatu pengaman ini dengan kisaran harga Rp 125.000 hingga Rp 155.000 per pasang. Dari sekitar 32 model yang ditawarkan, lanjut dia, sepatu pengaman tinggi atau boot menjadi model favorit. tiap bulan, 23 pekerja Topan Safety Shoes yang berlokasi di Bandung itu, menghabiskan sekitar 6.000 sampai 7.000 kaki kulit kerbau sebagai bahan pembuatan sepatu. “Kulit kerbau saya datangkan dari wilayah Jawa Barat,” paparnya.

Rencananya, Andri juga ingin memperluas pangsa pasar lewat pengembangan model sepatu pengaman. Ia ingin memberi sentuhan desain layaknya sepatu kasual yang dapat diterima masyarakat luas. “Ada beberapa sepatu model baru yang akan keluar yang cenderung menyasar ke anak muda,” kata dia. Jadi, target pasarnya tidak terbatas pada industri saja.

Kini, mayoritas konsumen sepatu Topan Safety Shoes merupakan perusahaan atau pemilik pabrik yang tersebar di Jakarta, Bandung, dan Pekanbaru. “Kalau ritel selain di Jakarta dan Bandung, saya juga memasukkan produk di Pekanbaru,” ucapnya. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Kemitraan Pisang Goreng

Bisnis kuliner memang tidak ada matinya. Inovasi produk serta cita rasa yang terus dikembangkan oleh para pelaku usaha boga mampu terus menggairahkan sektor usaha ini.

Ceruk pasar bisnis makanan selalu ada, sejalan dengan permintaan yang terus meningkat. Apalagi, jika makanan yang ditawarkan sudah akrab dengan lidah masyarakat Indonesia. Maka bisnis itu mampu membangun tren, layaknya di dunia mode.

Salah satunya adalah camilan pisang pasir. Kudapan pisang yang digoreng dengan adonan tepung yang renyah dan gurih ini tiba-tiba begitu populer di tanah air pada tahun 2005. Selain harganya murah dan gampang diperoleh, penyajian pisang goreng dengan berbalur tepung ini terbilang baru saat itu.

Bahkan, banyak pemodal yang menawarkan konsep kemitraan sebagai jalan pintas untuk mereguk keuntungan yang lebih cepat. Karena banyak yang sekadar memanfaatkan situasi, tak sedikit pemain yang bertumbangan di tengah jalan lantaran manajemen yang tidak kokoh.

KONTAN pun sempat mengulas sejumlah kemitraan pisang pasir sejak booming usaha ini lima tahun lalu. Dalam tulisan kali ini, KONTAN akan menyajikan potret kondisi terkini kemitraan pisang pasir yang pernah diulas sebelumnya.

Pisangku

Merek pisang pasir Pisangku milik Wildan ini berdiri pada Februari 2006. Baru lima bulan gerai pertama berdiri, dia langsung menambah empat gerai lagi. Bersamaan dengan itu, ia mulai menawarkan kemitraan.

Paket kemitraannya cukup mahal, yakni senilai Rp 375 juta. Waktu itu baru satu mitra yang menjajal kemitraan dengan Pisangku. Dalam perjalanannya, Wildan tak puas dengan kinerja si mitra dan mengambil alih kembali kemitraan tersebut.

Sejak itu, Wildan tak lagi menawarkan kemitraan kepada masyarakat. Salah satu alasannya, kemungkinan paket kemitraan yang ditawarkan terlampau mahal.

Meski begitu, ia tetap membuka cabang sendiri. “Sekarang saya sudah memiliki 15 cabang yang penjualannya masih tetap bagus,” katanya.

Agar kejadian itu tak terulang, Wildan sedang meracik resep kemitraan baru yang lebih murah dengan konsep berjualan di sepeda motor. Mitra juga tidak harus memasak, tinggal menjual pisang matang darinya. “Targetnya akhir tahun ini akan saya luncurkan,” ujarnya.

Ta B’nana

Erry Ashok membuka gerai pertama Ta B’nana pada tahun 2005. Dalam dua hingga tiga tahun, gerai Ta B’nana tumbuh sangat cepat melalui sistem kemitraan.

Ketika KONTAN mengupas bisnis kemitraan pisang goreng ini pada bulan Februari 2008, gerai Ta B’nana sudah mencapai lebih dari 30 gerobak dan kios.

Namun, saat ini jumlah gerai tersebut merosot drastis. Erry mengatakan, saat ini hanya ada sekitar 10 gerai yang tersisa. Padahal, nilai investasi gerai berkonsep gerobak hanya sebesar Rp 7,5 juta.

Sebaliknya, “Yang bertahan justru yang mengambil konsep kios dengan investasi Rp 17,5 juta,” imbuhnya.

Erry memperkirakan, banyaknya gerai yang tutup ini lantaran para mitra hanya coba-coba membuka usaha. Nilai investasi yang kecil ini juga membuat mitra tidak merasa rugi meskipun menutup gerainya.

Dia mengatakan, saat ini tidak lagi menawarkan kemitraan Ta B’nana. “Saya lebih konsentrasi untuk mengembangkan produk turunan pisang goreng, seperti bananafries, bananapop, dan bananamia,” tandasnya.

Pisang Goreng Planet

Antonius Dendron menjalankan Pisang Goreng Planet pada akhir tahun 2006. Ketika KONTAN mengulas usahanya dua tahun lalu, sudah ada 32 gerai yang berdiri. Saat ini, gerainya terus bertambah hingga 80 gerai.

Walaupun masih menawarkan kemitraan, Antonius mengakui penambahan gerainya mulai melambat. Bahkan, ada sekitar 10 mitra gulung tikar, karena salah memilih lokasi. Saat ini, paket kemitraan Pisang Goreng Planet dijual dengan harga Rp 6 juta.

Agar mitra yang masih berjalan tidak ikut tutup, ia fokus mengontrol agen-agen yang berwenang mengelola mitra di setiap wilayahnya masing-masing. “Sambil menambah rasa topping di pisang goreng agar konsumen tidak bosan,” katanya.

Mr Piss

Mr Piss termasuk pemain baru dalam kemitraan pisang goreng di Indonesia. Mr Piss yang juga memiliki kemitraan Tela-tela ini, menawarkan kemitraan sejak pertengahan tahun lalu.

Hingga kini ada sekitar tujuh gerai mitra Mr Piss yang berlokasi di Makassar, Palembang, Solo, Sragen, Bandung, Denpasar, dan Yogyakarta. Mereka juga masih menawarkan kemitraan dengan harga Rp 6 juta.

Namun, Marketing Support Mr Piss, Kadek Gede Mertayasa, mengakui ada gerai yang tutup. Dua dari lima mitranya mengambil langkah itu. “Mungkin pasar jenuh dengan produk pisang,” katanya.

Kadek mengakui, pertumbuhan gerai kemitraan Mr Piss ini lambat. Bahkan, lebih lambat dibanding pertumbuhan gerai Tela-tela yang saat ini sudah lebih stabil. Ia bilang, saat ini Tela-tela tumbuh sekitar 50 gerai per tahun.

Manajemen CV Effa Indoboga yang menaungi Mr Piss saat ini juga sedang mencari berbagai strategi untuk terus mengembangkan kemitraan Mr Piss.

P-Man

Kondisi usaha milik Purwan Habibie Siswanto ini paling mengenaskan. P-Man yang berdiri sejak tahun 2006 ini sudah berhenti beroperasi sejak tahun lalu. Padahal, Habibie baru menawarkan kemitraan pada tahun yang sama.

Penyebabnya adalah salah satu mitra P-Man yang ada di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menggelapkan dana milik Purwan. “Sejatinya dana itu untuk modal usaha P-Man,” katanya.

Nilai total dana yang digelapkan itu mencapai Rp 30,6 miliar. Mitra nakal itu memiliki 15 gerai dari 25 gerai P-Man yang ada. “Dengan begitu saya tidak bisa mengembangkan lagi usaha pisang goreng miliknya,” kata Purwan.

Jera atas musibah yang menimpanya, Purwan belum berencana menawarkan kemitraan kembali. “Kalaupun ingin buka lagi, kami tangani sendiri dulu,” tukas dia. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Resto Iga Bakar

Belakangan ini, masakan berbahan iga sedang naik pamor. Tengok saja, makin banyak restoran atau tempat makan yang menawarkan menu berbahan daging di bagian iga ini. Baik dibakar, digoreng, maupun sop iga.

Iga Bakar Jogja merupakan salah satu restoran yang menyajikan beragam masakan berbahan daging iga. Saat berdiri tahun 2007, namanya Iga Bakar Gejayan. Nama lokal ini kemudian berganti menjadi Iga Bakar Jogja agar lebih mudah dikenal dan diterima di tingkat nasional.

Michael Andrian, Direktur PT Matahari Langit Indonesia, selaku pengelola usaha ini, bilang, restorannya sarat dengan menu iga. “Hampir 75% menu kami berbahan iga. Sisanya, merupakan variasi makanan,” imbuhnya.

Pemilik Iga Bakar Jogja, Ahmad Hidayat, menambahkan, kelebihan masakan di restonya terletak pada penggunaan bahan baku iga lokal yang lebih segar, serta pilihan saus yang bervariasi. “Kami mempunyai saus spesial pedas yang tak ada di tempat lain, karena saya sendiri yang membuatnya,” katanya.

Iga Bakar Jogja menawarkan beragam menu. Antara lain, iga bakar kuah kuning, iga bakar kare dan iga bakar sambal belacan. Selain itu, ada menu standar, seperti iga bakar saus barbeque dan iga bakar saus lada hitam.

Investasi Rp 250 juta

Hingga kini, Matahari Langit sudah memiliki enam cabang. Tiga di Yogyakarta, dan sisanya tersebar di Bogor, Palembang, dan Pekanbaru. Di Bogor dan Palembang, Iga Bakar Jogja mengusung nama Iga Bakar Gadong dan Emily. Dari keenam cabang itu, baru cabang di Pekanbaru yang merupakan waralaba.

Awalnya cabang di Pekanbaru ini merupakan kemitraan atau business opportunity. Jadi mitra menyerahkan urusan operasional kepada pusat Iga Bakar Jogja. Tapi belakangan, lanjut Michael, pemiliknya ingin terjun langsung, sehingga pada pertengahan tahun ini skemanya berubah menjadi waralaba.

Ke depan, Matahari Langit berniat membuka cabang baru. Mereka akan membuka dua cabang di Yogyakarta dan Pekanbaru. Selain itu, masih ada permintaan waralaba dari Jakarta dan Bandung.

Untuk menjadi terwaralaba, calon terwaralaba harus menyediakan dana setidaknya Rp 250 juta. Investasi ini mencakup belanja peralatan, furnitur, seragam, commitment fee Rp 39 juta dan biaya pelatihan Rp 49 juta. Terwaralaba juga harus menyediakan lahan minimal 150 meter persegi. Plus, tempat parkir yang luas.

Untuk royalty fee, terwaralaba bisa memilih pembayaran setiap bulan atau pembayaran royalti pada awal perjanjian. Besarnya 8% dari omzet per bulan. Tapi jika dibayar sekaligus di muka, besarnya Rp 199 juta yang berlaku selama tiga tahun.

Michael bilang, kebanyakan terwaralaba memilih pembayaran royalty fee setiap bulan karena modal awalnya menjadi tidak terlalu besar. Bahkan, “Biaya tersebut masih bisa dinegosiasikan,” imbuhnya.

Laiknya waralaba makanan lain, untuk mempertahankan standar ukuran dan rasa, Iga Bakar Jogja memasok daging iga sekaligus dengan berbagai saus pendukungnya. Adapun untuk bahan-bahan segar, seperti sayur dan buah, terwaralaba bisa mencari di pemasok setempat.

Iga Bakar Jogja menargetkan mitranya bisa balik modal antara satu hingga dua tahun. Asumsinya, pendapatan per hari Rp 6 juta. “Itu adalah pendapatan terkecil,” imbuh Michael. Ia memperkirakan, di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, pendapatan gerai per hati bisa mencapai Rp 10 juta. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Kemitraan Laboratorium Kesehatan

Bisnis klinik kesehatan makin tumbuh subur dan menjamur di mana-mana. Kesadaran masyarakat akan kesehatan menopang kegairahan usaha ini. Selain melayani pengobatan, klinik itu juga melayani jasa pengecekan kesehatan. Maklum, biasanya usaha klinik kesehatan ini juga dilengkapi dengan jasa laboratorium kesehatan.

Salah satunya adalah Pusat Diagnostik Budi Sehat. Laboratorium ini didirikan oleh Boedijanto dan Hilda Widhyani di Surakarta pada 1982. Kedua pendiri sekaligus pemilik Budi Sehat ini juga berprofesi sebagai dokter.

Tak heran, karena sudah berdiri puluhan tahun, Caroline, Franchise Manager Budi Sehat, mengklaim bekal pengalaman yang sudah diperoleh merupakan keunggulan mereka. Selain itu, peralatan laboratorium yang modern didukung oleh sistem informasi yang sudah terkomputerisasi menjadi kelebihan lainnya. “Budi Sehat berani bersaing dengan klinik lain yang telah ada,” ujarnya.

Pusat diagnostik ini menawarkan berbagai layanan cek kesehatan. Di antaranya, rontgen, mammografi, pap smear, USG, hingga rekam kesehatan jantung.

Saat ini, Budi Sehat memiliki satu cabang di Sragen, Jawa Tengah. Untuk memperluas jaringan usaha klinik tersebut, manajemen Budi Sehat menawarkan peluang waralaba bagi masyarakat. Tawaran ini mulai berlangsung pertengahan tahun 2010.

Tiga paket investasi

Bagi investor yang berminat, Budi Sehat menawarkan tiga paket waralaba.

Pertama, Paket Pratama dengan nilai investasi Rp 50 juta. Paket ini hanya melayani lima jasa kesehatan, seperti jasa laboratorium klinik, rontgen, rekam kesehatan jantung, pap smear, dan home care.

Kedua, Paket Madya dengan nilai investasi Rp 100 juta. Jenis layanan kesehatan yang diberikan antara lain laboratorium klinik, rontgen, panoramic, USG, rekam jantung, pap smear, dan home care.

Ketiga, Paket Utama senilai Rp 150 juta yang mencakup layanan semua Paket Madya dengan tambahan beberapa layanan lainnya, seperti, audiometri dan spirometri.

Calon mitra akan memperoleh fasilitas produk dan alat kerja sesuai dengan paket yang diinginkan. Selain itu, terwaralaba Budi Sehat juga akan menerima konsultasi manajerial, bantuan desain tempat klinik, pelatihan awal dan pelatihan lanjutan secara berkala. “Kami juga mengaudit manajemen mutu secara rutin,” ujar Caroline.

Manajemen Budi Sehat mengutip biaya royalti 5% dari omzet per bulan. Kerja sama waralaba ini berlangsung selama tujuh tahun dan bisa diperpanjang sesuai dengan perjanjian kedua pihak setelah masa kerja sama usai. Mitra harus membeli bahan baku dari pusat untuk memenuhi standar kualitas dan mutu.

Konsultan wirausaha A. Khoirussalim berpendapat, prospek klinik kesehatan sejatinya cukup bagus. Pasalnya, setiap orang pasti menginginkan selalu sehat. Namun, bisnis ini menjadi padat modal karena peralatan klinik yang relatif mahal.

Alhasil, waktu balik modal dari usaha ini pun menjadi lebih lama dibandingkan dengan investasi di bidang bisnis lain yang lebih murah. “Analisis bisnis yang cermat dan keberanian mengambil risiko adalah modal untuk memasuki bisnis di sektor kesehatan seperti ini,” ujarnya. Tak heran, biasanya, investor yang berkecimpung di bidang kesehatan lebih tertarik dengan usaha yang seperti ini. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Wisata Alam

Penawaran paket perjalanan wisata yang menjual nuansa pedesaan semakin subur. Menjual pengalaman terjun dalam aktivitas keseharian di pedesaan, pengelola menjemput bola menjaring institusi perusahaan dan pendidikan di kota.

Gaya hidup modern dan rutinitas hidup di perkotaan sering menimbulkan kejemuan. Itulah sebabnya, tawaran berwisata alternatif dengan mengusung konsep dekat dengan suasana pedesaan semakin diminati.

Beberapa orang yang cermat membaca peluang telah memanfaatkan tren ini. Salah satunya Wisata Budaya Pancawati (WBP). Berlokasi di daerah Desa Pancawati, Bogor, sejak 2007, Nasution, pengelola usaha ini, mengubah lahan bekas kebun salak seluas enam hektare (ha). “Kami mengubah fungsinya dan mendirikan vila sekaligus tempat wisata pedesaan,” kata petugas Public Relation WBP, Sudi H. Adiarto.

Kini, kawasan WBP itu terkenal sebagai salah satu tujuan wisata pedesaan. WBP juga mengemas 10 paket wisata seperti Agrowisata Pintar dan Fun Games, Pesiar Kampung, Poelang Kampoeng Pancawati, dan Menginap Adventure. Aktivitas setiap paket berbeda. Bisa menginap, bisa juga berwisata sehari penuh.

Pemain lain adalah Kampung Budaya Sindangbarang (KBS). Terletak di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor Barat, lokasi ini hanya berjarak sekitar lima kilometer (km) dari kota. Achmad Mikami Sumawijaya, pemilik KBS, membangun wisata pedesaan sejak tiga tahun silam.

Awalnya, oleh pendirinya, KBS bukan disiapkan sebagai tempat wisata, melainkan sebagai cagar budaya kesenian Jawa Barat. “Pak Maki memang ingin melestarikan budaya Jawa Barat,” tutur Asep Saepulloh, yang akrab disapa Asenk, dari Bagian Pemasaran KBS.

Tapi, melihat minat orang berkunjung, pengelola KBS menawarkan juga kunjungan wisata pedesaan. Ada enam paket wisata, seperti Mulih ka Lembur, Sawengi di Kampung Budaya, Ngalanglang di Bogor, Nyaba ka Kampung Adat, Outing, dan Sono ka Lembur. Di sini, pengunjung sudah bisa menikmati beberapa situs purbakala, belajar angklung, mandi di Sungai Ciapus, dan menonton pertunjukan seni.

Pemain lain adalah Kampung Wisata Cinangneng (KWC). Kawasan wisata ini terbentuk secara tidak sengaja. Sebab, objeknya merupakan kehidupan sehari-hari pedesaan yang sudah turun-temurun.

Terletak di Babakan Kemang, Kecamatan Ciampea, Bogor, KWC menawarkan paket wisata Tour Poelang Kampung. Pengunjung bisa belajar membungkus nasi timbel, membuat wayang dari daun singkong, belajar tari jaipong, bermain gamelan, atau membuat kue. Jika mau, pengunjung bisa memandikan kerbau di sungai.

Di daerah Cianjur, ada juga Gasol Pertanian Organik (GPO). Wisata pedesaan yang sudah mulai sejak empat tahun lalu ini lebih unik lantaran mengajak mengenal pelbagai varietas padi. Pemilik GPO, Ika Suryanawati, awalnya sama sekali tak berniat terjun ke bisnis wisata pedesaan. Perempuan lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini hanya ingin mengoleksi pelbagai varietas padi unggulan Cianjur yang mulai sirna.

Dari niatan itu, Ika membeli sebidang tanah seluas 2.500 meter persegi untuk ditanami padi. “Suasana pedesaan yang sejuk dan asri akhirnya mendorong saya untuk menawarkan wisata pedesaan,” tutur perempuan berambut cepak ini.

Sebagian pengelola wisata pedesaan itu lebih berfungsi sebagai guide atau pendamping para pengunjung untuk menikmati suasana hidup pedesaan. Mereka biasanya memiliki satu tempat untuk meeting point. Sebagian ada juga yang memiliki lahan sendiri yang bisa menjadi objek kunjungan seperti sawah, saung untuk bermain, atau kebun.

Tapi, kegiatan selanjutnya lebih banyak membaur dengan suasana hidup masyarakat sekitar. Pengelola sudah lebih dulu berkoordinasi dengan para warga desa soal aktivitas ini. Mereka juga memberi kontribusi untuk jasa yang disumbang oleh sebagian warga. “Bisa langsung ke orang yang bersangkutan atau menyumbang ke desa,” tutur Sudi.

Nilainya memang tak bisa dipatok. Tapi, Sudi bilang, kegiatan wisata ini ikut meningkatkan ekonomi warga desa. Sebab, jika pengunjung bisa saja bertransaksi langsung dengan warga. Misalnya, ingin minum air kelapa muda yang dipetik dari pohon atau mencicipi tahu dari pabrik tahu.

Menjemput bola

Pengelola wisata pedesaan ini juga memiliki tim operasional yang melibatkan warga sekitar. Kecuali, Ika yang memilih menggandeng beberapa pihak sebagai pemandu. Contohnya, Kepanduan Cianjur untuk menemani peserta dalam aktivitas ketangkasan. Ika juga memasukkan Istana Cipanas, museum, dan sejumlah pihak dalam daftar kunjungan GPO.

Lantaran segmennya sangat terbatas, sejumlah pengelola bisnis ini harus menjemput bola untuk menawarkan paket wisata. Misalnya, mendatangi sekolah dan perusahaan. Selain itu, mereka juga membuat website sebagai sarana pemasaran sekaligus promosi untuk mengenalkan objek wisata ini.

Sudi mengaku, cara jemput bola cukup efektif menarik minat pengunjung. ”Mereka yang pernah datang berkunjung juga kami follow up lagi dengan paket-paket baru,” kata dia. Sejumlah instansi menjadi langganan WBP seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama, Bank Mandiri, Bank Danamon, dan Bank BRI.

Meski mengaku belum gencar, GPO mulai mendekati sekolah-sekolah internasional di Jakarta. Tak semua hasilnya berbuah manis. Ika bercerita, ada orang tua siswa yang melarang anaknya mengikuti paket wisata pedesaan lantaran takut anaknya kena celaka.

Untuk meyakinkan aktivitas itu aman, Ika sudah membikin video rekaman berisi rekaman yang memperkenalkan GPO. “Saya sebarkan ke sejumlah sekolah dan instansi,” ujar dia. Kini sudah ada beberapa klien tetap GPO, seperti Qatar Airways, Nestle, Kedutaan Jepang, dan sejumlah sekolah di Bogor.

Nama KBS terdongkrak berkat promosi dari mulut ke mulut. Beberapa klien tetap KBS adalah PT Telkom, BCA, Astra, dan Madinah Islamic School. Asenk mengaku, dalam sebulan, omzet KBS setidaknya mencapai Rp 20 juta. GPO mengantongi omzet Rp 10 juta saban bulan. “Itu pun saya belum garap maksimal,” ujar Ika. (peluangusaha.kontan.co.id)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.