Arsip

Posts Tagged ‘Peluang Bisnis’

Peluang Bisnis Desain Batik Dengan Komputer

Penerapan teknologi komputer dalam batik bisa memperkaya motif warisan budaya asli Indonesia ini. Perangkat lunak tersebut bahkan bisa menciptakan desain batik baru yang lebih menarik sesuai selera pasar. Dan, yang tidak kalah penting, software itu sudah dijual bebas.

Dunia terus berkembang, begitu pula dengan batik. Dulu, batik dilukis dengan tangan secara tradisional atau dicap. Sekarang, desain batik bisa dilakukan dengan komputer. Perkembangan teknologi ini memungkinkan pembuatan motif batik dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit sekalipun.

Salah satu perusahaan yang mengembangkan teknologi desain motif batik adalah CV Pixel Indonesia. Perusahaan yang 2007 lalu masih bernama Pixel People Project ini sudah melakukan riset dan analisis pembuatan motif batik dengan rumus matematika fraktal. Oh ya, fraktal merupakan pola geometris berulang dengan pelbagai ukuran skala.

Melalui batik fraktal, Pixel Indonesia menciptakan software jBatik. Perangkat lunak ini memakai L-System tiga dimensi dan Cellular Automata sehingga bisa memperbanyak bermacam jenis motif batik.

Motif yang sudah jadi, lalu dicetak di kertas dengan skala 1:1 alias disesuaikan dengan besaran motif yang akan diaplikasikan ke kain. Setelah itu, motif hasil cetakan komputer diterjemahkan ke kain melalui proses yang sama dengan pembuatan batik tradisional lain lewat alat canting.

Kepala Bisnis Pixel Indonesia Nancy Margried mengatakan, motif batik fraktal memiliki ciri khusus dibandingkan motif batik lainnya. Yaitu, warna yang terang dan kontras, misalnya, kelir dasar kuning dengan garis ungu atau merah jambu menyala plus garis kuning. “Kami ingin menonjolkan eksplorasi motifnya,” katanya. Namun, tidak menutup kemungkinan pelanggan memesan warna yang lebih kalem.

Software batik ciptaan Pixel Indonesia menyasar target para pembatik untuk mempermudah desain motif batik baru. “Harga di pasar ritel Rp 5 juta termasuk pelatihan,” ungkap Nancy. Namun, sampai saat ini, Pixel Indonesia lebih banyak menjual software dalam bentuk partai besar untuk perusahaan atau lembaga-lembaga pemerintah.

Setiap tahun, Pixel Indonesia bisa mendapat lima hingga enam proyek pengadaan software jBatik. Nilai setiap proyek antara Rp 80 juta hingga Rp 120 juta. Software tersebut nantinya akan sampai ke tangan pembatik melalui program corporate social responsibility atawa CSR.

Selain menjual software batik, Pixel Indonesia juga memproduksi batik. Namun, mereka hanya membuat motifnya. Setelah motif jadi sesuai pesanan, pembuatan batik sampai tahap akhir akan diserahkan ke pembatik langganan.

Namun, Pixel Indonesia tidak banyak bekerja sama dengan pembatik. Hingga kini, baru lima rumah batik yang dipercaya untuk menerjemahkan batik yang dihasilkan komputer ini. Soalnya, “Kami memilih pembatik yang tahu cara mengerjakannya, karena garis batik dari komputer ini halus,” ujar Nancy.

Tak salah, jika kemudian Pixel Indonesia membanderol desain batiknya dengan harga tinggi. Batik tuliscustom made hasil software Pixel Indonesia paling murah harganya Rp 1,5 juta. Makanya, pasar batikcustom made ini pun tidak banyak, yang paling memungkinkan adalah konsumen di usia 40 tahun ke atas dengan kantong yang cukup tebal.

Tapi, untuk memperlebar pasar, Pixel Indonesia mulai menyasar lapis kedua untuk mereka yang berkantong pas-pasan. Mereka memproduksi batik-batik dengan harga lebih murah berupa batik cap. “Permintaan batik jenis ini banyak sekali, misalnya, untuk orang-orang yang kuliah dan yang baru kerja,” kata Nancy. Tapi, harga yang ditawarkan juga tidak murah-murah amat. Batik cap made in Pixel Indonesia dijual dengan harga mulai dari Rp 150.000 per potong.

Nancy bilang, perusahaannya akan terus mengembangkan motif batik baru. Apalagi, pertumbuhan bisnis batik di Indonesia terus tumbuh dari tahun ke tahun. Begitu juga, “Pertumbuhan omzetnya dari tahun 2009 ke 2010 mencapai 30%,” ungkap dia.

Selain Pixel Indonesia dengan batik fraktal, ada juga batik Acrobatik yang dibuat dengan software M-Batik, yang dikembangkan oleh Bandung Fe Institute. Perwakilan Pemasaran Acrobatik Shanty Diandini menjelaskan, ciri khas batik Acrobatik ada pada keterangan motif yang lebih menekankan pada hasil akhir batik. “Kami ingin orang mengenal motif batik tersebut dan artinya,” kata Shanty.

Acrobatik memproduksi batik dengan software M-Batik sejak April 2009 lalu setelah membeli lisensi dari Bandung Fe Institute. Namun, berbeda dengan Pixel Indonesia, software M-Batik tidak dijual bebas. Mereka hanya melayani pemesanan desain hingga pembuatan batik saja.

Bila pada awalnya produksi Acrobatik hanya berupa kaos dan kemeja yang menyasar kalangan muda, “Sekarang, sudah berkembang ke seragam perusahaan dan sekolah,” ujar Shanty.

Acrobatik bisa memadukan pelbagai motif batik yang digabung dengan logo perusahaan. Salah satu klien Acrobatik adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom). Logo perusahaan telekomunikasi pelat merah tersebut berbaur dalam motif batik dasar.

Selain pasar korporasi, Acrobatik pun mengakomodasi pasar ritel. Shanty mengungkapkan, kelebihan batik Acrobatik terletak pada desain yang lebih harmonis karena dibantu software dan sentuhan akhir dari seniman batik. Acrobatik juga memiliki bank motif yang sangat banyak dari seantero negeri.

Sama seperti Pixel Indonesia, Acrobatik hanya memproduksi desain batik saja, lantaran produksi akhir tetap dilakukan oleh para pembatik asli. Untuk ini, Acrobatik bekerja sama dengan sekitar 50 orang pembatik. Tetapi, ketika pesanan melonjak, mereka menambah jumlah pembatik sesuai dengan kebutuhan.

Acrobatik menjual batik bikinan mereka dengan harga rata-rata sebesar Rp 100.000 hingga Rp 200.000 per helai, baik dalam bentuk pakaian jadi atau kain. “Dalam satu bulan, kami menangani antara 300 hingga 500 potong dari pelbagai pemesan,” kata Shanty.

Untuk memperkaya motif, ia menambahkan, pihaknya akan terus mengumpulkan motif batik terutama dari luar Pulau Jawa.

Peluang Bisnis Waralaba Tahu Krispi

Tahu. Selama ini, salah satu makanan favorit orang Indonesia. Selain harganya terjangkau, kandungan gizi makanan dari kacang kedelai ini juga lumayan komplet.

Itu sebabnya, tidak mengherankan, kalau penjaja makanan tersebut pun terus bermunculan. Baik yang mengusung merek sendiri maupun yang membeli merek waralaba atau kemitraan. Beberapa usaha penjualan tahu yang memakai merek waralaba dan kemitraan di antaranya: Tahu Kripsi Tofuku, Tahu Brintiiik Crispy, Tahu Petis Yudhistira, serta Tahu Kress.

Slamet Raharjo, pemilik waralaba Tahu Krispi Tofuku asal Surabaya, menyatakan, sebagai kudapan sehari-hari penduduk negeri ini, potensi usaha penjualan tahu masih terbuka lebar. Tapi, berjualan tahu belum tentu akan selalu mendulang sukses.

Apalagi, jika tak jeli membidik segmen dan lokasi usaha yang tepat. Sulit rasanya, gerai bisa berlangsung lama. “Di tempat saya juga begitu. Memang ada penambahan mitra, tapi tak sedikit juga yang gulung tikar,” katanya.

Lain lagi menurut Alex Satriyo, pemilik waralaba Tahu Brintiiik Crispy. Ia bilang, waralaba tahu bisa berkembang selama pemiliknya bisa menjalankan bisnis dengan benar. Oleh karena itu, keberadaan orang yang tepat di bagian pengembangan bisnis sangat penting. “Itu yang mau saya terapkan,” ujarnya.

Nah, dalam tulisan ini, KONTAN mencoba menguraikan kembali kondisi kemitraan atau waralaba tahu yang pernah diulas sebelumnya.

Tahu Kripsi Tofuku

Waralaba milik Slamet Raharjo ini, pernah diulas KONTAN, September 2008. Saat itu, gerainya cuma tujuh buah. Rinciannya, tiga gerai milik sendiri dan empat lainnya kepunyaan mitra. Kini, jumlah gerai Tahu Krispi Tofuku sudah 102 buah yang dioperasikan oleh 80 mitra.

Slamet menjelaskan, pesatnya perkembangan gerai tersebut lantaran usaha tahu miliknya punya banyak kelebihan. Selain renyah, memiliki banyak pilihan rasa sesuai dengan selera konsumen. Ambil contoh, tahu renyah bumbu balado, piza, ayam bakar, daging bakar, keju, saus sambal, serta mayones.

Ia juga menyiapkan sambal khusus yang dapat dicocol sebelum tahu itu dikunyah. Yang paling penting, “Investasinya cukup murah,” katanya. Slamet menyediakan dua paket investasi, yakni paket Rp 7 juta dan Rp 8,5 juta.

Untuk paket investasi Rp 8,5 juta, mitra tak hanya bisa menjual tahu, tetapi berhak berdagang teh rosela dan teh hitam racikan Slamet. “Sebenarnya, ada paket ketiga dengan investasi Rp 13 juta. Cuma, tidak laku karena terlalu mahal,” ungkapnya. Memang, ia menambahkan, investasi usaha tahu idealnya tidak lebih dari Rp 10 juta.

Keberhasilan Slamet menjaring banyak investor lantaran ia tidak mengharuskan mitra membeli tahu darinya. Selama tahu yang dipakai oleh mitra sesuai standar yang diberikan Slamet, mereka bisa mencari bahan baku sendiri. “Jadi, saya memberikan kemudahan kepada para mitra,” katanya berbagi rahasia.

Alasan lainnya, bila semua tahu disuplai dari Slamet, ia juga bakal kerepotan. Soalnya, saat ini, mitranya sudah tersebar di seluruh Indonesia. Bahkan, untuk wilayah Makassar dan Balikpapan jumlah mitra sudah melebihi partner bisnisnya yang ada di Surabaya. “Di kedua wilayah itu masing-masing ada sekitar 10 mitra yang tak hanya punya satu gerai,” ujar dia.

Ia pun rajin meracik menu baru agar tak ditinggal pembeli. “Semoga, akhir tahun ini saya bisa mengeluarkan menu baru lagi,” katanya.

Tahu Brintiiik Crispy

Waralaba tahu ini pernah dibedah lengkap di Harian KONTAN pada Januari 2009. Kala itu, jumlah gerainya baru 15 gerai. Tapi, sekarang sudah mencapai 50 gerai. “Seharusnya, bisa tumbuh lebih banyak lagi,” tutur Alex Satriyo, pemilik waralaba Tahu Brintiiik Crispy.

Alex mengakui, ia belum maksimal mengembangkan waralabanya. Sebab, belum memiliki orang yang khusus mengurus pengembangan bisnis Tahu Brintiiik Crispy. Padahal, peranan orang yang duduk di posisi itu sangat penting bagi perluasan usaha waralabanya. “Saat ini, kami belum mendapat orang yang bisa diandalkan,” tutur pria berusia 46 tahun itu.

Sejak diwaralabakan hingga kini, investasi Tahu Brintiiik hanya Rp 9 juta dengan kontrak selama lima tahun. Dalam hitungan Alex, dengan menjual 30 porsi sehari dan margin bersih minimal 25%, modal mitra bakal kembali kurang dari setahun. “Paling pahit, dalam enam bulan sudah balik modal,” kata Alex.

Sekadar mengingatkan, Tahu Brintiiik Crispy, adalah tahu putih yang disajikan dengan taburan mayones dan aneka bumbu di atasnya. Nah, bumbu-bumbu tabur itu., misalnya saja, bumbu barbeque, keju, atau balado.

Dalam penyajiannya, tahu ini melalui dua tahap penggorengan supaya rasanya renyah alias krispi. Mmm…

Tahu Petis Yudhista

Usaha penjualan tahu yang dijalankan oleh Wieke Anggarini, juga tidak kalah berkembangnya. Meski baru diwaralabakan pada Mei 2010 kemarin, jumlah mitra Tahu Petis Yudhistira nyatanya telah mencapai tujuh orang.

Padahal, ketika KONTAN mewawancarai tujuh bulan lalu, Wieke belum memiliki mitra satu pun. Tiga gerai Tahu Petis Yudhistira yang ada saat itu, semuanya dioperasikan oleh Wieke.

Banyaknya investor yang tertarik menjadi mitra Tahu Petis Yudhistira, karena tahu yang dijajakannya adalah makanan khas warga Semarang. “Tapi, untuk menyesuaikan pasar di Jakarta, saya modifikasi lagi,” katanya.

Agar kekhasan petis semarang tetap terasa, Wieke pun tidak tanggung-tanggung untuk mendatangkan bahan baku petis udang dari Semarang langsung. Maklum, rasa petis semarang yang manis bercampur gurih tersebut berbeda dengan petis dari daerah-daerah lainnya.

Menurut Wieke, sebetulnya, investor yang tertarik untuk menjadi mitra sudah cukup banyak. Hanya, tak semua pengajuan proposal calon mitra disetujuinya. “Target saya kan bukan asal banyak saja, tetapi outlet itu juga harus memberikan profit yang bagus buat mitra. Kami berusaha jangan sampai ada yang gagal,” tuturnya.

Makanya, persetujuan lebih diutamakan untuk calon mitra yang mempunyai lokasi jualan yang bagus. Wieke lebih memfokuskan tempat usaha yang ada di pusat perbelanjaan maupun lokasi yang berada di depan minimarket.

Dalam mengembangkan usahanya, Wieke terus berinovasi. Selain menjual tahu petis dalam kotak, ia juga menjajakan petis di dalam kemasan botol. “Petis ini bisa menjadi oleh-oleh atau bumbu masakan seperti petis kangkung,” ujar dia. Permintaan produk yang belum lama ditawarkannya ini lumayan banyak. Ia mengaku, setiap hari bisa menjual sekitar 60 petis kemasan dalam botol.

Untuk petis dalam kemasan botol ukuran 250 gram, dilego seharga Rp 20.000. Petis ukuran 350 gram dijual Rp 25.000. “Pembelinya tidak hanya orang yang datang ke gerai saja, tetapi ada juga yang membelinya secara online,” imbuhnya. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Kotak Sepatu Transparan

Banyak orang memilih menyimpan sepatunya di kotak sepatu transparan agar memudahkan mencari sepatu yang diinginkannya. Kebutuhan ini membuat bisnis kotak sepatu transparan menjanjikan. Sebab, pasarnya masih terbuka lebar karena produsennya di Indonesia belum banyak. Sudah begitu, pesanan juga datang dari mancanegara.

Berfungsi sebagai tempat penyimpanan, kotak sepatu transparan kini menggeser dominasi kotak sepatu dari kardus yang sudah bertahun-tahun menjadi pilihan masyarakat. Paling tidak begitu penilaian Tia Adisuwono, pemilik Tiara Box Indonesia, produsen kotak sepatu transparan yang berlokasi di Jakarta.

Tia sudah memulai bisnisnya sejak pertengahan 2006. Ketertarikannya menggarap bisnis ini karena melihat prospek yang cukup cerah. Sepatu yang dikemas dalam wadah plastik transparan dapat menambah nilai produk tersebut. “Tak hanya menarik, tapi juga dapat mendongkrak harga jual produk,” katanya.

Jujur saja, Tia sangat terinspirasi untuk terjun ke dalam bisnis kotak sepatu transparan lantaran melihat para wanita penganut fesyen yang umumnya memiliki koleksi sepatu cukup banyak. Nah, “Kotak sepatu transparan diciptakan sebagai shoe storage solution untuk para pecinta sepatu,” ungkap dia.

Tak hanya itu, dengan tampilannya yang tembus pandang, kotak sepatu ini memudahkan pemiliknya untuk menemukan cepat sepatu yang akan mereka pakai.

Selain memberikan kemudahan, keunggulan lain dari kotak sepatu transparan adalah memiliki ventilasi di beberapa sisi kotak yang berfungsi mengalirkan udara ke luar. Pembuatan ventilasi ini bertujuan menghindari timbulnya aroma tak sedap yang menghinggapi kotak tersebut. Produk ini pun didesain antijamur dan terbuat dari plastik yang ramah lingkungan.

Upaya Tia tak sia-sia. Produk hasil jerih payahnya cukup diminati para kolektor sepatu, yang rata-rata dari kalangan artis maupun istri pejabat. Dalam sebulan, ibu tiga orang anak ini mampu menjual 10.000 sampai 30.000 kotak. Ia pun mengantongi omzet Rp 100 juta hingga Rp 250 juta. “Bahkan tak jarang kami menerima permintaan ekspor ke Malaysia dan Singapura,” lanjut Tia.

Meski begitu, Tia belum terlalu getol memasarkan produknya sampai ke luar negeri. Alasannya, ia ingin lebih fokus membesarkan bisnisnya di ranah lokal dulu. Toh, dia tetap siap jika sewaktu-waktu permintaan dari negeri seberang datang. Kapasitas produksi bengkel Tia yang mencapai 50.000-100.0000 kotak per bulan siap melayani pesanan ekspor itu.

Soal harga, masih ramah dengan dompet Anda. Kotak sepatu transparan buatan Tia hanya dibanderol dengan harga Rp 10.000 hingga Rp 25.000 per kotak, tergantung model, bentuk, ukuran, serta jumlah pembelian. Jadi, makin banyak pesan, harga makin murah. Ada korting.

Persaingan dengan pemain lokal? Tia tidak risau sama sekali. Sebab, ia mengklaim Tiara Box adalah satu-satunya produsen kota sepatu transparan dan yang pertama di Indonesia. Nah, yang Tia khawatirkan adalah produk asal China dan Taiwan yang banyak beredar di pasar.

Kekhawatiran itu cukup beralasan mengingat barang impor tersebut sangat mirip dengan produknya dan dijual dengan harga yang lebih miring. Meski demikian, ia optimistis, dengan memberikan pelayanan yang baik serta senantiasa menjaga kualitas, produk akan terus diterima pasar bahkan usahanya kian berkembang ke depan.

Seiring berjalannya waktu, Tiara Box juga bermetamorfosa dengan memproduksi kotak transparan untuk kebaya, tas, gaun, suvenir, dan alat tulis. “Semuanya produk tersebut berbahan plastik transparan,” ungkap Tia.

Inovasi itu dilakukan sebagai upaya mengembangkan bisnisnya lebih luas. Tia menilai, bahwa wanita yang sadar fesyen tak hanya mengoleksi sepatu, melainkan juga pakaian, tas, dan lainnya. Alhasil, 12 jenis pilihan produk kotak telah dia produksi. Bahkan, dia membuat kotak sepatu transparan untuk beragam ukuran, yakni S, M, dan L.

Kendati merambah ke pembuatan kotak-kotak lainnya, Tia menyatakan, fokus usahanya tetap pada kotak sepatu transparan. Jalur pemasaran yang diambil sebagai andalan adalah online via internet.

Dia masih enggan membuka toko ritel untuk produknya ini. “Karena semangat awalnya adalah berbisnis online,” jelas wanita yang hanya menjual produknya ini secara grosiran.

Meski pemain tunggal, ternyata tak membuat Tia jumawa. Terbukti, ia terus melakukan inovasi dan modifikasi terhadap produk-produknya. Beberapa jurus untuk merealisasikan hal tersebut adalah dengan terus menganalisa pasar dan tren fesyen di Indonesia. Tak sebatas itu, dia selalu mau menerima masukan dari para pelanggannya, terutama untuk menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar, baik dari segi model atau warna.

Merujuk dari hal itu, ia berharap ke depannya dapat menciptakan produk yang lebih inovatif, original, dan dapat diterima pasar.

Tapi, Tia bukan satu-satunya yang menikmati keuntungan dari dagang kotak sepatu transparan. Penjual produk ini pun turut kecipratan untung. Hendra, pemilik Boutique 88 di Medan, Sumatera Utara, contohnya.

Hendra sudah sejak dua bulan terakhir menjual kotak sepatu transparan. Dengan harga jual sebesar Rp 23.000 per kotaknya, lelaki berumur 27 tahun ini rata-rata mampu menjual hingga 500 kotak dalam tempo sebulan.

Meski omzetnya baru mencapai Rp 10 juta per bulan, tapi Hendra sangat yakin, angka penjualannya akan terus meningkat dari bulan ke bulan. Soalnya, komoditas ini baru digarapnya selama dua bulan dan potensi pasarnya yang masih besar.

Selain itu, untuk wilayah Medan dan sekitarnya, Hendra bilang, pesaingnya masih minim atau bahkan belum ada. Selain menjual kotak sepatu transparan ini, terhitung sejak setahun lalu, ia juga menjalankan bisnis butik yang berisi beragam pakaian untuk remaja dan dewasa. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Karpet Tile

Selama bisnis properti masih tumbuh bagus, prospek bisnis karpet tile bakal terus bersinar. Sebab, karpet berbentuk potongan seperti ubin ini lebih efektif dan relatif lebih awet untuk dipasang sebagai pelapis lantai di bangunan komersial. Tak heran, omzet salah satu penjual karpet tile ini bisa mencapai Rp 400 juta per bulan. Wow!

Fungsi karpet bukan sebagai pelapis lantai semata. Motif indah dan kenyamanan dari bahan karpet yang lembut, seringkali menjadi kenikmatan tersendiri selepas aktifitas panjang sepanjang hari.

Tak hanya untuk menutupi lantai rumah saja, karpet terkadang juga dipakai di perkantoran, hotel, atau apartemen. Jenis karpet yang digunakan pun bermacam-macam. Salah satu jenis karpet yang sering dipakai di tempat-tempat komersial karena mudah dibongkar pasang adalah karpet tile.

Karpet ini biasanya dijual dalam bentuk potongan bujur sangkar, ya mirip seperti ubin atau keramik. Cara pemasangannya, disusun satu per satu dan bisa disesuaikan dengan keinginan.

Salah satu kelebihan karpet tile, jika ada yang rusak, Anda hanya cukup mengganti bagian yang rusak saja tanpa harus mengganti keseluruhan karpet.

Kekuatan karpet tile terletak dari bahan serat olefin atau polypropylene yang mudah dibersihkan, antinoda, dan tidak mudah lembab serta berjamur. Karpet ini rata-rata berukuran 50×50 centimeter (cm), 40×40 cm dan 92×92 cm.

Nasuha Sanwani, penjual karpet tile di daerah Kembangan, Jakarta Barat, bilang, selama pembangunan properti masih berlangsung, prospek usaha karpet tile masih cerah. Penjual biasanya mendatangkan karpettile dari Cina dan Taiwan.

Sekadar info, karpet tile dari Taiwan terkenal memiliki kualitas yang lebih baik ketimbang buatan CHina. Namun, tentu saja, harganya pun berbeda jauh. Penjual membeli karpet Idari CHina sekitar US$ 30 per meter persegi (m2). Adapun harga karpet tile dari Taiwan US$ 40 per m2.

Lantaran Nasuha bermain di pasar kalangan menengah ke bawah, ia hanya memasok karpet tile buatan China. Harga jualnya sekitar Rp 260.000 per m2. Per bulan, ia bisa mendapat pesanan rata-rata 100 m2. Hitung punya hitung, dengan pemesanan sebanyak itu, Nasuha bisa meraih omzet sekitar Rp 26 juta per bulan. “Marginnya sekitar 20%,” katanya.

FIO Home, gerai penyedia barang-barang interior di Jakarta pun menyediakan karpet tile dengan pelbagai motif dan harga. Kisaran harga jual karpet tile yang ditawarkan sekitar Rp 200.000 hingga Rp 250.000 per meter persegi. “Omzet kami dari penjualan karpet tile sekitar Rp 100 juta hingga Rp 200 juta per bulan,” ungkap Fandy, pegawai pemasaran FIO Home.

Lain lagi dengan PT Menara Asia Global. Perusahaan yang menjual karpet tile melalui situs internet carpet-clasic.com tersebut menyasar pasar kelas menengah ke atas. Makanya, mereka mematok harga karpet tile mulai dari Rp 250.000 hingga Rp 400.000 per m2.

Saban bulan, Menara Asia mampu mendulang omzet hingga Rp 400 juta. Jika pemesanan dalam partai besar, konsumen harus menunggu 4-6 minggu. “Biasanya pesanan karpet tile banyak datang dari perkantoran, hotel, dan instansi pemerintahan,” ungkap Surya, Manajer Pemasaran Menara Asia.

Karpet bermodel minimalis dengan motif zig-zag atau lurus berkelir kalem seperti biru dan hijau, adalah yang paling banyak diminati oleh pelanggan. Namun, pemilihan model dan warna karpet harus pula didukung oleh desain ruangan yang serasi pula. Selain itu, karpet ini butuh tekstur lantai yang licin agar karpet yang dipasang terlihat rapi.

Harga karpet tile yang dijual FIO Home dan Menara Asia memang cukup mahal, karena kualitasnya baik. Selain itu, penjual masih harus mengimpor karpet tile, lantaran belum ada produsen lokal yang memproduksi karpet jenis ini.

Walaupun persaingan di bisnis ini makin hari makin sengit, para pemain yang ada tetap optimistis omzet mereka terus merangkak naik. “Pelayanan yang memuaskan adalah kunci menumbuhkan kepercayaan konsumen,” ujar Fandi. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Keramik Tanah Liat

Keramik tanah liat tidak ada matinya. Produk kerajinan ini masih menjadi pilihan pelengkap perangkat hiasan interior dan eksterior ruangan. Pasarnya cukup luas hingga ke mancanegara. Asal ada inovasi produk, pasti pesanan akan terus mengalir bersamaan dengan laba yang menjanjikan.

Meski usianya baru lima tahun, Langkat Keramik, pengrajin keramik berbahan baku tanah liat berbasis di Medan, Sumatera Utara, terbilang sukses. Produk-produknya sudah melanglang buana ke berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Swedia, Spanyol, dan Timur Tengah.

Kusna Hendrika dari Divisi Pemasaran Langkat Keramik bercerita, ilmu membuat bermacam-macam jenis keramik didapat dari berguru ke sejumlah sentra industri keramik di Tanah Air termasuk Plered, Purwakarta, yang namanya sudah kesohor ke mana-mana. “Walaupun berdiri pada 2005 lalu, kami baru memulai produksi di 2008,” ungkap Kusna.

Saat ini, Langkat Keramik memiliki 17 perajin dan tujuh staf kantor. Produk keramik buatan mereka, antara lain tembikar, vas, serta pot bunga berukuran besar beraksen dan berornamen.

Produksi keramik tanah liat Langkat Keramik 100% murni buatan tangan. Ya, kalaupun ada bantuan mesin, perannya tidak banyak-banyak amat. “Kapasitas produksi kami mencapai satu kontainer atau 2.000 unit per bulan,” tutur Kusna.

Kelebihan keramik made in Langkat Keramik ini terletak pada tanah liatnya yang hanya dengan sedikit campuran. Sumber bahan baku mereka berasal dari Sumatera Utara.

Harga jual produk Langkat Keramik bervariasi, mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 10 juta per buah. “Secara total omzet kami per bulannya antara Rp 50 juta hingga Rp 60 juta untuk pasar lokal saja,” kata Kusna.

Tapi, pasar lokal Langkat Keramik masih sebatas menjangkau Pulau Sumatra doang. Tahun ini, mereka baru menjajal pasar di Jawa dengan mengikuti beberapa pameran. “Kami berniat membuka galeri di Jakarta,” ungkap Kusna.

Tentu saja, Langkat Keramik harus bersaing dengan industri keramik tanah liat di Jawa yang usianya sudah puluhan tahun, termasuk dengan guru merek, para perajin dari Plered. Eman Sulaeman, misalnya, perajin dari Plered yang berkibar melalui Wisman Wijaya Keramik.

Eman yang juga Ketua Kelompok Kerja Klaster Keramik Plered mengatakan, usaha kerajinan keramik di daerahnya sudah ada sejak zaman kakek buyutnya. Setelah berguru dari kakek dan ayahnya, ia akhirnya mendirikan usaha sendiri pada 1993 lalu. “Dulu sekitar 70% dari produksi untuk ekspor,” katanya.

Tapi, begitu krisis moneter melanda pada 1997-1998, pesanan ekspor menyusut. Eman pun sempat kelimpungan. Karena langganannya di pasar lokal sudah beralih ke perajin lain.

Kini, Eman mulai memperluas pasarnya kembali. Sekitar 60% produknya masuk ke pasar lokal, sisanya untuk ekspor. Omzet per bulan masih sebesar Rp 10 juta. “Asal ada inovasi produk, pasti ada aja order yang masuk,” katanya. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Kemitraan Kuliner Bebek

Masakan berbahan baku bebek sudah jamak di negeri ini. Namun, masakan bebek khas Minangkabau, mungkin masih asing di telinga. Keistimewaan dari masakan bebek yang sering disebut bebek kapau ini adalah, cara memasak dan sambel ijo yang pedas luar biasa. Bebek tidak cuma digoreng, namun sebelumnya telah diungkep semalaman dengan bumbu tradisional Minang.

Rasa mantap inilah yang membuat Roni Eko Putra mencoba keberuntungan dengan membuka usaha bebek kapau. Apalagi bebek kapau termasuk menu favorit di sebuah rumah makan padang terkenal hampir 20 tahun. “Kami juga sediakan sambal yang kepedasannya sudah dikurangi,” ujarnya.
Tanpa sewa tempat

Setelah sukses melalui bendera Bebek Kapau, Roni mulai menawarkan kemitraan sejak 2009 lalu. Ia menawarkan beberapa paket kemitraan dengan nama UKM. Investasinya, ada yang Rp 15 juta, Rp 25 juta dan Rp 40 juta, tergantung jenis booth, apakah berbentuk L atau kotak.

Selain mendapat peralatan masak dan freezer, dengan investasi sebesar itu, calon mitra juga berhak memakai memakai nama Bebek Kapau selama lima tahun tanpa tambahan royalty fee. Juga, “Tidak perlu sewa tempat karena sistemnya kan bagi hasil. Sebanyak 20% untuk pemilik foodcourt dan 80% untuk mitra,” ungkap Roni.

Tak hanya UKM, Roni juga menawarkan paket mini resto dengan investasi sebesar Rp 75 juta atau paket reseller. Nilai investasinya sama: Rp 75 juta. Paket mini resto, selain mendapat peralatan, juga sudah termasuk biaya sewa tempat. Adapun paket reseller, berhak memakai nama Bebek Kapau seumur hidup, namun dibebani dengan royalty fee senilai Rp 25 juta per tahun mulai tahun kedua.

Saat ini, sudah ada lima gerai UKM di Bandung dan satu mini resto di Cipanas. “Paket kemitraan yang paling diminati adalah UKM Rp 15 juta, modalnya kecil dan balik modal cepat,” katanya.

Roni mengatakan, omzet usaha Bebek Kapau cukup lumayan. Salah satu mitra yang mengambil paket UKM dengan investasi Rp 15 juta mampu meraup omzet
Rp 500.000 sampai Rp 800.000 per hari. Adapun, mitra yang membuka gerai UKM dengan investasi Rp 25 juta mengantongi omzet sehari Rp 600.000 sampai Rp 1 juta. Kalau paket gerai UKM Rp 40 juta sanggup meraup omzet Rp 600.000 sampai Rp 1,3 juta. “Untuk UKM, dalam waktu 6 bulan sampai 1 tahun bisa balik modal,” ujar Roni.

Sementara, untuk mini resto, bisa mendekap omzet hingga Rp 2 juta per hari dengan asumsi balik modal 2 tahun. Omzet itu didapat dari total penjualan 30-50 porsi bebek dengan harga jual Rp 18.000- Rp 20.000 per porsi. “Mitra berhak menentukan harga sendiri, saya hanya menyarankan harga idealnya saja,” imbuh Roni.

Mitra juga boleh berkreasi dengan menggunakan daging lain, seperti ayam dan burung puyuh. Hanya saja, bumbu ungkep dan sambal harus tetap dari pusat untuk menjaga keaslian rasa.

Seminggu sekali, Roni akan memasok bahan baku bebek yang sudah diungkep berikut sambel ijonya yang nonjok di lidah. Bahan-bahan ini dalam bentuk beku sehingga mitra tinggal menggoreng dan memanaskannya saja.

Menurut Khoerussalim Ikhsan, konsultan wirausaha, tawaran Bebek Kapau punya prospek cerah. “Makanan tradisional jika dijual di luar daerah asalnya, bagus prospeknya,” ungkap dia.

Yang perlu diperhatikan, bagaimana memastikan suplai bebek secara kontinyu dan kualitas terjaga. Pemilik juga harus gencar berpromosi untuk meningkatkan branding, karena Bebek Kapau masih terdengar asing. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Kemitraan Kedai Kopi

Kopi. Meski pahit, justru menjadi minuman favorit banyak orang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Penikmatnya tak hanya golongan tua saja, kawula muda juga mulai menyukai kopi.

Berpegang dari makin banyaknya penyuka kopi tersebut, peluang bisnis terbuka lebar. Banyak penjaja kopi yang menawarkan kemitraan dengan investasi yang enggak gede-gede amat. Cukup merogoh kocek Rp 5 juta hingga Rp 6 juta, Anda sudah bisa menjadi pengusaha kopi.

Berikut dua tawaran kemitraan yang bisa masuk daftar bidikan Anda:

On The Spot Coffee

On The Spot Coffee (OTSC) mulai menjaring mitra sejak Juni 2010. Dalam tempo empat bulan, mereka berhasil menjala 10 mitra.

Sejatinya, Eko Junaidi, pemilik OTSC, mengungkan, OTSC sudah menancapkan kuku bisnisnya sejak 2006 lalu di wilayah Bekasi. Berbekal tekad mengembangkan usaha lebih besar, ia memberanikan diri menawarkan kemitraan. “Karena, kopi adalah minuman yang disukai oleh semua kalangan,” ujar dia.

OTSC menawarkan tiga paket investasi. Pertama, paket senilai Rp 3 juta untuk konsep bazar. Kedua, Rp 6 juta untuk gerai atau boothKetiga, mini kafe dengan investasi sebesar Rp 16 juta. “Paket investasi ini sudah mencakup peralatan dan training pengenalan produk,” ucap Eko.

Keunggulan yang diusung OTSC adalah, kenikmatan rasa kopi racikannya. OTSC memilih bahan dasar kopi arabika dan robusta.

Saat ini, OTSC menjual 12 jenis kopi dengan pelbagai varian, seperti original, blackcoffee, vanila late, dancapuccino. Harga jualnya cukup terjangkau, sekitar Rp 7.000 per cup dengan pilihan panas atau dingin.

Saban hari, untuk paket gerai dengan investasi sebesar Rp 6 juta, Eko dapat menjual rata-rata 35 cup kopi. Dengan hasil penjualan tersebut, omzet yang diraup sekitar Rp 6 juta per bulan. “Jadi maksimal 4 bulan sudah balik modal,” ujar pria 34 tahun ini.

Tak cuma kopi, Eko mengonsep gerai kopinya dengan menawarkan menu lain, semisal teh melati dan teh tarik. Ada pula kudapan seperti donat dan brownies. Untuk menu makanan ringan, ia membebaskan mitranya untuk menyediakan panganan tersebut sesuai keinginan. “Namun tetap dengan pengawasan pusat,” katanya.

Yodhi Ahyadi, mitra OTCS, optimistis dalam tempo empat bulan ia bisa balik modal. Pada bulan pertama saja, gerainya yang ada di Cileungsi, Bogor berhasil menjual 25 cup per hari. Bulan kedua naik menjadi 30-50 cup per hari. Omzet per bulan yang dikantongi sekitar Rp 5 juta.

Camp Coffee

Mengusung moto Rasa Mantap, Harga Terjangkau, Lulu Candrasari, pemilik Camp Coffee, merintis usahanya bersama sang suami sejak September 2010. “Kalau sedang ngumpul pasti yang dicari kopi dan itu yang membuat saya berani untuk berbisnis kopi,” ungkap Lulu.

Sejauh ini, sudah tiga outlet Camp Coffee berdiri di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa timur. Lulu pun mulai menawarkan kemitraan dengan investasi sekitar Rp 5 jutaan. Ia menjanjikan, empat bulan sudah bisa balik modal.

Permintaan sudah datang dari Jakarta dan Kalimantan. “Saya tidak ingin hanya menjual dan mendapatkan untung semata. Bagi saya, mitra jauh lebih penting karena saya mengangap kepuasaan mitra juga salah satu keberhasilan saya membangun usaha menjual kopi,” kata Lulu.

Khoerussalim Ikhsan, Konsultan Wirausaha dan Praktisi Bisnis, mengatakan, bisnis kopi memang tengah menjamur karena cukup menguntungkan dan menjanjikan. “Apalagi, jika bisnis ini dimulai di kota-kota besar, karena masyarakat kota sekarang ini telah menjadikan kopi sebagai gaya hidup,” ujar dia.

Selain lokasi, menurut dia, banyak hal yang perlu diperhatikan dalam mengelola bisnis kopi. Yakni, pengelolaan sistem, sumber daya manusia, rasa kopi, brand image kopi hingga pemasaran. “Seringkali bisnis kemitraan terhambat dengan bujet yang sedikit,” jelas Khoerussalim. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Martabak Isi Buah

Martabak memang salah satu kudapan favorit di negeri ini. Tak heran, gerai-gerai martabak selalu terlihat di setiap keramaian, baik di kompleks perumahan maupun pusat perbelanjaan. Meski jumlah gerai dan merek martabak sudah tak terhitung lagi, penawaran

kemitraan usaha martabak pun tak pernah berhenti. Mereka pun menawarkan menu-menu yang bervariasi.

CV Mara Surya Persada merupakan salah satu perusahaan yang menawarkan kemitraan usaha martabak. Perusahaan yang bermarkas di Cirebon ini sudah membuka usaha martabak dengan nama Muakhi sejak 2007.

Untuk bersaing dengan gerai-gerai martabak lainnya, Muakhi menawarkan martabak suka-suka yang isinya mengikuti selera konsumen, serta martabak manis yang berisi buah segar.

Jenis buah segar yang menjadi bahan pengisi, antara lain pisang, stroberi, nangka, durian dan kismis. Adapun untuk martabak telur,

Muakhi menyediakan menu martabak smoke beef. “Perbedaannya ada pada resep dan komposisi bahannya,” kata Ikranegara Kusumaningrat, salah satu pemilik CV Mara Surya Persada.

Harga martabak manis dan martabak telur di gerai Muakhi mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 25.000 per loyang.

Selain menyediakan martabak buah segar, Muakhi juga menyediakan martabak standar dengan isi seperti cokelat, kacang, keju, susu, dan wijen. Konsumen pun bisa memakai semua bahan itu sesuai dengan selera.

Ketiadaan bahan pengawet, ragi, pewarna makanan, atau bahan pelembut menjadi kelebihan martabak keluaran Muakhi. Meski

begitu, Ziko, panggilan Ikranegara Kusumaningrat, menyakinkan, tekstur martabaknya tetap lembut, aroma wangi pun tetap akan tercium tajam.

Ziko bilang, selama ini, gerai martabaknya yang ada di Cirebon bisa meraup omzet berkisar Rp 200.000-Rp 400.000 saban hari.

Setelah tiga tahun membangun usaha martabak di Cirebon, Mara Surya Persada membuka peluang kemitraan martabak Muakhi awal 2010 lalu. “Untuk menjadi mitra, nilai investasinya sebesar Rp 35 juta,” kata Ziko.

Dengan investasi sebesar itu, mitra akan mendapatkan satu konter dan perlengkapannya, bahan baku awal, paket promosi, pelatihan

karyawan, dan pendampingan awal ketika pembukaan gerai. “Perkiraan balik modalnya sekitar 12 bulan. Namun, bisa juga lebih cepat,” ujar Ziko.

Saat ini, martabak Muakhi telah memiliki dua mitra yang sudah beroperasi di Bandung. “Ada calon mitra yang dari Lampung yang sedang menunggu pendanaan,” kata Ziko. Ia menambahkan, permintaan kemitraan martabak Muakhi juga datang dari Jawa Timur

dan Jawa Tengah.

Ziko menganjurkan, para calon mitra memilih lokasi yang ramai. Sebut saja, daerah permukiman padat penduduk, perkantoran, pasar modern, depan mini market, tempat rekreasi, dan lokasi yang dekat dengan pusat pendidikan.

Untuk menentukan kelayakan lokasi usaha, Mara Surya Persada harus melakukan survei terlebih dahulu. Mereka juga mengutip biaya survei sebesar Rp 1 juta untuk wilayah Jabodetabek, Rp 1,5 juta untuk Jawa dan Madura, dan Rp 2,5 juta untuk Sumatra dan Bali. Adapun, biaya survei di Kalimantan dan Sulawesi sebesar Rp 3 juta. Sementara untuk wilayah Maluku, Nusa Tenggara, serta Papua sebanyak Rp 3,5 juta. Ziko memperkirakan, proses pembuatan outlet butuh waktu hingga sebulan, bersamaan dengan masa trainingkaryawan.

Konsultan Wirausaha dan Praktisi Bisnis A. Khoerussalim mengatakan, Mara Surya Persada cukup kreatif dalam membuat martabak dengan menambahkan isi buah-buahan. “Paling tidak buah-buahan ini bisa menambah rasa penasaran konsumen,” kata Khoerussalim.

Namun, Khoerussalim menekankan, usaha martabak tetap harus memperhatikan rasa martabaknya agar lebih spesial. Biarpun,

isinya menarik, tanpa diimbangi rasa martabak yang pas, penjualan yang ramai hanya pada awal operasional. Jadi, rasa penasaran konsumen hanya membuat penjualan melambung pada permulaan beroperasi. Tidak lebih.

Khoerussalim menilai, pencapaian omzet rata-rata martabak Muakhi kurang bagus. “Kalau memang rasanya enak, dalam waktu tiga tahun seperti sampai saat ini, penjualannya paling tidak sudah bisa mencapai 100 loyang per hari,” ujar dia. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Mesin Pengolah Keripik Buah

Buah-buahan tidak hanya bisa langsung dimakan, tapi juga bisa diolah menjadi bahan panganan lainnya. Mesin-mesin untuk mengolah buah-buahan menjadi keripik pun lahir. Pengolahan buah ini memberikan nilai tambah. Peluang bisnis produksi mesin itu masih lebar, apalagi produsennya masih didominasi di Malang, Jawa Timur.

Pengolahan buah menjadi keripik sudah bukan hal baru. Setidaknya, teknologi ini sudah dikembangkan oleh para peneliti Universitas Brawijaya sejak 10 tahun silam. Namun, teknologi tersebut baru benar-benar diperjualbelikan secara bebas mulai 8 tahun yang lalu.

Teknologi ini sangat berguna bagi masyarakat Malang. Maklum, daerah di Jawa Timur ini terkenal sebagai penghasil buah-buahan, seperti apel dan mangga. Tentu, kehadiran teknologi pengolah buah akan membuat buah-buahan asal Malang memiliki nilai tambah yang lebih besar.

Walau pada awalnya ditujukan untuk pengusaha Malang, lambat laut mesin pengolah keripik buah kian digemari pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di seluruh Indonesia. Sebab, bukan hanya apel atau mangga saja yang bisa diolah menjadi keripik yang garing, tapi juga jenis buah-buahan lain, semisal, pepaya, nangka, dan pisang.

Harly Nugroho, pemilik CV Catur Mitra Perkasa, yang memproduksi mesin pengolah keripik buah merek Garuda Machinary, mengatakan, meski masih memakai teknologi lama, mesin-mesin bikinannya tetap banyak dicari pengusaha.

Harly yang baru merintis usaha sekitar tiga bulan lalu, setiap bulan sudah mendapat pesanan tujuh mesin pengolah keripik buah. “Permintaan mesin tidak hanya datang dari Jawa, namun seluruh Indonesia,” katanya.

Sukses Harly tak lepas dari kemampuannya dalam mengembangkan sistem pendinginan pada mesin, sehingga dapat beroperasi lebih lama. Sistem itu melekat pada teknologi vacuum frying machine atau penggorengan hampa untuk menghasilkan keripik buah yang renyah.

Alat pengolah keripik buah made in pengusaha Malang ini juga dilengkapi teknologi penarik kadar air. Dengan begitu, hasil pengolahan buah berlangsung secara maksimal.

Saat ini, Harly sanggup memproduksi mesin pengolah keripik buah dalam pelbagai ukuran, dari kapasitas 1,5 kilogram (kg) hingga 50 kg. Harganya, mulai Rp 11 juta sampai Rp 120 juta per unit. Sebulan, ia bisa mengantongi omzet Rp 150 juta-Rp 300 juta.

Produsen mesin pengolah keripik buah lainnya, PT Agrowindo Sukses Abadi yang berdiri sejak 2002 lalu juga di Malang. Kuncoro, Marketing Supervisor perusahaan tersebut, bilang, permintaan alat produksi keripik buah masih lumayan. “Memang, tidak sebanyak dulu. Banyaknya pemain baru dalam setahun terakhir di Malang menjadi penyebabnya,” ungkap dia.

Akibatnya, Agrowindo Sukses hanya mampu menjual mesin produksinya rata-rata tiga sampai lima unit per bulan. Namun, jumlah itu akan melonjak menjadi 10 unit saat menjelang lebaran atau akhir tahun. Rata-rata mesin yang dipesan berbobot 5 kg seharga Rp 23 juta per unit.

Permintaan tak hanya datang dari pasar lokal. Beberapa kali Agrowindo Sukses mendapat pesanan dari Malaysia dan Filipina. “Biasanya dua kali dalam setahun,” ujar Kuncoro.

Walau berfluktuatif, rata-rata Agrowindo Sukses mampu mengantongi omzet hingga Rp 50 juta setiap bulan. Penghasilan sampai Rp 100 juta didapat saat order benar-benar ramai.

Keunggulan mesin bikinan perusahaannya, Kuncoro menjelaskan, lebih hemat listrik dengan proses pengolahan yang cepat. “Dari buah hingga menjadi keripik hanya butuh waktu sekitar 45 menit sampai dua jam saja,” kata Kuncoro.

Ketatnya persaingan bisnis produksi mesin pengolah keripik buah dibenarkan oleh Harly. Ia mengungkapkan, kini, jumlah perusahaan yang memproduksi mesin tersebut sudah mencapai puluhan. “Semuanya berdomisili di Malang,” ujarnya.

Meski begitu, baik Harly maupun Kuncoro optimistis pangsa pasar mesin pengolahan buah ini masih cukup lebar. Soalnya, permintaan mesin pengolah keripik buah di luar Malang masih tinggi. “Banyak perusahaan dan industri penghasil keripik yang belum terjamah alat ini, terutama industri keripik di kawasan Indonesia bagian Timur,” tambah Harly.

Selain memproduksi mesin pembuat keripik buah, Catur Mitra dan Agrowindo Sukses juga menghasilkan mesin pengolahan kakao, kopi, presto, serta kerupuk. “Semua menggunakan teknologi tepat guna,” kata Harly. Ia juga berencana mengembangkan mesinnya agar mampu dipakai pada komoditas lain, semisal udang dan ikan. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Arena Bermain Anak

Mal sudah menjadi tujuan rekreasi keluarga, terutama yang tinggal di perkotaan. Pengelola mal berlomba melengkapi fasilitas penarik pengunjung, termasuk arena bermain anak. Potensi keuntungan bisnis hiburan anak ini pun ikut meruak.

Bukan sekadar tempat belanja dan cuci mata, pusat perbelanjaan juga menjadi tujuan favorit keluarga untuk mengajak rekreasi sang buah hati. Maklum, banyak mal kini menyediakan arena bermain yang asyik bagi anak.

Menilik jumlah pengunjung arena bermain anak yang lumayan banyak, sepertinya bisnis arena bermain anak (playland) cukup menjanjikan. Wajar bila bisnis playland ini pun kian merebak. Sarana permainan yang mereka sediakan semakin variatif dan memasukkan unsur edukasi dan olahraga.

Selain kolam bola, bounce atau balon berukuran besar, kini ada pula trampolin, panjat tebing, hingga flying fox. “Tren arena bermain saat ini harus memberi permainan yang mendidik,” ujar Tonie Kadi, Direktur PT Lollipop Indonesia, pengelola Lollipop’s Playland & Cafe di Indonesia.

Soal potensi pasar, tak usah diragukan lagi. Walau tiket masuk arena bermain tak murah, orangtua tak segan merogoh kocek demi menyenangkan anak. Pengunjung arena bermain selalu melimpah, terutama ketika libur akhir pekan.

Harga tiket biasanya dihitung per jam sekitar Rp 10.000–Rp 15.000 per jam. Anak bisa main sepuasnya dengan membeli tiket seharga Rp 85.000–Rp 110.000 per orang. Pengunjung playland berukuran kecil per hari bisa mencapai 100 anak per hari. Arena bermain yang lebih besar dan permainan beragam tentu bisa menyedot pengunjung lebih banyak lagi.

Kelebihan lain bisnis playland adalah biaya pemeliharaan yang rendah. Menurut Jhonny Asiong, pemilik arena bermain anak Happy Play, pengelola cukup membersihkan peralatan dengan vacuum cleaner.Mainan juga tak butuh perbaikan, paling tidak selama dua tahun–tiga tahun. Penggunaan listrik dan air pun minim. Soalnya sebagian besar mainan anak tidak membutuhkan air atau listrik.

Rai Minakarna, pengusaha playland mandiri, menambahkan bahwa dana operasional paling banyak tersedot untuk sewa tempat dan gaji karyawan. “Arena bermain biasanya butuh lima-enam karyawan,” ujar dia.

Kalau berminat menjajal bisnis ini, ada beberapa tawaran waralaba yang bisa Anda pertimbangkan. Itu kalau Anda ogah repot membuka usaha ini secara mandiri.

Yuk, kita tengok penawaran mereka. Siapa tahu ada yang memikat:

Happy Play

Happy Play berbasis di Medan, Sumatra Utara. Perusahaan ini berdiri sejak 2006 dan pada awalnya hanya menjual peralatan bermain yang aman bagi anak.

Jhonny terinspirasi menawarkan waralaba karena banyak pembeli yang berkonsultasi soal bisnis playlandkepadanya. Jhonny memutuskan menawarkan waralaba mulai tahun 2010. Saat ini Happy Play sudah memiliki enam playland terwaralaba dan lima playland yang dikelola sendiri.

Dari tiga tipe playland yang mereka operasikan (indoor, outdoor, dan inflatable castle alias istana balon), Happy Play cuma menawarkan paket waralaba indoor. Paket outdoor tidak diwaralabakan karena biasanya bukan untuk tujuan komersial. Playland outdoor dibangun sebagai fasilitas di perumahan, rumah sakit, dan sekolah. Adapun inflatable castle dijual putus.

Jika berminat mengambil paket waralaba dari Happy Play, biaya waralaba tergantung dari luas dan desain. Rata-rata, biaya pembangunan tempat bermain Rp 3 juta per meter persegi (m²). Investor wajib memesan setidaknya untuk lahan seluas 100 m². Jadi minimal biaya waralaba sekitar Rp 300 juta.

Dengan menjadi terwaralaba, Anda berhak memakai nama Happy Play selama lima tahun. Happy Play akan memberikan standar operasi bisnis, menjaga kesehatan bisnis, memastikan kebersihan, keamanan, dan kenyamanan bisnis investor.

Tapi, sebelum menerima Anda menjadi terwaralaba, Happy Play akan melakukan survei lokasi. “Idealnyaplayland dibangun di pusat perbelanjaan. Tak perlu mewah, yang penting jumlah pengunjung tinggi,” kata Jhonny.

Dari pengalaman Jhonny, bisnis lahan bermain bisa balik modal dalam tempo sembilan bulan saja. Itu dengan asumsi, rata-rata omzet per bulan di atas Rp 60 juta.

Soal tarif tiket, Jhonny menyerahkan sepenuhnya ke investor, sesuai standar daerah masing-masing. Ada yang mematok harga tiket Rp 5.000 per jam, ada pula Rp 15.000 per jam. Namun, ada, lo, yang mematok harga Rp 100.000 untuk bermain sepuasnya.

Lollipop’s Playland & Cafe

Lollipop’s Playland & Cafe juga menawarkan waralaba playland. Meski sampai sekarang dari tiga gerai yang mereka buka di Jakarta (di Senayan City, Mal Kelapa Gading, dan Gandaria City) masih dikelola oleh pemegang master franchise Lollipop. “Peminatnya belum banyak karena membutuhkan investasi yang cukup besar,” imbuh Tonie.

Maklum, playland ini memang waralaba impor dari Selandia Baru. Di negara asalnya, Lollipop sudah beroperasi sejak 1993. Di Indonesia, gerai pertama di Senayan City baru buka pada 2008.

Kalau tertarik bergabung, biaya franchise yang harus Anda keluarkan memang tidak kecil, sekitar US$ 40.000 untuk biaya konsultasi bisnis. Selain biaya konsultasi bisnis, Anda juga akan dikenai biaya royalti senilai 5% dari omzet per bulan, plus biaya pemasaran 3% dari total omzet per bulan.

Dengan biaya sebanyak itu, terwaralaba berhak memakai nama Lollipop’s Playland & Cafe serta mendapat pelatihan bisnis dan pelatihan operasional dari master franchise. Cuma, Tonie enggan memerinci lebih jauh, dengan alasan hanya akan dijelaskan kepada orang yang sudah menjadi terwaralaba mereka.

Arena bermain Lollipop memang luas, di atas 1.000 m². Bahkan, di Gandaria City, luasnya mencapai 1.900 m². Tapi, arena bermain yang luas menjadi keuntungan tersendiri karena daya tampungnya yang besar. Jumlah pengunjung Lollipop saat ini rata-rata 500 anak per hari. Di akhir pekan, jumlahnya melonjak dua kali lipat menjadi 1.000 anak.

Itu belum termasuk orangtua yang ikut masuk untuk menjaga anak-anaknya. Lollipop juga menyediakan kafe yang bisa menjadi tempat tunggu.

Khusus anak, tarif yang dikenakan di hari biasa adalah Rp 85.000 per anak dan Rp 110.000 per anak di akhir pekan. Dengan harga itu, mereka bisa bermain sepuasnya.

Adapun orangtua yang ingin menjaga anaknya di area bermain mereka kenakan tiket Rp 15.000 per orang pada hari biasa dan Rp 20.000 per orang pada akhir pekan.

Soal omzet, Tonie enggan memberi angka pasti. Tapi dari hitung-hitungan pengunjung 500 orang di hari biasa, omzet Lollipop bisa mencapai Rp 42,5 juta per hari. Sedangkan pada akhir pekan, omzet bisa mencapai Rp 110 juta per hari. Itu belum menghitung pendapatan tiket dari orangtua dan makanan atau minuman yang mereka beli.

Lantaran modal tidak kecil, balik modal di waralaba Lollipop pun tidak bisa berlangsung secepat kilat. Dalam hitungan Tonie, balik modal akan tercapai dalam 3,5 tahun.

Nah, bagaimana? Apakah Anda masih tertarik untuk mengambil waralaba arena bermain anak ini? Kalau masih, silakan mencoba dan semoga beruntung. (peluangusaha.kontan.co.id)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.