Beranda > Info Bisnis > Make-up Artist: Bukan Sekadar Pemoles Bedak

Make-up Artist: Bukan Sekadar Pemoles Bedak

Penata rias atau “make-up artist” adalah profesi dalam industri perfilman nasional yang jarang dilirik sebagai peluang kerja kreatif. Padahal, merekalah yang bertanggung jawab “menyulap” wajah aktor agar sesuai dengan tuntutan karakter dalam skenario.

Apabila skenario menuntut ada adegah yang berdarah-darah, para penata rias ini juga yang harus meracik darah agar terlihat meyakinkan. Dari apa darah-darahan itu dibuat? “Saya selalu memakai bahan makanan dan minuman agar aman kalau sampai tertelan,” ungkap Didin Syamsudin (57), yang sudah menggeluti profesi ini sejak tahun 1976.

Jika darah asli berasa asin-pahit, maka darah buatan Didin akan terasa sangat manis karena diolah dari madu dan sirup. Untuk menambah warna, ia tinggal mencampurkan bahan pewarna kue yang aman jika masuk ke perut sang aktor.

Ada kisah menarik soal darah buatan ini saat Didin terlibat dalam produksi yang melibatkan orang-orang dari industri film di Amerika dan Kanada. Para ekspatriat tersebut menertawakan darah buatan Didin, dan dengan sombongnya mendatangkan darah buatan khusus untuk film langsung dari negara mereka.

“Begitu dibuka, ternyata warnanya (merah) ros, kurang hitam buat darah. Akhirnya darah buatan saya yang dipakai. Dan waktu selesai, orang Kanada itu malah pesan darah buatan saya 10 liter buat bikin film di negaranya, ha-ha-ha,” kenang Didin yang sudah terlibat dalam produksi 80 film sejak awal kariernya.

Karya Didin juga dapat dilihat dalam film Merantau (2009). Dalam film tersebut, ada adegan, seseorang dipukul dengan botol, lalu pecahan-pecahan kaca botol itu menancap di wajahnya. Didin membuatnya dengan menempelkan potongan-potongan botol plastik yang tidak berbahaya ke wajah aktor.

“Idenya keluar begitu saja. Itu bagian dari kreativitas dan tantangan pekerjaan ini,” tutur Didin, yang ditemui di lokasishooting film Red Cobex, produksi StarVision di daerah Ragunan, Jakarta Selatan, Rabu (14/4).

Baca skenario
Tentu saja, tanggung jawab seseorang penata rias tidak melulu membuat efek khusus seperti itu. Seorang seniman tata rias harus bisa mengubah tampilan kulit seorang aktor seuai tuntutan skenario, sesulit apa pun itu. Dalam Red Cobex, misalnya, Didin bertanggung jawab mengubah kulit aktor Lukman Sardi yang putih menjadi hitam legam, karena dalam film itu, Lukman berperan sebagai orang Ambon.

Jangan dipikir mengubah warna kulit ini sesederhana memulaskan banyak berwarna gelap pada kulit sang aktor. Saatshooting film Tanah Air Beta, di daerah Atambua, NTT, Desember 2009, penata rias Notje M Tatipata (50) sampai menyuruh aktris Alexandra Gottardo berjemur di tengah hari bolong dan membalur tubuhnya dengan minyak penghitam kulit (tanning oil) di sela-sela jeda shooting agar kulitnya cepat menghitam.

“Meski ada darah keturunan Portugis, tetapi kulit Andra tetap terlihat kontras saat bergabung dengan penduduk asli. Itu sebabnya, selain di-make-up, ia harus berjemur agar warna kulitnya benar-benar senada,” tutur Notje, yang juga pernah merias hantu pocong saat terlibat dalam film Pocong dan Pocong 2 (2006) karya Rudy Soedjarwo.

Jerry Octavianus (41) penata rias untuk film Laskar Pelangi (2008) dan Sang Pemimpi (2009), mengatakan, idealnya tugas seorang penata rias dibedakan dengan bagian efek spesial yang seharusnya bertanggung jawab membuat efek-efek seperti luka, darah, atau hantu. Namun, karena tenaga khusus ini belum ada di Indonesia, jadi seorang penata rias mau tidak mau harus belajar dan menguasai ilmu riasan efek spesial ini.

Seorang penata rias profesional juga harus bisa membedakan antara tata rias untuk keperluan dunia nyata dan shooting. Dalam produksi sebuah film, seorang penata rias harus memperhitungkan cahaya ruangan dan sinar lampu, sudut kamera, karakter tokoh, hingga suasana atau atmosfer yang dikehendaki dalam adegan tertentu. “Itu sebabnya kami harus benar-benar membaca dan memahami skenario, tidak asal bikin make-up,” tandas Jerry.

Makin dibutuhkan
Dengan semakin meningkatnya produksi film Indonesia beberapa tahun belakangan ini, profesi penata rias makin dibutuhkan. Menurut Jerry, saat ini seorang penata rias dan timnya hanya sanggup rata-rata ikut dalam 4-6 produksi film layar lebar per tahun.

Lebih dari itu, mereka sudah kewalahan karena persiapan dan waktu pengambilan gambar bisa memakan waktu hingga lebih dari satu bulan. “Jumlah penata rias profesional untuk film layar lebar saat ini masih di bawah 100 orang, yang sebenarnya masih kurang dibanding jumlah produksi film yang makin meningkat,” katanya.

Menurut pengakuan Didin, Notje, dan Jerry, dalam setiap produksi film, mereka rata-rata mendapat nilai kontrak borongan sekitar Rp 25 juta- Rp 60 juta, tergantung dari tingkat kesulitan dan waktu shooting. Bahkan, menurut Didin, untuk film besar yang pengambilan gambarnya lebih dari satu bulan, ia pernah mendapat nilai kontrak di atas Rp 100 juta. “Itu nilai borongan untuk satu tim. Rata-rata saya mengajak 7-10 orang untuk masuk tim saya, sudah termasuk petugas angkat-angkat dan sopir,” papar Didin.

Notje, yang juga aktif di dunia produksi film iklan, mengatakan, dari sisi uang, hasil yang didapat bisa lebih banyak di iklan. Pasalnya, persiapan dan pekerjaan dalam film iklan lebih singkat dibanding film layar lebar. “Honor dari lima film iklan sudah bisa menyamai honor dari satu (produksi) film layar lebar. Padahal, untuk membuat lima film iklan, paling-paling hanya butuh waktu setengah dari satu film layar lebar,” ujar Notje.

Namun, bekerja di film layar lebar, menurut Notje, lebih menantang dan memberi banyak pengalaman dan pelajaran. “Di film itu paling mengasyikkan. Banyak pengalaman baru, apalagi kalau shooting ke luar kota. Serasa menjadi bagian dari keluarga besar,” tutur Notje, yang sudah dua kali mengikuti pengambilan gambar film hingga ke Papua. (female.kompas.com)

Kategori:Info Bisnis
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: