Arsip

Posts Tagged ‘Peluang Bisnis’

Peluang Bisnis Pembuatan Rebana

Selain sebagai alat musik tradisional yang kerap digunakan dalam pelbagai acara keagamaan, rebana juga menjadi aksesori dan suvenir. Permintaan rebana selalu mengalir dari pasar lokal maupun ekspor. Perajin rebana di Bantul pun mampu meraup omzet hingga Rp 30 juta tiap bulan.

Tak hanya berfungsi sebagai alat musik, rebana juga mempunyai nilai seni tinggi. Tak heran, kerajinan ini tumbuh subur di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Lantaran bisnis kulit yang meredup, Wachidussalam, pemilik Kunia Handicraft, memulai usaha pembuatan rebana sejak 2001 di Bantul, Yogyakarta. “Mulanya coba-coba, kini malah jadi mata pencaharian,” ungkapnya.

Menurut pria 50 tahun ini, usaha kerajinan rebana sangat menjanjikan. Pasalnya, banyak permintaan rebana untuk aksesori dan suvenir. Tiap bulan, Wachid pun memproduksi hingga 500 rebana, baik berukuran besar maupun kecil.

Ia memasarkan rebananya di pasar lokal dan ekspor. “Sekitar 40-50 rebana dijual ke pasar lokal lewat jalur pemasaran ritel dan online, sisanya dialokasikan untuk pasar ekspor,” ujarnya.

Wachidussalam tak menjual sendiri rebananya di pasar ekspor. Ia bekerjasama dengan Asosiasi Pengembangan Industri Kerajinan Rakyat Indonesia (APIKRI), yang menjual rebana ke negara-negara di Timur Tengah, Amerika Serikat, dan Kanada. “Tiap bulannya APIKRI bisa menjual 1.500-2.000 rebana dari beberapa perajin rebana yang ada di Bantul,” ujar dia.

Dengan harga jual rebana rata-rata Rp 60.000, dalam sebulan Wachidussalam bisa mengantongi pendapatan sekitar Rp 30 juta.

Hanya saja, Wahchidussalam mengaku kerap menghadapi masalah bahan baku. “Bahan baku yang tersedia tidak sesuai dengan kapasitas produksi,” katanya.

Hal itu sangat terasa ketika APIKRI menambah jumlah pesanan. Meskipun memiliki 10 karyawan, menjadi tak berarti ketika stok kayu tak memadai.

Walau begitu, Wachidussalam tetap optimistis usahanya akan terus berkembang. Ia pun terus berinovasi dengan menampilkan rebana bermotif batik. “Semoga rebana batik ini juga diminati oleh pasar,” katanya.

Selain di Bantul, kerajinan rebana juga terdapat di Jepara. Abdul Azis, pemilik Brakjaya, yang awalnya berbisnis furnitur menekuni usaha pembuatan rebana ini sejak 2008. Setelah melihat peluang usaha pembuatan rebana ini, ia pun mencoba membuat rebana ukuran asli Jepara.

Berbeda dengan Wachid yang menggandeng APIKRI, Azis mempromosikan rebananya lewat internet. Selain itu, ia juga sering menitipkan rebananya kepada kerabat yang bepergian ke luar negeri.

Lantaran masih baru, dalam sebulan, Azis hanya mampu menjual sekitar 10-20 rebana. Ia menawarkan harga jual Rp 320.000 tiap rebana. “Omzet masih di bawah Rp 10 juta,” ucapnya.

Tapi, Aziz bilang, keuntungan usaha ini cukup menggiurkan. Tak heran, di tempat tinggalnya, banyak terdapat perajin rebana. “Rata-rata omzet mereka cukup besar,” katanya, yang tahun lalu dapat order 700 rebana. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Warnet Masih Prospektif

Dalam era keterbukaan informasi, kehadiran internet mutlak untuk mempermudah dan menunjang pelbagai pekerjaan dan kegiatan. Tak heran, warung internet alias warnet terus bermunculan terutama di kota-kota besar semacam Jakarta dan Surabaya.

Jaringan warnet ada yang tumbuh melalui sistem waralaba, yang dalam beberapa tahun terakhir terus bermunculan, meski jumlah pertambahan gerai boleh dibilang tidak terlalu signifikan.

Meski begitu, dengan makin berkembangnya teknologi informasi dan kebutuhan orang untuk berselancar di dunia maya, waralaba jaringan internet masih cukup punya prospektif. Apalagi, bermain internet bukan monopoli orang berduit saja. Yang berkantong pas-pasan pun tetap bisa menikmati teknologi ini dengan datang ke warnet.

Berikut perkembangan sejumlah usaha warnet yang menawarkan waralaba:

Multiplus

Multiplus merupakan jaringan internet dengan format pusat layanan bisnis alias business service center.Bisnis tersebut satu paket dengan setidaknya 10 usaha lainnya, seperti warung telekomunikasi (wartel), benda-benda pos, jasa pengiriman, fotokopi, sewa kotak surat, biro iklan, hingga penjualan alat tulis dan tiket pesawat terbang.

Mulai beroperasi pada 1999 lalu di daerah Karawaci, Tangerang, saat ini Multiplus memiliki 72 gerai yang tersebar di 17 kota di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut menurun dibandingkan 2007 yang mencapai 85 gerai.

Menurut Djunaidi Atmodjo, Product Development Manager Multiplus, penyusutan jumlah gerai tersebut bukan lantaran tutup. Tapi, Multiplus memberikan kebebasan kepada mitranya untuk membuat merek dagang sendiri setelah kontrak kerjasama berakhir. “Jadi, dapat dikatakan kami memberikan pembelajaran manajemen pengelolaan di usaha ini,” katanya.

Nah, jumlah gerai Multiplus berkurang karena ada mitra yang pisah kongsi setelah kerjasama berakhir dengan membuat merek sendiri.

Memang, Djunaidi mengungkapkan, permintaan untuk menjadi mitra tidak sebanyak pada 2004-2005 lalu. Bahkan, saat ini, gerai mitra bisa menyediakan 20 komputer. Akibat minat berbisnis warnet yang sedikit menurun, kini Multiplus hanya menyiapkan 10 komputer saja.

Saat ini, kontribusi warung internet terhadap total omzet gerai Multiplus kurang dari 20%. Usaha percetakan dan fotokopi memberi sumbangan paling besar dari sisi pendapatan Multiplus. Sementara itu, usaha wartel sudah dicoret sejak 2007.

Paket investasi waralaba yang ditawarkan Multiplus sekarang sekitar Rp 450 juta-Rp 500 juta. Nilai tersebut sudah termasuk franchise fee selama 5 tahun dan peralatan. Omzet yang bisa dikantongi tiap gerai mencapai Rp 60 juta- Rp 100 juta per bulan. “Tergantung dari lokasi dan kawasan yang dipilih oleh mitra,” ucap Djunaidi.

Kubus

Warnet Kubus berada di bawah bendera CV Agni Biru yang beroperasi sejak 1997 silam. Setelah tujuh tahun beroperasi, warnet ini menambah layanan baru, yaitu game online yang belakangan makin digandrungi.

Sejak awal 2008, Agni Biru mulai menawarkan sistem kerjasama kemitraan kepada masyarakat. Pada Februari 2008, Kubus telah memiliki enam gerai yang semuanya berlokasi di Bandung, Jawa Barat. Perkembangan yang pesat tersebut tidak diikuti di bulan-bulan berikutnya.

Kini, gerai Kubus hanya bertambah satu yang juga berlokasi di Bandung. Lima di antaranya adalah cabang dan dua sisanya milik mitra. “Dua mitra kami berada di daerah Merdeka dan Padasuka,” ujar Dadi Sugiana,Managing Director Agni Biru.

Dadi mengklaim bahwa sebetulnya banyak yang mengajukan diri menjadi mitra. Tapi, Dadi menilai banyak persyaratan yang belum dipenuhi oleh para calon mitra. Misalnya, calon mitra sudah memiliki tempat namun modalnya yang belum cukup atau pun sebaliknya. Nah, ini yang membuat perkembangan gerai Kubus berjalan sangat lambat bak siput.

Ke depan, Dadi bilang, perusahaannya akan mengubah aturan main soal modal awal menjadi mitra, bahkan kalau perlu bisa dinegosiasikan dengan calon investor.

Hingga kini, Agni biru masih menawarkan tiga paket investasi kemitraan dengan modal awal yang bervariasi.

Paket pertama, dengan biaya franchise sebesar Rp 40 juta dan modal awal Rp 325 juta hingga Rp 400 juta.Paket kedua, biaya franchise Rp 60 juta dengan modal awal Rp 425juta hingga Rp 500 juta. Paket ketiga,biaya franchise Rp 80 juta dan modal awal minimal Rp 500 juta. “Modal awal ini yang bisa berkurang jika modal dari calon mitra terbatas,” ungkap Dadi.

Syarat lain menjadi mitra Kubus: memiliki lokasi usaha yang strategis. Dadi menyarankan, lokasi warnet ada di sekitar kampus atau pusat perbelanjaan.

Dadi mencontohkan, untuk simulasi usaha paket pertama, mitra bisa balik modal sekitar 1,5 hingga 2 tahun. Dengan catatan, omzet mitra mencapai Rp 45 juta per bulan.

Agni Biru saat ini juga sedang menawarkan kerjasama kemitraan dengan pihak universitas. Melalu pembaharuan manajemen seperti ini, Dadi berharap Kubus bisa mengembangkan usaha yang tak hanya sebatas di Bandung.

Warnet Gue

Menjelang akhir tahun ini omzet Warnet Gue cenderung stabil. Tidak ada peningkatan yang signifikan pada penghasilan. Tapi, jumlah mitra Warnet Gue bertambah, dari sebelumnya 16 mitra pada pertegahan 2010 menjadi 18 mitra yang tersebar di Jabodetabek plus Serang dan Bali.

Omzet yang statis tersebut, Salman, pemilik Warnet Gue, mengungkapkan, karena makin banyaknya pesaing warung internet di sekitar lokasi gerai miliknya dan kepunyaan mitra Warnet Gue.

Salman menuturkan, waralaaba yang ditawarkan Warnet Gue terbilang lebih baik dan memiliki keunggulan ketimbang para pesaing. Selain investasi yang cukup murah, Warnet Gue yang beroperasi sejak 2004 lalu juga tidak memungut royalty fee.

Itu sebabnya, permintaan untuk menjadi mitra terus mengalir. Walau banyak yang sudah mengajukan diri termasuk Kalimantan, Salman belum bisa meluluskan semua permohonan untuk menjadi mitra Warnet Gue. Salah satu alasannya, lokasinya yang jauh dan perlu survei terlebih dahulu agar usaha Warnet Gue di daerah tersebut bisa berkembang bagus. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Aksesoris Tabung Gas

Saking seringnya tabung elpiji kemasan 3 kg meledak, masyarakat sampai menjuluki produk itu bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Tapi, kejadian ini justru menjadi peluang emas bagi produsen alat pengaman untuk mencegah atau mendeteksi kebocoran gas. Permintaan alat tersebut melonjak gila-gilaan sampai 40%.

Maraknya kasus ledakan tabung elpiji kemasan 3 kg menebar ketakutan yang luar biasa dalam masyarakat. Tapi, momentum ini justru membuka peluang bagi produsen alat pengaman untuk mencegah kebocoran. Alat tersebut berfungsi untuk menekan regulator dan selang tabung elpiji.

Junaidi Sharly, pemilik CV Prima Artha Mandiri di Pati, Jawa Tengah mengatakan, sejak 2009 hingga 2010 ini permintaan alat pengaman itu terus meningkat, seiring seringnya kasus ledakan tabung elpiji yang sampai meminta korban jiwa. “Kenaikannya bisa sampai 40%,” ungkap Junaidi.

Saat ini, permintaan alat pengaman tersebut lebih dari 2.000 unit per bulan. Harga tiap unit antara Rp 10.000 hingga Rp 15.000. Dengan kapasitas produksi 200 unit per hari, Junaidi mampu meraih keuntungan lebih dari Rp 10 juta per bulan. Pesanan paling banyak datang dari Pulau Jawa dan Sumatera.

Junaidi mengklaim, alat pengaman buatannya mampu mencegah kebocoran gas elpiji dan mampu mengoptimalkan kinerja regulator. “Alat bikinan saya mampu mengunci regulator dengan sempurna pada tabung yang kurang pas atau kurang kencang,” ujar Junaidi.

Terbuat dari aluminium, alat pengaman buatan Junaidi lumayan aman digunakan. Dia mendapat bahan baku utama alat ini dari bahan bekas, seperti pelek dan seher mobil, yang kemudian dilebur.

Agar permintaan terus bertambah, Junaidi sedang memproses alat pengaman bikinannya itu mendapat sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI), layaknya aksesori tabung lainnya, yakni selang dan regulator.

Beda dengan Junaidi, penjualan alat pengaman tersebut di toko Cahayakindo yang berlokasi di ITC Glodok, Jakarta Barat milik Yakob tidak heboh-heboh amat, seheboh berita ledakan tabung elpiji yang sudah menewaskan puluhan orang.

Yakob yang telah menjadi pengecer produk ini sejak 2009 lalu menuturkan, permintaan alat pengaman ini sangat sedikit. Itu sebabnya, dalam sebulan belum tentu ada produk yang terjual. Soalnya, “Masyarakat belum mengetahui akan produk ini,” ujarnya. Padahal, harga jual produk ini cukup murah, yakni Rp 25.000 per unit.

Tapi, Yakob menyarankan, agar tidak semua regulator memakai alat pengaman ini. Terutama yang sudah ber-SNI. Kecuali, untuk regulator yang kualitasnya masih sangat diragukan.

Peringatan juga datang dari I Gusti Putu Suryawirawan, Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian. Ia mengatakan, ledakan yang terjadi bukan disebabkan oleh kerusakan pada tabung, namun kerusakan pada valve atau katup pada mulut tabung yang ditekan secara paksa. Nah, “Alat penekan regulator justru dapat menyebabkan kebocoran karena dapat membuat pin penekan regulator menjadi miring,” katanya.

Karena itu, Gusti Putu meminta masyarakat untuk hati-hati. Apalagi, sejak maraknya kasus ledakan tabung gas, makin banyak pengguna elpiji khususnya tabung melon menggunakan alat pengaman regulator.

Supaya lebih aman, Subhan, produsen alat pendeteksi kebocoran gas, menyarankan masyarakat membeli alat buatannya yang lebih aman. Alat ini memiliki cara kerja seperti alarm yang mendeteksi bau gas sampai radius 1,5 meter dari tabung. “Sebaiknya, dipasang tidak lebih dari radius 1,5 meter,” ujar dia, yang menjual produknya secara online.

Subhan menjelaskan, alat pendeteksi yang diberi merek Livotech ini akan mengeluarkan suara melengking begitu mendeteksi bau gas. “Prinsip kerjanya sama dengan alarm kebakaran,” ujarnya. Alat ini dijual seharga Rp 250.000.

Sejak menjual produk tersebut pada awal 2010 lalu, alat pendeteksi made in Subhan laris manis. “Jika dibandingkan bulan lalu, maka penjualan bulan ini naik hingga 80%,” katanya. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Penitipan Anak

Sudah lazim, di kota-kota besar semacam Jakarta, suami dan istri, dua-duanya bekerja. Sebagian dari para orang tua mempercayakan buah hatinya yang masih balita kepada pengasuh alias baby sitter di rumah. Nah, bagi yang tidak punya pembantu, jelas ini masalah besar.

Peluang tersebut yang kemudian ditangkap oleh beberapa orang yang kemudian membuka jasa penitipan anak. Tidak hanya di sekitar perumahan, tapi juga muncul di mal atau pusat perbelanjaan yang dekat dengan kantor orang tua si anak.

My Daycare, misalnya, yang buka menyatu dengan arena bermain My Playmall di Mall Of Indonesia, Kelapa Gading. Mereka menerima penitipan anak mulai usia enam bulan hingga lima tahun.

My Daycare yang baru buka tahun lalu mengklaim, mereka menawarkan lingkungan yang aman bagi balita dan program yang mendukung perkembangan anak. Salah satunya, belajar aktif yang membangun kepercayaan dan kemandirian si anak.

Dofia A. Soewardjan, License Manager My Daycare, mengatakan, untuk bisa menitipkan anak di My Daycare, orang tua harus membayar biaya pendaftaran sebesar
Rp 2 juta dan biaya bulanan Rp 1,5 juta. Biaya bulanan itu hanya untuk penitipan satu shift, mulai pukul 09.00 hingga 13.00. Untuk shift berikutnya, tetap dikenai biaya yang sama sebesar Rp 1,5 juta.

“Kelebihan My Daycare adalah penerapan kurikulum play-based dan program child development. Selain itu, di sini tersedia psikolog, fisioterapis, dokter anak, dan dokter gigi,” ungkap Dofia.

Saat ini, My Daycare baru memiliki satu gerai di Mall of Indonesia, Jakarta Utara. Rencananya PT Golden Anugerah Kencana, pengelola My Daycare akan membuka satu tempat lagi di Senayan City, Jakarta Selatan. “Sejauh ini, kami belum ada outlet milik mitra,” kata Dofia.

Baru tahun ini

Untuk mempercepat pertumbuhan bisnisnya, mulai tahun ini, Golden Anugerah menawarkan waralaba My Daycare. Dofia mengatakan, untuk jadi mitra, calon investor harus menyiapkan investasi awal paling tidak Rp 560 juta-Rp 600 juta. Dana itu untuk renovasi tempat penitipan anak, sewa tempat, peralatan, plang nama My Daycare, biaya operasional awal, serta izin usaha. “Kami memungut franchise fee Rp 50 juta,” ujarnya.

Selain franchise fee, juga ada royalty fee sebesar 5% dari omzet per bulan. Kontrak antara mitra dengan My Daycare berlaku selama jangka waktu enam tahun.

Nantinya, My Daycare juga akan menyediakan panduan perekrutan tenaga kerja. Namun, mitra harus menyiapkan tenaga kerja dengan minimal pendidikan SMA. “Syarat nomor satu adalah, suka dengan anak-anak,” kata Dofia.

Dengan investasi sebesar itu, Golden Anugerah menargetkan balik modal baru dalam waktu sekitar tiga tahun. Omzet per bulan rata-rata sebesar Rp 45 juta.

Tak hanya di pusat perbelanjaan, gerai My Daycare juga bisa didirikan di lokasi strategis lain, seperti di dekat perumahan. Luas minimal tempat penitipan anak sekitar 350 m2.  (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Boneka Manekin

Januari 6, 2011 1 komentar

Perkembangan industri fesyen ikut mendongkrak permintaan patung manekin. Pesanan terus berdatangan seiring makin menjamurnya toko baju, butik dan galeri fesyen, baik di Indonesia atau di luar negeri. Bisnis patung manekin pun makin menjanjikan. Per bulan, seorang pengusaha patung manekin bisa mendapatkan omzet hingga Rp 30 juta.

Bisnis patung manekin memang belum terlalu tersohor. Bahkan, di pasar, persaingan penjual serta produsen patung manekin masih terasa longgar.

Peluang inilah yang ditangkap perajin patung manekin di Bekasi, Neni Sriwahyuni. Perempuan yang berumur 32 tahun itu memulai usaha membuat patung manekin di tahun 2004. “Waktu itu, belum banyak orang membuat patung manekin,” ujarnya.

Padahal, permintaan patung manekin saat itu cukup tinggi, terutama untuk pasar lokal. “Permintaan patung manekin banyak datang dari Jawa, Bali, dan Kalimantan,” kata dia.

Kini, Neni pun tak hanya memenuhi permintaan lokal. Belakangan, ia kebanjiran pesanan dari luar negeri. “Dibandingkan lokal, justru banyak pesanan dari luar negeri, seperti Korea Selatan, Singapura, dan Malaysia,” tutur Neni. Pasar dari mancanegara ini lebih banyak memesan patung manekin dari fiber.

Setiap bulan, Neni menjual minimal 20 patung manekin. Ia menyediakan beragam patung manekin jenis pria, wanita, dan anak-anak dengan pelbagai ukuran.

Patung manekin anak dibanderol mulai Rp 1,5 juta. Lalu, patung-patung manekin orang dewasa dipatok dengan kisaran harga Rp 2 juta hingga Rp 3 juta.

Harga yang cukup mahal, menurut Neni, lantaran ia mengincar pasar ekspor. “Di pasar internasional, kami lebih mengutamakan kualitas, jadi bahan bakunya harus bagus,” ujarnya.

Oleh karena itulah, Neni juga lebih mengutamakan penjualan ekspor ketimbang dalam negeri. “Kalau di pasar lokal, kami sudah kalah dengan produk lainnya, karena banyak manekin berharga murah,” kata Neni.

Hampir 60% produk patung manekinnya diekspor. Sementara, di pasar lokal, ia banyak memasok pabrik garmen yang seringkali memesan lima hingga sepuluh patung.

Berbeda dengan Neni yang lebih fokus menggarap pasar ekspor, Rahmanto justru memilih pasar lokal untuk menjual patung manekinnya. “Saya sudah mengirim patung manekin ini hampir ke seluruh wilayah Indonesia, kecuali Aceh,” ujarnya.

Rahmanto yang baru enam bulan menekuni usaha pembuatan patung manekin banyak memperoleh pesanan dari Jakarta, Surabaya, dan Kalimantan Timur. “Pemesanan ke kota-kota itu selalu dalam partai besar,” ujar Rahmanto yang memiliki workshop di Probolinggo.

Di bengkel produksi itu, ia dibantu perajin setempat untuk memproduksi 5 sampai 10 patung setiap harinya.

Di pasar lokal, Rahmanto membidik segmen menengah. Itu sebabnya, harga patung manekinnya relatif lebih miring dari buatan Neni.

Harga manekin kepala anak dijual mulai Rp 27.000. Dan, manekin kepala orang dewasa dilego dari harga
Rp 32.000. Untuk patung setengah badan, ia membanderol harga Rp 40.000 hingga Rp 100.000. Adapun, harga patung manekin seluruh badan berkisar Rp 450.000 hingga Rp 550.000.

Rahmanto bilang, patung manekin yang terbuat dari plastik lebih banyak dipesan ketimbang yang berbahan fiber. Pasalnya, selain harganya lebih murah, model patung manekin plastik juga lebih bagus. Maklum, bahan plastik ini lebih mudah dibentuk dan tak mudah retak. Selain itu, patung setengah badan perempuan dengan kepala paling banyak dipesan untuk di-setting memakai baju dan kerudung.

Omzet yang diperoleh dari penjualan patung manekin lumayan besar. Neni mengungkapkan, dalam satu bulan ia mampu meraup omzet mulai Rp 20 juta hingga Rp 30 juta dengan menjual 20 hingga 25 manekin.
Soal omzet, meski bisa memproduksi lebih banyak, Rahmanto mengaku baru mendapat Rp 10 juta setiap bulannya. Maklum, manekinnya terbilang murah.

Untuk mengembangkan usahanya, Neni tidak terlalu banyak melakukan inovasi pada hasil patungnya. Soalnya, ia hanya membuat patung manekin berdasarkan pesanan para pelanggan.

Neni pun membuat situs di internet untuk merambah pasar yang lebih luas. Ia mempromosikan patung manekinnya dalam situs http://www.endo_fiberglass.com.

Melihat hasil penjualannya saat ini, Neni pun cukup puas. Makanya, ia tak mempunyai target yang muluk-muluk dalam mengembangkan pasarnya.

Hal ini sangat bertolak belakang dengan Rahmanto yang ingin terus mengembangkan pasarnya. Sekadar info saja, Rahmanto membuka usaha ini dengan modal minim. Ia juga tak mau mengandalkan pinjaman bank atau kredit usaha rakyat (KUR) yang tengah digalakkan pemerintah. “Kalau ke bank terbentur bunga tinggi. Lagipula, saat ini, kami masih bisa menutup biaya produksi dan distribusi,” tuturnya. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Bandrek Kemasan Instan

Januari 6, 2011 1 komentar

Zaman sekarang, semua serbapraktis dan instan. Termasuk sewaktu menyeruput bandrek. Itu sebabnya, minuman tradisional khas Sunda yang mulai merambah pasar ekspor kini banyak dijual dalam pelbagai kemasan. Usaha ini menggiurkan dengan omzet sekitar Rp 30 juta hingga Rp 40 juta sebulan.

Sekarang, minuman tradisional Sunda berbahan baku jahe dan gula aren ini tidak cuma menjadi monopoli warung-warung makan di pinggir jalan. Tapi, bandrek juga merangsek ke pasar ritel dalam bentuk kemasan. Jadi, tinggal sedu dengan air panas, bandrek siap diseruput panas-panas.

CV Cihanjuang Inti Teknik, produsen bandrek instan dengan merek Hanjuang, mulai memproduksi bandrek instan sejak 2000 lalu. Pasarnya sudah jauh menjangkau ke luar Jawa Barat, mulai Medan, Pekanbaru, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya.

Bahkan, bandrek Hanjuang juga mulai merambah pasar ekspor. “Agen kami sempat mengirimkan produk kami ke Australia dan sejumlah negara di Timur Tengah, ya meskipun masih dalam jumlah yang kecil,” kata Muhammad Sanusi, Humas Cihanjuang Inti Teknik.

Perusahaan yang dulunya bergerak di bidang teknik ini bisa memproduksi 40.000 kemasan bandrek instan per hari dengan bermacam varian rasa. Saat ini, Cihanjuang Inti Teknik mempekerjakan 68 karyawan. Itu belum termasuk tenaga outsourcing, misalnya ibu-ibu di sekitar pabrik yang tergabung dalam Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Proses produksi yang melibatkan penduduk sekitar pabrik terutama untuk tenaga pengemasan. Sedangkan untuk keperluan produksi bandrek instan, Cihanjuang Inti Teknik sudah punya mesin pengolah sendiri.

Kini, Cihanjuang Inti Teknik memproduksi 11 bandrek instan beraneka rasa dan permen bandrek dengan empat rasa. Contohnya, Bandrek Hanjuang, Bajigur Hanjuang, Bandrek Spesial dengan ekstra ginseng dan pinang, Beas Cikur, Coklat Bandrek, Teh Bandrek, Kopi Bandrek, dan Kopi Bajigur. “Omzet per bulan kami sekitar Rp 30 juta hingga Rp 40 juta,” ujar Sanusi.

Cihanjuang Inti Teknik memperhatikan betul soal proses pengemasan bandrek instan mereka. Selain dalam bentuk rencengan yang bisa dijual di warung-warung, perusahaan yang berbasis di Cimahi, Jawa Barat ini juga memproduksi bandrek instan dalam kemasan kantong kertas yang lebih klasik dan berkelas. “Banyak yang mencari produk ini untuk oleh-oleh,” imbuh Sanusi.

Menurut Sanusi, keunggulan bandrek instan Cihanjuang Inti Teknik ada pada rasa yang khas. Soalnya, mereka memakai pelbagai bahan rempah pelengkap, seperti serai, merica, cabe, lada, cengkeh, dan kayu manis.

Nah, untuk pasokan bahan baku utama jahe, Cihanjuang Inti Teknik mendatangkan khusus dari luar Jawa. “Selama ini, untuk bahan baku jahe kami bekerjasama dengan petani di daerah Lampung,” kata Sanusi.

Setiap tahun, Cihanjuang Inti Teknik memasok sekitar 100 ton jahe dari Lampung. Sementara, untuk gula aren, mereka mendapat suplai dari para petani binaan di wilayah Sukabumi Selatan. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Waralaba Martabak Bandung

Saat ini, hampir di setiap penjuru kota, kita bisa menemukan penjual martabak. Maklum, kudapan manis ini memang punya banyak penggemar. Tak heran, biarpun banyak penjual martabak legendaris yang bertahan, ada saja orang yang ingin menjajal bisnis makanan itu.

Setelah puluhan tahun melayani penggemar martabak di Bandung, Martabak San Fransisco akhirnya menawarkan kemitraan mulai tahun ini. Sekadar informasi, gerai martabak yang berdiri di Jalan Buranrang, Bandung, ini lahir di tangan Adjun sejak 1967 silam. Kini, gerai martabak ini dikelola oleh anaknya, Laurensius Buyung.

Laurensius pun berniat mewujudkan cita-cita ayahnya yang ingin menjadikan Martabak San Fransisco go international. Namun, terlebih dulu, Laurensius menawarkan kesempatan bagi mitra yang ingin membuka gerai di seluruh pelosok Indonesia.

Meski banderol martabak San Fransisco mahal, Laurensius bilang, produknya terkenal enak. Soalnya, ia menggunakan bahan-bahan yang berkualitas. Selain itu, Laurensius pun memakai mesin otomatis untuk mengontrol kualitas adonan martabaknya.

Lantaran berbagai kelebihan itu pula, Laurensius merasa tak gentar dengan banyaknya jenis martabak yang ada di pasar. Ia juga menyediakan martabak dalam pelbagai ukuran. “Kami menyesuaikan kocek pembeli dengan ukuran martabak, yakni small, medium, dan large,” ujarnya.

Selain ukuran, seperti gerai martabak lain, Martabak San Fransisco juga menawarkan beraneka rasa. Namun, yang paling digemari pembeli adalah rasa keju wijen, kacang cokelat, dan pandan keju. Pembeli pun bisa menikmati bermacam rasa tersebut dalam satu loyang martabak.

Laurensius menawarkan dua paket kemitraan Martabak San Fransisco. Selain dari nilai investasi, ia membedakan harga jual martabak dari kedua jenis paket ini.

Paket pertama, Paket Gold. Nilai investasinya sebesar Rp 90 juta. Laurensius menetapkan harga jual martabak pada paket ini berkisar Rp 15.000 hingga Rp 27.000 per loyang. “Harga martabak Paket Goldyang paling terjangkau,” ujar dia.

Paket kedua, yakni Paket Platinum memiliki nilai investasi Rp 105 juta. Pada paket ini, harga jual martabak dipatok antara Rp 25.000 sampai Rp 50.000 seloyang.

Dalam kedua paket ini, Laurensia akan menyediakan pelbagai peralatan, seperti mixer, meja stainless steel, booth, neon box, dekorasi tempat usaha, dan bahan baku untuk dua hari. Ia hanya membedakan ukuranbooth serta meja pada tiap-tiap paket.

Jika calon mitra mempunyai lokasi yang bagus, kata Laurensius, gerai mitra bisa meraup omzet minimal Rp 30 juta setiap bulan. Nah, “Dengan omzet itu, margin bersih yang bisa diperoleh sekitar 40%,” ungkap dia.

Ia pun berasumsi, jika mitra yang mengambil Paket Gold bisa menjual 35 loyang sehari, modal bisa kembali dalam waktu 8,5 bulan. Sementara itu, dengan jumlah loyang yang terjual sama, mitra yang memilih Paket Platinum bisa mendapat modalnya kembali dalam waktu 7,5 bulan.

Menurut Amir Karamoy, Ketua Dewan Pengarah Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia, prospek bisnis martabak masih cukup mengkilap. “Investasi hingga ratusan juta dengan perhitungan balik modal 9 bulan, rasanya cukup rasional,” ujarnya. Namun, ia menambahkan, sebagai makanan yang sering dibawa pulang, selain rasa, pemilik harus memperhatikan kemasan. (peluangusaha.kontan.co.id)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.