Beranda > Peluang Bisnis > Peluang Bisnis Menghias Makanan

Peluang Bisnis Menghias Makanan

Makanan selain dicari karena rasanya yang lezat, juga karena bentuknya yang unik dan menarik. Bagaimana menggabungkan rasa dan bentuk, membuat bisnis menghias makanan atau food stylingkian bergairah. Selain harganya lebih tinggi, usaha ini banyak untuk memeriahkan event spesial.

Acara spesial tentu harus dirayakan dengan sesuatu yang spesial juga, terutama soal makanan. Sebab, makanan bisa menjadi alat untuk mencairkan suasana terutama jika makanan yang disajikan memiliki rasa yang lezat dan bentuk menarik.

Inilah yang dilirik oleh Fatmah Bahalwan, yang memulai usaha menghias makanan sejak 1998. Beberapa jenis makanan yang menjadi olahan hiasannya antara lain kue tar, cup cake, nasi tumpeng, dan nasi kotak.

Selain pelanggan perorangan yang didominasi keluarga kelas atas, Fatmah juga mendapat order dari perusahaan penyelenggara event hari ulang tahun. “Setiap bulan saya juga mendapat pesanan kue tart hias dari bank-bank untuk klien istimewa mereka,” katanya.

Ia mengatakan, dirinya tertarik untuk berbisnis makanan hias karena harga makanan yang telah dihias lebih mahal dibanding makanan biasa. Kue tar yang pada awalnya hanya berharga Rp 100.000 setelah dihias melonjak menjadi Rp 300.000.

Selain pemasaran mulut ke mulut, Fatmah juga memasarkan usahanya melalui Facebook dan Twitter. Dia juga mendirikan milis kuliner Natural Cooking Club pada 15 Januari 2005 lalu untuk mendukung usahanya.

Saat ini Fatmah dibantu oleh enam orang tenaga kerja. “Karena cukup rumit jadi pesanan minimal tiga hari sebelum hari H,” katanya. Ia menggunakan bahan baku hiasan untuk kue berupa fondant dari campuran tepung dan gula dengan warna menarik.

Selain Fatmah, ada juga Dhiandra, pemilik Orange Kitchen yang memulai usaha makanan hias pada 2005. Selain cake, Dhiandra juga menghias puding, nasi kuning dan nasi kotak. “Walau banyak saingan, bisnis makanan pasti dicari,” katanya.

Persaingan ketat juga diakui Fatmah dengan banyaknya pemain baru. Karena itu, Fatmah menyiasati dengan cara selalu mengamati tren yang berkembang di masyarakat. Ia mencontohkan, saat ini dengan kondisi ekonomi masyarakat telah membaik maka dirinya banyak menjual cheese cake dengan hiasan yang lebih menarik.

Baik Fatmah dan Dhiandra mengaku tidak khawatir dengan para pesaing. Fatmah lebih menganggap para pesaingnya di bisnis ini sebagai mitra, karena kebanyakan dari mereka juga tergabung dalam milis Natural Cooking Club. “Kalau makanannya enak dengan bentuk yang unik dan menarik pasti akan dicari,” kata Dhiandra.

Omzet dari bisnis ini cukup menggiurkan. Dengan harga rata-rata kue tart Rp 250.000 dan lunch box Rp 16.000, maka Fatmah bisa meraup omzet Rp 10 juta sampai Rp 15 juta per bulan. Sedangkan Dhiandra setiap bulannya memperoleh omzet sekitar Rp 10 juta.

Dua pebisnis makanan hias ini mengaku musim Lebaran dan Natal menjadi waktu yang ditunggu-tunggu. Fatmah mengaku mendapat kenaikan omzet 10-15% pada dua musim hari raya itu, sementara Dhiandra bisa mendapatkan omzet Rp 15 juta dari sebelumnya Rp 10 juta per bulan. “Saat Natal, banyak pelanggan yang memesan kue dengan tema Santa Claus yang disesuaikan dengan pohon natal dan gambar,” katanya.

Hanya saja, saat ini keuntungan mereka terus menipis karena harga bahan baku yang terus melambung. Selain itu peralatan hias berkualitas, seperti loyang dan cetakan yang juga harus didatangkan dari luar negeri. “Seharusnya pemerintah bisa meredam kenaikan harga bahan kebutuhan pokok,” harap Fatmah. (peluangusaha.kontan.co.id)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: