Beranda > Peluang Bisnis > Peluang Bisnis Kemitraan Pizza

Peluang Bisnis Kemitraan Pizza

Makin banyak lidah orang Indonesia yang menyukai piza. Tengok saja, tiap akhir pekan, gerai-gerai yang menawarkan piza selalu ramai pembeli. Meski bukan makanan asli warisan nenek moyang kita, makanan asal Italia ini sudah menjadi salah satu camilan yang sangat populer di negeri ini, terutama di kota-kota besar.

Saat ini banyak sekali gerai piza yang menawarkan kekhasan masing-masing dalam meracik piza. Mulai dari yang mengusung merek lokal hingga merek impor. Baik yang mengusung sistem waralaba hingga yang berdiri sendiri.

Dari beberapa gerai yang menawarkan waralaba ini, KONTAN mencoba memberikan penyegaran kembali tentang kondisi mereka saat ini. Kami membandingkan, kondisi saat KONTAN pernah menulisnya dulu, dengan perkembangannya kini.

Papa Ron’s Pizza

Papa Ron’s Pizza merupakan salah satu waralaba lokal. Anak usaha PT Eatertainment Indonesia Tbk ini, memulai bisnisnya di tahun 2000. Dua tahun kemudian, mereka baru menawarkan waralabanya. Hanya, berbeda dengan gerai piza impor, Papa Ron’s lebih menyasar kalangan menengah bawah.

KONTAN pernah menulis waralaba ini pada Maret 2007. Pada saat itu, jumlah gerainya berjumlah 46 gerai. Namun, saat ini jumlah gerainya telah mengalami penyusutan menjadi tinggal 34 gerai. “Sejak 2007 hingga saat ini, kami telah menutup sekitar 12 gerai Papa Ron’s. Tapi, selain gerai yang tutup, kami juga terus membuka gerai baru,” kata Noragraito, Direktur Operasional Papa Ron’s.

Setelah melakukan evaluasi terhadap kinerja dan komitmen investor dalam mengelola gerai, penutupan gerai-gerai itu terpaksa dilakukan. “Ada yang memang kami tutup dan ada juga yang ditutup karena permintaan investor. Namun, ada juga yang minta dilanjutkan,” katanya.

Evaluasi kerja sama antara pemilik merek waralaba dengan investor tersebut biasanya dilakukan setiap delapan tahun sekali. Noragraito bilang, sebagian penutupan gerai Papa Ron’s lantaran komitmen investor dalam mengelola gerainya sudah berkurang. “Kalau dia tidak menjaga merek kami, ya, untuk apa,” katanya. Oleh karena itu, kini, Papa Ron’s lebih selektif dalam memilih calon terwaralaba.

Meski mengalami pasang surut, dalam penilaian Noragraito, usaha piza masih sangat menjanjikan. Ia melihat permintaan investor untuk bisa menjadi terwaralaba piza Papa Ron’s masih terus berdatangan.

Bahkan, menurut rencana, Papa Ron’s akan membuka gerai barunya di Ternate dan Kelapa Gading, Jakarta pada Januari 2011. “Kami menargetkan pembukaan lima gerai baru setiap tahun,” ungkap Noragraito.

Hanya, pembukaan gerai baru tersebut akan difokuskan di wilayah timur Indonesia. Seperti Ternate, Papua, Ambon hingga Nusa Tenggara Timur. “Belum ada pesaing yang masuk di wilayah timur,” bisiknya.

Bagi calon investor yang berminat membuka gerai di wilayah itu, Papa Ron’s mensyaratkan investor harus merupakan penduduk lokal di wilayah masing-masing. Maklum, selain lebih mengetahui medan, ia berharap investor bisa terjun langsung membesarkan usahanya.

Noragraito bilang, investor harus menyediakan dana investasi antara Rp 1,5 miliar hingga Rp 2 miliar. Selain itu, manajemen juga akan memungut biaya royalti sebesar 5% dan fee sebesar US$ 25.000 untuk masa kerja sama delapan tahun. “Jika mereka menjalankannya dengan benar, dalam waktu 3,5 tahun modal sudah pasti kembali,” tutur Noragraito meyakinkan.

Piramizza

Tawaran kemitraan piza satu ini cukup menarik perhatian. Sebab, produk piza yang dicetuskan oleh Ramadhan Yasmanto tahun 2008 ini tidak bulat seperti piza pada umumnya, melainkan berbentuk kerucut seperti es krim.

Sebelum ditawarkan kepada investor, pada tahun 2009, ia terlebih dulu membuat lima gerai percontohan di Surabaya. Namun, dalam perjalanannya, manajemen Piramizza beralih dari Ramadhan ke Hendy Setiono.

Asal tahu saja, Hendy yang berkerabat dengan Ramadhan adalah pemilik PT Baba Rafi Indonesia, perusahaan yang juga memiliki sejumlah merek waralaba lain.

Di tangan Hendy, usaha waralaba Piramizza berjalan cukup pesat. Pasalnya, Hendy menawarkan sistem waralaba yang berbeda.

Setiap calon mitra cukup menyetorkan modal investasi sebesar Rp 200 juta tanpa harus menjalankan operasional atau manajemen. PT Baba Rafi yang akan bertindak sebagai manajemen dalam menjalankan operasi gerai.

Menariknya lagi, hanya dengan dana Rp 200 juta itu, investor bisa mendapatkan lima gerai sekaligus. Tak heran, jika kemitraan yang ditawarkan tersebut laris manis, bak kacang goreng.

Apalagi, manajemen Baba Rafi tak mengenakan biaya royalti. Tapi, Baba Rafi menjalankan sistem bagi hasil bersama mitra dengan komposisi 50:50 dari laba bersih yang didapat dari lima gerai yang beroperasi. “Respon masyarakat sangat bagus, gerai mitra mencapai 30 unit di bulan keempat ketika kami buka,” kata Rizky Hening, Koordinator Pemasaran PT Baba Rafi Indonesia.

Namun, lantaran calon mitra banyak yang datang, manajemen pun kewalahan melayani permintaan tersebut. Akhirnya, pengelola Piramizza mengubah konsep kemitraannya. Dari yang awalnya bisa mendapatkan lima gerai, kini investor Piramizza hanya mendapatkan satu gerai.

Sebagai konsekuensinya, Baba Rafi menurunkan biaya investasinya dari Rp 200 juta menjadi Rp 45 juta. Tapi, itu hanya berlaku untuk wilayah Jawa. Untuk calon mitra yang berada di luar Jawa, Baba Rafi mengenakan tambahan biaya untuk pengiriman peralatan dan pelatihan pegawai. “Biaya tambahan berkisar Rp 5 juta-Rp 10 juta tergantung jarak kotanya,” ujar Rizky.

Selain itu, kini manajemen Piramizza mengutip supporting fee dari mitra untuk kontrol kualitas dan pengelolaan sebesar 5% dari omzet tiap bulan. Rizky bilang, dengan omzet tiap gerai per bulan Rp 12 juta, mitra bisa balik modal sekitar 1,7 tahun.

Dengan sistem baru ini, Piramizza mampu menggaet sekitar 30 mitra. Saat ini sudah ada 60 gerai Piramizza yang tersebar di Jabodetabek, Medan, Surabaya, Malang dan Pekanbaru.

Baba Rafi rajin menambah variasi produk. Selain piza kerucut, gerai Piramizza juga menjual burger, hotdog, sandwich yang semuanya dipanggang dan Piramizza mini bernama java con.

Dengan semua pembaharuan itu, manajemen berharap merek Piramizza bisa terus bertahan di sektor kuliner Indonesia. “Tahun ini kami masih terus melakukan edukasi pasar terhadap produk Piramizza yang kami tawarkan,” imbuh Rizky.

Pizza Rakyat

Sesuai dengan nama usaha yang diusungnya, Pizza Rakyat, Budi Kusworo, sang pemilik, berkeinginan menghadirkan pizza yang lebih merakyat. Maksudnya, menu pizza yang selama ini melekat sebagai makanan kalangan menengah ke atas dan hanya tersaji di restoran mewah ini, juga bisa dinikmati semua kelas. “Bagaimana caranya membuat pizza yang rasanya nikmat, tapi bisa dinikmati semua orang,” ujarnya.

Maka, Budi pun menciptakan beberapa varian rasa pizza. Sebut saja, pizza sosis, pizza sayur, pizza daging sapi giling, dan pizza kombinasi. Namanya juga Pizza Rakyat, tentu saja harganya ramah di kantong. Budi menjual pizza kreasinya dengan harga Rp 9.000-Rp 14.000 per loyang.

Budi membuka gerai pertamanya di Pamulang, Tangerang Selatan akhir 2009 lalu. Melihat animo masyarakat yang cukup besar, ia pun menawarkan kemitraan pada Juli 2010.

Saat ini, Pizza Rakyat sudah memiliki dua mitra yang membuka usaha di kota Bekasi dan Palembang. Pizza Rakyat menawarkan dua paket kemitraan.Pertama, paket dengan nilai Rp 9 juta. Mitra akan mendapatkan gerai, satu set peralatan, bahan baku awal untuk 120 loyang pizza, pelatihan, dan media promosi.

Kedua, paket master senilai Rp 17 juta. Mitra yang memilih paket ini bakal memperoleh fasilitas yang sama dengan paket pertama. Tapi tentu, paket ini memiliki keistimewaan untuk menjadi perwakilan (master) Pizza Rakyat yang menguasai minimal satu kabupaten atau kota di tempat membuka usaha. Jika ada mitra yang berniat bergabung di daerah itu, si master yang mengurusnya.

Dalam pola kemitraan ini, Budi mengaku, dia sama sekali tidak memungut biaya royalti sepeser pun. Tapi, sebagai gantinya, dia memungut biaya dukungan atau supporting fee sebesar Rp 35.000 per bulan dari setiap mitra setelah si mitra tiga bulan beroperasi. “Master akan mendapat bagian Rp 25.000 dari mitra di bawahnya,” kata dia.

Syaiful Anwar, salah satu mitra Pizza Rakyat yang membuka gerai di Jati Waringin, Bekasi sekitar satu bulan lalu, mengungkapkan, saban hari ia mampu menjual 15-20 loyang. “Varian rasa yang lebih banyak disukai masyarakat adalah sosis,” ujarnya.

Metro Chicken & Pizza

Usaha Pizza Metro Chicken & Pizza yang berpusat di Jombang, Jawa Timur ini dirintis Agung Wicaksono sejak dua tahun lalu. Dia mulai menawarkan kemitraan sejak empat bulan lalu. Dan kini, dia baru menggaet satu mitra yang yang membuka gerai di Jombang.

Tawaran kemitraan Metro Chicken & Pizza cukup premium dibandingkan dengan Pizza Rakyat. Sebab, nilai paket investasinya mini resto yang ditawarkannya Rp 200 juta. Investasi itu sudah mencakup franchise fee selama 5 tahun dan beberapa fasilitas, seperti booth, peralatan lengkap, bahan baku awal dan pelatihan pengenalan produk.

Selama ini, Agung bilang, gerainya bisa menjual 50 hingga 100 loyang per hari. Harganya bervariasi, untuk ukuran kecil sebesar Rp 13.500, ukuran medium Rp 28.000, dan ukuran besar Rp 49.000 per loyang.

Jika mitra mampu menjual rata-rata 75-100 loyang pizza beragam ukuran per hari, Metro Chicken & Pizza menjanjikan si mitra bisa balik modal sekitar tujuh bulan sampai 8 bulan, dengan omzet sekitar Rp 4 juta per hari. Tak hanya pizza, sesuai dengan namanya Metro Chicken & Pizza juga menawarkan menu ayam goreng.

Amir Karamoy, Ketua Dewan Pengarah Perhimpunan Waralaba & Lisensi Indonesia, mengingatkan, memilih tawaran kemitraan bukan semata-mata dilihat dari besaran investasi yang ditawarkan. Tapi, siapa pihak yang menawarkan kemitraan tersebut. (peluangusaha.kontan.co.id)

  1. November 25, 2011 pukul 11:01 am

    saya ingin bergabung dan ingin membuka
    usaha pitzza gimana caranya ya
    dan apakah saya harus saya
    lakukan untuk membuka usaha tersebut
    dan berapa kocek yang di butuhkan
    mks

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: