Arsip

Posts Tagged ‘Peluang Bisnis’

Peluang Bisnis Martabak Isi Buah

Martabak memang salah satu kudapan favorit di negeri ini. Tak heran, gerai-gerai martabak selalu terlihat di setiap keramaian, baik di kompleks perumahan maupun pusat perbelanjaan. Meski jumlah gerai dan merek martabak sudah tak terhitung lagi, penawaran

kemitraan usaha martabak pun tak pernah berhenti. Mereka pun menawarkan menu-menu yang bervariasi.

CV Mara Surya Persada merupakan salah satu perusahaan yang menawarkan kemitraan usaha martabak. Perusahaan yang bermarkas di Cirebon ini sudah membuka usaha martabak dengan nama Muakhi sejak 2007.

Untuk bersaing dengan gerai-gerai martabak lainnya, Muakhi menawarkan martabak suka-suka yang isinya mengikuti selera konsumen, serta martabak manis yang berisi buah segar.

Jenis buah segar yang menjadi bahan pengisi, antara lain pisang, stroberi, nangka, durian dan kismis. Adapun untuk martabak telur,

Muakhi menyediakan menu martabak smoke beef. “Perbedaannya ada pada resep dan komposisi bahannya,” kata Ikranegara Kusumaningrat, salah satu pemilik CV Mara Surya Persada.

Harga martabak manis dan martabak telur di gerai Muakhi mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 25.000 per loyang.

Selain menyediakan martabak buah segar, Muakhi juga menyediakan martabak standar dengan isi seperti cokelat, kacang, keju, susu, dan wijen. Konsumen pun bisa memakai semua bahan itu sesuai dengan selera.

Ketiadaan bahan pengawet, ragi, pewarna makanan, atau bahan pelembut menjadi kelebihan martabak keluaran Muakhi. Meski

begitu, Ziko, panggilan Ikranegara Kusumaningrat, menyakinkan, tekstur martabaknya tetap lembut, aroma wangi pun tetap akan tercium tajam.

Ziko bilang, selama ini, gerai martabaknya yang ada di Cirebon bisa meraup omzet berkisar Rp 200.000-Rp 400.000 saban hari.

Setelah tiga tahun membangun usaha martabak di Cirebon, Mara Surya Persada membuka peluang kemitraan martabak Muakhi awal 2010 lalu. “Untuk menjadi mitra, nilai investasinya sebesar Rp 35 juta,” kata Ziko.

Dengan investasi sebesar itu, mitra akan mendapatkan satu konter dan perlengkapannya, bahan baku awal, paket promosi, pelatihan

karyawan, dan pendampingan awal ketika pembukaan gerai. “Perkiraan balik modalnya sekitar 12 bulan. Namun, bisa juga lebih cepat,” ujar Ziko.

Saat ini, martabak Muakhi telah memiliki dua mitra yang sudah beroperasi di Bandung. “Ada calon mitra yang dari Lampung yang sedang menunggu pendanaan,” kata Ziko. Ia menambahkan, permintaan kemitraan martabak Muakhi juga datang dari Jawa Timur

dan Jawa Tengah.

Ziko menganjurkan, para calon mitra memilih lokasi yang ramai. Sebut saja, daerah permukiman padat penduduk, perkantoran, pasar modern, depan mini market, tempat rekreasi, dan lokasi yang dekat dengan pusat pendidikan.

Untuk menentukan kelayakan lokasi usaha, Mara Surya Persada harus melakukan survei terlebih dahulu. Mereka juga mengutip biaya survei sebesar Rp 1 juta untuk wilayah Jabodetabek, Rp 1,5 juta untuk Jawa dan Madura, dan Rp 2,5 juta untuk Sumatra dan Bali. Adapun, biaya survei di Kalimantan dan Sulawesi sebesar Rp 3 juta. Sementara untuk wilayah Maluku, Nusa Tenggara, serta Papua sebanyak Rp 3,5 juta. Ziko memperkirakan, proses pembuatan outlet butuh waktu hingga sebulan, bersamaan dengan masa trainingkaryawan.

Konsultan Wirausaha dan Praktisi Bisnis A. Khoerussalim mengatakan, Mara Surya Persada cukup kreatif dalam membuat martabak dengan menambahkan isi buah-buahan. “Paling tidak buah-buahan ini bisa menambah rasa penasaran konsumen,” kata Khoerussalim.

Namun, Khoerussalim menekankan, usaha martabak tetap harus memperhatikan rasa martabaknya agar lebih spesial. Biarpun,

isinya menarik, tanpa diimbangi rasa martabak yang pas, penjualan yang ramai hanya pada awal operasional. Jadi, rasa penasaran konsumen hanya membuat penjualan melambung pada permulaan beroperasi. Tidak lebih.

Khoerussalim menilai, pencapaian omzet rata-rata martabak Muakhi kurang bagus. “Kalau memang rasanya enak, dalam waktu tiga tahun seperti sampai saat ini, penjualannya paling tidak sudah bisa mencapai 100 loyang per hari,” ujar dia. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Mesin Pengolah Keripik Buah

Buah-buahan tidak hanya bisa langsung dimakan, tapi juga bisa diolah menjadi bahan panganan lainnya. Mesin-mesin untuk mengolah buah-buahan menjadi keripik pun lahir. Pengolahan buah ini memberikan nilai tambah. Peluang bisnis produksi mesin itu masih lebar, apalagi produsennya masih didominasi di Malang, Jawa Timur.

Pengolahan buah menjadi keripik sudah bukan hal baru. Setidaknya, teknologi ini sudah dikembangkan oleh para peneliti Universitas Brawijaya sejak 10 tahun silam. Namun, teknologi tersebut baru benar-benar diperjualbelikan secara bebas mulai 8 tahun yang lalu.

Teknologi ini sangat berguna bagi masyarakat Malang. Maklum, daerah di Jawa Timur ini terkenal sebagai penghasil buah-buahan, seperti apel dan mangga. Tentu, kehadiran teknologi pengolah buah akan membuat buah-buahan asal Malang memiliki nilai tambah yang lebih besar.

Walau pada awalnya ditujukan untuk pengusaha Malang, lambat laut mesin pengolah keripik buah kian digemari pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di seluruh Indonesia. Sebab, bukan hanya apel atau mangga saja yang bisa diolah menjadi keripik yang garing, tapi juga jenis buah-buahan lain, semisal, pepaya, nangka, dan pisang.

Harly Nugroho, pemilik CV Catur Mitra Perkasa, yang memproduksi mesin pengolah keripik buah merek Garuda Machinary, mengatakan, meski masih memakai teknologi lama, mesin-mesin bikinannya tetap banyak dicari pengusaha.

Harly yang baru merintis usaha sekitar tiga bulan lalu, setiap bulan sudah mendapat pesanan tujuh mesin pengolah keripik buah. “Permintaan mesin tidak hanya datang dari Jawa, namun seluruh Indonesia,” katanya.

Sukses Harly tak lepas dari kemampuannya dalam mengembangkan sistem pendinginan pada mesin, sehingga dapat beroperasi lebih lama. Sistem itu melekat pada teknologi vacuum frying machine atau penggorengan hampa untuk menghasilkan keripik buah yang renyah.

Alat pengolah keripik buah made in pengusaha Malang ini juga dilengkapi teknologi penarik kadar air. Dengan begitu, hasil pengolahan buah berlangsung secara maksimal.

Saat ini, Harly sanggup memproduksi mesin pengolah keripik buah dalam pelbagai ukuran, dari kapasitas 1,5 kilogram (kg) hingga 50 kg. Harganya, mulai Rp 11 juta sampai Rp 120 juta per unit. Sebulan, ia bisa mengantongi omzet Rp 150 juta-Rp 300 juta.

Produsen mesin pengolah keripik buah lainnya, PT Agrowindo Sukses Abadi yang berdiri sejak 2002 lalu juga di Malang. Kuncoro, Marketing Supervisor perusahaan tersebut, bilang, permintaan alat produksi keripik buah masih lumayan. “Memang, tidak sebanyak dulu. Banyaknya pemain baru dalam setahun terakhir di Malang menjadi penyebabnya,” ungkap dia.

Akibatnya, Agrowindo Sukses hanya mampu menjual mesin produksinya rata-rata tiga sampai lima unit per bulan. Namun, jumlah itu akan melonjak menjadi 10 unit saat menjelang lebaran atau akhir tahun. Rata-rata mesin yang dipesan berbobot 5 kg seharga Rp 23 juta per unit.

Permintaan tak hanya datang dari pasar lokal. Beberapa kali Agrowindo Sukses mendapat pesanan dari Malaysia dan Filipina. “Biasanya dua kali dalam setahun,” ujar Kuncoro.

Walau berfluktuatif, rata-rata Agrowindo Sukses mampu mengantongi omzet hingga Rp 50 juta setiap bulan. Penghasilan sampai Rp 100 juta didapat saat order benar-benar ramai.

Keunggulan mesin bikinan perusahaannya, Kuncoro menjelaskan, lebih hemat listrik dengan proses pengolahan yang cepat. “Dari buah hingga menjadi keripik hanya butuh waktu sekitar 45 menit sampai dua jam saja,” kata Kuncoro.

Ketatnya persaingan bisnis produksi mesin pengolah keripik buah dibenarkan oleh Harly. Ia mengungkapkan, kini, jumlah perusahaan yang memproduksi mesin tersebut sudah mencapai puluhan. “Semuanya berdomisili di Malang,” ujarnya.

Meski begitu, baik Harly maupun Kuncoro optimistis pangsa pasar mesin pengolahan buah ini masih cukup lebar. Soalnya, permintaan mesin pengolah keripik buah di luar Malang masih tinggi. “Banyak perusahaan dan industri penghasil keripik yang belum terjamah alat ini, terutama industri keripik di kawasan Indonesia bagian Timur,” tambah Harly.

Selain memproduksi mesin pembuat keripik buah, Catur Mitra dan Agrowindo Sukses juga menghasilkan mesin pengolahan kakao, kopi, presto, serta kerupuk. “Semua menggunakan teknologi tepat guna,” kata Harly. Ia juga berencana mengembangkan mesinnya agar mampu dipakai pada komoditas lain, semisal udang dan ikan. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Arena Bermain Anak

Mal sudah menjadi tujuan rekreasi keluarga, terutama yang tinggal di perkotaan. Pengelola mal berlomba melengkapi fasilitas penarik pengunjung, termasuk arena bermain anak. Potensi keuntungan bisnis hiburan anak ini pun ikut meruak.

Bukan sekadar tempat belanja dan cuci mata, pusat perbelanjaan juga menjadi tujuan favorit keluarga untuk mengajak rekreasi sang buah hati. Maklum, banyak mal kini menyediakan arena bermain yang asyik bagi anak.

Menilik jumlah pengunjung arena bermain anak yang lumayan banyak, sepertinya bisnis arena bermain anak (playland) cukup menjanjikan. Wajar bila bisnis playland ini pun kian merebak. Sarana permainan yang mereka sediakan semakin variatif dan memasukkan unsur edukasi dan olahraga.

Selain kolam bola, bounce atau balon berukuran besar, kini ada pula trampolin, panjat tebing, hingga flying fox. “Tren arena bermain saat ini harus memberi permainan yang mendidik,” ujar Tonie Kadi, Direktur PT Lollipop Indonesia, pengelola Lollipop’s Playland & Cafe di Indonesia.

Soal potensi pasar, tak usah diragukan lagi. Walau tiket masuk arena bermain tak murah, orangtua tak segan merogoh kocek demi menyenangkan anak. Pengunjung arena bermain selalu melimpah, terutama ketika libur akhir pekan.

Harga tiket biasanya dihitung per jam sekitar Rp 10.000–Rp 15.000 per jam. Anak bisa main sepuasnya dengan membeli tiket seharga Rp 85.000–Rp 110.000 per orang. Pengunjung playland berukuran kecil per hari bisa mencapai 100 anak per hari. Arena bermain yang lebih besar dan permainan beragam tentu bisa menyedot pengunjung lebih banyak lagi.

Kelebihan lain bisnis playland adalah biaya pemeliharaan yang rendah. Menurut Jhonny Asiong, pemilik arena bermain anak Happy Play, pengelola cukup membersihkan peralatan dengan vacuum cleaner.Mainan juga tak butuh perbaikan, paling tidak selama dua tahun–tiga tahun. Penggunaan listrik dan air pun minim. Soalnya sebagian besar mainan anak tidak membutuhkan air atau listrik.

Rai Minakarna, pengusaha playland mandiri, menambahkan bahwa dana operasional paling banyak tersedot untuk sewa tempat dan gaji karyawan. “Arena bermain biasanya butuh lima-enam karyawan,” ujar dia.

Kalau berminat menjajal bisnis ini, ada beberapa tawaran waralaba yang bisa Anda pertimbangkan. Itu kalau Anda ogah repot membuka usaha ini secara mandiri.

Yuk, kita tengok penawaran mereka. Siapa tahu ada yang memikat:

Happy Play

Happy Play berbasis di Medan, Sumatra Utara. Perusahaan ini berdiri sejak 2006 dan pada awalnya hanya menjual peralatan bermain yang aman bagi anak.

Jhonny terinspirasi menawarkan waralaba karena banyak pembeli yang berkonsultasi soal bisnis playlandkepadanya. Jhonny memutuskan menawarkan waralaba mulai tahun 2010. Saat ini Happy Play sudah memiliki enam playland terwaralaba dan lima playland yang dikelola sendiri.

Dari tiga tipe playland yang mereka operasikan (indoor, outdoor, dan inflatable castle alias istana balon), Happy Play cuma menawarkan paket waralaba indoor. Paket outdoor tidak diwaralabakan karena biasanya bukan untuk tujuan komersial. Playland outdoor dibangun sebagai fasilitas di perumahan, rumah sakit, dan sekolah. Adapun inflatable castle dijual putus.

Jika berminat mengambil paket waralaba dari Happy Play, biaya waralaba tergantung dari luas dan desain. Rata-rata, biaya pembangunan tempat bermain Rp 3 juta per meter persegi (m²). Investor wajib memesan setidaknya untuk lahan seluas 100 m². Jadi minimal biaya waralaba sekitar Rp 300 juta.

Dengan menjadi terwaralaba, Anda berhak memakai nama Happy Play selama lima tahun. Happy Play akan memberikan standar operasi bisnis, menjaga kesehatan bisnis, memastikan kebersihan, keamanan, dan kenyamanan bisnis investor.

Tapi, sebelum menerima Anda menjadi terwaralaba, Happy Play akan melakukan survei lokasi. “Idealnyaplayland dibangun di pusat perbelanjaan. Tak perlu mewah, yang penting jumlah pengunjung tinggi,” kata Jhonny.

Dari pengalaman Jhonny, bisnis lahan bermain bisa balik modal dalam tempo sembilan bulan saja. Itu dengan asumsi, rata-rata omzet per bulan di atas Rp 60 juta.

Soal tarif tiket, Jhonny menyerahkan sepenuhnya ke investor, sesuai standar daerah masing-masing. Ada yang mematok harga tiket Rp 5.000 per jam, ada pula Rp 15.000 per jam. Namun, ada, lo, yang mematok harga Rp 100.000 untuk bermain sepuasnya.

Lollipop’s Playland & Cafe

Lollipop’s Playland & Cafe juga menawarkan waralaba playland. Meski sampai sekarang dari tiga gerai yang mereka buka di Jakarta (di Senayan City, Mal Kelapa Gading, dan Gandaria City) masih dikelola oleh pemegang master franchise Lollipop. “Peminatnya belum banyak karena membutuhkan investasi yang cukup besar,” imbuh Tonie.

Maklum, playland ini memang waralaba impor dari Selandia Baru. Di negara asalnya, Lollipop sudah beroperasi sejak 1993. Di Indonesia, gerai pertama di Senayan City baru buka pada 2008.

Kalau tertarik bergabung, biaya franchise yang harus Anda keluarkan memang tidak kecil, sekitar US$ 40.000 untuk biaya konsultasi bisnis. Selain biaya konsultasi bisnis, Anda juga akan dikenai biaya royalti senilai 5% dari omzet per bulan, plus biaya pemasaran 3% dari total omzet per bulan.

Dengan biaya sebanyak itu, terwaralaba berhak memakai nama Lollipop’s Playland & Cafe serta mendapat pelatihan bisnis dan pelatihan operasional dari master franchise. Cuma, Tonie enggan memerinci lebih jauh, dengan alasan hanya akan dijelaskan kepada orang yang sudah menjadi terwaralaba mereka.

Arena bermain Lollipop memang luas, di atas 1.000 m². Bahkan, di Gandaria City, luasnya mencapai 1.900 m². Tapi, arena bermain yang luas menjadi keuntungan tersendiri karena daya tampungnya yang besar. Jumlah pengunjung Lollipop saat ini rata-rata 500 anak per hari. Di akhir pekan, jumlahnya melonjak dua kali lipat menjadi 1.000 anak.

Itu belum termasuk orangtua yang ikut masuk untuk menjaga anak-anaknya. Lollipop juga menyediakan kafe yang bisa menjadi tempat tunggu.

Khusus anak, tarif yang dikenakan di hari biasa adalah Rp 85.000 per anak dan Rp 110.000 per anak di akhir pekan. Dengan harga itu, mereka bisa bermain sepuasnya.

Adapun orangtua yang ingin menjaga anaknya di area bermain mereka kenakan tiket Rp 15.000 per orang pada hari biasa dan Rp 20.000 per orang pada akhir pekan.

Soal omzet, Tonie enggan memberi angka pasti. Tapi dari hitung-hitungan pengunjung 500 orang di hari biasa, omzet Lollipop bisa mencapai Rp 42,5 juta per hari. Sedangkan pada akhir pekan, omzet bisa mencapai Rp 110 juta per hari. Itu belum menghitung pendapatan tiket dari orangtua dan makanan atau minuman yang mereka beli.

Lantaran modal tidak kecil, balik modal di waralaba Lollipop pun tidak bisa berlangsung secepat kilat. Dalam hitungan Tonie, balik modal akan tercapai dalam 3,5 tahun.

Nah, bagaimana? Apakah Anda masih tertarik untuk mengambil waralaba arena bermain anak ini? Kalau masih, silakan mencoba dan semoga beruntung. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Komik Lawas

Membaca komik memang mengasyikkan. Dan, ternyata keasyikan hobi masa kecil itu juga bisa mendatangkan untung. Benar, lo, ada beberapa komik yang bisa mendatangkan laba tinggi dan memiliki prospek kenaikan harga di masa mendatang.

Booming harga komik terjadi pada kurun 2002–2007. Situs http://www.comicpriceindex.com mencatat, rata-rata komik berumur sekitar 25 tahun yang tercatat dalam Silver Age Comic Price Index (SPCI) telah mendatangkan gain 39% sepanjang 2002–2006 atau rata-rata sebesar 9,75% per tahun. Laba investasi komik ini mencapai puncak pada Januari–September 2007. Selama periode tersebut, kenaikan harga bisa mencapai 10,5%. Sayang, masa keemasan komik mulai redup setahun kemudian. Sepanjang tahun 2008, kenaikan harga komik hanya 1,5%.

Ada tiga komik yang mendatangkan gain paling besar pada masa itu: Amazing Spiderman yang mencatatkan gain 12,7%, Fantastic Four memberi gain 7,9%, serta X-Man yang mencatat laba 7,2%. Sayang, data SPCI tidak lagi ter-update sehingga cuma bisa menampilkan pergerakan harga hingga akhir 2008.

Padahal, harga komik lawas sepanjang tahun ini mencatat pertumbuhan yang lumayan jangkung. Komik-komik yang mengalami kenaikan harga tersebut umumnya terbitan Marvel dan DC.

Terlepas dari keuntungan yang datang dari komik, alasan utama seseorang pertama kali membenamkan duit pada buku-buku komik lawas bukan untuk memburu laba. Sebagian besar investor komik adalah mereka yang mencintai buku cerita bergambar itu sebagai koleksi. “Buku komik adalah bagian dari nostalgia dan memiliki penggemar yang khusus,” ujar Anton Utomo, penjual buku antik dan pemilik Toko Buku Anelinda di kawasan Serpong, Tangerang. Anton mulai mengumpulkan komik sejak 1998.

Lain halnya dengan pendapat Andi Widjaja. Andi setuju bahwa komik bisa menjadi instrumen investasi yang menarik karena memang penggemarnya sangat banyak. Andi adalah salah satu penggemar komik tua Indonesia yang memulai memutar duit di komik jadoel sejak enam tahun silam.

Selama enam tahun ini, Andi merasakan ada kenaikan harga komik yang tergolong tidak wajar. Ia mencontohkan, ada komik lawas yang enam tahun silam dia beli dengan harga cuma Rp 6.000 per eksemplar. Beberapa bulan lalu, komik yang sama bisa dia lepas dengan harga Rp 200.000 alias naik hingga 33 kali lipat.

Tak pelak, Andi yang gemar mengoleksi buku sejak berumur 10 tahun ini lantas memantapkan diri untuk membenamkan modal lebih besar di bisnis buku. Kini ia mengoleksi sekaligus memutar duitnya di Toko Buku Anjaya yang berlokasi di Mal Ambasador, Jakarta.

Sensasi lain mengoleksi komik klasik dirasakan oleh Fajar Widhianto, Fajar mengaku masih gemar berburu komik lawas dari berbagai daerah seperti Solo, Magelang, Malang, atau Surabaya. Ia mulai mengumpulkan komik lawas seharga ribuan, belasan ribu, puluhan ribu, hingga ratusan ribu rupiah.

Dalam perburuannya, Fajar lebih menggandrungi jenis komik yang bergenre roman. “Soalnya, waktu kecil saya penasaran pada komik-komik roman karena belum boleh membacanya,” kata Fajar.

Karena masih asik berburu, dia belum berpikir untuk menjual hasil perburuannya. Ia berharap komik koleksinya sekarang bisa menjadi investasi yang mendatangkan gain tinggi. “Sayang kalau harus melepas hasil perburuan sekarang, apalagi koleksi saya belum banyak yang dobel sehingga bisa dilepas,” kata Fajar merendah.

Komik klasik

Salah satu komik lokal yang saat ini bisa mendatangkan gain lumayan bagi pemiliknya adalah komikWayang Purwa karya Adisoma dan Mahabarata karya RA Kosasih. Jika Anda memiliki dua jenis komik terbitan 1950–1960-an itu dalam kondisi bagus, Anda bisa mendapatkan penawaran tinggi.

Simak saja pengalaman Anton Utomo. Ia mendapatkan buku komik Mahabarata satu set lengkap yang berisi 13 buku pada 1998. Saat itu dia memboyong komik ini dengan harga Rp 100.000. “Sekarang sudah ada yang membayar Rp 4 juta untuk satu set,” kata Anton.

Harga komik wayang menjadi mahal antara lain karena relatif lebih langka ketimbang komik lain. Setiap judul komik wayang hanya di cetak sebanyak 500 eksemplar sampai 1.000 eksemplar saja. Jadi, hukum pasar pun berlaku.

Komik klasik tidak sebatas pada komik serial wayang. Anton mulai mengerti bahwa komik dalam negeri bisa mendatangkan gain tinggi, terutama komik terbitan tahun 1960-an. Selain komik karya R.A. Kosasih, komik lain yang harganya sudah melambung adalah komik Medan karangan Taguan Harjo yang terbit pada 1962. Tiga jilid komik Medan ini bisa terjual seharga Rp 1,5 juta.

Andi Widjaja lebih menggemari komik-komik klasik yang berisi cerita dongeng tanah melayu. Misalnya, Ratu Karimata atau Putri Hijau. Pada 2005 silam, ia membeli buku komik terbitan 1950–1960-an ini dengan harga hanya Rp 20.000–Rp 50.000. Sekarang harga komik yang sama sudah melonjak minimal menjadi Rp 300.000, walau dengan kualitas grade B-C alias tak mulus lagi.

Koleksi paling spektakuler milik Andi adalah komik berjudul Wiro Anak Rimba yang dicetak sekitar tahun 1956, karangan Kwik Ing Hoo. Harga 10 jilid komik ini minimal
Rp 10 juta. Andi mengumpulkan serial komik ini sejak enam tahun lalu dengan harga per jilid sekitar Rp 20.000–Rp 50.000. Harga komik ini melonjak mahal lantaran cetakan pertamanya hanya 3.000 eksemplar.

Komik karya penulis dan artis lokal lain yang juga menjadi favorit dalam khasanah komik klasik Indonesia adalah karya -karya Kho Wan Gie, Zam Nuldyn, Jan Mintarga, Teguh Santosa, serta Wid N.S. Keunikan komik zaman dulu itu terletak pada cara pembuatan yang sangat manual. Naskah-naskah komik masih digambar dengan tangan pada kertas kalkir. Kualitas cetakan pun ala kadarnya.

Gain lebih cepat

Memasuki tahun 1970, komik lokal makin berkembang. Si Buta dari Goa Hantu karya Ganes T.H., Panji Tengkorak hasil coretan Hans Djaladara, dan seri komik silat lain sempat booming. Komik-komik terbitan era ini malah banyak diadaptasi ke film layar lebar pada 1980-an.

Menuju tahun 1990-an komik lokal mulai terseok bersaing melawan komik asing yang disadur ke dalam bahasa Indonesia. Gempuran komik Jepang terbitan Elex Media Komputindo menyebabkan komik lokal perlahan sekarat. “Pada tahun itu, komik-komik terbitan tahun 1960-an dan 1970-an seperti barang loak saja, dibuang, dan harganya cuma seribuan,” kata Andi.

Meski begitu, ada juga komik lokal yang mampu bersaing melawan komik asing. Salah satunya adalahCaroq, karya Ahmad Thoriq yangt terbit pada 1995. Caroq hanya diproduksi dua kali, yaitu pada 1995 dan 1996. Edisi pertama berjudul Bayangan Pengintai hanya diproduksi sebanyak 3.000 eksemplar. Edisi kedua berjudul Si Bengis yang hanya dicetak sebanyak 10.000 eksemplar.

Fajar mengungkapkan pada sebuah lelang online yang diadakan komunitas pencinta komik awal Oktober 2010, satu seri Caroq laku Rp 875.000. Keunggulan produk ini adalah memiliki goresan dan warna yang sangat tajam seperti layaknya komik asing terbitan Marvel maupun DC. Karena itu, dua edisi Caroq cepat ludes di pasaran. Fajar yakin, ke depan harga Caroq bisa naik terus.

Saat ini muncul kabar Caroq edisi ketiga akan segera terbit. Entah sampai di mana kebenaran kabar itu, yang jelas kabar ini akan merangsang keingintahuan pembaca terhadap edisi-edisi Caroq yang sudah terbit sebelumnya. Para pemilik Caroq bisa tersenyum.
Hati-hati koleksi komik

Anda tertarik pada sisi investasi komik? Kalau iya, satu hal yang patut Anda camkan: sampai saat ini tak ada patokan harga komik lokal. Kalau seseorang menganggap sebuah komik layak koleksi, dia cenderung membayar berapa pun harga yang diminta penjualnya.

Komik asing yang baru tak kalah menarik untuk investasi, terutama komik terbitan 1999– 2000. Komik Green Lantern terbitan Marvel, misalnya. “Saya belanja Green Latern seharga Rp 30.000. Dalam tiga bulan saja, harganya naik dua puluh kali lipat menjadi Rp 600.000,” kata Andre Hendra, seorang kolektor komik.

Hariyanto, kolektor komik yang juga pemilik toko komik P&J Hobby Shop di Kelapa Gading Jakarta Utara, juga merekomendasikan komik asing bagi mereka yang ingin berinvestasi. “Harga komik asing terbitan 1990-an kini bisa naik dua-tiga kali lipat, terutama komik-komik yang dibuat dengan jumlah edisi terbatas,” katanya.

Harga komik-komik limited edition terbitan Marvel dan DC Comics memang mahal. Hariyanto memiliki beberapa koleksi yang telah mendapat sertifikasi dari Certified Guaranty Company (CGC). Untuk memesan komik ini, para pedagang harus order langsung ke penerbit dengan menyetor deposit US$ 500 untuk pembelian 10 buku. Para kolektor bisa langsung order ke distributor resmi Diamond Comic. Harga komiklimited edition antara US$ 50 hingga US$ 500 per eksemplar.

So, Anda tertarik menyemai modal dalam wujud komik? (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Salon Muslimah

Bisnis perawatan tubuh atau salon mulai tersegmentasi sesuai dengan target pasar. Salah satunya adalah salon khusus perempuan muslim, yang ditawarkan Iltidas, pemilik Zaza Salon di Kudus, Jawa Tengah. “Salon khusus para muslimah masih sangat minim,” ucapnya.

Padahal, permintaan salon khusus seperti ini sangat besar. Maklum, Indonesia merupakan negara dengan pemeluk Islam terbesar di dunia. “Saat hijrah dari Surabaya ke Kudus, saya kerap mendengar keluhan para istri yang kesulitan mencari salon khusus muslimah,” katanya. Tiga tahun yang lalu, Iltidas mulai mencoba bisnis ini.

Pilihan usahanya jatuh di Kudus karena mayoritas penduduknya beragama Islam. Tak mengherankan jika omzet Zaza Salon terus tumbuh saban bulan sejak pertama kali dibuka. Saat ini, rata-rata omzet Zaza Salon antara Rp 15 juta-Rp 20 juta tiap bulan.

Melihat perkembangan yang bagus tersebut, Iltidas mencoba mematangkan konsep bisnisnya dalam format kemitraan. Harapannya, konsep baru itu bisa mengembangkan usahanya lebih besar lagi. Jadi, tidak hanya di Kudus tapi di kota-kota lain di Indonesia. “Pasarnya besar dan bisnis ini sudah stabil. Jadi, kenapa tidak berekspansi?” ucapnya.

Iltidas pun mulai menawarkan kemitraan Zaza Salon kepada publik pada bulan Juli lalu. Tanggapan masyarakat cukup positif. Terbukti sudah ada tiga calon mitra di Jepara, Salatiga, dan Solo, meski masih dalam tahap negosiasi.

Zaza Salon menawarkan kemitraan dengan total investasi sekitar Rp 80 juta. Dana ini termasuk biaya kemitraan sebesar Rp 25 juta, belanja peralatan salon, seperti gunting, sisir, pengering rambut, alat cuci rambut dan creambath dengan nilai Rp 25 juta. Untuk bahan salon, Iltidas mengatakan, calon mitra boleh mengambilnya dari pusat atau membeli sendiri.

Iltidas juga akan memberikan materi promosi dan biaya renovasi gerai. “Calon mitra juga akan dibantu dalam proses seleksi karyawan hingga pelatihan. Sudah all in,” tandasnya. Nantinya, para calon mitra tinggal mencari lokasi gerai yang strategis untuk usaha salonnya.

Terobosan baru

Di sisi lain, Iltidas menuntut calon mitranya berkomitmen penuh dalam menjalankan prosedur operasional (SOP) yang diterapkan pihak Zaza Salon. Ia tidak mau kredibilitas Zaza Salon sebagai salon Islami terganggu oleh investor yang setengah hati menjalankan bisnisnya. “Makanya saya agak selektif, karena ini bukan sekadar bisnis,” ucapnya.

Berdasarkan analisis keuangan Zaza Salon, mitra bakal menemui titik impas dalam waktu delapan hingga 10 bulan setelah beroperasi, dan tergantung lokasi usaha. Kondisi itu terjadi jika estimasi omzet sebulan sebesar Rp 22,5 juta dan laba bersih sekitar Rp 2,47 juta.

Anang Sukandar, Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), menyatakan, usaha salon mempunyai prospek yang cukup bagus. Pasalnya, saat ini semakin banyak orang yang sadar akan penampilan dan kecantikan, terutama wanita yang rutin ke salon.

Anang menilai, Zaza Salon merupakan sebuah inovasi dan terobosan baru yang perlu mendapat apresiasi. Apalagi paket investasi yang ditawarkan wajar. (peluangusaha.kontan.co.id)

=====================###====================

Bisnis salon memang sudah menjamur di mana-mana. Namun, salon yang khusus menyasar kaum perempuan muslim berkerudung terbilang masih sedikit. Dan, ini yang membuat bisnis salon tersebut cukup menjanjikan. “Usaha ini punya prospek cerah,” kata Suharni, pemilik Mutia Salon Muslimah.

Berkah Berlimpah, peminat menjadi mitra Mutia Salon Muslimah membludak. Baru enam bulan menawarkan kemitraan, “Saat ini, kami sudah punya 13 mitra. Tiga mitra sudah beroperasi dan sepuluh mitra lainnya akan beroperasi dalam waktu dekat,” ungkapnya.

Tiga mitra yang sudah mengoperasikan Mutia Salon Muslimah berada di daerah Pati, Jepara, dan Purwodadi, Jawa Tengah. Sedang, sepuluh mitra lainnya akan mendirikan usaha salonnya di sejumlah lokasi, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Bangka Belitung.

Sejatinya, Mutia Salon Muslimah menyediakan layanan yang tidak berbeda dengan salon pada umumnya. Misalnya, creambath, masker rambut, hairspa, gunting, rebonding, pijat, lulur, masker tubuh, sauna,manicure, pedicure, refleksi, totok aura, dan perawatan telinga dan mata. Yang membedakan, khusus perempuan muslim yang berjilbab saja.

Tapi, Mutia Salon Muslimah tidak menawarkan layanan suntik silikon, pasang susuk, cabut alis, waxing, sambung rambut, dan pewarnaan rambut. “Jasa-jasa itu pantangan karena tidak sesuai dengan ajaran Islam,” ujar Suharni.

Meski menyasar perempuan muslim berjilbab, Suharni mengatakan, kenyataannya banyak juga pelanggan wanita muslim tidak berjilbab dan nonmuslim yang datang ke Mutia Salon Muslimah. Soalnya, “Tenaga kerja di salon kami semuanya perempuan,” kata Suharni.

Empat paket investasi

Nah, bagi Anda yang ingin menjadi mitra, Mutia Salon Muslimah menyediakan empat paket investasi.

Paket pertama atau Mutia, dibanderol dengan nilai investasi Rp 140 juta. Pada paket ini, mitra akan mendapat fasilitas dan perlengkapan salon yang komplet, mulai renovasi interior dan penyediaan furnitur, hingga suplai obat-obatan salon. Selain itu, mitra juga memperoleh pelatihan karyawan, software keuangan, dan pendampingan bisnis selama lima tahun. “Promosi juga akan kami bantu,” kata Suharni yang biasa disapa Ani.

Paket kedua atau Ekstra, nilai investasinya Rp 90 juta. Semua fasilitas dan perlengkapan yang didapat mitra tidak jauh berbeda dengan paket pertama. Hanya saja, jangka waktu pendampingan di paket ini lebih pendek, yaitu hanya tiga tahun.

Dua paket lainnya, yakni Paket Mandiri 1 dan Paket Mandiri 2, masing-masing biaya investasinya hanya sebesar Rp 65 juta dan Rp 40 juta. Fasilitas yang didapat juga tidak berbeda dengan paket sebelumnya. Namun, pada kedua paket ini, pemilik modal tidak berhak memasang nama Mutia Salon Muslimah. Jadi, mereka harus menggunakan merek sendiri. “Paket Mandiri 1 dan Mandiri 2 cocoknya untuk di kota-kota kecil,” kata Ani.

Sementara untuk paket Mutia dan Ekstra, Ani menyatakan, lebih menyasar pemodal yang memang serius mengembangkan merek Mutia Salon Muslimah. “Rata-rata calon mitra cenderung memilih paket Ekstra,” ujar Ani.

Dari tiga gerai milik mitra yang sudah beroperasi, rata-rata setiap harinya disambangi oleh 20 orang. “Jika dikalkulasikan, rata-rata omzetnya bisa sekitar Rp 30 juta per bulan,” ungkap Ami.

Tentu saja, Anda tetap harus cermat berhitung agar tetap beruntung. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Penangkaran Kucing Ras

Januari 6, 2011 1 komentar

Dalam beberapa tahun terakhir, intensitas penyelenggaraan kontes kucing kian marak. Selain mengadu kemolekan kucing ras, beragam kontes itu berhasil menumbuhkan minat orang untuk memelihara kucing sebagai hewan kesayangan. Tentu saja, ini berkah bagi cattery sebagai pembiak kucing.

Banyak orang makin tertarik memiliki binatang kesayangan. Tren ini bisa dilihat dari kian menjamurnya gerai petshop. Tak ketinggalan, tren ini juga menjadi berkah bagi pemilik cattery atau tempat penangkaran kucing.

Bermula dari rasa sayangnya kepada kucing, Betty Seiawaty, pemilik Tiffany Cattery, membuka usaha penangkaran kucing pada 1997. Padahal, “Awalnya saya tak berniat untuk menjual kucing,” kata Betty, yang menyukai kucing jenis persia.

Penyelenggaraan berbagai kontes kucing ras pun makin membulatkan tekadnya untuk memasarkan kucing hasil penangkarannya. Sebab, acara kontes ini bisa menjadi ajang promosi kucing ras miliknya. Pada 2004, Betty menambah jenis kucing, seperti kucing australia. Beragam jenis kucing ras yang dipelihara ini makin mengembangkan bisnisnya.

Meski bisa menjual hingga 10 ekor kucing per bulan, dia mengaku, tak semua anak kucing yang baru lahir dijualnya. “Beberapa saya rawat sendiri,” ujar Betty, yang memiliki 50 kucing berbagai ras.

Ia menjual kucing ini dengan harga yang bervariasi, tergantung jenis dan umurnya. Betty bilang, harga kucing akan sangat mahal bila sudah memasuki usia yang layak mengikuti kontes. “Apalagi jika kucing tersebut menang, harganya bisa berlipat hingga dua kali lipat,” ujarnya.

Seekor kucing dibanderol dengan rentang harga Rp 5 juta hingga Rp 15 juta. “Untuk kucing-kucing koleksi, yang memang belum layak ikut kontes, harganya bisa di bawah Rp 5 juta,” tutur Betty.

Alhasil, setiap bulan, Betty bisa mengantongi omzet hingga Rp 20 juta dari hasil jerih payah membiakkan binatang lucu nan menggemaskan ini.

Patokan harga kucing yang relatif mahal itu lantaran Betty harus mengeluarkan ongkos yang besar untuk merawat kucing-kucing itu. Asal tahu saja, biaya perawatan satu ekor kucing mencapai Rp 200.000 hingga Rp 300.000 dalam satu bulan. Biaya itu untuk membeli makanan, vitamin, dan bahan perawatan lainnya, seperti sampo dan nutrisi untuk menjaga keindahan bulu.

Berbeda dengan 10 tahun lalu, kini bisnis penangkaran kucing menyimpan potensi cukup besar. Maklum, banyak orang yang menggunakan kucing sebagai hadiah kepada orang tersayangnya di saat momen-momen istimewa.

Susi Djohan, pemilik Quincy Cattery pun mengamininya. Ia yang memulai usaha penangkaran kucing sejak 2005, mengatakan, bisnis penangkaran kucing berprospek cerah. “Asal, mereka sabar dan telaten merawat hewan peliharaan ini,” ujar Susi.

Dalam sebulan, dia mendapatkan pesanan 10 ekor kucing. Ia membanderol kucingnya dengan harga Rp 5 juta untuk kucing yang termasuk dalam kriteria kontes.

Sedangkan harga jual kucing-kucing yang bukan kualitas kontes sebesar Rp 2,5 juta per ekor. Dari usaha ini, setiap bulan Susi mampu meraup omzet Rp 10 juta.

Kontes-kontes kucing yang makin sering digelar juga menumbuhkan minat masyarakat menyayangi binatang ini. “Banyak orang yang mengklaim dirinya sebagai pecinta kucing,” kata Susi.

Inilah pasar potensial untuk mendapatkan untung besar. Saat ini, Susi hanya fokus mengembangkan kucing jenis American curl. Bahkan, dia mengklaim, sebagai pihak yang pertama kali mengembangkannya. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Kemitraan Pijat Anak

Terapi pijat tidak hanya diperuntukkan bagi orang dewasa atau orangtua. Jenis terapi ini juga banyak dilakukan pada bayi dan anak-anak. Terutama untuk mengobati otot terkilir atau meningkatkan imunitas tubuh. Pijat membuat tubuh menjadi bugar karena memperlancar aliran darah.

Dari dulu, pijat bayi banyak dipercayakan ke dukun bayi tradisional yang kebanyakan sudah berumur puluhan tahun. Namun, profesi dukun bayi ini lambat laun semakin susah ditemui. Padahal, di sisi lain, permintaan terapi pijat bayi semakin meningkat.

Potensi usaha inilah yang dilirik Fifi Lim, dengan menawarkan waralaba pijat khusus bayi dan anak Bubble N Me. Ide usaha ini muncul di benaknya setelah 5 tahun sebelumnya sukses menawarkan spa khusus ibu hamil Mom N Jo Spa. “Setelah anak keluar dari rahim juga perlu mendapatkan perhatian ekstra. Tidak hanya nutrisi dari makanan dan minuman, tetapi juga dari segi medis melalui terapi pijat,” katanya.

Fifi menambahkan, terapi pijat bayi dan anak mempunyai manfaat besar. Pasalnya, anak yang sering dipijat akan mengalami peningkatan imunitas tubuh sehingga tidak mudah sakit. Terapi pijat juga membuat anak lebih rileks, percaya diri dan bisa mendukung aktivitas belajar.

“Menurut pengalaman saya sebagai ibu, saya melihat banyak sekali manfaat dari terapi pijat untuk bayi dan anak,” tutur Fifi, yang memiliki satu anak. Karena itulah ia yakin bisnis yang dilakoninya cukup menjanjikan.

Analisisnya itu terbukti. Meski baru ditawarkan sejak pertengahan tahun ini, sudah banyak investor yang tertarik membeli tawarannya. Bahkan, sejak dua bulan lalu, salah satu mitranya di Bali sudah mulai mengoperasikan gerai pijat Bubble N Me. “Dalam waktu dekat, gerai di Depok juga akan mulai beroperasi,” katanya. Selain itu beberapa calon mitra lain masih dalam proses negosiasi.

Pijat bersertifikat

Fifi menawarkan waralaba Bubble N Me dengan paket investasi sebesar Rp 250 juta. Biaya investasi sebesar itu akan digunakan untuk kebutuhan dan pengembangan usaha. Meliputi pelatihan tukang pijat, aplikasi sistem komputer, perlengkapan pijat, air conditioner (AC), renovasi gedung, furnitur dan pemakaian merek selama lima tahun. Tapi, “Itu belum termasuk sewa gedung, karena setiap lokasi tarif sewanya berbeda,” imbuh dia.

Bubble N Me menyediakan beberapa jasa terapi pijat. Pertama, jasa terapi pijat bayi untuk usia baru lahir hingga 12 bulan. Kedua, jasa terapi pijat untuk anak dengan usia antara satu tahun hingga 12 tahun. Bubble N Me juga menyediakan terapi khusus berupa baby swim dan bubble bath. “Khusus untuk pijatan saya menggunakan teknik nurturing touch yang sudah bersertifikat,” ujar Fifi.

Untuk setiap jasa yang ditawarkan, Fifi memasang tarif Rp 60.000-Rp 90.000 setiap kali terapi. Ia mengatakan, berdasarkan pengalaman gerai Bubble N Me di Denpasar, Bali, setiap hari omzet berkisar Rp 800.000 sampai Rp 2,5 juta. Padahal, gerai tersebut baru beroperasi bulan Agustus lalu. “Kalau dihitung rata-rata, omzet per bulannya sekitar Rp 30 juta,” katanya.

Dengan asumsi pendapatan tersebut, Fifi memperkirakan mitra bisa kembali dalam jangka waktu satu hingga dua tahun. Lamanya return on investment (ROI) itu lantaran Fifi juga menarik biaya royalti 10% dari pendapatan setiap bulan, ditambah biaya promosi 3%. Fifi menyarankan calon mitra menggunakan ruang usaha yang memiliki luas 50 m² hingga 75 m². (peluangusaha.kontan.co.id)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.