Arsip

Posts Tagged ‘Mainan Anak’

Peluang Bisnis Mainan Anak

Januari 2, 2011 1 komentar

Menjelang musim libur Lebaran, permintaan mainan anak meningkat tajam 20% hingga 50%. Khususnya mainan anak-anak yang dioperasikan dengan menggunakan mesin penggerak dan bisa ditunggangi oleh penggunanya. Dari bisnis ini, seorang produsen mainan anak di Madiun, Jawa Timur, bisa mengantongi omzet sekitar Rp 700 juta per bulan. Marginnya lumayan, lo!

Maraknya pembangunan pusat perbelanjaan dan tempat wisata membawa berkah tersendiri bagi produsen mainan anak. Maklum, membeludaknya pengunjung situs wisata dan mal turut mendongkrak permintaan mainan anak.

Misalnya mainan anak berupa boneka berbentuk binatang, yang dioperasikan menggunakan mesin penggerak (koin) dan bisa ditunggangi oleh penggunanya.

Sejumlah produsen mainan anak mengaku, penjualannya menjelang musim libur Lebaran tahun ini meningkat pesat. Simak saja penuturan Sugiyanto, produsen mainan anak di Madiun, Jawa Timur. “Saat ini penjualan menjelang libur Lebaran bisa naik sampai 50% dibandingkan bulan biasa,” katanya.

Jika biasanya dia hanya bisa menjual sekitar 35 unit mainan, menjelang Lebaran tahun ini penjualannya meningkat mencapai 50 unit. Satu unit mainan dijual dengan harga bervariasi. Mulai dari Rp 6 juta hingga Rp 20 juta per unit.

Misalnya mainan kuda-kudaan yang bisa berjalan, dibanderol seharga Rp 6 juta per unit. Sedangkan mainan berbentuk kereta api mini dengan tujuh gerbong, dijual seharga Rp 20 juta per unit. Harga itu untuk pengunaan bahan full fiberglass. Adapun, kereta mini yang bahannya perpaduan dari fiberglass dan triplek, dijual seharga Rp 15 juta per unit.

Dari sekian banyak mainan yang diproduksinya, kata Sugiyanto, penjualan terbesar berasal dari mainan kereta api mini. “Sekitar 50% pelanggan saya memesan mainan jenis ini,” ujarnya.

Sugiyanto bilang, kebanyakan pelanggannya yang memesan kereta api mini dilatari oleh pertimbangan potensi balik modal mainan jenis ini terbilang tinggi. Dia memberi contoh, satu kereta mini dengan tujuh gerbong dalam setiap lima menit sekali bisa mengangkut hingga 10 anak.

Dus, pendapatan pelaku usaha yang mengoperasikan mainan ini mengalir lebih cepat. Adapun mainan koin yang seharga Rp 6 juta, dalam lima menit hanya bisa dinaiki oleh satu anak.

“Jadi kalau beli mainan yang bisa dinaiki banyak anak, secara investasi akan lebih menguntungkan,” kata pria yang sudah menggeluti usaha ini sejak 2004.

Sugiyanto menambahkan, sebagian besar pelanggannya adalah pelaku usaha mainan anak di mal. Mereka datang dari berbagai daerah di dalam negeri. Antara lain, Jabodetabek, Madiun, Ngawi, Ponorogo, Solo Sragen, Padang, Palembang, Medan, Aceh, Batam, dan Kalimantan. Tak mengherankan jika pendapatan Sugiyanto dari bisnis ini diperkirakan mencapai
Rp 700 juta per bulan.

Berkah dari penjualan mainan anak yang dilengkapi mesin penggerak juga dinikmati Asrizal Fahmi, pemilik Rumah Keatif Aris Jaya di Sidoarjo, Jawa Timur. Dia mengatakan, menjelang Lebaran tahun ini penjualan mainan buatan perusahaannya sudah meningkat 20%.

Sayangnya, Fahmi enggan membeberkan berapa banyak jumlah mainan yang berhasil dijualnya. Yang jelas, harga jual mainan produksinya berkisar antara Rp 11 juta hingga Rp 18 juta per unit.

Mengikuti perkembangan tokoh

Cerita indah dari penjualan mainan anak juga diungkapkan Sugiyono, pengusaha mainan anak berupa Rumah Fiber di Solo, Jawa Tengah.

Bahkan, dia mengaku, satu bulan sebelum Ramadan usahanya telah mengalami kenaikan omzet yang lumayan besar. “Agustus lalu, saya mendapatkan proyek pembuatan mainan air yang cukup besar,” imbuhnya.

Proyek itu, antara lain, pembuatan satu set waterboom, satu set play ground untuk mandi bola, dan satu setwater play yang berisi bermacam-macam ukuran papan seluncur di air. Nilai proyek pembuatan tiga set mainan air itu Rp 540 juta.

Proses pembuatan taman bermain air itu butuh waktu sekitar empat bulan. Pengerjaan proyek dimulai sejak awal Ramadan. Sesuai dengan rencana, proyek itu akan selesai pada November mendatang. “Taman bermain ini disiapkan untuk liburan akhir tahun,” kata Sugiyono.

Memang, proyek sebesar ini tidak datang tiap bulan. Di bulan biasa, minimal Sugiyono bisa mengantongi omzet penjualan mainan anak-anak sekitar Rp 40 juta. Rata-rata dalam sebulan dia menjual kiddie ride atau mainan anak dengan koin sebanyak lima unit, satu unit play ground dan 10 unit sepeda air. “Marginnya sekitar 30%,” imbuh Sugiyono.

Biasanya, dalam memproduksi mainan, para produsen harus terus mengikuti perkembangan tokoh idola yang digandrungi anak-anak. Contohnya, tokoh anak-anak yang sedang tren saat ini adalah Upin dan Ipin, serta Krisna. “Kami harus up to date terus tokoh idola anak-anak. Dengan begitu, mereka akan tertarik dengan mainan jenis ini,” kata Sugiyono.

Asal tahu saja, untuk membuat satu unit mainan jenis ini, produsen harus melalui beberapa tahapan produksi. Yang pertama-tama tentu saja membuat cetakan dari tanah liat. Kata Sugiyanto, untuk membuat satu kereta mini membutuhkan waktu hingga tiga pekan.

Itu pun jika didukung oleh cuaca cerah. Sebab, jika sedang musim hujan, waktu pengerjaannya bisa molor hingga sebulan. Maklum, proses produksinya harus melewati beberapa kali tahap pengeringan. Mulai dari mengeringkan fiberglass, dempul, cat airbrush dan pengeringan cat antigores.

Para produsen mainan ini mengklaim semua bahan baku yang dipakai dalam proses produksi aman bagi anak-anak. (peluangusaha.kontan.co.id)

Meraup Berkah dari Bisnis Sewa Mainan Anak

Desember 31, 2010 1 komentar

Mainan tak bisa dipisahkan dari keseharian si kecil. Namanya juga anak-anak, sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk bermain. Sebaiknya, mainan anak sebaiknya tidak hanya menghibur, tapi juga mendidik. Untuk mainan edukatif, tentu ayah ibu tak keberatan merogoh kocek lebih dalam.

Hal inilah yang membuat bisnis mainan anak yang sarat muatan edukasi terus berkembang. Umumnya, mainan edukatif terbuat dari dikemas dengan dalam bahan-bahan berkualitas yang aman dimainkan oleh si buyung dan si upik.

Sayang, banderol harga mainan edukasi semacam ini masih lumayan mahal. Masalahnya, usia mainan edukasi terbilang pendek. Seiring bertumbuhnya usia anak, dia membutuhkan mainan baru yang lebih cocok dengan umurnya. Alhasil, mainan lama pun menjadi penghuni gudang, bahkan berakhir di tempat sampah.

Di mata Anita Rachman, kondisi ini adalah sebuah peluang bisnis. Maka sejak Februari 2008, ia membuka usaha penyewaan mainan bernama Michie’s Rent’n Play di Jakarta Selatan.

Anita memulai usahanya dengan modal Rp 100 juta. Modal itu dia gunakan memborong aneka mainan impor berbagai merek dari Amerika. Sebut saja, Little Tikes, Step 2, Chicco, dan Vtech. Kini, perempuan berusia 30 tahun ini telah mengoleksi 70 jenis mainan. Masing-masing tersedia empat sampai lima unit.

Dia menentukan tiga pilihan durasi sewa, yakni seminggu, dua minggu, dan sebulan. Harganya tentu bervariasi sesuai dengan jenis mainannya.

Tarif sewa perosotan anak Michie Climber, misalnya, Rp 95.000 per minggu dan Rp 300.000 per bulan. Contoh lain, rumah-rumahan Princess Play House disewakan dengan tarif Rp 175.000-Rp 500.000. Ada juga mobil-mobilan macam Police Car Patrol yang disewakan Rp 50.000-155.000. Untuk sarana bermain air, ada Water Wheel Play dengan sewa Rp 60.000-Rp 185.000.

Puluhan mainan tadi diperuntukkan bagi bayi hingga anak usia tujuh tahun. “Yang paling banyak diminati adalah perosotan, bahkan sampai waiting list,” ujar Anita.

Untuk dapat menyewa, ibu dua anak ini meminta pelanggan menyerahkan fotokopi kartu keluarga (KK), kartu tanda penduduk (KTP), dan berkas pembayaran rekening listrik atau air. “Plus menandatangani kesepakatan bersama di atas materai,” imbuhnya.

Untuk mengantisipasi kerugian, Anita mensyaratkan, bila mainan yang disewa rusak, penyewa wajib menggantinya. “Diganti sesuai harga beli saat ini,” tandas Anita.

Dalam sebulan, Anita mengaku omzetnya bisa sampai Rp 10 juta. Bahkan, di musim liburan sekolah Juni dan Juli, omzetnya bisa menyentuh Rp 17 juta. “Margin saya Rp 6 juta-Rp 8 juta,” ungkapnya.

Grace Natalia juga menekuni bisnis serupa. Sama seperti Anita, pemilik usaha sewa mainan Comel ini pun memulai usahanya pada 2008 silam. Setahun sebelumnya, Grace sudah bergumul di bisnis penyewaan kostum, baik untuk anak-anak maupun dewasa.

Lantaran mengurusi bisnis lain, koleksi mainan Grace tak sebanyak Anita. Grace baru mengoleksi 25 jenis mainan. Itu pun, masing-masing hanya satu unit.

Beberapa koleksi mainannya adalah mobil-mobilan Kidie Rides yang disewakan dengan harga Rp 1 juta sehari dan Jump Castle Bouncer yang disewakan Rp 250.000-Rp 550.000, sesuai lama pinjam.

Grace juga menyewakan mainan untuk acara karnaval, misal Mini Carousel. Dia menyewakan mainan yang terdiri dari tiga bangku berbentuk binatang ini dengan harga Rp 1,8 juta sehari.

Dalam sebulan, dari seluruh usahanya Grace membukukan omzet maksimal Rp 25 juta sebulan. “Margin saya 30%,” aku perempuan 28 tahun ini. (peluangusaha.kontan.co.id)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.