Arsip

Archive for the ‘Peluang Bisnis’ Category

Strategi Memasarkan Produk Lewat Musik

Musik bisa menjadi cara ampuh untuk menarik pelanggan. Cara ini pula yang coba dilakukan oleh Ajib Burger dan Kebab milik Ikranegara. Ikranegara berinisiatif menggandeng grup musik dengan membuatkan mereka album gratis. Syaratnya mereka juga harus mau manggung gratis di kedainya.

Musik menjadi pilihan Ikranegara Kusumaningrat untuk mempromosikan burger dan kebabnya. Dengan musik, ia mencoba menyasar segmen anak muda pecinta musik indie.

Ikranegara adalah pemilik Ajib Burger dan Kebab asal Cirebon. Melalui perusahaannya CV Ajib Nusantara Food, Ikranegara sejak tahun 2008 membuka Ajib Burger. Saat ini, ia sudah memiliki lima gerai yang tersebar di Jakarta, Cirebon, dan Surabaya.

Ikranegara tahu benar bahwa burger dan kebab mempunyai pangsa pasar yang didominasi anak muda. Karena itu, mulai pertengahan 2009, ia mulai membuat konsep marketing dengan melibatkan musik indie untuk mempromosikan usahanya.

Ia lalu mengumpulkan 11 band indie untuk kemudian dibuatkan satu album kompilasi bernama Ajib Indie Music Hitlist secara gratis. “Syaratnya mereka harus sudah punya demo,” ujar Ikranegara.

CD musik kompilasi itu kemudian jual di gerai yang dimilikinya ataupun secara online dengan harga Rp 50.000. Band akan mendapatkan fee dari setiap album yang terjual sesuai dengan kesepakatan awal. “Kami membantu rekaman termasuk penjualan album,” ujarnya.

Sebagai imbalannya, ke-11 band indie tadi wajib manggung di setiap event yang diselenggarakan Ikranegara dan tak menerima bayaran alias gratis. Biasanya event-nya adalah launching gerai baru dan acara musik lokal skala kecil. “Ini namanya saling promosi. Mereka butuh nama, kami butuh performancemereka sebagai daya tarik promosi gerai kami,” ujarnya.

Tak hanya itu, Ikranegara juga berusaha membuat pelanggan loyal dengan membuat komunitas pecinta band indie bernama Ajib Star Fans. Dengan komunitas itu akan semakin banyak anak muda yang nongkrong di gerai Ajib Burger dan Kebab. “Itu strategi kami juga untuk menggaet konsumen baru,” katanya.

Meningkatnya popularitas band indie dalam CD kompilasi yang dirilis Ajib tentu secara otomatis juga akan meningkatkan citra produk Ajib. Strategi ini diharapkan juga mampu meningkatkan brand awarenessmasyarakat terhadap Ajib Burger dan Kebab, sehingga tidak hanya konsumen yang dijaring namun juga investor baru yang mau menanamkan duitnya dalam usaha burger dan kebab melalui Ajib Burger dan Kebab.

Strategi Ikranegara ternyata manjur. Penjualan burger dan kebab yang dibanderol Rp 5.000-Rp 15.000 ini meningkat. Sebelum menjalankan strategi ini, Ikranegara hanya menjual rata-rata 20 porsi burger dan kebab per hari. Namun setelah pertengahan tahun 2009, angka penjualan meningkat 30%. “Ajib Indie Music Hitlist merupakan program yang cukup efektif untuk meningkatkan angka penjualan kami,” ujarnya.

Sebenarnya, promosi produk dengan musik sudah banyak dilakukan, termasuk oleh beberapa perusahaan besar seperti KFC dan Indosat. KFC merilis beberapa album KFC Music Hit List bekerjasama dengan Music Factory Indonesia, serta membuat komunitas penggemarnya.

Adapun Indosat lebih menggunakan acara musik bekerja sama dengan stasiun televisi untuk mempopulerkan ring back tone (RBT) dan konten. “Musik adalah strategi pemasaran utama kami,” ungkap Yudinata Adityanto, Group Head Game and Content Indosat. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Kemitraan Resto di Tempat Wisata

Suhanto Alim selama ini terkenal dengan jaringan waralaba Martabak Alim yang memadukan martabak manis dengan rasa buah-buahan. Setelah sukses mengembangkan waralaba martabak hingga 190 gerai, kini Suhanto menawarkan waralaba baru bernama Resto Alim.

Resto Alim baru berdiri tiga bulan lalu di Pantai Pasir Padi, Bangka Belitung. Resto Alim ini dijalankan langsung oleh pemiliknya, Suhanto. Ia kini menawarkan waralaba bagi investor yang berminat di bisnis resto.

Beberapa alasan yang menjadi pertimbangan Suhanto mewaralabakan restonya yakni: bisnis restonya berbeda dengan yang lain. Dari segi lokasi usaha misalnya, Resto Alim hanya boleh dibuka di tempat-tempat wisata.

Segmen tempat wisata, menurut Suhanto memiliki potensi yang sangat besar karena ramai oleh pengunjung. “Dan, setiap orang yang berwisata pasti butuh makan,” kata dia. Ia mencontohkan Resto Alim yang dimilikinya di Bangka Belitung. Meski baru buka tiga bulan, jumlah orang yang makan di sana cukup banyak. Saban hari restoran ini bisa melayani hingga 600 pengunjung.

Bahkan ketika jam makan siang, jumlah pengunjung yang datang sering tidak tertampung. Oleh karena itu, Suhanto kini tengah melakukan renovasi untuk menambah daya tampung resto, dari sebelumnya 500 orang menjadi 1.000 orang.

Investasi Rp 2,5 miliar

Ia memilih tempat wisata sebagai lokasi usaha karena jumlah restoran yang ada di kota-kota besar saat ini bisa dibilang sudah sangat banyak. Hal itu membuat persaingan rumah makan atau restoran sangat ketat. “Sewa tempat di kota besar juga sudah sangat mahal,” ujarnya.

Apalagi Resto Alim mengusung konsep restoran yang tidak hanya bisa sebagai tempat makan tetapi juga tempat istirahat dan bermain. Konsep itu tentu saja membutuhkan lahan yang cukup luas paling tidak 5.000 m² hingga 6.000 m². “Konsepnya itu ada saung, taman dan berbagai macam fasilitas lain,” katanya.

Tidak heran jika Suhanto mematok nilai investasi yang cukup besar bagi calon mitra yakni sebesar Rp 2,5 miliar untuk usaha restoran ini.

Nilai investasi itu sudah termasuk pembelian merek waralaba Resto Alim, pendirian rumah makan, perabotan hingga perlengkapan restoran lainnya. Di luar itu, Suhanto, akan mengambil royalti fee sebesar 2,5% dari total pendapatan setiap bulannya. Ia menghitung, nilai investasi sebesar Rp 2,5 miliar akan kembali paling lambat dalam waktu empat tahun.

Selain mengandalkan lokasi, Resto Alim juga mengandalkan jenis makanan yang bisa mencapai 100 menu. Menu-menu tersebut mulai dari martabak alim, bakmi herbal alim, iga sapi, soto, seafood hingga gado-gado.

Jumlah menu yang berjibun tersebut untuk melayani permintaan makanan dari pengunjung dari berbagai pelosok daerah yang memiliki selera berbeda-beda. Maklumlah, pengunjung wisata datang dari berbagai wilayah.

Menu-menu tersebut, nantinya juga akan dilengkapi dengan menu khusus berupa makanan khas daerah yang menjadi lokasi resto itu berdiri. “Tentunya makan khas itu, sudah saya beri sentuhan,” katanya. Misalnya, makanan khas Bangka yaitu lempah. Jika lempah asli menggunakan ikan, ia membuat variasi dengan bahan baku iga sapi.

Soal harga, Suhanto bilang, kalau harga makanan di Resto Alim sangat ramah bagi kantong. Bahkan, restorannya menyediakan paket makan sepuasnya hanya dengan membayar Rp 15.000. “Tidak hanya orang yang bermobil yang bisa makan di sini, tetapi orang yang naik sepeda pun bisa mampir,” imbuhnya.

Ia mengatakan, saat ini, ada banyak restoran yang mempunyai fasilitas lengkap namun menjual makanannya dengan harga tinggi. Sebaliknya, restoran yang memiliki makanan enak dan murah tak memiliki tempat nyaman dan pelayanannya kurang memuaskan. “Saya tak mau seperti itu,” kata dia.

Itulah sebabnya, dengan harga makanan yang murah, pengunjung Resto Alim berlimpah. Omzet harian yang diterimanya juga terbilang besar yakni Rp 9 juta per hari. Dengan omzet sebesar itu, Suhanto yakin tawaran waralaba Resto Alim-nya akan menarik para pemilik modal.

Apalagi saat ini masih banyak tempat wisata menjanjikan yang belum tergarap, terutama di daerah yang ekonominya sedang berkembang. “Ketimbang berinvestasi di asuransi, bisnis resto ini masih lebih baik dan punya jaminan yang bagus ke depan,” katanya menyakinkan.

Khoirul Salim, pakar bisnis dan pengamat waralaba mengatakan, konsep yang ditawarkan Suhanto punya potensi bisnis yang cukup menjanjikan, utamanya di daerah wisata yang memiliki tradisi makan di luar seperti di Aceh, Kepulauan Riau, dan Batam.

Selain di lokasi wisata, konsep resto seperti ini juga cocok di tempat-tempat yang dijadikan transit, seperti jalan tol. Dengan investasinya cukup tinggi, investor harus cermat dalam manajemen usaha. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Jasa Bordir Komputer

Produk fashion yang dihiasi oleh aplikasi bordir tak hanya terbatas pada pakaian muslim dan kerudung. Kini, penggunaan seni hias bordir sudah menjamah ke berbagai produk fashion lainnya, seperti jaket, celana denim, hingga sepatu. Jadi kian mudah, ketika membordir bisa dilakukan dengan teknologi komputer. Bisnis jasa bordir komputer pun berkembang pesat.

Seni hias bordir merupakan bagian dari salah satu teknik menjahit. Tak hanya sekadar menempelkan benang pada permukaan kain, teknik membordir membutuhkan keahlian tersendiri untuk merajut beragam warna benang yang dipadu membentuk motif tertentu.

Awalnya, teknik bordir dilakukan dengan mesin bordir manual menggunakan genjotan kaki. Namun, seiring perkembangan teknologi, mesin jahit manual sudah bisa digantikan perannya dengan mesin bordir dengan teknologi komputer. Membordir menggunakan teknologi komputer ini memiliki banyak keunggulan ketimbang menggunakan mesin manual. Selain pengerjaan membordir menjadi jauh lebih cepat, tingkat presisinya atau ketepatannya pun jauh lebih baik.

Walaupun awalnya hasil jahitan teknologi bordir komputer belum begitu bagus, saat ini kualitasnya sudah jauh lebih baik. Bahkan, teknik bordir mampu meningkatkan harga jual produk, karena keindahannya dan proses pembuatannya yang lumayan rumit.

Dewasa ini, desain bordir tak hanya menjadi penghias baju muslim, kerudung, atau mukena. Teknik bordir sudah meluas ke berbagai produk fashion lain seperti topi, celana, topi, seprai, bed cover, sampai sepatu.

Kaos dan jaket yang umumnya selama ini disablon pun, saat ini sudah mulai beralih ke bordir. “Karena memang teknik bordir jauh lebih tahan lama ketimbang disablon yang mudah rusak jika sering dicuci dan disetrika,” kata Shanty Rahayu, pengusaha bordir komputer di Surabaya.

Karena itulah, potensi bisnis jasa bordir komputer masih sangat potensial. Shanty bilang, hanya dengan bermodalkan satu mesin bordir, orang sudah bisa menjalankan usaha jasa bordir komputer seperti dirinya.

Memang harga mesin bordir tidak murah. Harga mesin bordir yang memiliki satu kepala saja mencapai Rp 75 juta per unit. Adapun harga mesin bordir yang memiliki hingga 12 kepala harganya bisa lebih dari Rp 200 juta per unit.

Tapi, dengan potensi pasar yang masih begitu besar, modal sebesar itu rasanya masih masuk akal. Dalam sehari, ia bisa membordir hingga tiga unit bed cover. Harga jasanya sekitar Rp 150.000 per unit.

Adapun untuk blus, Shanty bisa mengerjakan sampai 50 unit per hari dengan biaya jasa berkisar Rp 15.000 hingga Rp 200.000 per unit. Harga jasa bordir, tergantung tingkat kesulitan motif dan banyaknya ruang kain yang dibordir.

Kadang ia pun menerima pesanan membordir kerudung katun paris yang saat ini tengah tren di masyarakat. Dalam seminggu, Shanti bisa mengerjakan hingga sepuluh kodi kerudung.

Dalam sehari minimal ia bisa meraih order senilai Rp 500.000. Omzet Shanty bisa sampai Rp 15 juta hingga Rp 30 juta per bulan. “Bahkan, jelang Lebaran omzet saya bisa meningkat sampai 100%,” katanya.

Tak hanya pesanan membordir yang datang, Shanty pun menerima jasa pembuatan desain motif dari berbagai daerah. Harga jasanya sekitar Rp 200.000-Rp 300.000 per motif. Hasil kreasi motif buatannya ini lantas dikirim melalui email. “Saya juga membuka kursus membordir dengan teknologi komputer di sini,” ujarnya.

Doni Yoseph, pemilik gerai Bordir Plus di Jakarta, sukses mengembangkan bisnis bordir komputer sejak sepuluh tahun silam. Dalam bordir komputer, materi desain dilengkapi dengan perangkat scanner serta file image yang siap diproses oleh komputer.

Jika diperlukan koreksi, file tersebut bisa diolah dengan software image atau photo editing sehingga kualitas materi desain menjadi sempurna.

Doni bilang, peningkatan permintaan datang ketika musim libur sekolah. Banyak pesanan bordir baju sekolah yang datang ke gerainya yang saat ini berada di 30 lokasi di Indonesia.

Doni mengatakan, setiap gerainya mampu membukukan omzet sekitar Rp 30 juta per bulan. Jadi, total omzet dari 30 gerainya sekitar Rp 900 juta per bulan. “Marginnya mencapai 50%,” tutur Doni.

Tentu saja, di bisnis yang menjanjikan ini, persaingan sudah ketat lantaran pemainnya cukup banyak. Agar bisa bersaing, Doni bertekad akan terus berinovasi dengan desain-desain bordir baru yang unik dan lucu.

Peluang Bisnis Souvenir Kayu Batik

Saat ini, seni membatik tak hanya menggunakan kain sebagai media. Seiring dengan perkembangan zaman dan kreativitas para perajin di pelbagai daerah, batik menjelma dalam sejumlah media, seperti kaca, keramik, dan kayu.

Kerajinan batik yang belakangan makin digemari masyarakat lokal maupun internasional adalah, suvenir kayu beraksen batik. Sebut saja, topeng, patung, nampan, asbak, dan hiasan dinding beragam bentuk.

Namun, Kardiman, perajin kerajinan kayu beraksen batik dari Siti Craftindo, bilang, permintaan suvenir bermotif batik ini sempat melempem pascakrisis keuangan global 2008. “Permintaan dari luar negeri menyusut sepanjang tahun 2009,” ungkap dia.

Tentu saja, kondisi ini mengancam keberlangsungan bisnis kerajinan kayu beraksen batik. Maklum, pendapatan yang terbilang lumayan besar selama ini datang dari pasar ekspor.

Untuk menyiasati permintaan luar negeri yang anjlok, Kardiman memperluas pasarnya di dalam negeri. Meski tidak bagus-bagus amat, ia dapat meraup penghasilan sekitar Rp 7 juta per bulan. Tapi, kalau sedang ramai pesanan, omzetnya bisa mencapai Rp 15 juta per bulan dari hasil menjual sekitar 200 buah topeng dan 50 pasang patung kecil dengan motif batik.

Kardiman melego topeng kayu buatannya seharga Rp 50.000 per buah. Sementara, patung-patung khas Jawa semisal Loro Blonyo, ia lepas dengan harga Rp 150.000-Rp 200.000 per pasang.

Nah, demi efisiensi, Kardiman membuat kerajinan kayu bermotif batik kalau ada pesanan saja. “Biasanya, permintaan dari pasar lokal ramai ketika menjelang akhir tahun seperti sekarang ini,” kata Kardiman.

Beruntung, kondisi tidak menyenangkan tersebut tidak berlangsung lama. Tahun ini, permintaan dari pasar ekspor kembali menggeliat. Buktinya, Kardiman sudah dua kali mengirim suvenir kayu beraksen batik berupa topeng dan hiasan dinding, masing-masing senilai Rp 25 juta ke Amerika Serikat.

Saat ini, ia sedang menunggu pesanan dari Kanada untuk pengiriman kotak dan gantungan kunci bermotif batik pada tahun depan. “Kemarin kami baru mengirim contoh barang, kemungkinan 80% mereka jadi pesan,” ujar Kardiman.

Riyadi, perajin suvenir bermotif batik dari Ragiel Handicraft, mengungkapkan, makin banyak pembeli asing yang datang ke galerinya di Bantul, Yogyakarta. Umumnya mereka berasal dari Perancis, Italia, Amerika Serikat dan Jepang.

Demi memenuhi permintaan pasar yang terus merangkak naik, Riyadi menggandeng para perajin di sekitar rumahnya. Saban bulan, pesanan yang masuk hingga 4.000 suvenir kayu dengan motif batik. Ia pun mendulang omzet sekitar Rp 40 juta. “60% dari omzet itu berasal dari pembeli asing,” katanya.
Kerajinan kayu bermotif batik yang paling banyak dipesan adalah, topeng Panji, topeng Rhama Shinta, dan topeng Klono. Sebab, ketiga topeng tokoh pewayangan ini memiliki bentuk yang khas dan bernilai sejarah pewayangan yang tinggi.

Agar tak kalah bersaing, Riyadi terus berinovasi. Caranya, ia baru saja menciptakan model wayang kulit tiga dimensi. Selama ini kebanyakan wayang kulit berbentuk dua dimensi. Harga produk ini Rp 75.000 per buah. “Ternyata responsnya bagus, saya sampai kewalahan,” ujar dia.

Peluang Bisnis Desain Batik Dengan Komputer

Penerapan teknologi komputer dalam batik bisa memperkaya motif warisan budaya asli Indonesia ini. Perangkat lunak tersebut bahkan bisa menciptakan desain batik baru yang lebih menarik sesuai selera pasar. Dan, yang tidak kalah penting, software itu sudah dijual bebas.

Dunia terus berkembang, begitu pula dengan batik. Dulu, batik dilukis dengan tangan secara tradisional atau dicap. Sekarang, desain batik bisa dilakukan dengan komputer. Perkembangan teknologi ini memungkinkan pembuatan motif batik dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit sekalipun.

Salah satu perusahaan yang mengembangkan teknologi desain motif batik adalah CV Pixel Indonesia. Perusahaan yang 2007 lalu masih bernama Pixel People Project ini sudah melakukan riset dan analisis pembuatan motif batik dengan rumus matematika fraktal. Oh ya, fraktal merupakan pola geometris berulang dengan pelbagai ukuran skala.

Melalui batik fraktal, Pixel Indonesia menciptakan software jBatik. Perangkat lunak ini memakai L-System tiga dimensi dan Cellular Automata sehingga bisa memperbanyak bermacam jenis motif batik.

Motif yang sudah jadi, lalu dicetak di kertas dengan skala 1:1 alias disesuaikan dengan besaran motif yang akan diaplikasikan ke kain. Setelah itu, motif hasil cetakan komputer diterjemahkan ke kain melalui proses yang sama dengan pembuatan batik tradisional lain lewat alat canting.

Kepala Bisnis Pixel Indonesia Nancy Margried mengatakan, motif batik fraktal memiliki ciri khusus dibandingkan motif batik lainnya. Yaitu, warna yang terang dan kontras, misalnya, kelir dasar kuning dengan garis ungu atau merah jambu menyala plus garis kuning. “Kami ingin menonjolkan eksplorasi motifnya,” katanya. Namun, tidak menutup kemungkinan pelanggan memesan warna yang lebih kalem.

Software batik ciptaan Pixel Indonesia menyasar target para pembatik untuk mempermudah desain motif batik baru. “Harga di pasar ritel Rp 5 juta termasuk pelatihan,” ungkap Nancy. Namun, sampai saat ini, Pixel Indonesia lebih banyak menjual software dalam bentuk partai besar untuk perusahaan atau lembaga-lembaga pemerintah.

Setiap tahun, Pixel Indonesia bisa mendapat lima hingga enam proyek pengadaan software jBatik. Nilai setiap proyek antara Rp 80 juta hingga Rp 120 juta. Software tersebut nantinya akan sampai ke tangan pembatik melalui program corporate social responsibility atawa CSR.

Selain menjual software batik, Pixel Indonesia juga memproduksi batik. Namun, mereka hanya membuat motifnya. Setelah motif jadi sesuai pesanan, pembuatan batik sampai tahap akhir akan diserahkan ke pembatik langganan.

Namun, Pixel Indonesia tidak banyak bekerja sama dengan pembatik. Hingga kini, baru lima rumah batik yang dipercaya untuk menerjemahkan batik yang dihasilkan komputer ini. Soalnya, “Kami memilih pembatik yang tahu cara mengerjakannya, karena garis batik dari komputer ini halus,” ujar Nancy.

Tak salah, jika kemudian Pixel Indonesia membanderol desain batiknya dengan harga tinggi. Batik tuliscustom made hasil software Pixel Indonesia paling murah harganya Rp 1,5 juta. Makanya, pasar batikcustom made ini pun tidak banyak, yang paling memungkinkan adalah konsumen di usia 40 tahun ke atas dengan kantong yang cukup tebal.

Tapi, untuk memperlebar pasar, Pixel Indonesia mulai menyasar lapis kedua untuk mereka yang berkantong pas-pasan. Mereka memproduksi batik-batik dengan harga lebih murah berupa batik cap. “Permintaan batik jenis ini banyak sekali, misalnya, untuk orang-orang yang kuliah dan yang baru kerja,” kata Nancy. Tapi, harga yang ditawarkan juga tidak murah-murah amat. Batik cap made in Pixel Indonesia dijual dengan harga mulai dari Rp 150.000 per potong.

Nancy bilang, perusahaannya akan terus mengembangkan motif batik baru. Apalagi, pertumbuhan bisnis batik di Indonesia terus tumbuh dari tahun ke tahun. Begitu juga, “Pertumbuhan omzetnya dari tahun 2009 ke 2010 mencapai 30%,” ungkap dia.

Selain Pixel Indonesia dengan batik fraktal, ada juga batik Acrobatik yang dibuat dengan software M-Batik, yang dikembangkan oleh Bandung Fe Institute. Perwakilan Pemasaran Acrobatik Shanty Diandini menjelaskan, ciri khas batik Acrobatik ada pada keterangan motif yang lebih menekankan pada hasil akhir batik. “Kami ingin orang mengenal motif batik tersebut dan artinya,” kata Shanty.

Acrobatik memproduksi batik dengan software M-Batik sejak April 2009 lalu setelah membeli lisensi dari Bandung Fe Institute. Namun, berbeda dengan Pixel Indonesia, software M-Batik tidak dijual bebas. Mereka hanya melayani pemesanan desain hingga pembuatan batik saja.

Bila pada awalnya produksi Acrobatik hanya berupa kaos dan kemeja yang menyasar kalangan muda, “Sekarang, sudah berkembang ke seragam perusahaan dan sekolah,” ujar Shanty.

Acrobatik bisa memadukan pelbagai motif batik yang digabung dengan logo perusahaan. Salah satu klien Acrobatik adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom). Logo perusahaan telekomunikasi pelat merah tersebut berbaur dalam motif batik dasar.

Selain pasar korporasi, Acrobatik pun mengakomodasi pasar ritel. Shanty mengungkapkan, kelebihan batik Acrobatik terletak pada desain yang lebih harmonis karena dibantu software dan sentuhan akhir dari seniman batik. Acrobatik juga memiliki bank motif yang sangat banyak dari seantero negeri.

Sama seperti Pixel Indonesia, Acrobatik hanya memproduksi desain batik saja, lantaran produksi akhir tetap dilakukan oleh para pembatik asli. Untuk ini, Acrobatik bekerja sama dengan sekitar 50 orang pembatik. Tetapi, ketika pesanan melonjak, mereka menambah jumlah pembatik sesuai dengan kebutuhan.

Acrobatik menjual batik bikinan mereka dengan harga rata-rata sebesar Rp 100.000 hingga Rp 200.000 per helai, baik dalam bentuk pakaian jadi atau kain. “Dalam satu bulan, kami menangani antara 300 hingga 500 potong dari pelbagai pemesan,” kata Shanty.

Untuk memperkaya motif, ia menambahkan, pihaknya akan terus mengumpulkan motif batik terutama dari luar Pulau Jawa.

Peluang Bisnis Waralaba Tahu Krispi

Tahu. Selama ini, salah satu makanan favorit orang Indonesia. Selain harganya terjangkau, kandungan gizi makanan dari kacang kedelai ini juga lumayan komplet.

Itu sebabnya, tidak mengherankan, kalau penjaja makanan tersebut pun terus bermunculan. Baik yang mengusung merek sendiri maupun yang membeli merek waralaba atau kemitraan. Beberapa usaha penjualan tahu yang memakai merek waralaba dan kemitraan di antaranya: Tahu Kripsi Tofuku, Tahu Brintiiik Crispy, Tahu Petis Yudhistira, serta Tahu Kress.

Slamet Raharjo, pemilik waralaba Tahu Krispi Tofuku asal Surabaya, menyatakan, sebagai kudapan sehari-hari penduduk negeri ini, potensi usaha penjualan tahu masih terbuka lebar. Tapi, berjualan tahu belum tentu akan selalu mendulang sukses.

Apalagi, jika tak jeli membidik segmen dan lokasi usaha yang tepat. Sulit rasanya, gerai bisa berlangsung lama. “Di tempat saya juga begitu. Memang ada penambahan mitra, tapi tak sedikit juga yang gulung tikar,” katanya.

Lain lagi menurut Alex Satriyo, pemilik waralaba Tahu Brintiiik Crispy. Ia bilang, waralaba tahu bisa berkembang selama pemiliknya bisa menjalankan bisnis dengan benar. Oleh karena itu, keberadaan orang yang tepat di bagian pengembangan bisnis sangat penting. “Itu yang mau saya terapkan,” ujarnya.

Nah, dalam tulisan ini, KONTAN mencoba menguraikan kembali kondisi kemitraan atau waralaba tahu yang pernah diulas sebelumnya.

Tahu Kripsi Tofuku

Waralaba milik Slamet Raharjo ini, pernah diulas KONTAN, September 2008. Saat itu, gerainya cuma tujuh buah. Rinciannya, tiga gerai milik sendiri dan empat lainnya kepunyaan mitra. Kini, jumlah gerai Tahu Krispi Tofuku sudah 102 buah yang dioperasikan oleh 80 mitra.

Slamet menjelaskan, pesatnya perkembangan gerai tersebut lantaran usaha tahu miliknya punya banyak kelebihan. Selain renyah, memiliki banyak pilihan rasa sesuai dengan selera konsumen. Ambil contoh, tahu renyah bumbu balado, piza, ayam bakar, daging bakar, keju, saus sambal, serta mayones.

Ia juga menyiapkan sambal khusus yang dapat dicocol sebelum tahu itu dikunyah. Yang paling penting, “Investasinya cukup murah,” katanya. Slamet menyediakan dua paket investasi, yakni paket Rp 7 juta dan Rp 8,5 juta.

Untuk paket investasi Rp 8,5 juta, mitra tak hanya bisa menjual tahu, tetapi berhak berdagang teh rosela dan teh hitam racikan Slamet. “Sebenarnya, ada paket ketiga dengan investasi Rp 13 juta. Cuma, tidak laku karena terlalu mahal,” ungkapnya. Memang, ia menambahkan, investasi usaha tahu idealnya tidak lebih dari Rp 10 juta.

Keberhasilan Slamet menjaring banyak investor lantaran ia tidak mengharuskan mitra membeli tahu darinya. Selama tahu yang dipakai oleh mitra sesuai standar yang diberikan Slamet, mereka bisa mencari bahan baku sendiri. “Jadi, saya memberikan kemudahan kepada para mitra,” katanya berbagi rahasia.

Alasan lainnya, bila semua tahu disuplai dari Slamet, ia juga bakal kerepotan. Soalnya, saat ini, mitranya sudah tersebar di seluruh Indonesia. Bahkan, untuk wilayah Makassar dan Balikpapan jumlah mitra sudah melebihi partner bisnisnya yang ada di Surabaya. “Di kedua wilayah itu masing-masing ada sekitar 10 mitra yang tak hanya punya satu gerai,” ujar dia.

Ia pun rajin meracik menu baru agar tak ditinggal pembeli. “Semoga, akhir tahun ini saya bisa mengeluarkan menu baru lagi,” katanya.

Tahu Brintiiik Crispy

Waralaba tahu ini pernah dibedah lengkap di Harian KONTAN pada Januari 2009. Kala itu, jumlah gerainya baru 15 gerai. Tapi, sekarang sudah mencapai 50 gerai. “Seharusnya, bisa tumbuh lebih banyak lagi,” tutur Alex Satriyo, pemilik waralaba Tahu Brintiiik Crispy.

Alex mengakui, ia belum maksimal mengembangkan waralabanya. Sebab, belum memiliki orang yang khusus mengurus pengembangan bisnis Tahu Brintiiik Crispy. Padahal, peranan orang yang duduk di posisi itu sangat penting bagi perluasan usaha waralabanya. “Saat ini, kami belum mendapat orang yang bisa diandalkan,” tutur pria berusia 46 tahun itu.

Sejak diwaralabakan hingga kini, investasi Tahu Brintiiik hanya Rp 9 juta dengan kontrak selama lima tahun. Dalam hitungan Alex, dengan menjual 30 porsi sehari dan margin bersih minimal 25%, modal mitra bakal kembali kurang dari setahun. “Paling pahit, dalam enam bulan sudah balik modal,” kata Alex.

Sekadar mengingatkan, Tahu Brintiiik Crispy, adalah tahu putih yang disajikan dengan taburan mayones dan aneka bumbu di atasnya. Nah, bumbu-bumbu tabur itu., misalnya saja, bumbu barbeque, keju, atau balado.

Dalam penyajiannya, tahu ini melalui dua tahap penggorengan supaya rasanya renyah alias krispi. Mmm…

Tahu Petis Yudhista

Usaha penjualan tahu yang dijalankan oleh Wieke Anggarini, juga tidak kalah berkembangnya. Meski baru diwaralabakan pada Mei 2010 kemarin, jumlah mitra Tahu Petis Yudhistira nyatanya telah mencapai tujuh orang.

Padahal, ketika KONTAN mewawancarai tujuh bulan lalu, Wieke belum memiliki mitra satu pun. Tiga gerai Tahu Petis Yudhistira yang ada saat itu, semuanya dioperasikan oleh Wieke.

Banyaknya investor yang tertarik menjadi mitra Tahu Petis Yudhistira, karena tahu yang dijajakannya adalah makanan khas warga Semarang. “Tapi, untuk menyesuaikan pasar di Jakarta, saya modifikasi lagi,” katanya.

Agar kekhasan petis semarang tetap terasa, Wieke pun tidak tanggung-tanggung untuk mendatangkan bahan baku petis udang dari Semarang langsung. Maklum, rasa petis semarang yang manis bercampur gurih tersebut berbeda dengan petis dari daerah-daerah lainnya.

Menurut Wieke, sebetulnya, investor yang tertarik untuk menjadi mitra sudah cukup banyak. Hanya, tak semua pengajuan proposal calon mitra disetujuinya. “Target saya kan bukan asal banyak saja, tetapi outlet itu juga harus memberikan profit yang bagus buat mitra. Kami berusaha jangan sampai ada yang gagal,” tuturnya.

Makanya, persetujuan lebih diutamakan untuk calon mitra yang mempunyai lokasi jualan yang bagus. Wieke lebih memfokuskan tempat usaha yang ada di pusat perbelanjaan maupun lokasi yang berada di depan minimarket.

Dalam mengembangkan usahanya, Wieke terus berinovasi. Selain menjual tahu petis dalam kotak, ia juga menjajakan petis di dalam kemasan botol. “Petis ini bisa menjadi oleh-oleh atau bumbu masakan seperti petis kangkung,” ujar dia. Permintaan produk yang belum lama ditawarkannya ini lumayan banyak. Ia mengaku, setiap hari bisa menjual sekitar 60 petis kemasan dalam botol.

Untuk petis dalam kemasan botol ukuran 250 gram, dilego seharga Rp 20.000. Petis ukuran 350 gram dijual Rp 25.000. “Pembelinya tidak hanya orang yang datang ke gerai saja, tetapi ada juga yang membelinya secara online,” imbuhnya. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Kotak Sepatu Transparan

Banyak orang memilih menyimpan sepatunya di kotak sepatu transparan agar memudahkan mencari sepatu yang diinginkannya. Kebutuhan ini membuat bisnis kotak sepatu transparan menjanjikan. Sebab, pasarnya masih terbuka lebar karena produsennya di Indonesia belum banyak. Sudah begitu, pesanan juga datang dari mancanegara.

Berfungsi sebagai tempat penyimpanan, kotak sepatu transparan kini menggeser dominasi kotak sepatu dari kardus yang sudah bertahun-tahun menjadi pilihan masyarakat. Paling tidak begitu penilaian Tia Adisuwono, pemilik Tiara Box Indonesia, produsen kotak sepatu transparan yang berlokasi di Jakarta.

Tia sudah memulai bisnisnya sejak pertengahan 2006. Ketertarikannya menggarap bisnis ini karena melihat prospek yang cukup cerah. Sepatu yang dikemas dalam wadah plastik transparan dapat menambah nilai produk tersebut. “Tak hanya menarik, tapi juga dapat mendongkrak harga jual produk,” katanya.

Jujur saja, Tia sangat terinspirasi untuk terjun ke dalam bisnis kotak sepatu transparan lantaran melihat para wanita penganut fesyen yang umumnya memiliki koleksi sepatu cukup banyak. Nah, “Kotak sepatu transparan diciptakan sebagai shoe storage solution untuk para pecinta sepatu,” ungkap dia.

Tak hanya itu, dengan tampilannya yang tembus pandang, kotak sepatu ini memudahkan pemiliknya untuk menemukan cepat sepatu yang akan mereka pakai.

Selain memberikan kemudahan, keunggulan lain dari kotak sepatu transparan adalah memiliki ventilasi di beberapa sisi kotak yang berfungsi mengalirkan udara ke luar. Pembuatan ventilasi ini bertujuan menghindari timbulnya aroma tak sedap yang menghinggapi kotak tersebut. Produk ini pun didesain antijamur dan terbuat dari plastik yang ramah lingkungan.

Upaya Tia tak sia-sia. Produk hasil jerih payahnya cukup diminati para kolektor sepatu, yang rata-rata dari kalangan artis maupun istri pejabat. Dalam sebulan, ibu tiga orang anak ini mampu menjual 10.000 sampai 30.000 kotak. Ia pun mengantongi omzet Rp 100 juta hingga Rp 250 juta. “Bahkan tak jarang kami menerima permintaan ekspor ke Malaysia dan Singapura,” lanjut Tia.

Meski begitu, Tia belum terlalu getol memasarkan produknya sampai ke luar negeri. Alasannya, ia ingin lebih fokus membesarkan bisnisnya di ranah lokal dulu. Toh, dia tetap siap jika sewaktu-waktu permintaan dari negeri seberang datang. Kapasitas produksi bengkel Tia yang mencapai 50.000-100.0000 kotak per bulan siap melayani pesanan ekspor itu.

Soal harga, masih ramah dengan dompet Anda. Kotak sepatu transparan buatan Tia hanya dibanderol dengan harga Rp 10.000 hingga Rp 25.000 per kotak, tergantung model, bentuk, ukuran, serta jumlah pembelian. Jadi, makin banyak pesan, harga makin murah. Ada korting.

Persaingan dengan pemain lokal? Tia tidak risau sama sekali. Sebab, ia mengklaim Tiara Box adalah satu-satunya produsen kota sepatu transparan dan yang pertama di Indonesia. Nah, yang Tia khawatirkan adalah produk asal China dan Taiwan yang banyak beredar di pasar.

Kekhawatiran itu cukup beralasan mengingat barang impor tersebut sangat mirip dengan produknya dan dijual dengan harga yang lebih miring. Meski demikian, ia optimistis, dengan memberikan pelayanan yang baik serta senantiasa menjaga kualitas, produk akan terus diterima pasar bahkan usahanya kian berkembang ke depan.

Seiring berjalannya waktu, Tiara Box juga bermetamorfosa dengan memproduksi kotak transparan untuk kebaya, tas, gaun, suvenir, dan alat tulis. “Semuanya produk tersebut berbahan plastik transparan,” ungkap Tia.

Inovasi itu dilakukan sebagai upaya mengembangkan bisnisnya lebih luas. Tia menilai, bahwa wanita yang sadar fesyen tak hanya mengoleksi sepatu, melainkan juga pakaian, tas, dan lainnya. Alhasil, 12 jenis pilihan produk kotak telah dia produksi. Bahkan, dia membuat kotak sepatu transparan untuk beragam ukuran, yakni S, M, dan L.

Kendati merambah ke pembuatan kotak-kotak lainnya, Tia menyatakan, fokus usahanya tetap pada kotak sepatu transparan. Jalur pemasaran yang diambil sebagai andalan adalah online via internet.

Dia masih enggan membuka toko ritel untuk produknya ini. “Karena semangat awalnya adalah berbisnis online,” jelas wanita yang hanya menjual produknya ini secara grosiran.

Meski pemain tunggal, ternyata tak membuat Tia jumawa. Terbukti, ia terus melakukan inovasi dan modifikasi terhadap produk-produknya. Beberapa jurus untuk merealisasikan hal tersebut adalah dengan terus menganalisa pasar dan tren fesyen di Indonesia. Tak sebatas itu, dia selalu mau menerima masukan dari para pelanggannya, terutama untuk menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar, baik dari segi model atau warna.

Merujuk dari hal itu, ia berharap ke depannya dapat menciptakan produk yang lebih inovatif, original, dan dapat diterima pasar.

Tapi, Tia bukan satu-satunya yang menikmati keuntungan dari dagang kotak sepatu transparan. Penjual produk ini pun turut kecipratan untung. Hendra, pemilik Boutique 88 di Medan, Sumatera Utara, contohnya.

Hendra sudah sejak dua bulan terakhir menjual kotak sepatu transparan. Dengan harga jual sebesar Rp 23.000 per kotaknya, lelaki berumur 27 tahun ini rata-rata mampu menjual hingga 500 kotak dalam tempo sebulan.

Meski omzetnya baru mencapai Rp 10 juta per bulan, tapi Hendra sangat yakin, angka penjualannya akan terus meningkat dari bulan ke bulan. Soalnya, komoditas ini baru digarapnya selama dua bulan dan potensi pasarnya yang masih besar.

Selain itu, untuk wilayah Medan dan sekitarnya, Hendra bilang, pesaingnya masih minim atau bahkan belum ada. Selain menjual kotak sepatu transparan ini, terhitung sejak setahun lalu, ia juga menjalankan bisnis butik yang berisi beragam pakaian untuk remaja dan dewasa. (peluangusaha.kontan.co.id)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.