Arsip

Posts Tagged ‘Strategi’

Strategi Pemasaran Kosmetik

Januari 6, 2011 1 komentar

Di zaman yang serbainstan ini, orang tentu mau serbapraktis dalam beraktivitas. Termasuk berbelanja kosmetika. Itu sebabnya, PT Ristra Indolab juga menjual produknya secara online. Tapi, baru menyumbang 1% dari total penjualan Ristra.

Penjualan melalui internet kian banyak dilakoni perusahaan, termasuk perusahaan kosmetika. Sebut saja PT Ristra Indolab. Perusahaan yang berdiri sejak Februari 1983 meluncurkan situs belanja onlinehttp://www.belanjaristra.com pada April 2010.

Operation Manager House of Ristra Dyah P. Sitawat mengatakan, dengan kehadiran situs ini konsumen yang tak punya waktu berbelanja tak perlu lagi datang ke konter-konter Ristra yang ada di sejumlah mal. Mereka yang tinggal di luar Jawa pun tak kesulitan mencari produk Ristra.

Itu sebabnya, “Lebih banyak konsumen dari luar Pulau Jawa seperti Makassar yang membeli produk-produk Ristra melalui situs ini,” ungkap Dyah.

Di situs belanja online ini, Ristra menyediakan aneka produk kecantikan dengan harga mulai Rp 50.000. Rista mensyaratkan pembelian minimal sebesar Rp 100.000 untuk dua produk.

Dyah mengungkapkan, rata-rata lima konsumen per hari yang belanja melalui situs online tersebut di bulan-bulan pertama setelah peluncuran. “Sekarang, jauh lebih banyak pelanggan yang memanfaatkan situs belanja ini,” ujarnya.

Untuk mendongkrak penjualan melalui situs belanja online itu, Ristra memberikan bonus menarik. Cara pemesannya pun gampang, konsumen tinggal memilih produk dan mencantumkan identitas di lembar formulir online. Selesai mendaftar, konsumen mendapat kode.

Selanjutnya, konsumen tinggal membayar produk dengan cara transfer ke rekening. “Barang dikirim 2×24 jam dengan garansi produk,” janji Dyah.

Melalui situs ini, konsumen juga dapat bertanya seputar produk serta berkonsultasi dengan dokter kecantikan. Sejauh ini, ada 8 hingga 15 orang per hari dengan kisaran usia 18 sampai 30 tahun yang berkonsultasi dengan dokter kecantikan.

Tentu saja, Dyah mengatakan, penjualan lewat situs belanja online tidak sebesar penjualan reguler di gerai-gerai Ristra dan toko kosmetik lainnya. “Penjualan online tidak sampai 1% dari total penjualan di konter Ristra dan toko kosmetik,” kata dia.

Untuk menggencarkan penjualan online tahun ini, Ristra bakal mempromosikan situs belanja online-nya di setiap konter dan membuat stiker untuk ditempel di kaca mobil.

Perusahaan kosmetik Martha Tilaar mencetak penjualan online yang lebih besar. Maklum, mereka sudah merilis gerai online-nya, yaitu http://www.marthatilaarshop.com pada Mei 2009.

Corporate Communication Manager Martha Tilaar Erlisativani menuturkan, penjualan gerai onlineperusahaannya di 2010 naik 300% dibandingkan dengan di 2009. Tapi memang, sumbangan penjualanonline tidak sampai 10% dari total penjualan Martha Tilaar pada 2010 lalu yang mencapai Rp 800 miliar.

Masih kecilnya sumbangan penjualan online karena Martha Tilaar hanya menawarkan lima dari sembilan mereknya di toko online. Alasannya, tingkat kepercayaan konsumen terhadap belanja online masih minim. “Belum tentu semua konsumen percaya dengan cara ini. Ditambah lagi, tak semua konsumen punya kartu kredit,” ujar Erlisativani.

Toh Martha Tilaar melihat peluang penjualan online bakal bagus. Makanya, “Kami ingin menempuh seluruh jalur pemasaran termasuk gerai online,” kata Erlisativani.

Strategi Pemasaran Kopiko

Meskipun bentuknya imut, potensi dan pasar bisnis permen sangat besar. Tak hanya di pasar lokal, pasar internasional juga menjanjikan. Lewat permen kopinya, Kopiko, Mayora Group mampu menjadi penguasa pasar permen di dunia.

“Kopiko nomor satu di dunia!” Begitu bunyi iklan permen Kopiko yang belakangan kerap muncul di layar televisi. Bukan sekadar sok berkuasa, “Itu karena Kopiko memang sudah menguasai pasar dan sudah dijual di 50 negara di dunia,” ujar Ongkie Tedjasurya, Direktur Pengelola PT Mayora Indah Tbk, produsen Kopiko.

Tak hanya di pasar lokal, sekarang, permen Kopiko dengan mudah bisa ditemukan di banyak toko swalayan di berbagai negara. Antara lain di Belanda, Jerman, Australia, Thailand, Malaysia, Filipina, Meksiko, Arab Saudi, Polandia, sampai Afrika Selatan.

Dengan slogan “Kopi Banget”, permen yang meluncur sejak tahun 1990-an ini mampu menyihir lidah konsumen di banyak negara. Di pasar lokal, Mayora sekarang sudah menguasai sekitar sepertiga dari total pasar kategori candy. Apalagi, selain Kopiko, Mayora juga punya permen unggulan lainya, yakni Kiss.

Gabungan Industri Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) juga mencatat, pasar Kopiko memang yang terbesar, jauh meninggalkan permen kopi lainnya. “Keunikan rasa yang konsisten serta kualitas yang stabil terjaga menjadikan Kopiko bisa mendunia,” cetus Adhi Siswaja Lukman, Ketua Gapmmi.

Gapmmi tak memiliki data yang lebih detail tentang pasar permen di Indonesia. Namun, Gapmmi memperkirakan, nilai pasar permen mencuil 5% dari total nilai industri makanan dan minuman yang tahun ini mereka prediksi Rp 260 triliun.

Menurut Ongkie, Kopiko bikinan Mayora memang memiliki keunggulan ketimbang produk lainnya. Soal kualitas, misalnya. Kebanyakan produk permen kopi dibikin dengan hanya memakai bahan penambah rasa dan aroma (flavor) kopi saja. Jarang ada permen yang dibikin murni dengan ekstrak kopi.

Sementara, Kopiko diolah benar-benar dari ekstrak biji kopi asli. Maklum, Mayora memiliki pabrik pengolahan kopi sendiri, yakni PT Torabika Eka Semesta. “Secara kualitas, produk kami memang lebih unggul,” ujar Ongkie. Ini pula yang melempangkan jalan Kopiko ke banyak negara.

Mayora juga melengkapi dirinya dengan tim riset yang handal. Tim riset inilah yang mencocokan produk Mayora dengan keinginan pasar. Khusus untuk permen kopi, selera pasar lokal dan internasional tidak jauh berbeda. “Jadi, tak susah bagi kami untuk mengenalkan Kopiko di mancanegara,” ujarnya.

Keunggulan lainnya, Mayora juga sudah bekerjasama dengan distributor di beberapa negara. Di Arab Saudi sebagai contoh. Mayora menggandeng resto-resto besar sebagai distributor. Tamu yang datang dan memesan kopi akan mendapatkan juga Kopiko.

Selain itu, Mayora juga memiliki kantor pemasaran di sejumlah negara. Antara lain Malaysia, Thailand, Filipina, Jerman, dan Polandia. Keberadaan pabrik Mayora di Thailand dengan bendera PT Inbisco Niaga juga menjadi mendukung ekspansi Kopiko di pasar ekspor.

Lewat pabrik di sanalah, Mayora mampu menembus pasar di Amerika Serikat. Maklumlah, hingga kini, pasar luar negeri masih mengganggap sebelah mata produk Indonesia. Padahal, produk-produk Mayora yang dibuat di Indonesia sudah mengantongi berbagai sertifikat yang diakui oleh dunia internasional.

Namun, citra buruk kualitas produk Indonesia sudah telanjur melekat di benak mereka. Ini menjadikan Mayora harus mengatur strategi. Akhirnya, mereka memutuskan mengekspor Kopiko dari Thailand.
Selain itu, Mayora juga membuka pusat pengemasan Kopiko dan beberapa produk mereka di Australia.
Konsisten pertahankan pasar

Upaya ini, tampaknya, membuahkan hasil gemilang. Hingga kuartal III 2010, nilai ekspor produk-produk Mayora, termasuk permen Kopiko, telah mencapai Rp 1,47 triliun. Jumlah ini melesat sekitar 145% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang baru sebesar
Rp 598,04 miliar.

Berdasarkan laporan kinerja kuartal III 2010, selama sembilan bulan pertama tahun ini, Mayora membukukan total penjualan Rp 5,12 triliun atau naik 43,70% dibandingkan dengan periode sama 2009 yang baru sebesar Rp 3,56 triliun.

Dari total penjualan itu, porsi lokal masih dominan, yakni 71,54%. Sayangnya, Ongkie enggan mengungkapkan kontribusi permen Kopiko terhadap total penjualan produk-produk Mayora. “Khusus untuk permen, pasar kami sebesar 80% dari lokal,” ujarnya.

Meski begitu, karena harga permen di luar negeri bisa dua hingga tiga kali lipat harga di pasar lokal, sumbangan penjualan ekspor Kopiko tentu cukup signifikan bagi Mayora.

Pengamat Pemasaran dan Manajemen dari ActionCOACH Herman Susanto menilai, salah satu keunggulan Kopiko adalah brand yang sudah menjadi top of mind bagi konsumen lokal.

Kelebihan lainnya, Kopiko mampu mengelola posisinya sebagai brand pioneer sehingga mampu mempertahankan diri menjadi market leader. Meski pasar Kopiko sempat tergerus Grup Kino yang meluncurkan permen Kino Kopi, nyatanya, Kopiko mampu kembali ke pasar.

Maklumlah, sebagai pionir, Kopiko mempunyai konsumen yang loyal. Maklum, produk ini yang pertama masuk ke dalam pikiran konsumen. Selain itu, posisi Kopiko juga sudah mantap di pasar.

Mereka juga memiliki keunggulan teknologi, tim riset dan pengembangan, serta distributor yang kuat. “Ini keuntungan pionir,” ujarnya. Keuntungan lainnya, mereka juga kenyang pengalaman ketimbang brand lain yang hanya menjadi pengikut atau follower brand.

Adhi menambahkan, sejak kemunculannya, Kopiko juga tidak sekalipun berubah. Mayora tak memunculkan brand permen lain. “Dengan strategi seperti itu, loyalitas konsumen Kopiko tertanam kuat,” ujarnya. Ini sulit dilakukan perusahaan permen lainnya, kecuali mereka mampu membuat promosi yang lebih agresif seperti yang dilakukan Kopiko sekarang.

Dalam pengamatan Herman, gencarnya promosi yang dilakukan Kopiko sekarang tak terlepas sebagai upaya mereka untuk merangkul pasar yang lebih luas. Harapannya, produk ini tak hanya menancap kuat di benak generasi terdahulu, “Mereka juga ingin brand Kopiko menjadi top of mind bagi generasi sekarang,” ujarnya.

Jika upaya ini konsisten dilakukan, pemain baru sudah pasti semakin jauh tertinggal dari Kopiko. “Tentu saja, mereka tak boleh terlena dan nyaman dengan posisi market leader,” ujarnya. Melakukan inovasi wajib dilakukan Mayora.

Ongkie mengakui, Mayora memang terus berupaya menjaga konsistensi posisi Kopiko di pasar. Ada beberapa langkah yang dilakukan. Pertama, mengganti mesin-mesin produksi permen Kopiko dengan yang lebih besar dan lebih modern. “Kami membelinya dari Jerman,” ujar dia. Penggantian mesin itu juga salah satu bentuk upaya efesiensi Kopiko.

Kedua, melakukan inovasi. Awal tahun 2010, Mayora mengeluarkan varian baru, yakni Kopiko Brown Coffe. Kemunculan varian baru ini, kata Ongkie, terinspirasi oleh sebuah brand kopi yang sudah mendunia.

Dengan gula aren sebagai pemanis permen, Kopiko baru seberat 25 gram yang dijajakan Rp 1.000 per saset ini diharapkan mampu memikat lidah pasar internasional. Sebab, permen ini aman bagi kesehatan. Produk baru ini sekarang sudah diekspor ke Malaysia serta beberapa negara di Asia.

Mayora menjajakan permen baru ini dengan harga cukup premium karena produk ini menggunakan gula lokal. Tata niaga gula yang rumit menjadikan harga gula di dalam negeri lebih mahal ketimbang pasar internasional.

“Itulah sebabnya, Kopiko termasuk permen premium di pasar internasional,” ujar dia. Padahal, Mayora berharap, selain di pasar lokal, Kopiko menjadi produk massal di pasar internasional.

Ketiga, untuk mempertahankan pasar lokal dan internasional, Mayora juga akan terus melakukan promosi below the line maupun above the line seperti iklan melalui media elektronik, media cetak, dan billboard.

Itulah sebabnya, biaya promosi Mayora melesat di kuartal III tahun ini, yakni mencapai Rp 425,66 miliar. Nilai ini hampir dua kali lipat nilai promosi pada periode sama tahun 2009 yang sebesar Rp 217,67 miliar.

Untuk terus menjadi perusahaan lokal yang besar, kata Ongkie, Mayora juga akan terus melakukan ekspansi. Salah satu caranya, Mayora akan mengakuisisi perusahaan makanan dan minuman. “Jika ada kesempatan yang baik dan menemukan perusahaan yang mampu mengangkat nilai-nilai Mayora, kami akan melakukan akuisisi,” ujarnya.

Tujuan akhirnya, dengan serangkaian aksi itu, Mayora ingin menjadi raja ritel, baik di dalam negeri maupun di pasar internasional. (peluangusaha.kontan.co.id)

Strategi Pemasaran Rudy Hadisuwarno

Tak cukup berbisnis salon dan pendidikan, Rudy Hadisuwarno kini menggabungkan salon dengan klinik kecantikan dan gigi dalam satu tempat. Menyasar konsumen menengah bawah, Rudy Hair and Beauty menawarkan layanan terpadu.

Perawatan sekujur tubuh manusia, mulai dari ujung rambut hingga ujung kuku kaki, adalah ladang bisnis tak ada habis-habisnya. Apalagi, perawatan kecantikan dan tubuh sekarang tak melulu mengedepankan estetika, melainkan juga menjadi upaya untuk menjaga kesehatan.

Peluang ini pula yang ditangkap PT Rudy Hadisuwarno dengan mendirikan Rudy Hair and Beauty, klinik kecantikan berkonsep one stop beauty. “Cukup datang ke satu tempat, pelanggan bisa mendapatkan tiga perawatan sekaligus, yakni salon, kulit, serta gigi,” ujar Oliver Hadisuwarno, Chief Executive Officer (CEO) PT Rudy Hadisuwarno.

Menurut Oliver, konsep seperti ini terbilang baru di Indonesia. Kalaupun ada, jumlah pemainnya bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan dari mereka juga menyasar kalangan atas. Maklum, impor alat-alat kecantikan jadi kendala pemain-pemain yang membidik konsumen kelas menengah ke bawah.

Kondisi ini berbeda dengan di luar negeri. Oliver bercerita, saat ia mengikuti pameran kecantikan di Prancis, Italia, dan Jerman, dua tahun lalu, usaha salon terpadu yang juga menyediakan perawatan kecantikan dan kesehatan sudah bejibun di sana. Tak jarang, di satu tempat, pengelola menyediakan berbagai macam merek kecantikan dan kesehatan yang saling mendukung.

Perkembangan industri kecantikan di negeri orang itulah yang kemudian mengilhami keponakan Rudy Hadisuwarno ini untuk mengembangkan Rudy Hair and Beauty. Rudy lantas menggandeng klinik gigi Dental Estetik di akhir 2009.

Mengusung nama Rudy Beauty Farm, salon plus klinik perawatan gigi ini berdiri di pusat perbelanjaan FX Mall. Namun, itu tak berlangsung lama lantaran konsep salon dan mal sudah tak sejalan. Rudy, akhirnya, memindahkan lokasi usaha ke Jalan Senopati, Jakarta Selatan.

Menempati dua ruko satu lantai, bisnis yang mengusung nama baru Rudy Hair and Beauty berjalan lancar. Bahkan, pada Agustus 2010, Rudy menambah fasilitas dengan dengan menggandeng Medical Aesthetic by Dr Sri yang memiliki waralaba Esri Medical Asthetic.

Harapannya, dengan menggandeng dua rekan bisnis yang fokus pada bisnis masing-masing, pelanggan gerai Rudy bisa merawat kecantikan gigi dan kulit dalam satu tempat. Seiring dengan integrasi ini, sistem penjualan (sales) juga disatukan sehingga bisa menghemat biaya promosi. Promosi bersama menjadi salah satu strategi yang menjadi andalan.

Misalnya, pelanggan yang membayar minimal Rp 500.000 di Rudy Salon akan mendapatkan voucherlayanan facial di klinik kecantikan.

Sebaliknya, imbuh Sri Susana Seriani, pemilik Medical Aesthetic by Dr Sri, pelanggan Salon Rudy yang mengalami kebotakan akan disarankan ke Medical Aesthetic untuk menjalani perawatan agar rambutnya bisa tumbuh. “Bila sudah tumbuh, ia bisa kembali melakukan perawatan ke salon,” ujarnya.

Begitu juga dengan klinik gigi. Jika pelanggan ingin bermuka tirus, petugas salon bisa memberi saran agar pelanggan mencabut dua gigi rahangnya ke klinik gigi. “Jadi, ketiganya saling memberikan masukan dan kemudahan bagi pelanggan,” ujar Oliver.

Tak cuma itu. Masing-masing rekan bisnis Rudy ini juga sudah mempunyai pelanggan tetap. Tentu saja, integrasi ini bisa menambah jumlah pelanggan. Apalagi, masing-masing mitra tersebut juga mendapatkan dukungan dari para ahli dan dokter spesialis.

Sempurnakan merek

Rudy Hair and Beauty membutuhkan dukungan para ahli lantaran setiap pelanggan memiliki karakter berbeda. Pelanggan salon membutuhkan hair stylist andal, begitu juga pelanggan klinik kecantikan dan gigi. “Kalau mereka enggak cocok, pasti pindah ke tempat lain,” ujar Sri.

Selain terus meningkatkan kualitas layanan, agar pelanggan lengket, salon Rudy beserta mitranya memakai sistem membership. Di salon Rudy, pelanggan yang membelanjakan uang minimal Rp 500.000 akan mendapatkan kartu anggota. Berbekal kartu ini, pelanggan bisa mendapatkan potongan 10% di semua jaringan salon Rudy.

Catatan saja, jaringan salon Rudy kini mencapai 110 gerai. Omzet masing-masing salon mencapai Rp 30 juta–Rp 50 juta saban bulan. Sebesar 80% dari jumlah itu berasal dari pelanggan setia. ”Sisanya dari tamu-tamu baru,” cetus Oliver.

Adapun Sri membagi tiga kategori keanggotaan, yakni silver untuk pelanggan yang berbelanja maksimal Rp 1 juta, gold untuk yang berbelanja Rp 3 juta, dan platinum untuk pembelanjaan Rp 3 juta ke atas. Pelanggan yang telah melakukan perawat-an 12 kali akan memperoleh satu kali layanan gratis.

Bukan hanya itu, Sri juga selalu mengontrol kepuasan pelanggan dengan menelepon mereka 2 x 24 jam setelah perawatan. “Ini penting kami lakukan karena klinik kecantikan adalah bisnis yang sangat personal,” ujar pemilik empat cabang klinik kecantikan ini.

Dengan layanan seperti ini, saban hari, jumlah pelanggan yang datang sekitar 12 orang. “Saat weekend, bisa dua kali lipat,” ujar Sri yang mampu meraup omzet Rp 750 juta dari dua kliniknya di Bali di tahun 2009.

Jika konsep integrasi ini sukses, kata Sri, kerja sama ini akan berlanjut. Kelak, dalam satu gedung akan tersedia berbagai layanan dari ujung rambut sampai kaki. “Sekarang, ini pilot project-nya,” ujarnya.

Pengamat pemasaran Arrbey Handito Joewono menilai, jurus Rudy akan semakin lengkap bila ada beberapa ahli lagi yang mendukung bisnis mereka. Dengan cara ini, mereka bisa menyempurnakan brand kecantikan dan kesehatan yang utuh. Misalnya, Rudy bisa menambah konsultan psikolog yang mampu menonjolkan inner beauty.

“Langkah ini juga bisa untuk mengembalikan brand Rudy dari yang sekarang ada di mass market menjadi eksklusif,” ujar Handito. Handito mewanti-wanti agar Rudy segera memastikan sasaran market yang ingin mereka tuju dengan proyek terbarunya ini. (peluangusaha.kontan.co.id)

Strategi Pemasaran Air Asia

Banyak cara membangun kesetiaan pelanggan. AirAsia membentuk loyalitas para penumpang sejak usia dini. Caranya, dengan meluncurkan simulator pesawat di Kidzania Jakarta dan Junior Jet Club. Melalui program ini, maskapai tersebut juga mengenalkan dunia penerbangan kepada anak-anak.

Mau tahu profesi apa yang paling disuka anak-anak? Jawabannya: pilot dan awak kabin alias pramugari. Ya, paling tidak begitu jawaban anak-anak yang berkunjung ke Kidzania Jakarta.

Fakta menunjukkan, di Kidzania Jakarta, “Establishment AirAsia yang paling banyak dikunjungi anak-anak,” kata Collin Nursatriawan, Vice President Marketing Sponsorship PT Aryan Indonesia, pengelola Kidzania Jakarta.

Melalui Establishment tersebut, maskapai berbiaya murah asal Malaysia tersebut mengajak anak-anak yang datang ke pusat rekreasi berkonsep edutainment pertama di Asia Tenggara tersebut menjadi pilot dan pramugari.

Di Establishment itu, AirAsia menyediakan enam simulator dan satu “kabin pesawat” lengkap dengan belasan kursi penumpang. Sejak hadir di Kidzania Jakarta pada 24 November 2007, perusahaan penerbangan ini sudah mencetak lebih dari 400.000 “pilot” dan “pramugari” anak.

Tak hanya melahirkan “penerbang” dan “awak kabin”, kehadiran Establishment AirAsia di Kidzania Jakarta juga bertujuan mengenalkan anak-anak pada dunia penerbangan. “Kami menjelaskan kepada anak-anak bagaimana menjadi seorang pilot dan awak kabin, bahkan teknisi pesawat,” kata Chief Executive Officer (CEO) AirAsia Group Tony Fernandes.

Kenapa AirAsia juga membidik anak-anak usia 4-16 tahun? Menurut Fernandes, anak-anak merupakan pangsa pasar yang besar dalam bisnis penerbangan. Itu sebabnya, “Melalui kerjasama dengan Kidzania Jakarta ini, kami juga ingin membentuk imaji anak-anak soal AirAsia sehingga kelak mereka akan memilih AirAsia jika ingin bepergian ke suatu tempat dengan pesawat terbang,” katanya.

Untuk semakin menumbuhkan kecintaan terhadap AirAsia sejak dini, maskapai yang sudah menerbangkan 100 juta penumpang ini juga membentuk Junior Jet Club. Yakni, komunitas yang berisi program petualangan dan perjalanan, yang terbuka untuk semua anak-anak.

Tujuan AirAsia menghadirkan Junior Jet Club yang menyasar penumpang keluarga yang membawa anaknya adalah membangun kesetiaan anak-anak terhadap merek mereka. Satu caranya, “Dengan menawarkanmerchandise dan makanan selama penerbangan,” ujar Fernandes.

Sejak diluncurkan pada April 2010 lalu, Junior Jet Club yang mengusut Jet Family (Captain John Jet, Jennie Jet, Junior Jet, dan Jessie Jet) sebagai tokoh superhero, sudah menjaring sekitar 5.000 anggota yang mendaftar melalui http://www.juniorjetclub.airasia.com.

Anak-anak yang tergabung dalam komunitas ini akan mendapat kartu keanggotaan serta diskon untuk pembelian mechandise dan makanan. “Anggota Junior Jet Club juga akan menikmati permainan yang diadakan AirAsia dan berinteraksi dengan anggota lainnya,” kata Fernandes.

Sejauh ini, program membentuk imaji AirAsia sejak dini memang belum berdampak pada kenaikan jumlah penumpang. Sebab, “Ini proyek jangka panjang kami,” ujar Fernandes. (peluangusaha.kontan.co.id)

Strategi Memasarkan Produk Lewat Musik

Musik bisa menjadi cara ampuh untuk menarik pelanggan. Cara ini pula yang coba dilakukan oleh Ajib Burger dan Kebab milik Ikranegara. Ikranegara berinisiatif menggandeng grup musik dengan membuatkan mereka album gratis. Syaratnya mereka juga harus mau manggung gratis di kedainya.

Musik menjadi pilihan Ikranegara Kusumaningrat untuk mempromosikan burger dan kebabnya. Dengan musik, ia mencoba menyasar segmen anak muda pecinta musik indie.

Ikranegara adalah pemilik Ajib Burger dan Kebab asal Cirebon. Melalui perusahaannya CV Ajib Nusantara Food, Ikranegara sejak tahun 2008 membuka Ajib Burger. Saat ini, ia sudah memiliki lima gerai yang tersebar di Jakarta, Cirebon, dan Surabaya.

Ikranegara tahu benar bahwa burger dan kebab mempunyai pangsa pasar yang didominasi anak muda. Karena itu, mulai pertengahan 2009, ia mulai membuat konsep marketing dengan melibatkan musik indie untuk mempromosikan usahanya.

Ia lalu mengumpulkan 11 band indie untuk kemudian dibuatkan satu album kompilasi bernama Ajib Indie Music Hitlist secara gratis. “Syaratnya mereka harus sudah punya demo,” ujar Ikranegara.

CD musik kompilasi itu kemudian jual di gerai yang dimilikinya ataupun secara online dengan harga Rp 50.000. Band akan mendapatkan fee dari setiap album yang terjual sesuai dengan kesepakatan awal. “Kami membantu rekaman termasuk penjualan album,” ujarnya.

Sebagai imbalannya, ke-11 band indie tadi wajib manggung di setiap event yang diselenggarakan Ikranegara dan tak menerima bayaran alias gratis. Biasanya event-nya adalah launching gerai baru dan acara musik lokal skala kecil. “Ini namanya saling promosi. Mereka butuh nama, kami butuh performancemereka sebagai daya tarik promosi gerai kami,” ujarnya.

Tak hanya itu, Ikranegara juga berusaha membuat pelanggan loyal dengan membuat komunitas pecinta band indie bernama Ajib Star Fans. Dengan komunitas itu akan semakin banyak anak muda yang nongkrong di gerai Ajib Burger dan Kebab. “Itu strategi kami juga untuk menggaet konsumen baru,” katanya.

Meningkatnya popularitas band indie dalam CD kompilasi yang dirilis Ajib tentu secara otomatis juga akan meningkatkan citra produk Ajib. Strategi ini diharapkan juga mampu meningkatkan brand awarenessmasyarakat terhadap Ajib Burger dan Kebab, sehingga tidak hanya konsumen yang dijaring namun juga investor baru yang mau menanamkan duitnya dalam usaha burger dan kebab melalui Ajib Burger dan Kebab.

Strategi Ikranegara ternyata manjur. Penjualan burger dan kebab yang dibanderol Rp 5.000-Rp 15.000 ini meningkat. Sebelum menjalankan strategi ini, Ikranegara hanya menjual rata-rata 20 porsi burger dan kebab per hari. Namun setelah pertengahan tahun 2009, angka penjualan meningkat 30%. “Ajib Indie Music Hitlist merupakan program yang cukup efektif untuk meningkatkan angka penjualan kami,” ujarnya.

Sebenarnya, promosi produk dengan musik sudah banyak dilakukan, termasuk oleh beberapa perusahaan besar seperti KFC dan Indosat. KFC merilis beberapa album KFC Music Hit List bekerjasama dengan Music Factory Indonesia, serta membuat komunitas penggemarnya.

Adapun Indosat lebih menggunakan acara musik bekerja sama dengan stasiun televisi untuk mempopulerkan ring back tone (RBT) dan konten. “Musik adalah strategi pemasaran utama kami,” ungkap Yudinata Adityanto, Group Head Game and Content Indosat. (peluangusaha.kontan.co.id)

Strategi Pemasaran L’Oreal dan Sunsilk

Lewat konsep yang berbeda, L’Oreal dan Sunsilk menyusun program menarik menjaring lebih banyak konsumen. Mereka menggunakan ahli penata rambut sebagai ujung tombak penjualan produk. Konsumen terjaring dan produk pun laris manis.

Demi menjaga penampilan agar tetap menarik, jarang-jarang orang mau dandan sendiri. Paling praktis dan enak, ya, mereka pergi nyalon alias merias diri di salon. Karena itu, bisnis salon kecantikan dengan mudah menjamur di segala musim, mulai pusat perbelanjaan di kota hingga menyempil di gang-gang sempit, ada saja salon yang bertengger.

Sepintas tampak bahwa kaum hawa, para pria, dan anak-anak semakin terbiasa pergi ke salon. Jadi, bisa dibilang, salon menjadi ujung tombak penjualan produk-produk kecantikan. Salah satu perusahaan yang mengandalkan salon adalah L’Oreal.

Namun, L’Oreal tak lantas tenteram melihat kondisi ini. Hasil riset yang dilakukan oleh produsen kosmetik, aksesori, sampai perlengkapan salon asal Prancis ini justru menunjukkan pengunjung salon terus me-nyusut sejak krisis tahun 2008. “Turun berkisar 20%,” ujar Reynaldo Wenas, Education Manager L’Oreal Professionnel.

Selama ini ada tiga divisi yang menangani penjualan produk L’Oreal. Pertama, L’Oreal Luxury Product Division yang fokus berjualan produk di department store. Lalu, kedua, ada L’Oreal Consumer Product Division yang khusus menangani penjualan L’Oreal di supermarket. Satu divisi lagi, ketiga, L’Oreal Professionnel Product Division yang khusus menangani pasar korporat, yakni salon.

Dari tiga divisi itu, penjualan secara ritel lewat department store dan supermarket memang dominan, mencapai 70% total penjualan. Adapun sisanya disumbangkan oleh penjualan lewat salon yang pasarnya sekarang sedang turun.

Nah, demi mencegah penurunan penjualan via salon itulah, baru-baru ini L’Oreal meluncurkan program pemasaran baru, berjudul I Love My Hairdresser. Mereka berupaya agar konsumen mau kembali datang ke salon guna merawat rambut.

Berkeliling dari mal ke mal yang tersebar di sebelas kota seperti Bali, Bandung, Jakarta, Jambi, Makassar, Manado, Palembang, Pekanbaru, dan Surabaya, Semarang, dan Medan, L’Oreal menggandeng 600 ahli penata rambut dalam program tersebut. “Ini merupakan program orisinal dari L’Oreal Indonesia dan baru pertama kali kami terapkan,” kata Ekza Novtianto, Marketing Colour Category L’Oreal Professionnel.

Lewat program ini masyarakat bisa menyambangi booth L’Oreal Professionnel. Mereka boleh berkonsultasi tentang serba-serbi merawat, mengenali tingkat kerusakan rambut, hingga memilih produk yang cocok dengan jenis serta tingkat kerusakan rambut.

Di setiap gerai duduk empat ahli penata rambut yang siap melayani konsumen tanpa pungutan biaya sepeser pun. “Konsumen tinggal datang dan berkonsultasi dengan para hairdresser itu,” ujar Ekza. Sebelumnya, rambut pengunjung akan didiagnosa untuk menentukan jenis dan kerusakan.

Bahkan, para hairdresser akan mengusulkan pilihan gaya atau potongan rambut yang tepat bagi pelanggan yang datang. L’Oreal Professionnel juga berani mengklaim layanan gerai-gerainya mirip salon, namun minus layanan potong rambut.

Sejatinya, tidak banyak biaya yang dikeluarkan L’oreal dalam menyelenggarakan program ini. Perusahaan yang sudah 100 tahun berbisnis di bidang kecantikan ini mengaku hanya menyediakan stan (booth), alat-alat, serta sejumlah produk sebagai materi kampanye.

Saling membantu

Para hairdresser yang diterjunkan L’Oreal adalah para sukarelawan yang tak dibayar. Mereka tak terikat kontrak dengan L’Oreal. “Mereka mau karena mereka juga punya kepentingan agar salonnya laris lagi, ” ujar Ekza beralasan. Para pemilik salon juga menganggap program ini kegiatan sosial mereka buat masyarakat.

L’Oreal terkesan serius menyelamatkan pasar lewat jalur salon ini karena salon merupakan jaringan distribusi yang aktif bagi produk rambut sekaligus produk kosmetiknya. Selama ini ada dua model kerja sama antara L’Oreal dengan salon: kontrak penuh dan reguler.

Pemilik salon yang memilih kontrak penuh harus menggunakan produk L’Oreal secara eksklusif. Salon tak boleh menjual atau memajang produk lain. Meski begitu, L’Oreal tak memaksa pemilik salon memasang nama L’Oreal di salonnya.

Umumnya, sistem yang dipakai adalah bagi hasil, sesuai dengan target penjualan produk-produk L’Oreal. “Tergantung dari level salon, ada yang targetnya Rp 100 juta hingga Rp 300 juta per tahun,” ujar Ekza.

Adapun kontrak reguler membolehkan salon membeli produk-produk L’Oreal sesuai dengan kebutuhan. Dengan begitu, salon juga boleh menjual produk dari perusahaan kosmetik lainnya. Kepada pemegang kontrak penuh maupun reguler, L’Oreal memberikan harga khusus untuk para distributornya ini.

Meski begitu, tak sembarang salon bisa bekerja sama. L’Oreal melakukan seleksi ketat bagi mitra, terutama soal segmentasi dan target pasar. “Jangan sampai mereka tak bisa menjual produk sesuai dengan harga yang kami minta,” ungkap Ekza lagi.

Kekuatan pihak ketiga

Menurut pandangan Sumardy, Word of Mouth Marketing Consultant dari Oktovate Consulting, strategi pemasaran yang dilakukan L’Oreal merupakan langkah tepat memasarkan produk-produk kecantikan. “Sebab, umumnya, konsumen lebih percaya pihak ketiga ketimbang iklan,” ujar Sumardy.

Persis seperti produk IT, produk kecantikan membutuhkan pendapat dari para ahli di bidangnya. L’Oreal melakukannya dengan mendatangkan para hairdresser. “Opini mereka bisa mempengaruhi konsumen dalam menentukan produk yang tepat,” ujar dia.

Pendapat mereka juga akan berefek positif bagi kredibilitas dan brand produk-produk L’Oreal. “Kalau ahlinya yang merekomendasikan, masak konsumen tak percaya?” ujarnya.

Cuma, program semacam ini baru mendatangkan efek terhadap penjualan dalam jangka panjang. Apalagi, apabila program ini tak didukung oleh delivery produk yang cepat dan tepat sasaran. Ketersediaan produk di pasar akan menambah efek penjualan yang signifikan kepada L’Oreal.

Muthia Pratiwi, Brand Public Relations L’Oreal Professionnel Product Division, menambahkan bahwa ide pemasaran ini sejatinya berangkat dari riset yang dilakukan L’Oreal. Umumnya, konsumen datang ke salon memang bukan untuk memilih-milih produk, tapi melakukan perawat-an. Kebanyakan konsumen juga tidak mau ambil pusing terhadap produk-produk yang dijual salon. Sebaliknya, konsumen bersedia memakai merek produk kecantikan tertentu jika ada anjuran dari hairdresser yang menjadi langganan atau kepercayaannya.

Karena itu, L’Oreal berencana menggelar program serupa ini saban tahun. Apalagi, dari hasil uji coba akhir tahun lalu di di wilayah DKI Jakarta, hasilnya tampak menggembirakan. Setiap hari, rata-rata 10 pengunjung yang datang berkonsultasi ke booth unik ini.

L’Oreal optimistis, program yang hendak mereka gelar sampai Maret 2011 ini bakal mengundang banyak pengunjung. “Target kami, sebanyak 500.000 konsumen akan datang,” ujar imbuh. Bila program ini sukses, target pertumbuhan penjualan hingga 15% di divisi L’Oreal Professionnel akan tercapai. ”Sekarang L’Oreal sudah menjadi top of mind konsumen, lo,” imbuh Muthia dengan bangga. (peluangusaha.kontan.co.id)

Strategi Pemasaran Dengan Kemasan Cantik

Kemasan produk yang bagus menjadi salah satu strategi jitu dalam dunia pemasaran. Maklum, kemasan yang unik dan cantik seringkali menjadi pertimbangan utama konsumen dalam membeli sebuah barang. Apalagi, untuk produk-produk yang membidik pasar kelas menengah ke atas. Dengan melihat kemasan saja, mereka akan menilai kualitas produk di dalamnya.

Seperti pada beragam produk lainnya, kemasan pada produk makanan dan minuman turut berperan penting untuk mendongkrak nilai jual. Sebab, selain rasanya yang enak, kemasan yang rapi dan unik bisa menambah keyakinan konsumen untuk membeli produk tersebut.

Contohnya produk gula aren organik milik Big Tree Farms. Perusahaan yang berdiri tahun 2000 di Bali ini, membungkus berbagai produk makanan organik tradisional dengan kemasan daur ulang yang artistik.

General Manager Big Tree Farms, Wahyu Sriningsih, mengatakan, setiap produknya merupakan produk istimewa karena memiliki sejarah dari sisi sumbernya. “Demikian pula prosesnya. Setiap produk harus melalui tahapan proses yang tidak mudah,” ujarnya.

Nah, Big Tree Farms ingin memperlihatkan semuanya itu pada konsumen. “Kami ingin membuat seluruh rangkaian proses tersebut mulai dari ide penciptaan, produksi, dan hasil akhir menjadi produk yang sempurna, dengan membuat kemasan yang sesuai dengan nilai produk tersebut,” kata Wahyu.

Beberapa produknya antara lain gula aren, lada, madu, kacang mede hingga garam laut. “Kami mengeluarkan biaya sekitar 0,037% dari total nilai penjualan untuk biaya kemasan,” ujarnya.

Selain pengemasan yang unik, Big Tree Farms juga memberi sentuhan rasa jahe atau kunyit dalam gula aren tersebut sebagai varian rasa. “Supaya rasa tradisionalnya lebih terlihat,” tutur Wahyu. Produk yang dikemas dalam tabung berbahan kertas coklat dengan ukuran berat 8,5 ons ini dibanderol seharga US$ 8,99.

Begitu juga untuk produk madu. Produk ini dikemas dalam botol bertutup kain. Harga jual per botol ukuran 10,5 ons sebesar US$ 9,99.

Selama ini Big Tree Farms menjual berbagai produknya di Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Australia dan Asia. Sementara untuk pasar lokal hanya di daerah tertentu. “Untuk penjualan di sekitar Bali, produk Big Tree Farms bisa diperoleh di Lotus, yang merupakan distributor utama kami,” kata Wahyu. Kalau di Jakarta, produk ini bisa didapat di Ranch Market dan Alun-alun Indonesia.

Setiap tahun, Big Tree Farms memproduksi rata-rata 600 ton gula aren. Adapun produksi cocoa bean berkisar 100 ton dan cocoa butter 24 ton.

Selain itu, produksi garam mencapai 12 ton per tahun. Produksi kacang mede hingga 36 ton per tahun dan madu 5 ton per tahun.

Big Tree Farms tak mengolah produk-produk ini sendiri. Mereka hanya menyediakan bahan baku untuk kemudian diolah oleh pengusaha-pengusaha binaannya. Misalnya gula aren, Big Tree Farms memasok bahan baku dari kebun kelapanya di Yogyakarta yang mempunyai luas 1.000 hektare.

Sedangkan untuk kacang mede dipasok dari kelompok tani di daerah Bali dan Flores, dengan total luas lahan 600 hektare. Adapun produk kakao dipasok oleh petani dari Bali dan Aceh, yang punya lahan seluas 381 hektare.

Hanya produk madu saja yang bukan berasal dari binaan Big Tree Farms. “Kami mendapat pasokan madu dari kelompok tani yang dibina oleh pemerintah,” ujar Wahyu.

Pentingnya pengemasan yang rapi dan apik juga diakui oleh Indrawanto, pemilik CV Diva Maju Bersama, yang memproduksi gula aren Arenga. “Dari kemasan, pembeli melihat kesan kalau produk ini bukan produk asal-asalan,” katanya.

Kini, gula aren Arenga yang semula hanya dibungkus plastik bening, telah dikemas dengan plastik lebih tebal serta kemasan aluminium foil.

Indrawanto menyatakan, pengemasan ini memakan biaya sekitar 25% hingga 30% dari harga jual produk. Saat ini, harga produk gula Arenga ukuran berat 250 gram berkisar Rp 8.000 hingga Rp 15.000 dan tergantung lokasi penjualan.

Selain menjual produk di toko-toko makanan organik lokal, Indrawanto juga memasarkan gula arennya di pasar ekspor. “Ada pembeli yang kemudian mengekspor ke Eropa dan Taiwan,” kata Indrawanto. (peluangusaha.kontan.co.id)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.