Arsip

Posts Tagged ‘Peluang Bisnis’

Peluang Bisnis Penjualan Bambu

Januari 4, 2011 1 komentar

Pamor bisnis bambu dari tahun ke tahun tidak pernah meredup. Kendati tidak terlalu besar, permintaan batang bambu selalu ada di sepanjang tahun. Maklum, bambu memiliki banyak manfaat dalam kehidupan manusia. Tak heran jika banyak pelaku usaha menekuni bisnis penjualan bambu. Dari bisnis ini, seorang pelaku usaha bisa meraih omzet Rp 28 juta per bulan.

Bambu adalah jenis tanaman rumput-rumputan yang mempunyai batang berongga dan beruas-ruas. Tanaman ini memiliki banyak kegunaan bagi umat manusia. Tunas bambu atau sering disebut rebung, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan. Sedangkan batang bambu bisa untuk bahan perkakas rumahtangga.

Dus, bambu adalah salah satu tanaman yang menjadi sumber perdagangan bernilai ekonomi tinggi. Tak salah, jika banyak pelaku usaha yang tergiur mendulang rezeki dari penjualan bambu.
Maklum, selain permintaaannya selalu ada, operasional bisnisnya tidak terlalu rumit dan mendatangkan omzet tebal bagi pelakunya.

Salah seorang pelaku usaha ini adalah Aditya Sani. Lewat bendera usaha Indo Anthurium, pria yang akrab disapa Aditya ini telah menekuni bisnis bambu sejak dua tahun lalu di Bogor, Jawa Barat.

Menurut dia, permintaan bambu selalu ada kendati tidak besar. “Biasanya digunakan untuk proyek perumahan, seperti pembuatan taman atau pagar rumah sementara,” kata Aditya.

Dia bilang, selama ini target pasar Indo Anthurium adalah para perusahaan properti perumahan dan pemilik rumah. “Kalau main di proyek pemerintah, harga jualnya rendah dan prosesnya rumit,” imbuh Aditya.

Sejauh ini, lanjutnya, pelanggan terbesar Indo Anthurium adalah proyek perumahan. “Saya sering memasok bambu ke proyek perumahan. Terakhir sebanyak 10.000 ikat bambu jepang dengan harga Rp 7.000 per ikat,” katanya. Pasokannya didatangkan dari para pembudidaya bambu di sekitar Bogor dan Sukabumi.

Aditya mengaku, saat ini omzet usahanya berada di kisaran Rp 7 juta-Rp 10 juta per bulan. Namun, besaran omzet itu bakal melonjak tinggi, jika pesanan bambu kuning, krisik, serta bambu jepang sedang naik.

Pemain lainnya di bisnis ini adalah Brando Manurung. Melalui bendera usaha PT Catra Pilar Persada, usaha ini baru tiga bulan menjadi pemasok bambu untuk berbagai keperluan rumah, taman, maupun konstruksi. Lokasi usahanya berada di Bogor, Jawa Barat.

Meski terbilang pendatang baru di bisnis bambu, usaha yang dirintis Brando tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam sebulan dia bisa menjual sekitar 5.000 batang bambu berukuran 8 centimeter (cm) untuk kebutuhan proyek kontruksi di Bogor.

Dengan harga jual bambu per batang Rp 5.700, dia mampu mengantongi omzet dari bisnis ini sebesar Rp 28,5 juta. “Untung bersihnya Rp 3,5 juta atau sekitar Rp 700 per batang,” ungkapnya.

Minimnya laba usaha yang dipetik Brando dipengaruhi sejumlah faktor. Antara lain, bisnis ini masih memiliki sejumlah hambatan. Setidaknya, kata Brando, ada dua hambatan yang dialaminya.

Pertama, kepastian pasokan bambu sesuai spesifikasi pemesan. “Kadang agak susah mencari bambu sesuai pesanan, misalkan berdasarkan diameter atau tinggi batang,” paparnya.

Kedua, masalah ongkos kirim bambu. Dengan jumlah pesanan yang mencapai ratusan, bahkan ribuan batang, Brando membutuhkan kendaraan pengangkut berkapasitas besar.

Bila tidak punya kendaraan angkut sendiri, maka penjual bambu harus menyewanya dari pihak lain. “Inilah yang membengkakkan pengeluaran,” katanya.

Karena alasan itu pula, Kartino Fiqr Rasid, pengusaha bambu asal Cilacap, Jawa Tengah, tidak terlalu bernafsu memperluas pemasarannya hingga ke luar daerah.

Sampai saat ini, dengan bendera usaha Shalahuddin Multiusaha Mandiri, Kartino hanya melayani permintaan bambu dari wilayah Kabupaten Cilacap. Ekspansi pasar ke luar Cilacap masih belum menjadi prioritasnya, karena besarnya biaya transportasi untuk pengiriman bambu.

Toh, kendati cakupan pasarnya baru sebatas di wilayah Cilacap, penjualan bambu Kartino terbilang lumayan. Dalam sebulan, rata-rata dia mampu melakukan empat kali pengiriman bambu kepada para pelanggannya di berbagai tempat.

Untuk satu kali pengiriman, Kartino bisa menjual sekitar 500-600 batang bambu berdiameter 12 cm yang diangkut dengan satu truk besar. Bambu ini berjenis bambu hijau. Biasanya, bambu ini digunakan untuk bahan pondasi bangunan, restoran, dan rumah tinggal.

Kartino biasa menjual bambu hijau dengan harga jual sekitar Rp 8.000-Rp 9.000 per batang. Tak hanya menyediakan bambu hijau, dia juga menjual bambu hitam atau kerap disebut bambu wulung. Bambu ini umumnya digunakan untuk bahan baku kerajinan tangan dari bambu. Seperti meja, kursi, dan perkakas lainnya.

Asal tahu saja, diameter bambu hitam lebih besar sekitar 15 cm dari bambu hijau. Karenanya, harga jual bambu hitam lebih tinggi, yakni sekitar Rp 10.000-
Rp 12.000 per batang. Tiap batang bambu dipotong seukuran 10 meter. Rata-rata Kartino bisa menjual 400-450 batang per bulan.

Hitung punya hitung, dari usahanya ini, dia bisa meraih omzet sekitar Rp 27 juta per bulan. “Laba bersih saya dari penjualan bambu mencapai 50% dari pendapatan kotor,” katanya.

Demi memperlancar arus keuangan usahanya, dalam transaksi penjualan, Kartino mengutip uang muka terlebih dahulu kepada konsumennya sebesar 40% dari total proyek. “Sisanya bisa dilunasi ketika bambu telah diterima semua konsumen,” katanya.

Kartino mengaku tidak terlalu kesulitan mendapatkan pasokan bambu. Selama ini, dia mendapat pasokan dari para pembudidaya bambu di dua kecamatan di Kabupaten Cilacap, yakni, Kecamatan Wanareja dan Majenang. Kedua kecamatan ini merupakan sentra budidaya bambu. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Kemitraan Cuci Kiloan

Urusan mencuci pakaian di gerai laundry eksklusif, kini tak hanya dominasi kaum berduit. Sekarang, bisnis mencuci pakaian hingga siap pakai lagi ini juga menyerbu pasar bawah melalui laundry kiloan, seperti Beach Laundry.

Andy Rakhmat Santoso, pemilik Beach Laundry, mengatakan, usahanya mengembangkan sabun deterjen sendiri untuk seluruh proses pencucian pakaian. Ia mengklaim sabunnya merupakan deterjen murah berkualitas dan sudah teruji. “Kami memakai bahan yang ramah lingkungan,” imbuhnya.

Beach Laundry menawarkan jasa cuci pakaian lengkap, mulai dari laundry eksklusif hingga laundry kiloan. Untuk mendukung layanan, Beach Laundry juga menawarkan jasa cuci kilat lima jam selesai. Termasuk, jasa full delivery service tanpa tambahan biaya. “Kami memberikan garansi pencucian,” katanya. Konsumen bisa mengembalikan pakaian yang tidak bersih atau tak rapi untuk dicuci atau disetrika ulang tanpa biaya.

Dibuka pada 2007 di Yogyakarta, Andy mulai mengembangkan usahanya pada 2009 dengan menawarkan waralaba Beach Laundry. Sejak diwaralabakan sampai saat ini, sudah ada 32 gerai di seluruh Indonesia. Dari 32 gerai tersebut, hanya satu yang merupakan gerai miliknya sendiri di Yogyakarta.

Saat ini Andy tengah memproses tiga permintaan waralaba. Termasuk, permintaan membuka gerai cuci di Dili, Timor Leste, tahun depan.

Setahun balik modal

Berdiri di bawah bendera PT Ghalasa Putera Indonesia, Beach Laundry menawarkan tiga paket waralaba. Paket A dengan nilai investasi sebesar Rp 160 juta, Paket B sebesar Rp 120 juta dan Paket C sebesar Rp 100 juta. “Yang membedakan ketiganya adalah dari sisi peralatan,” kata Andy.

Misalnya untuk Paket A, terwaralaba akan mendapatkan tiga mesin cuci front loading kapasitas 8,5 kilogram (kg), satu mesin cuci top loading kapasitas 10 kg, tiga mesin pengering LPG kapasitas 12 kg, dua set meja vakum lengkap dengan boiler berkapasitas 30-45 liter dan steam. Selain itu, juga satu set alat dry clean, empat tabung gas 12 kg, satu set timbangan digital dan stavolt dryer gas serta satu unit vaccum cleaner.Paket C akan mendapatkan jenis peralatan yang sama, namun dengan kapasitas lebih kecil.

Semua investasi awal yang dikeluarkan sudah termasuk franchise fee sebesar Rp 25 juta untuk lima tahun, pelatihan, dan supervisi awal operasional selama 14 hari sebesar Rp 5 juta. “Royalty fee sebesar 8% dan baru dibayarkan di bulan ketujuh,” katanya.

Andy hanya membuka waralaba berupa workshop. Karena itu, terwaralaba diperbolehkan membuka agen, yang bertindak sebagai pengumpul cucian. Adapun proses pencucian tetap dilakukan di workshop.

Yuliana Ciungwanara sudah satu setengah tahun menjadi terwaralaba Beach Laundry di Bekasi Barat. Kini, bisnisnya terus berkembang meski banyak pesaing. “Saya baru menaikkan harga awal pada September lalu dari Rp 6.000 jadi Rp 7.000 per kg, tapi pelanggan tak protes,” katanya.

Ia mengatakan, deterjen dan pewangi Beach mampu bersaing dengan deterjen dan pewangi luaran yang ada di pasar. Alhasil, dana investasi awal Paket B sudah balik modal dalam waktu satu tahun. Dia ingin mengembangkan tempat usahanya. Sebab, ruko yang saat ini ditempatinya sudah tak cukup menampung laju bisnisnya. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Lilin Aroma Terapi

Lilin tak hanya bermanfaat sebagai alat penerangan. Namun, lilin juga berfungsi sebagai obat penurun atau pengusir stres. Khasiat antistres inilah yang dikandung lilin aromaterapi.

Widodo Utomo, pemilik Mahayani Studio, produsen lilin aromaterapy di Surabaya, mengatakan lilin buatannya bisa membuat orang lebih rileks setelah bekerja seharian. Sehingga, menghadirkan kenyamanan.

Meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan membuat pengguna lilin jenis ini kian banyak. Meski tidak menyebutkan besaran persentase kenaikannya, Widodo mengatakan, setiap bulan dia bisa menjual hingga 10.000 lilin. “Sebagian besar pembelinya datang dari Jakarta,” imbuhnya.

Lilin aromaterapi buatan Mahayani Studio memiliki aroma beragam. Mulai dari aroma melati, cendana, lavender, cempaka, greentea dan lainnya. Bahkan, Widodo bisa memproduksi lilin dengan aroma apapun yang dikehendaki pembeli. “Mau campuran dari dua aroma atau lebih juga bisa, tinggal bilang saja,” ujarnya.

Waktu produksi lilin aromaterapi lumayan cepat. Untuk membuat 2.000 batang lilin, Widodo membutuhkan waktu sekitar empat hari. Satu kotak lilin berisi
4 batang yang harganya Rp 6.500. Untuk pesanan di atas 100 kotak, dia membandrolnya Rp 6.000 per batang. “Satu lilin bisa menyala hingga empat jam,” katanya.

Dengan penjualan 10.000 lilin per bulan dan harga rata-rata Rp 6.000, omzet Widodo bisa mencapai Rp 60 juta.

Arswendre, produsen lilin aromatherapy di Bali, mengatakan, munculnya kafe, restoran dan tempat perawatan tubuh juga ikut menaikkan permintaan lilin aromatherapy. “Penjualan saya naik sekitar 30% dibandingkan tahun lalu,” imbuhnya. Selain bisa menurunkan tingkat stres, lilin aromaterapi juga banyak digunakan untuk mengusir lalat di rumah makan dan pewangi ruangan.

Namun, harga jual lilin produksi Arswendre jauh lebih mahal. Yaitu, mulai dari Rp 8.500 hingga Rp 60.000 per batang.

Harganya relatif mahal karena seluruh bahan yang digunakan berasal dari alam, yaitu palm. Bahan ini akan menghasilkan asap jauh lebih sedikit dan aroma yang lebih asli dibandingkan dengan lilin aromaterapi yang menggunakan parafin.

Arswendre juga mengklaim, bahan yang dia gunakan akan membuat daya hidup lilin menjadi lebih lama. Misalnya, untuk lilin dengan harga Rp 60.000, bisa menyala selama 300 jam. “Untuk yang paling murah atau yang kecil, kalau dibakar terus bisa untuk satu hari penuh,” katanya.

Pria yang baru menjalankan usaha pembuatan lilin selama dua tahun ini bilang, setiap bulan bisa menjual 600 lilin. Jenis lilin produksinya yang paling banyak dipesan adalah lilin dengan banderol harga Rp 30.000. Sehingga, omzet pemilik Bali Mom ini mencapai Rp 18 juta setiap bulan. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Kemitraan/Waralaba Sekolah Musik

Dunia musik di tanah air terus berkembang dari waktu ke waktu. Salah satu indikasinya dapat kita lihat dari terus bermunculannya musisi-musisi baru. Dalam beberapa tahun terakhir, format bermusik dengan membentuk grup band, masih merajai pasar musik dalam negeri. Sebut saja beberapa grup baru, seperti ST 12, Wali, atau Armada Band, yang menjelma menjadi idola baru anak muda.

Fenomena ini membuat minat masyarakat terhadap penguasaan kemampuan bermusik tetap tinggi. Harapannya, mereka bisa mengikuti jejak sukses sang idola.

Dus, kondisi itu membuka peluang bagi para pemodal untuk berbisnis di bidang sekolah musik. Maklum, bagi sebagian orang, memperoleh kemampuan bermusik tak cukup hanya dari belajar secara otodidak. Mereka masih membutuhkan lembaga profesional untuk mendukung minat dan bakat musiknya.

Asal tahu saja, modal yang dikeluarkan untuk menjalani bisnis sekolah musik relatif besar. Peralatan musik yang harganya tidak murah, membuat bisnis ini padat modal. Tapi, hal ini tidak menyurutkan para pemodal terjun ke bisnis ini.

Toh, berkecimpung di bisnis ini tidak harus piawai bermusik. Asal punya modal, dengan sistem kemitraan atau waralaba, seseorang bisa menjalankan usaha sekolah musik.

Berikut ini, beberapa sekolah musik di Indonesia yang sudah terbilang mapan. Dalam tulisan kali ini, KONTAN akan mengupas kondisi terkini bisnis beberapa tawaran kemitraan sekolah musik yang pernah kami ulas sebelumnya.

Purwa Caraka Music Studio

Sekolah musik milik musisi kenamaan Indonesia, Purwa Tjaraka, ini telah berdiri sejak 1988. Sekolah ini terus berkembang setelah meluaskan usahanya dengan sistem waralaba sejak 2001.

Ketika KONTAN mengulas bisnisnya pada awal 2008, cabang dan mitra sekolah musik Purwa Tjaraka masih sekitar 64 mitra. Kini, usaha ini sudah memiliki 80 cabang dan mitra. “Sekitar setahun belakangan ini, kami fokus mengembangkan cabang di Kalimantan,” uja Purwa Tjaraka.

Kang Purwa, panggilan akrab Purwa Tjaraka, memang enggan memisahkan jumlah antara cabang dan mitranya. Sebab, ia mengaku selalu turut campur dalam urusan manajemen di tiap sekolah musiknya. Kendati, dari sisi permodalan berasal dari mitra bisnisnya. Misalnya, dalam hal pemilihan guru musik.

Hingga kini, paket waralaba sekolah musik Purwa Tjaraka belum ada perubahan. Selain harus memiliki hasrat dalam bermusik dan lokasi strategis, pihak mitra setidaknya harus menyiapkan dana di kantong sekitar Rp 315 juta.

Biaya sebesar itu sudah termasuk biaya franchise Rp 50 juta dan membeli alat musik senilai Rp 65 juta. Berbagai hal lain yang harus disiapkan adalah bangunan sekolah yang memiliki cukup ruang kelas dan memenuhi standar kualitas yang ditetapkan.

Selain biaya investasinya tetap sama, kendala bisnisnya juga tidak berbeda. Yaitu seputar sumberdaya manusia. Kakak kandung penyanyi Trie Utami ini mengaku, masih kesulitan mendapatkan guru musik sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. “Saya turun sendiri untuk menyeleksi guru musik di setiap cabang,” kata Kang Purwa.

Selain itu, masalah birokrasi perizinan dari pemerintah yang kurang luwes, membuatnya tidak leluasa bergerak mengembangkan sekolah musik. Padahal, menurutnya, industri kreatif di dunia musik ini sulit berjalan jika sistemnya kaku.

Chic’s Music

Tawaran waralaba sekolah musik lainnya datang dari Lembaga Pendidikan Musik Chic’s Music. Pemilik Chic’s Music, Jemmy Suhadi, merintis bisnis ini setelah melihat peluang bisnis yang cukup besar dari antusiasme musik kalangan anak muda. Bermula pada 1 Oktober 1997, dia mendirikan lembaga pendidikan musik tersebut. Modalnya adalah hasil dari bisnis jual alat musik bekas yang ditekuninya sejak tahun 1989.

Mulai Januari 2007, Jemmy meluncurkan tawaran waralaba Chic’s Music. Kini, waralaba lembaga pendidikan musik ini ditawarkan senilai Rp 700 juta dengan jangka waktu lima tahun. “Investasi itu sudah mencakup semua kebutuhan mitra,” ujar dia.

Ketika KONTAN mengulas kemitraan ini pada September 2008, total nilai investasi yang mesti dikucurkan calon mitra sekitar Rp 350 juta. Tapi, dana tersebut di luar biaya menyiapkan tempat, alat musik dan alat kantor, tenaga pengajar, serta materi promosi.

Perincian biaya investasi adalah Rp 60 juta untuk membayar franchise fee tiga tahun, Rp 15 juta biaya pelatihan guru dan karyawan selama lima tahun, dan Rp 110 juta biaya penyediaan peralatan musik. Selain itu, Rp 45 juta buat pengadaan alat kantor, Rp 30 juta biaya operasional tiga bulan pertama, dan Rp 90 juta ongkos membangun studio dan mini concert hall.

Ketika itu, perhitungan balik modal yang akan diperoleh mitra hanya dua tahun. Tapi, target balik modal bakal tercapai bila lembaga pendidikan itu mampu merekrut murid rata-rata 200 orang per bulan, dengan biaya kursus Rp 225.000- Rp 275.000.

Jemmy telah memodifikasi tawaran waralaba tersebut. Pasalnya, beberapa mitra sedikit kerepotan menyiapkan kebutuhan memulai bisnis sesuai aturan Chic’s. “Karena itu, kami modifikasi paket investasi. Jadi mitra tinggal menyiapkan tempat,” katanya.

Kini, Chic’s Music memiliki 9 mitra. “Kami sedang berusaha menembus pasar Malaysia,” kata Jemmy. Sudah ada tiga calon potensial, tapi masih terbentur aturan di sana.

Sekolah Musik Modern Kawai

Sekolah Musik Modern Kawai (SMKK) berasal dari Jepang. Di Jepang namanya Kawai Piano dan sudah berdiri sejak tahun 1886. Seiring perkembangan zaman, SMMK menyebar ke berbagai negara.

Kendati sudah lama beroperasi di Indonesia, SMMK baru menawarkan konsep kemitraan tahun 2008. Ketika KONTAN mengulasnya pada April 2008, SMMK mengutip biaya kemitraan senilai Rp 50 juta.

Kalau sudah punya tempat sendiri, mitra tinggal menambah Rp 50 juta untuk renovasi dan Rp 100 juta untuk membeli peralatan musik. Jadi, butuh dana Rp 200 juta untuk memulai bisnis ini. “Sekarang pun masih sama,” ujar Leslie D. Chandra, Kepala Riset dan Pengembangan Sekolah Musik Modern Kawai.

Hingga kini ada 11 SMMK yang beroperasi di berbagai daerah di Jawa. Enam di antaranya milik mitra. Dalam waktu dekat, gerai SMMK akan bertambah satu di Kemang Pratama, Jakarta Selatan.

Demi mengembangkan sayap bisnisnya, SMMK bakal meluncurkan divisi baru bernama Art Education Center. Divisi ini menawarkan pengajaran seni selain musik. Seperti manga, merangkai bunga, membatik, balet dan yoga. “Ini sebagai langkah diferensiasi,” kata Leslie.

Peluang Bisnis Penjualan Tas Laptop

Penggunaan laptop atau komputer jinjing sudah menjadi kebutuhan dan bagian dari gaya hidup masyarakat, terutama di daerah perkotaan. Piranti elektronik ini sangat rentan dengan benturan keras dan risiko terjatuh. Karenanya, tas penyimpan laptop jadi sebuah kebutuhan. Bagaimana peluang bisnis produsen lokal tas laptop?

Beragam merek tas laptop, baik lokal maupun impor, terus membanjiri pasar. Dengan semakin terjangkaunya harga komputer jinjing itu, membuat penggunanya terus bertambah. Dengan peningkatan ini, bisa dipastikan kebutuhan tas penyimpanan piranti elektronik ini juga akan makin meningkat.

Eko Sulistyo, produsen tas laptop merek Tristan di Depok, Jawa Barat, mengatakan saat ini keberadaan tas laptop menjadi sangat penting. Selain berfungsi sebagai sarana penyimpan, tas laptop juga menjadi wadah pengamanan dari kemungkinan terjatuh, kotor dan benturan benda keras.

Kebutuhan ini jelas membuka celah yang besar bagi bisnis pembuatan dan penjualan tas laptop. Apalagi, Agus Purnomo Sidik, produsen tas laptop merek Exotic, menambahkan, permintaan tas laptop bakal terus tumbuh. Maklum, tren pemakaian laptop terus menanjak di berbagai kalangan masyarakat. Tidak hanya di perkotaan, tren menenteng laptop juga mulai merambah pedesaan, seperti layaknya telepon genggam.

Pasar yang besar dan terus tumbuh itu membuat bisnis Eko yang dia mulai sejak tahun 2008 bertumbuh cepat. Kini dia mampu menjual hingga 300 tas berbagai model dan warna dalam sebulan. Ia mendapat banyak pesanan dari perorangan. Namun, kadang juga dari korporasi.

“Biasanya perusahaan memesan sekitar 200-300 tas dalam satu periode waktu,” imbuh dia. Eko menjual tas merek Tristan buatannya dengan rentang harga antara Rp 185.000 sampai Rp 250.000 per unit.

Adapun penjualan tas buatan Agus memang lebih kecil. Agus yang mulai menerima order pembuatan tas laptop sejak 2006 kini rata-rata menerima pesanan pembuatan laptop sebanyak 40 unit per bulan. Maklum, dia hanya memproduksi tas dari bahan kulit. “Segmen yang menyukai bahan kulit cukup terbatas, namun lebih loyal,” jelas dia. Karena terbuat dari bahan dasar kulit, harga tas laptop Exotic lebih mahal, sekitar Rp 300.000-Rp 500.000 per unit.

Pembeli tas buatan Agus lebih banyak dari kalangan perseorangan. “Orderan dari perusahaan sifatnya hanya sesekali,” imbuh dia. Seperti saat ini, Agus sedang mengerjakan pesanan 1.000 tas laptop berbahan kulit untuk salah satu perusahaan besar berstatus BUMN.

Agus bilang, pembuat tas laptop berbahan kulit masih sangat sedikit. Padahal, peminatnya banyak. Tas laptop kulit memiliki kelebihan dari sisi elastisitas bahan serta ketahanan yang lebih baik dibandingkan dengan bahan nonkulit.

Saat ini Agus lebih memilih fokus menggarap pasar lokal. “Selanjutnya jika memungkinkan baru ekspor ke luar negeri,” ujarnya. Walau fokus ke pasar lokal, Agus tetap berusaha menambah pelanggan dengan mempopulerkan tas laptop berbahan kulit melalui jaringan internet.

Baik Agus dan Eko memproduksi tiga jenis tas laptop. Yaitu model tas jinjing, selempang dan ransel.

Dalam sebulan, keduanya mengaku bisa mengantongi omzet rata-rata Rp 20 juta. “Itu di luar omzet pesanan partai besar dari perusahaan,” kata Eko. Agar lebih terkenal, keduanya banyak menggunakan jaringan penjualan online.

Eko mengaku terus memantau perkembangan desain dan bentuk (style) dari tas laptop di pasaran. Ia menerima masukan dari pelanggan mengenai kekurangan dan hal yang perlu diperbaiki dari tas laptop merek Tristan buatannya. “Saat ini tas laptop di pasaran masih mengutamakan fungsi daripada style,” ujarnya.

Bermunculannya berbagai jenis dan merek tas laptop di pasar lokal belakangan ini membuat persaingan kian ketat. Eko sadar betul akan hal itu. Maka, dia pun memutuskan mulai melirik pasar ekspor. Meski begitu, Eko tetap melihat bahwa peluang pasar dalam negeri masih sangat besar. Karena itu, dia tetap akan mempertahankan hasil yang telah diraihnya di pasar dalam negeri. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Pembuatan Kebaya Modern

Dulu, kebaya sepertinya hanya banyak dipakai oleh para orangtua untuk menghadiri hajatan resmi. Seiring perkembangan zaman, kini kebaya telah dipoles ulang dengan sentuhan modern sehingga, terlihat modis di tubuh anak muda. Usaha pembuatan kebaya modern ikut naik daun.

Berawal dari hobi, Wiwik Maskat menelurkan kreasinya di dunia fesyen melalui butik b’modish Gallery. Meski sudah menggeluti usaha ini sejak 10 tahun lalu, dia harus terus mengembangkan kreasi kebaya modern di tengah makin ketatnya kompetisi.

Yang pasti, Wiwik sudah terasah membaca tren pasar. “Desainer yang mampu menelurkan produk inovatif bakal dicari pembeli,” imbuhnya.

Seperti saat Hari Idul Fitri lalu, tren mode yang paling digandrungi adalah kebaya modern bernuansa muslim. “Jadi modelnya lebih tertutup dan panjang,” katanya.

Agar tak kalah dengan pemain lainnya, b’modish yang berlokasi di Bintaro, Jakarta Selatan, itu terus memutakhirkan model koleksinya.

Sementara, Harli, pemilik Herma Fashion, mengaku, penjualan kebaya modern bakal meningkat kembali setelah Hari Idul Adha atau sekitar bulan Desember mendatang. “Biasanya kebutuhan untuk acara pernikahan,” imbuhnya.

Wiwik mengklaim semua produknya memiliki cita rasa tersendiri, sehingga tidak sama seperti produk di toko fesyen lain. Salah satu pembedanya adalah perpaduan bahan kebaya. Produk b’modish menggunakan kain berbahan sutera untuk atasan kebaya, dan berbagai macam kain batik untuk bahan bawahannya.

Koleksi kain batiknya didatangkan dari berbagai daerah. Misalnya, kain batik dari Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Madura, Lampung dan Aceh. “Pasokan kain berasal dari para perajin langganan,” kata Wiwik.

Untuk membuat satu baju kebaya lengkap, rata-rata dia menghabiskan dua hingga empat meter kain. Jumlah itu tergantung model dan ukuran kebaya yang dipesan.

Saban bulan, Wiwik mampu menjual sebanyak 20 hingga 30 stel kebaya modern dengan kisaran harga Rp 250.000 sampai Rp 2,5 juta. Paling minim, sebulan dia hanya bisa meraih omzet Rp 5 juta per bulan. Namun, dengan memiliki 20 pelanggan tetap, omzet b’modish menjadi lebih terjamin.

Berbeda dengan Harli yang menawarkan kebaya modern dengan harga lebih murah, yaitu berkisar Rp 50.000 hingga Rp 500.000 per stel. Pelanggan bisa memesan kebaya modern sesuai keinginannya. “Tapi harganya bisa lebih mahal. Pernah ada yang memesan kebaya seharga Rp 2 juta,” imbuhnya.

Selain membuka toko di Cipulir, Tangerang, Herma Fashion juga membuka lapak online Kebayaku.com. Pembeli yang sering memesan secara online berasal dari daerah di Kalimantan dan Sulawesi.

Menurut Harli, kontribusi penjualan dari dua kanal pemasaran tersebut berimbang. Rata-rata volume penjualannya antara 100 sampai 120 stel sebulan. Alhasil, dengan harga jual tertinggi sebesar Rp 500.000, omzet yang dicetak Herma Fashion sekitar Rp 5 juta saban bulannya.

Wiwik memiliki strategi menggenjot penjualannya. Caranya, dia rajin mengikuti pameran seni dan kerajinan, serta mengikuti pameran potensi daerah.

Berkat hobi jalan-jalannya, dia juga menjadi lebih piawai dalam memilih bahan dan desain kebaya. Maklum, setiap kali berkunjung ke suatu daerah, dia tak lupa membeli kain-kain asli ciri khas daerah tersebut. Ia juga mengoleksi kain batik kuno berusia puluhan tahun. “Koleksinya belum terlalu banyak,” ujar Wiwik. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Bengkel Mobil Panggilan

Kesibukan sehari-hari menjadikan orang tidak memiliki waktu banyak memperbaiki atau merawat mobilnya. Apalagi, jika sampai harus mengantre untuk dilayani. Peluang inilah yang dimanfaatkan pengusaha bengkel mobil panggilan.

Menunggu merupakan kegiatan yang tidak menyenangkan. Bahkan, di tengah rutinitas yang padat, menunggu adalah sebuah hal yang menyebalkan.

Perasaan serupa menghinggapi para pemilik mobil tatkala menanti giliran waktu perawatan kendaraannya. Perawatan rutin yang biasanya hanya memakan waktu satu hingga dua jam menjadi lebih lama karena harus antre dengan pemilik lain.

Kondisi semacam inilah yang dibidik para penyedia jasa mobile service, atau servis berjalan. Saat ini operator bengkel berjalan ini semakin menjamur.

Salah satunya Bengkel O-Beng. Sejak Maret tahun lalu, salah satu unit bengkel dari PT Ulise Sentosa Abadi ini, khusus melayani perawatan dan perbaikan mobil pabrikan asal Jepang.

Karena hanya melayani panggilan ke rumah atau kantor pelanggan, Bengkel O-Beng membatasi wilayah operasionalnya. “Kami menangani wilayah Tangerang, Jakarta Selatan, dan Jakarta Barat,” kata Manajer Bengkel O-Beng, Kristju Desanto Putra. Pemilihan ini merujuk pada lokasi pusat bengkel di Bumi Serpong Damai (BSD).

Namun, terkadang Bengkel O-Beng juga menerima pesanan dari luar wilayah tersebut. Tentu saja, dia akan mengenakan biaya tambahan berdasarkan jarak tempuh ke lokasinya.

Saat ini, Bengkel O-Beng memiliki dua unit mobil bengkel keliling lengkap dengan peralatannya, berikut lima orang teknisi. “Sehari kami bisa menangani enam hingga delapan pelanggan,” kata Kris. Agar terlayani semua, pelanggan harus membuat janji sehari sebelumnya.

Menurut Kris, tarif yang ditawarkan bengkel mobil masih lebih murah dibandingkan dengan bengkel resmi. “Untuk perawatan standar mulai Rp 300.000,” imbuhnya. Paket tersebut sudah termasuk ganti oli. Selain pelanggan perorangan, Bengkel O-Beng juga memiliki pelanggan dari perusahaan.

Paling minim, Bengkel O-Beng bisa mencetak omzet Rp 54 juta per bulan. Omzet itu terus meningkat karena jumlah pelanggan dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun lalu, Bengkel O-Beng menggarap tiga pelanggan per hari. Tahun ini, jumlah pelanggannya naik dua kali lipat.

Agar dapat memberikan pelayanan maksimal, Bengkel O-Beng berniat menambah armada mobile servicesehingga mampu menjangkau lebih banyak konsumen. “Sudah ada beberapa orang, misalnya, dari Pekanbaru dan Jakarta Timur yang menanyakan franchise-nya,” kata Kris. Hingga kini, pemiliknya masih menimbang permintaan waralaba itu.

Pemain bisnis mobile service lain adalah Hendra Atmo Vinansio, pemilik Benkel Pas. Walau baru sekitar dua bulan membuka usaha Benkel (bengkel keliling) Pas, Hendra optimistis bisnisnya bisa berkembang pesat. “Kalau melihat prospek, saya optimis akan berkembang,” tukas dia.

Karena tergolong masih sangat baru, Hendra mengakui, hingga kini belum memiliki banyak pelanggan. “Seminggu dua hingga tiga pelanggan. Tapi, kadang tidak ada sama sekali,” katanya.

Dia mengutip uang jasa Rp 100.000 untuk biaya perbaikan mobil di tempat. “Itu belum termasuk spare part,” katanya. Tak seperti Bengkel O-Beng yang menyediakan layanan perawatan berkala, Benkel Pas hanya menyediakan layanan perbaikan. (peluangusaha.kontan.co.id)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.