Arsip

Posts Tagged ‘Peluang Bisnis’

Peluang Bisnis Makanan Ringan

Januari 1, 2011 2 komentar

Bisnis makanan ringan alias cemilan ternyata menggiurkan untuk dicicipi. Permintaan yang datang dari berbagai penjuru membuat bisnis ini bisa menjadi ladang rezeki empuk. Salah satu penikmatnya adalah para pengemas ulang makanan ringan.

Mengudap camilan memang mengasyikkan. Selain bisa mengganjal perut, ngemil juga membuat aktivitas lebih menyenangkan. Apalagi, mengemil bisa dilakukan kapan dan di mana saja. Anda bisa mengunyah camilan ringan nan renyah ini sebagai teman menonton televisi, bioskop, bahkan saat bekerja sekalipun.

Bagi banyak orang, mengemil sudah seperti candu dan menjadi kebiasaan yang sulit mereka tinggalkan. Itu sebabnya bisnis camilan ringan tak pernah mati dan kehilangan penggemar. Anda yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya pasti sudah akrab dengan camilan bermerek dagang Kriuk yang popularitasnya begitu kondang itu.

Distribusi makanan ringan itu sudah menembus ke mana-mana, bahkan masuk ke gedung-gedung perkantoran. Produk yang dijual pun beragam, mungkin sampai ratusan jenis, dan beraneka rasa: mulai dari kerupuk, keripik, kue kering, hingga kacang-kacangan.
Lantaran memiliki banyak penggemar, bisnis penjualan segala macam camilan ini semakin semarak. Salah satu penikmat rezeki camilan ini adalah para pengemas ulang (repacking) makanan ringan yang sekarang lagi booming.

Berbagai jenis snack repacking dengan puluhan merek kini membanjiri pasar. Sejatinya, ini adalah produk camilan buatan industri rumah tangga yang dibeli secara bal-balan atau curah. Nah, oleh para pelaku bisnis penganan repacking, snack dari industri rumah tangga itu lalu dibungkus ulang dengan pelbagai merek. Selain Kriuk, merek lain yang beredar saat ini antara lain Nyus, Kremez, dan Naima Snack.

Pasar besarWalau jumlah pemain beji-bun, bagi para pelakunya bisnis ini teramat cerah. Penikmat camilan berasal dari segala kalangan dan usia. “Persaingan memang sudah ketat, tapi pasarnya memang cukup besar,” kata Roslan Siburian, pemilik snack repacking dengan merek Kremez di Tangerang, Banten.

Roslan memulai usaha mengemas ulang camilan sejak 1995. Dari bisnis itu dia bisa meraup omzet hingga Rp 6 juta per hari. Saat tanggal muda atau pas hari libur, omzetnya melambung hingga Rp 10 juta per hari. “Laba bersih saya Rp 1 juta per hari,” ujar Roslan.

Helmi Muhammad, pemilik makanan ringan repacking dengan merek Naima Snack di Malang, Jawa Timur, juga merasakan renyahnya bisnis ini. Kini omzet yang ia peroleh bisa mencapai Rp 10 juta per minggu. “Laba bersih saya kurang lebih 30% dari omzet,” kata Helmi yang memulai usaha ini sejak 2006 silam.

Kesuksesan bukan hanya mengayomi mereka yang sudah berkecimpung lama di bisnis ini. Mereka yang terbilang pendatang baru pun ikut memetik hasil tak kalah memuaskan. Contohnya Surono, pemilik snack repacking dengan merek Nyus di Cipondoh, Tangerang, Banten. Baru dua bulan terjun ke bisnis ini, omzetnya kini sudah mencapai Rp 400.000 sampai Rp 1 juta per hari. “Untuk pendatang baru, ini bisa dibilang lumayan,” ujar dia.

Tertarik mengikuti jejak mereka? Sekilas, menggulirkan bisnis ini memang terlihat gampang. Anda hanya tinggal mencari pasokan camilan lalu mengemasnya dengan bungkus yang sudah diberi label sendiri. Tapi, sebelum melangkah, sebaiknya Anda mencermati beberapa hal berikut ini.

Bahan baku
Mengawali bisnis snack repacking tidak susah. Yang jelas, kata Surono, jika ingin menjajal usaha ini, Anda mesti punya pemasok tetap sehingga Anda tak perlu repot berbelanja camilan. Surono sendiri membeli aneka produk camilan dari para produsen camilan di Jabotabek dan Jawa Barat. Namun, Surono tidak berhubungan langsung dengan para produsen itu.

Dia membeli camilan dari pedagang pengumpul (pengepul) yang memasok barang ke gudang penyimpanan di daerah Joglo, Jakarta Barat. “Saya beli dari pengepul itu,” ujar Surono.

Seminggu sekali ia membeli camilan sebanyak 20 bal. Setiap bal berbobot tiga sampai lima kilogram (kg). Harga camilan berkisar Rp 51.000 hingga
Rp 400.000 per bal, tergantung dari jenis makanannya.

Camilan yang dia beli beragam jenisnya. Ada keripik, kacang, kerupuk, dan permen. Oleh Surono, snackbuatan industri rumahan itu dia kemas ulang dan diberi merek Nyus.

Ia mengemasnya untuk harga eceran Rp 3.000 per bungkus. Di level distributor dan agen, harga jual berkisar Rp 2.000–Rp 2.500 per bungkus.

Lain halnya dengan Roslan. Ia membeli camilan langsung dari para produsen di Jakarta dan Jawa Barat. Setiap dua hari sekali, ia membeli camilan sebanyak 100 bal–200 bal.

Camilan itu dia kemas ulang menjadi sekitar 6.000 bungkus dan diberi merek Kremez. Penganan ringan yang sudah dikemas ini ludes terjual dalam dua hari. Sama halnya Nyus, snack Kremez dijual dengan harga eceran Rp 3.000 per bungkus. Sementara itu, harga ditingkat distributor dan agen Rp 2.000 sampai Rp 2.500 per bungkus.

Roslan mengaku tak bisa membeli camilan lebih dari 100 bal–200 bal setiap kali belanja. Sebab, camilan tidak bisa disimpan terlalu lama. Roslan menyarankan, camilan disimpan di tempat sejuk. “Supaya tidak cepat rusak,” ujar dia.

Helmi juga membatasi belanja camilan. Saban minggu, ia membeli 250 kg–300 kg camilan. Menurut Helmi, camilan sebanyak itu hanya bisa memenuhi kebutuhan selama seminggu. “Tidak bisa terlalu banyak karenasnack tak bisa disimpan lama,” kata dia.

Oleh Helmi, camilan sebanyak itu dikemas ulang menjadi 9.000 bungkus. Dalam seminggu, 9.000 bungkus ini bisa habis terjual. Harga per bungkus antara Rp 500–Rp 1.500.

Variasi produk
Untuk menarik minat pembeli, variasi camilan memiliki peran penting. Roslan menyarankan, sebaiknya variasi camilan dibuat sebanyak mungkin. “Pasar camilan yang besar tak akan berarti jika tidak kreatif menjual produk yang berbeda jenis dan rasa,” kata Roslan.

Menurut Roslan, produk yang bervariasi membuat konsumen menjadi lebih leluasa menentukan pilihan. Rasa penasaran orang pun tergugah untuk mencobanya satu demi satu.

Roslan sendiri sudah menyediakan pilihan camilan hingga 200 item, seperti salai pisang, kelanting, kerupuk, hingga kacang-kacangan.
Adapun Helmi menjajakan beraneka ragam camilan. Saat ini, Helmi memasarkan 25 macam camilan, di antaranya kacang telur, kacang polong, pilus, opak, bijaran, melinjo, dan aneka biskuit.

Agar penganan yang dipasarkan kian bervariasi, mereka harus getol berburu camilan hingga ke luar kota. Roslan, contohnya, selain berburu camilan di daerah Jakarta, juga rajin menyambangi produsen camilan di Jawa Barat, seperti Bandung, Ciamis, dan Cirebon.

Langkah serupa juga ditempuh Helmi. Selain di Malang sendiri, ia juga berburu camilan hingga ke Surabaya dan Jawa Barat. Berbeda dengan Surono. Pria ini mengaku hanya membeli camilan dari pengepul di Joglo, Jakarta Barat. “Dari situ saja saya sudah dapat 100 item camilan,” tutur dia.

Kemasan dan pemasaran
Meski terlihat sepele, soal kemasan juga menjadi kunci penting untuk menunjang penjualan. Kemasan bukan cuma harus menarik, tapi juga andal secara fisik. Umumnya, para pelaku bisnis ini sangat memperhatikan kemasan, apalagi mereka menjual dengan merek sendiri. Untuk kemasan, Helmi menyiapkan plastik bening atau oriented polystyrene (OPP). “Pembeli bisa lihat isinya dan yakin kualitasnya,” katanya.

Helmi membeli plastik dari pabrik. Untuk mencetak merek, ia membawa plastik itu ke tukang sablon. Biaya sablon Rp 50 per bungkus. Setelah disablon, kemasan pun siap pakai. Untuk merekatkan plastik, ia menggunakan alat khusus yang disebut filler. Harga alat ini Rp 250.000 sampai Rp 300.000 per unit.

Roslan juga sangat memperhatikan masalah kemasan. Ia telah memiliki langganan pemasok plastik. Plastik yang dia pesan sudah langsung disablon dengan merek Kremez.

Plastik kemasan itu terdiri dalam berbagai ukuran, mulai dari 15 sentimeter (cm) sampai 35 cm. Plastik itu dia beli dengan harga Rp 15.000 per kg.

Untuk urusan pemasaran, baik Roslan maupun Helmi punya cara berbeda-beda. Helmi, memasarkan camilan dengan menitipkannya di toko atau warung. Kini ada 1.600 toko dan warung yang bermitra dengan Helmi. Dengan mitra sebanyak itu, ia bisa memasarkan 1.500– 2.000 bungkus snack per hari. Ia menerapkan sistem komisi bagi toko rekanan. “Komisinya Rp 200 per bungkus bagi pemilik toko,” kata dia.

Sementara itu, Roslan lebih mengandalkan pembeli yang datang ke tokonya. Umumnya, para pembeli adalah para distributor yang akan menjual lagi snack mereknya itu. Di tempat ini, distributor bebas memilihsnack yang mereka minati. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Waralaba Bakmi Jawa

Selain bisa menjadi obat kangen kampung halaman, ternyata bakmi jawa juga mendatangkan peluang bisnis. Bila Anda tertarik, ada beberapa tawaran kemitraan usaha bakmi dengan rasa khas ini. Tetap cermati baik-baik tawaran mereka.

Anda yang berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta pasti sudah akrab dengan bakmi jawa. Di kedua wilayah tersebut, hidangan ini begitu melegenda. Beda dengan hidangan berbahan mi lain, bakmi jawa memiliki citarasa khas kampung halaman, khususnya rasa bakmi godok alias bakmi rebus.

Rasa bakmi jawa terasa istimewa lantaran hidangan dilengkapi telur bebek plus suwiran daging ayam kampung. Apalagi, kebanyakan peracik bakmi jawa masih memakai arang sebagai bahan bakar, sehingga aromanya mengugah selera. Tak heran kalau banyak yang kepincut dengan menu ini. Konon mendiang Presiden Soeharto merupakan salah satu penggemar berat bakmi jawa.

Yogyakarta merupakan gudangnya penjual mi jawa. Di Kota Pelajar ini betebaran warung bakmi jawa. Lantaran identik dengan Yogyakarta, umumnya para penjual bakmi jawa memakai embel-embel Yogya sebagai merek dagang ketika hidangan ini bermigrasi ke berbagai kota.

Nah, kalau Anda berminat juga menjadikan masakan khas kampung ini sebagai tambang uang, ada beberapa tawaran kemitraan yang bisa Anda pertimbangkan. Memang, sih, Anda harus keluar uang cukup besar untuk membeli kemitraan. Tapi keuntungannya Anda tak susah-susah menyediakan perlengkapan dan bahan baku lantaran sudah disiapkan pemilik kemitraan. Selain itu Anda juga akan mendapat pelatihan cara mengelola bisnis ini.

Namun yang penting Anda perhatikan adalah soal citarasa bakmi jawa yang bakal Anda jual. Ini penting karena kalau produk yang Anda jual tidak memuaskan pelanggan, mereka tidak bakal kembali.

Nah, sekadar gambaran, berikut tawaran waralaba bakmi jawa khas Yogyakarta.

Bakmi jawa Yogya Mbah Tarmo
Memulai usaha sejak 2008, Dwi Sriyanto mengembangkan bisnis bakmi khas Yogyakarta bermerek Bakmi Jawa Yogya Mbah Tarmo. Dwi bercerita, gerai bakmi jawa miliknya yang pertama berdiri di Surabaya, Jawa Timur. “Baru pada akhir tahun 2009 kami menawarkan skema kemitraan,” ujar dia.

Lewat strategi ini, gerai Bakmi Mbah Tarmo berkembang cukup pesat. Dari tujuh cabang Bakmi Jawa Mbah Tarmo, lima di antaranya merupakan gerai milik mitra usaha Dwi.

Mereka berlokasi di Bekasi, Solo, Sidoarjo, Samarinda, dan Ambon. “Dalam waktu dekat akan ada lagi mitra baru yang buka cabang di Semarang,” kata cucu Mbah Tarmo ini.

Dwi mengklaim, bisnisnya berkembang karena kemitraan ini tidak memungut royalti fee atau beban biaya lain. “Tapi mitra wajib membeli bahan baku dari kami,” ucap dia.

Selain mi nyemek (godok), Dwi juga menyediakan menu lain seperti mi goreng, bihun goreng, bihun nyemek, dan nasi goreng. Bakmi Jawa Mbah Tarmo mematok harga Rp 8.000-Rp. 8.500 per porsi.

Bakmi Mbah Tarmo menawarkan empat paket kemitraan selama lima tahun. Dalam setiap paket tersedia peralatan dan perlengkapan yang berbeda, baik dari segi item maupun jumlah. Prinsipnya, semakin mahal paket yang dipilih, peralatan yang dikirim juga semakin komplit.
Tawaran paket pertama adalah tipe gerobak tenda dengan nilai investasi Rp 20 juta. Fasilitas untuk paket ini berupa gerobak, tenda, meja, kursi, banner, piring makan, dan perlengkapan lainnya.

Jika memilih paket ini, mitra harus menyiapkan lokasi usaha seluas 12 meter persegi (m²). Hitungan Dwi, mitra yang mengambil paket ini bisa balik modal setelah enam bulan sejak usaha berjalan. Itu dengan asumsi mitra bisa menjual sekitar 50 porsi bakmi per hari. Dengan penjualan sebanyak itu, mitra bisa meraup omzet kotor sekitar Rp 425.000 per hari atau Rp 12,7 juta per bulan. “Laba bersih yang diterima mitra sekitar 30% dari omzet,” ujar Dwi.

Paket berikutnya adalah tipe food court. Tarif paket ini mencapai Rp 30 juta. Dalam paket ini, mitra harus menyiapkan lokasi usaha minimal 9 m² – 15 m². Tambahan perlengkapan yang mitra peroleh antara lain kulkas dan kompor gas. Dwi meramal, mitra bisa balik modal dalam waktu delapan bulan. Dengan asumsi, si mitra mengantongi omzet Rp 500.000 per hari.

Ada pun paket konter bakmi dalam ruangan membutuhkan investasi dari mitra senilai
Rp 40 juta. Lokasi usaha minimal 20 m² – 40 m². Dalam paket ini, mitra diperkirakan bisa balik modal dalam waktu 10 bulan, dengan asumsi omzet per hari mencapai 700.000.

Sedangkan paket mini resto mengharuskan Anda menyetor duit sebesar Rp 60 juta. Lokasi usahanya minimal 40 m² – 80 m². Mitra bisa balik modal dalam waktu 12 bulan dengan omzet Rp 800.000 per hari. Untuk dua paket itu, mitra mendapat perlengkapan usaha yang lebih komplet lagi, seperti jumlah kursi dan meja yang lebih banyak, kulkas, freezer, dan perlengkapan lain.

Bakmi jawa Gunung Kidul
Anda juga bisa melirik tawaran kemitraan dari Bakmi Jawa Gunung Kidul. Selain berlaku selamanya, kemitraan ini juga tidak mengutip royalty fee maupun beban biaya lain.

Gerai bakmi ini sudah berdiri sejak 15 tahun silam. “Saat pertama kali buka kami langsung menawarkan kemitraan,” ujar Kosasih, pemilik Bakmi Jawa Gunung Kidul.

Jumlah mitra usaha Bakmi Gunung Kidul pernah mencapai 24 gerai, tapi kini tinggal tersisa empat mitra. “Selama ini kami kurang fokus, sibuk mengurus bisnis lain,” ujar Kosasih.

Nah, tahun ini Kosasih akan fokus lagi mengembangkan konsep kemitraan bakminya. Ia pun mulai memperbarui standar kemitraan. Misalnya, tidak lagi memungut royalti fee 10%, seperti pernah ia terapkan pada mitra-mitra terdahulu. Untuk menjadi mitra Bakmi Jawa Gunung Kidul, Anda harus menyiapkan duit Rp 48 juta. Dari setoran modal sebesar itu, Rp 10 juta akan kembali dalam bentuk perlengkapan, seperti gerobak, meja, kursi, piring, gelas, sendok, wajan, pisau, dan termos nasi. Sedangkan
Rp 8 juta untuk biaya membeli mesin pembuatan mi. Sisanya dipakai biaya pelatihan karyawan, bahan baku awal, pendampingan usaha, dan joining fee.

Menu di Bakmi Gunung Kidul cukup bervariasi. Di antaranya ada bakmi goreng, bakmi rebus, nasi goreng sewiwi (sayap), bakmi sewiwi, bakmi brutu,
dan nasi goreng brutu. Harga per porsi antara Rp 13.000 -
Rp 17.000.

Dalam hitung-hitungan Kosasih, mitra usaha bisa balik modal dalam waktu tiga bulan. Syaratnya, sang mitra bisa mengantongi omzet Rp 45 juta per bulan. Laba bersih yang bisa dibawa pulang sekitar 40% dari omzet. “Lokasi usaha harus strategis,” kata Kosasih.

Bakmi jawa Pak Man
Selain pola kemitraan, Anda bisa memilih skema waralaba. Adalah Murlidi yang menawarkan waralaba Bakmi Jawa Pak Man. Murlidi merintis usaha ini sejak 1987 di Yogyakarta, namun baru pada 2005 ia mulai menawarkan waralaba.

Hingga kini, Bakmi Jawa Pak Man sudah memiliki empat mitra yang tersebar di Yogyakarta, Cirebon, Magelang, dan Madiun. “Dalam waktu dekat akan ada mitra yang membuka gerai di Wonosobo,” kata Murlidi.

Bakmi Jawa Pak Man menawarkan waralaba untuk jangka waktu empat tahun. Modal yang dibutuhkan untuk menjadi terwaralaba hanya Rp 15 juta. Berbekal uang sebesar itu, mitra mendapatkan pelatihan karyawan dan bahan baku awal untuk pelatihan.

Di luar itu, ada juga fasilitas peralatan masak seperti anglo dan wajan. Peralatan yang diberikan memang masih minim. Makanya, terwaralaba harus menyiapkan sendiri perlengkapan lain seperti meja, kursi, dan kulkas. Selain itu, terwaralaba juga harus menyiapkan lokasi usaha sendiri.

Menurut Murlidi, lokasi usaha harus dekat area bisnis atau wilayah lain yang strategis. Paling tidak berada di jalan raya, ruko, dan pertokoan.
Setelah usaha berjalan, Murlidi akan memungut royalty fee 3% dari total omzet. Biaya ini disetor setiap bulan. Terwaralaba juga wajib membeli bumbu dari dari Bakmi Jawa Pak Man. “Harga bumbu hanya Rp 49.000 per kilogram. Bumbu sebanyak itu bisa dipakai untuk 60 porsi lebih,” kata Murlidi.

Menu Bakmi Jawa Pak Man terdiri dari bakmi rebus, bakmi goreng, dan bakmi nyemek. Murlidi membanderol menu tersebut Rp 10.000 per porsi. Dengan harga jual sebesar itu, terwaralaba bakal mencapai titik impas setelah usaha berjalan empat bulan. Itu dengan asumsi omzet terwaralaba Rp 30 juta per bulan.

Dari omzet sebanyak itu, terwaralaba bakal mendapat laba kotor 30% per bulan. Tapi, ingat, dari laba itu masih harus dipotong royalti 3%. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Minuman Kesehatan dari Temulawak

Sejak zaman dulu kala, negeri ini sudah dikenal memiliki kekayaan dan keanekaragaman flora. Termasuk, beragam tanaman herbal yang bisa dimanfaatkan sebagai obat.

Salah satu tanaman yang cukup populer dan punya khasiat ampuh sebagai penyembuh penyakit adalah temulawak. Tanaman ini merupakan famili Zingiberaceae, yang awalnya banyak ditemukan di hutan.

Sebagai salah satu herbal, temulawak dipercaya bisa mengatasi berbagai penyakit. Seperti, gangguan lever, mencegah hepatitis, meningkatkan produksi cairan empedu, membantu pencernaan, mengatasi radang lambung dan gangguan ginjal.

Dulu, nenek atau kakek kita biasa menyerap sari temulawak dengan cara merebusnya lalu meminum airnya. Kini, ada cara mengonsumsi temulawak yang lebih praktis. Yakni, temulawak instan. Salah satunya, temulawak instan produksi UD Sidariz di Blora, Jawa Tengah.

Karjan, pembina UD Sidariz, mengatakan, kelompok binaannya memproduksi temulawak instan sejak 2006. Mereka menjual temulawak instan dalam tiga kemasan, Satu, kemasan saset yang berisi bubuk. Harganya
Rp 10.000 per pak yang berisi 10 saset. Dua, kemasan gelas plastik siap minum yang dijual dengan harga Rp 1.500 per kemasan. Tiga, kemasan botol ukuran 650 mililiter yang dibanderol Rp 20.000 per botol.

Untuk menjaga pasokan temulawak, kelompok usaha itu memiliki lahan temulawak seluas 32,75 hektare. Ini adalah wilayah hutan rakyat yang dikelola bersama Perhutani. “Temulawak ditanam di sela-sela pohon jati,” kata Karjan.

Dalam sebulan, kelompok usaha ini mengolah 5 kuintal temulawak. “Omzetnya masih kecil,” imbuhnya.

Pengenalan produk dan cara pemasaran merupakan salah satu kendala yang dihadapi kelompok usaha ini. Padahal, menurut Karjan, prospek minuman temulawak instan ini sangat bagus.

Buktinya, salah satu perusahaan jamu berniat membeli produknya. “Jika spesifikasi yang diminta bisa kami penuhi maka kami akan memasok ke sana,” katanya.

Keyakinan akan cerahnya prospek bisnis ini pula yang membuat Lilik Indrawati menekuni bisnis temulawak instan. “Banyaknya orang beralih ke obat-obatan herbal ini, menyebabkan permintaan temulawak berdatangan,” ujarnya.

Lilik memasarkan temulawak instan dengan merek Temulawak Prima Herba, yang diproduksinya di Solo. Ia memasarkan produknya lewat internet, sehingga jangkauan pasarnya cukup luas. “Permintaan datang hampir dari seluruh Indonesia,” katanya.

Tak heran, saban bulan Lilik mampu meraup omzet Rp 30 juta-Rp 40 juta dari bisnis ini. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Modifikasi Kendaraan

Tradisi mudik menjelang Hari Raya Idul Fitri menjadi momen yang paling ditunggu oleh kaum pendatang. Saat merayakan Lebaran, mereka ingin berkumpul bersama sanak keluarga di kampung halaman.

Selain mengandalkan transportasi umum, sebagian orang lebih suka mudik menggunakan kendaraan pribadi, seperti mobil atau sepeda motor. Sebelum menempuh perjalanan jauh, tentu orang harus mempersiapkan kendaraan terlebih dahulu.

Biasanya, jasa modifikasi kendaraan baik sepeda motor dan mobil makin ramai mendekati Lebaran. Tak hanya performa mesin, bodi kendaraan pun perlu dipoles.

Kondisi ini merupakan berkah bagi para penyedia jasa modifikasi kendaraan. Aldi, pemilik bengkel modifikasi sepeda motor Bike Riders Shop di Bekasi, mengatakan, banyak calon konsumen yang menanyakan soal modifikasi sepeda motor. “Mereka survei dulu sambil menghitung besarnya biaya modifikasi,” ujarnya.

Biasanya, lanjut Aldi, permintaan modifikasi motor mulai ramai dua pekan sebelum Lebaran. Lantaran bengkel Aldi fokus menangani modifikasi mesin sepeda motor ketimbang bodi, konsumen yang datang lebih banyak ingin meningkatkan performa kapasitas silinder mesin atau bore-up.

Menurutnya, menjelang Lebaran, jumlah sepeda motor yang akan dimodifikasi meningkat hingga dua kali lipat. Bila pada bulan biasa sepeda motor yang datang hanya 30- 50 unit per bulan, dua pekan menjelang Lebaran jumlahnya mencapai 60 unit. Biaya modifikasi satu sepeda motor standar Rp 1,3 juta-Rp 5 juta.

Tak hanya memodifikasi sepeda motor, Aldi juga menyediakan suku cadang khusus yang dia buat sendiri. Dia menyebutnya bore-up kit. Harganya sekitar
Rp 900.000-Rp 1,5 juta per unit. “Khusus bore-up kit ini, penjualan bisa sampai Nusa Tenggara Timur, Papua dan Kalimantan,” imbuhnya.

Otomatis, lonjakan pelanggan membuat kantong Aldi semakin tebal. Omzetnya yang di bulan biasa sekitar Rp 30 juta per bulan, meningkat hingga Rp 60 juta menjelang Lebaran.

Ayung Zulkarnaen, pemilik usaha modifikasi kendaraan di Bandengan, Jakarta Timur, juga menikmati lonjakan permintaan modifikasi kendaraan hingga 100%. Tapi, Ayung lebih fokus mengerjakan modifikasi bodi kendaraan. “Saat ini, penjualan karbon printing yang sudah terlihat naik,” katanya.

Selain modifikasi kendaraan, Ayung juga memasok produk karbon printing untuk modifikasi badan kendaraan ke beberapa toko aksesori kendaraan. “Misalnya toko aksesori kendaraan di Otista dan Kreo di Ciledug,” ujarnya.

Harga jual karbon printing itu sekitar Rp 90 per centimeter (cm). Ayung bilang, biasanya bodi sepeda motor matik membutuhkan biaya sekitar Rp 500.000 untuk modifikasi dengan memasang karbon printing di badan motor.

Adapun biaya pemasangan karbon printing di badan mobil ternyata lebih murah karena kebutuhan karbon printing lebih sedikit. “Biayanya sekitar Rp 300.000, karena badan motor matik lebih luas ketimbang bagian mobil yang biasa dipasangkan karbon printing,” ujarnya.

Ayung menaksir bakal meraup omzet sampai Rp 80 juta menjelang Lebaran tahun ini. “Biasanya omzet rata-rata tiap bulan hanya Rp 40 juta,” ujarnya. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Waralaba Toko Roti

Selain mi, roti sudah menjadi kudapan yang digemari masyarakat di Indonesia. Tak heran, usaha roti terus menjamur. Dari sekadar jajanan di pinggir jalan hingga berkonsep restoran.

Salah satu pemain di bisnis ini adalah Barley Bread. Sejak mulai beroperasi tahun 2003, kini usaha ini memiliki tiga cabang di Jakarta. Yakni di Tanjung Duren, Bendungan Hilir, dan Cilandak.

Barley Bread menawarkan berbagai varian roti dan kue. Produk rotinya yang cukup digemari pelanggan, adalah roti tawar gandum, choco banana, dan roti tuna.

Belum lama ini Barley Bread mengeluarkan 12 varian cake baru untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri tahun ini. Di antaranya, kue chocoholic dan chocotrufle. “Keunggulan produk kami memakai bahan natural, tanpa pengawet dan pewangi. Jadi lebih fresh,” kata Widjanarka, pengelola Barley Bread.

Sebanyak 70% bahan baku roti dan kue Barley Bread berasal dari pasar domestik. Sementara itu, 30% sisanya masih diimpor. Bahan baku yang masih diimpor itu, antara lain, gandum, cokelat, dan filing atau isi rotinya.

Dalam memasarkan produknya, Barley Bread menyasar kalangan menengah atas. Karena itu, harga roti dan kuenya tergolong premium. “Untuk roti, harganya Rp 6.000 dan kue Rp 100.000 per porsi,” kata Widjanarka.

Selain berjualan di toko, Barley Bread menerima pesanan pembuatan roti dan kue khusus acara pesta. Seperti ulang tahun dan pernikahan. Demi memperluas jaringan pemasarannya, sejak dua tahun lalu Barley Bread membuka tawaran waralaba kepada masyarakat. Saat ini, Barley Bread baru memiliki satu mitra waralaba di Timika, Papua. “Pada 10 Juli lalu, mitra kami itu baru membuka tokonya,” kata Widjanarka.

Ia mengaku, pertumbuhan waralabanya terhitung lambat. Sebab, kata Widjanarka, manajemen Barley Bread sangat selektif memilih mitra, lantaran melihat waralaba lain banyak yang tutup. “Kalau memang niatnya serius, kami baru menanggapi,” imbuh dia.

Franchise fee Rp 25 juta
Sebenarnya, masih kata Widjanarka, banyak pemodal berminat menjadi calon mitra Barley Bread. Permintaan itu berdatangan dari Riau, Padang, dan Aceh. “Sejauh ini, permintaaan waralaba lebih banyak dari luar Jakarta,” ujar Widjanarka.

Kepada calon mitra terwaralaba, Barley Bread mematok investasi awal Rp 100 juta. Dengan investasi sebesar itu, mitra akan mendapatkan peralatan produksi. Di antaranya, mesin pendingin, rak, sistem kas,freezer, dan chiller.

Tapi investasi sebesar itu belum termasuk lokasi usaha. Karenanya, Barley Bread lebih memprioritaskan calon mitra yang memiliki lahan usaha sendiri. Luas lahan toko minimal 15 meter persegi.

Selain investasi awal, Barley Bread mematok franchise fee sebesar Rp 25 juta. Biaya ini untuk penggunaan merek Barley Bread selama lima tahun dan pernak-pernik interior di toko terwaralaba.

Widjanarka memperkirakan, omzet yang bisa dipetik terwaralaba dari bisnis ini Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta per hari. Dengan omzet sebesar itu, terwaralaba bisa balik modal dalam satu tahun.

Menurutnya, terwaralaba di Jakarta dan daerah sekitarnya, bisa memilih membuat produk sendiri atau dikirimkan pasokan roti dan kue. Selama ini, ketiga cabang Barley Bread mendapat pasokan dari kantor pusat di Tanjung Duren. Adapun untuk terwaralaba di luar Jakarta, produk bisa dibuat di lokasi karena kendala jarak. “Sehingga harus ada dapur untuk tempat memasak,” kata Widjanarka.

Konsep ini pula yang dipakai di Timika. Lokasinya yang jauh membuat terwaralaba di sana harus membuka sendiri dapur untuk pengolahan roti dan kue Barley Bread. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Kemitraan Big Burger dari Semarang

Januari 1, 2011 1 komentar

Sepertinya, kudapan dari negeri Paman Sam, Amerika Serikat, makin cocok di lidah masyarakat Indonesia. Misalnya saja burger. Roti bundar berisi daging dan beraneka sayuran segar ini, mudah ditemui di berbagai sudut kota.

Tak hanya di kota besar, menu burger sudah merambah ke berbagai daerah. Buktinya, kian banyak bermunculan gerai burger dengan berbagai merek dagang. Baik dari gerai burger bertaraf internasional yang menggurita dengan sistem waralaba, hingga gerai burger berskala usaha kecil dan menengah (UKM).

Peluang itulah yang dimanfaatkan Augustinus Dwi Putranto ketika mencoba peruntungan di bisnis burger sejak tahun 2000. Dia membuka gerai burger di Mall Ciputra, Semarang, dengan mengusung merek dagang Mr. Burger.

Usahanya sukses dan berkembang pesat. Saat ini dia sudah memiliki 21 cabang yang tersebar di Solo, Yogyakarta, dan Semarang. “Merek usaha saya ubah menjadi Big Burger beberapa tahun lalu agar lebih mudah diingat,” ujar Augus.

Augustinus mengklaim, burger buatannya berbeda dengan burger lain dari segi rasa daging sapi. Daging sapi yang dibuat sendiri plus rasa mayones khas Big Burger menjadi keunggulannya.

Tiga paket kemitraan

Belakangan, banyak konsumen Big Burger tertarik turut menjualnya. Lantaran permintaan menjadi mitra cukup banyak, Augus membuka kesempatan kemitraan Big Burger sejak September 2009. Dalam waktu tak sampai setahun, Augus sudah memiliki 112 mitra di berbagai kota. Seperti Yogyakarta, Semarang, Solo, Salatiga, Sragen, dan kota-kota lain di Jawa.

Saat ini Augustinus menawarkan tiga paket kemitraan. Pertama, Paket Mini Conter dengan investasi sebesar Rp 15 juta. Kedua, Paket Mini Kafe senilai Rp 35 juta. Ketiga, Paket Gerai Master dengan investasi awal Rp 60 juta.

Untuk paket pertama, mitra hanya mendapatkan booth standar dengan ukuran 2×2,5 meter (m) dan pelatihan. Biasanya, Paket Mini Counter ini cocok untuk usaha yang berlokasi di depan minimarket atau di dalam mal.

Pembeli paket kedua mendapat booth standar dan konter kecil di luar ruangan serta satu set meja dan kursi, neon box serta pelatihan.

Sedangkan pembeli paket ketiga akan mendapat booth untuk memasak dan penyajian yang terpisah, dilengkapi lima set meja dan kursi. Dalam paket ini, mitra juga akan mendapatkan payung kafe, neon box, serta pelatihan.

Augus tidak menarik biaya royalti. Tapi, selain harus membeli bahan baku darinya, mitra juga harus membayar biaya keanggotaan Rp 100.000 per bulan, yang dibayarkan pada bulan ketiga setelah beroperasi.

Harga burger Big Burger relatif terjangkau, yakni berkisar Rp 7.000-Rp 11.000 per tangkup. Mitra juga boleh mengembangkan menu minuman yang bisa menambah pendapatan. “Margin laba dari menjual minuman bisa sampai 30%,” katanya.

Rahmad Hidayat, salah seorang mitra Big Burger di Tasikmalaya, Jawa Barat, bilang, respon masyarakat terhadap Big Burger di kotanya melebihi perkiraan awal. Pada hari pertama beroperasi, dia bisa menjual 44 burger. Penjualannya terus meningkat, dan kini rata-rata 75 burger per hari.

Dengan laba sekitar Rp 8,5 juta per bulan, Rahmad optimistis bisa balik modal dalam waktu tujuh bulan. “Saat ini usaha saya sudah menginjak bulan kelima,” ujarnya. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Camilan Sagu

Sejak dulu kala kota Ambon terkenal dengan kekayaan laut yang indah dan rempah-rempah nan berlimpah. Selain itu, Ambon juga terkenal sebagai daerah penghasil sekaligus pengonsumsi sagu. Sagu menjadi bahan pangan favorit para penduduk Ambon Manise.

Sagu diolah oleh tangantangan terampil menjadi beragam makanan. Dari tepung hingga menjadi bubur. Salah satunya adalah Yohanna Sihasale. Sejak tahun 2005, dia merintis usaha berbendera KUB Mama. Dari tangan Yohanna dan lima pekerjanya, KUB Mama mengolah sagu menjadi aneka produk makanan olahan.

Produk makanan ringan olahan sagu dari KUB Mama ini terbagi menjadi dua jenis, yakni kue basah dan kue kering. Beberapa varian kue basah andalannya, adalah bruder, brownis, sebra, dan roll cake tuna.

KUB Mama juga menyediakan beberapa kue kering, yakni sagu kenari, sagu keju, sagu tuna, sagu kacang, sagu kismis, sagu putri salju, dan sagu spekulas. “Kami kombinasikan bahan baku lain dengan sagu,” katanya.

Produk Yohanna sudah terkenal di pasar lokal hingga di luar Ambon. Produknya hadir di beberapa toko suvenir dan oleh-oleh di kota Ambon, yang juga menawarkan makanan khas Maluku. Yohana mengatakan, banyak konsumen di kota tersebut yang membeli langsung produk ke rumahnya.

Lantaran sangat terkenal, Yohanna pernah mendapat undangan dari Freddy Numberi semasa menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan untuk berpartisipasi pada seminar ilmiah tentang sagu di Yogyakarta. Padaacara tersebut, Yohanna memperkenalkan produk olahan sagu KUB Mama.

Prestasi lainnya, adalah KUB Mama pernah memasok sajian kue kering dan kue basah pada perayaan Natal di Kedutaan Besar Jerman di Jakarta pada tahun 2008. Produk KUB Mama juga telah sampai ke Jakarta, Surabaya, dan Bali. “Saya juga biasa melayani pesanan dari kantor gubernur untuk oleh-oleh para tamunya,” kata dia.

Selama ini, KUB Mama rata-rata mampu meraup omzet Rp 15 juta saban bulannya. Perolehan ini dari hasil penjualan sekitar 100 potong kue basah dan 300 stoples kue kering. “Kalau ada event di Ambon, omzet kami bisa meningkat sampai Rp 50 juta per bulan,” ujar Yohanna.

Dia membanderol kue basah maupun kue kering tersebut seharga Rp 50.000 per kemasan. Untuk kemasan kue kering, dia menggunakan stoples plastik berkapasitas 500 gram. KUB Mama juga menawarkan produk dalam kemasan khusus berisi enam toples aneka kue kering seharga Rp 390.000.

Dari total omzet tersebut, Yohanna menikmati keuntungan bersih 30%-40%. Selain biaya produksi dan menggaji lima karyawannya, dia juga harus menanggung biaya kemasan yang lumayan besar.

Harga kemasan kue di Ambon tergolong mahal. Para pengusaha di Ambon, termasuk Yohanna, masih mendatangkan kemasan dari Jakarta atau Surabaya. “Biaya kirimnya yang mahal, karena kami belum bisa mendatangkan kemasan dalam jumlah yang terlalu banyak,” kata Yohanna.

Untuk bahan baku, Yohanna mengaku tidak terlalu sulit mencari tepung sagu di Ambon. Adapun bahan baku yang digunakan adalah sagu kering yang telah digiling menjadi tepung sagu. Dia bilang, mengolah sagu itu mudah karena tepung sagu memiliki kandungan air yang cukup rendah.

Pesona makanan olahan sagu tak hanya terkenal di Ambon. Masyarakat di Pulau Jawa pun ternyata menyukai produk olahan sagu, terutama kuekering sagu keju. Peminat kue kering dengan kombinasi rasa asin dan manis tersebut amat tinggi.

Ini terlihat dari penjualan produk Ina Cookies, yang terkenal dengan produk kue keringnya. Nah, sagu keju termasuk dalam 10 kue kering favorit yang sering dipesan oleh konsumen Ina Cookies.

Bahkan, Chandik, Distributor Utama Ina Cookies, mengatakan, pamor kue sagu bersanding dengan kue kering favorit. Seperti kastengel, nastar, atau putri salju yang telah tersohor di kalangan konsumen.

Apalagi, lanjutnya, kuekering sagu keju bisa diibaratkan camilan wajib yang mesti disajikan saat bulan puasa. “Peminatnya tinggi, sampai-sampai kue yang dalam keadaan rusak karena guncangan saja tetap diburu orang,” katanya.

Tiap bulan, Chandik yang membawahi sekitar 100 agen dan lebih dari 50 distributor, itu mampu menjual sekitar 200 lusin kue kering sagu keju. Ina Cookies menawarkan produk tersebut dalam kemasan stoples plastik seberat 500 gram.

Untuk harga per stoples, Chandik bilang, tergantung dari lokasi agen atau distributor. Hanya, dia mencontohkan, di kawasan pusat kota Jakarta, seperti Sudirman dan sekitarnya, harga kue kering sagu keju berkisar antara Rp 60.000 sampai Rp 90.000. “Kalau di Kupang atau Sorong, harganya bisa mencapai Rp 125.000 per stoples,” imbuhnya.

Ina Cookies menggunakan bahan pilihan. Bahan utama, yakni sagu dipasok dari produsen sagu asal Bogor. Sementara keju dipasok dari produsen keju ternama. Semua ini untuk menjaga kualitas rasa kue itu. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Jualan Kebab

Bisnis kebab kelas kaki lima sempat populer di negeri ini beberapa tahun lalu. Banyak pelaku usaha mencoba terjun ke bisnis roti isi daging khas Turki tersebut. Sayangnya, seiring berkembangnya inovasi bisnis makanan yang diciptakan sejumlah pelaku usaha, demam bisnis kebab memudar. Namun, bukan berarti cerita bisnis kebab telah tutup buku.

Buktinya, kini masih banyak pebisnis kebab yang menawarkan paket business opportunity alias kemitraan kepada masyarakat. Salah satunya CV Sahara Bogatama di Bekasi, Jawa Barat.

Menurut M. Iqbal Nur Al-Rasyid, Direktur Sahara Bogatama, pihaknya menawarkan business opportunitykebab sejak tahun lalu. Dia optimistis, melalui berbagai inovasi yang mereka persiapkan, bisnis kebab masih sangat gurih untuk digarap.

Apalagi, imbuh Iqbal, perusahaan yang dirintis ayah dan pamannya tersebut sudah berpengalaman di bisnis kebab sejak 1999. Asal tahu saja, selain menawarkan business opportunity, Sahara Bogatama juga produsen bahan baku kebab yang kemudian memasoknya ke sejumlah pelaku usaha kebab.

Daya jangkau pemasarannya pun luas. “Pelanggan kami tersebar hampir di seluruh Indonesia,” kata Iqbal. Saat ini Sahara menjual 15-20 ton daging kebab ke sekitar 75 pelanggan tetap.

Sahara Bogatama menjual daging kebab Rp 34.000 per kilogram (kg). Dus, omzet nya dari penjualan daging kebab berkisar Rp 400 juta- Rp 500 juta per bulan.

Omzet sebesar itu dapat terus bertahan dalam dua tahun terakhir ini. “Kalau ada yang bilang bisnis kebab mulai menurun, perlu ditanya lagi itu di daerah mana,” tukas Iqbal.

Pengalamannya sebagai pemasok daging kebab membuat Iqbal yakin menawarkan business opportunitykebab siap saji ini. Mengaku tak sekadar ikut-ikutan, lelaki ini mengklaim konsep business opportunity yang ditawarkannya tidak memberatkan mitra. Agar pelanggan mitra tak bosan dengan menu kebab yang ada, Sahara rutin mengeluarkan menu baru kebab.

Maintenance fee 5%

Nantinya, menu baru tersebut hanya diberikan kepada mitra Sahara Kebab. Sementara para pembeli daging kebabnya selama ini tidak akan mendapatkan pasokan daging kebab hasil inovasi tersebut. Salah satu kebab inovatif yang akan meluncur ke pasar tahun ini adalah kebab tuna.

Sahara Bogatama kini menawarkan empat paket business opportunity. Yaitu, paket dengan investasi Rp 10 juta, Rp 20 juta, Rp 27,5 juta dan ?Rp 40 juta. Investasi paling murah untuk model booth, sedangkan yang termahal berkonsep kafe.

Tak ada pungutan royalti tiap bulan dan biaya penggunaan merek yang dibebankan kepada mitra. Namun, mitra wajib menyetorkan biaya bulanan alias maintenance fee sebesar 5% dari omzet. Iqbal beralasan, biaya tersebut untuk memperbaiki kinerja dan manajemen mitranya.

Harga jual kebab dipatok minimal Rp 6.000 per potong. “Batas atas kami serahkan masing-masing karena disesuaikan sewa tempatnya,” kata Iqbal. Kini, ada delapan gerai Sahara Kebab, di mana lima di antaranya milik mitra.

Ketua Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Itta Supit Ginting menilai bisnis kebab masih diminati pemodal. Indikasinya, masih banyak pemodal yang berminat meski nama usahanya tidak tenar.

Namun, jajanan kebab yang bukan asli Indonesia, bisa jadi kendala bisnis ini untuk bertahan. “Kreativitas menjadi kunci,” kata Itta. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Mesin Jahit Bekas

Meski bukan barang baru, pasar mesin jahit bekas masih potensial. Memang, banyak pengusaha konveksi lokal yang gulung tikar karena serbuan produk China. Tapi, pengusaha baru terus bermunculan. Inilah pasar yang dibidik pedagang mesin jahit bekas. Di Penggilingan, Jakarta Timur, para pedagang mesin jahit bekas meraup omzet ratusan juta rupiah.

Dalam beberapa tahun terakhir, produk konveksi asal China memang gencar menyerbu pasar Indonesia. Namun, serbuan itu tak serta-merta mematikan usaha konveksi di dalam negeri.

Salah satu indikasinya adalah permintaan mesin jahit tetap mengalir. Termasuk, mesin jahit bekas. Jumlah pedagang yang melakoni usahanya ini memang tidak terlalu banyak.

Tengok saja sebuah lokasi penjualan mesin jahit bekas di daerah Penggilingan, Jakarta Timur. Ada beberapa pedagang mesin jahit bekas yang menempati lokasi di kawasan Perkampungan Industri Kecil (PIK). Di antara sekitar lima penjual mesin jahit bekas di sana, CV Sinar Abadi dan CV Citra Mesin merupakan dua pemain besar bisnis mesin jahit bekas.

Asal tahu saja, sebagian pengusaha mesin jahit bekas ini memiliki latar belakang sebagai pemilik usaha konveksi. “Ada yang masih berjalan, atau sudah tutup dan pindah haluan jadi penjual mesin,” ujar Jamaludin, pemilik CV Sinar Abadi, yang juga masih menjalankan usaha konveksi.

Para pembeli mesin jahit bekas di sentra ini berdatangan dari berbagai daerah. Sebagian besar dari mereka adalah pemilik usaha konveksi atau garmen, baik kelas kecil hingga skala pabrik.

Menurut Jamaludin, mayoritas pesanan mesin jahit datang dari para pengusaha konveksi yang masih eksis beroperasi. “Beberapa dari Jakarta, Tangerang, Banten, Bekasi dan Bogor. Ada juga yang dari Surabaya atau Yogyakarta,” terangnya.

Selain konsumen perorangan dan para pengusaha konveksi, Gunaedji, pemilik CV Citra Mesin, menambahkan, transaksi jual-beli juga terjadi di antara sesama penjual. “Kadang kalau stok mesin lagi kosong dan ada pesanan yang masuk, mereka mencari barang di sini,” ungkap Gunaedji.

Para pedagang yang kerap mengambil mesin dari CV Citra Mesin berasal dari kawasan Toko Tiga dan Kota di Jakarta Barat, Menjahit Laba dari Berjualan Mesin Jahit Bekas

Surabaya, Solo, Semarang, dan Bandung. “Tapi mereka tidak rutin, cuma sekali membeli jumlahnya bisa puluhan sampai ratusan mesin,” ujar Gunaedji.

Dengan pasar yang cukup luas, kedua usaha ini meraup omzet yang lumayan besar. Omzet rata-rata per bulan dari CV Citra Mesin mencapai kisaran Rp 150 juta. Sedangkan CV Sinar Abadi meraup omzet rata-rata
Rp 100 juta per bulan.

“Bisnis ini cukup prospektif karena pakaian adalah kebutuhan utama, sehingga permintaan mesin dari pabrik atau usaha konveksi selalu ada,” ujar Jamaludin.

Selain omzet yang besar, para pengusaha mesin jahit bekas ini juga bisa meraup marjin yang cukup tebal dari selisih harga beli dengan harga jual mesin jahit bekas.

Simak saja pengakuan Jamaludin yang mampu meraup margin bersih dari penjualan mesin jahit bekas tersebut minimal sebesar 20%. “Kadang keuntungan dari beberapa mesin bisa lebih dari 50%,” katanya. Ini sudah termasuk biaya reparasi mesin sebelum dijual.
Dia mencontohkan, mesin jahit bekas satu jarum asal Jepang dia jual dengan harga Rp 1,4 juta hingga Rp 1,5 juta per unit. Padahal, modal yang dikucurkannya untuk membeli mesin tersebut sebesar Rp 800.000.

Hal serupa diakui Gunaedji. Pasalnya, para pedagang seringkali mendapatkan mesin jahit bekas dari perusahaan konveksi yang pailit dan kemudian melelang aset-asetnya. “Kalau mereka ada utang dengan bank, pasti mesin-mesin ini akan disita dan dilelang,” kata lelaki berusia 49 tahun ini.

Namun, lanjut Gunaedji, bukan perkara mudah mendapatkan mesin jahit bekas. Para pedagang haus bersaing ketat dalam proses lelang tersebut. “Kami juga harus mempunyai jaringan yang cukup luas,” tandas dia.

Jamaludin menambahkan, kadang dia mendapatkan informasi lelang mesin dari bekas mekanik yang kini bekerja di perusahaan konveksi. “Informasi seperti itu penting, karena mesti bergerak cepat juga,” ujarnya. Tak heran, untuk memenangkan proses lelang mesin jahit bekas ini, seringkali para pedagang bekerjasama dengan pedagang lainnya.

Namun, Gunaedji mengaku, tak terlalu senang dengan cara tersebut. “Nanti bisa repot membagi jatah mesinnya. Jadi lebih baik kami bersaing fair dengan kemampuan sendiri saja,” tandas dia.

Gunaedji bercerita, dia pernah ikut lelang dengan modal Rp 1 miliar demi mendapatkan 500 mesin jahit bekas sitaan bank. Daerah yang menjadi kantong perburuan mesin jahit bekas adalah pusat-pusat pabrik konveksi. Di antaranya, Tangerang, Bekasi, Sukabumi, Bandung, Surabaya, Solo, Semarang dan Yogyakarta.

Para pedagang membedakan harga jual kepada konsumen ritel dengan pengusaha konveksi. Harga untuk konsumen ritel berkisar Rp 800.000 sampai Rp 1,2 juta per unit. “Ini untuk mesin jarum satu. Tapi tergantung merek, kalau dari China lebih murah daripada produk mesin jahit Jepang atau Amerika Serikat,” tutur Gunaedji.

Uniknya, harga jual untuk pengusaha justru lebih mahal. Jamaludin bilang, harga jual mesin jahit jarum satu kepada pengusaha konveksi berada pada kisaran Rp 1,2 juta hingga Rp 1,4 juta per unit. “Kalau ke sesama pedagang paling tinggi kami mengambil untung sebesar 5% dari harga modal,” imbuh Gunaedji.

Gunaedji dan Jamaludin menilai, bisnis mesin jahit ini berprospek cerah. Sebab, permintaan pakaian, sebagai kebutuhan primer, tak pernah surut. Pasar yang terus terbuka akan membuat pengusaha konveksi terus eksis dan bermunculan. “Nah, inilah pasar kami,” pungkas Gunaedji.  (peluangusaha.kontan.co.id)

Menggarap Peluang Bisnis dari "Junk Mail"

Desember 30, 2010 Tinggalkan komentar

Kesuksesan berbisnis juga dipengaruhi ketajaman intuisi pebisnisnya. Coba saja perhatikan, berapa banyak orang yang berwirausaha tetapi tak juga sukses dengan usahanya. Salah satu faktor penyebabnya adalah mereka kurang jeli melihat peluang lantaran tak didukung intuisi yang tajam. Intuisi bisa dilatih dengan berbagai cara, bahkan melalui e-mail sampah yang memenuhi kotak masuk di akun e-mail atau surat elektronik (surel) Anda.

“Jika sering mendapat junk mail, Anda beruntung karena kita bisa menggunakan surat sampah tersebut untuk melatih intuisi,” papar Tom Martin Charles Ifle, mentor coach yang juga praktisi hipnoterapi, dalam bukunya yang berjudul Big Brain Big Money.

Lantas seperti apa cara melatih intuisi? Tom menjelaskannya lebih rinci:

Simpan dan analisis surel sampah
Surel sampah bisa mendatangkan ide bisnis dan peluang usaha. Jangan buang surat sampah selama satu atau dua bulan. Baca sekilas sebelum Anda buang. Lihat persamaan surat-surat tersebut. Apakah Anda melihat iklan, penawaran, produk baru, dan seterusnya? Apa yang Anda simpulkan dari surat-surat tersebut?

Analisis brosur hingga papan iklan
Brosur, berbagai selebaran iklan, hingga papan iklan bisa menjadi sumber penghasilan. Bukan dengan memproduksinya, melainkan dari Anda bisa mempelajari pasar dari media iklan ini. Setiap kali Anda berkesempatan mengunjungi berbagai kota, bacalah koran lokal, brosur, atau iklan pada papan reklame di kota tujuan. Penilaian apa yang Anda bisa simpulkan tentang ekonomi, standar hidup, dan kebiasaan kota tersebut? Apa yang bisa Anda duplikasi dan tiru darinya?

Amati dan analisis tayangan televisi atau film
Tontonan yang sedang populer tak sekadar hiburan bagi Anda yang memiliki intuisi tajam. Ada hal menarik yang bisa Anda amati dari sana, dianalisis, bahkan menjadi peluang usaha. Amati tontotan populer di layar kaca atau film yang sedang digemari pasar, termasuk bacaan atau lagu yang sedang hangat dibicarakan orang. Setelah itu, tanyakan kepada diri Anda, apa yang sedang diminati orang? Nilai-nilai apa yang penting saat ini? Siapa tokoh populer yang sedang dikagumi, dan mengapa mereka populer? Anda tengah melatih intuisi dan membaca tren dari cara ini.

Belajar dari seminar

Ilmu bisa didapatkan dengan berbagai cara atau dari pengalaman orang lain yang sudah lebih dahulu sukses. Menghadiri konferensi, seminar, lokakarya, pelatihan, bedah buku, atau seminar gratis tak hanya akan mengasah otak, tetapi juga melatih intuisi. Pelajari apa yang membuat orang tertarik untuk hadir. Cara-cara ini membantu Anda menajamkan intuisi.

Dengarkan radio

Sarana hiburan seperti radio tak hanya bisa dimanfaatkan untuk memanjakan telinga. Simak siaran radio lalu tanyakan kepada diri sendiri, siapa target pasar radio ini? Apa sasaran mereka? Siapa pendengarnya? Mengapa orang mau beriklan? Anda bisa meraba tren dan menajamkan intuisi yang bisa menjadi modal Anda untuk menggarap peluang usaha darinya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.