Arsip

Archive for the ‘Peluang Bisnis’ Category

Menjalankan Bisnis Forex dari Rumah

Desember 14, 2013 Tinggalkan komentar

Investasi forex adalah sebuah bisnis perdagangan mata uang asing dengan harapan mengambil selisih dari keuntungan mata uang yang telah dijual. Mungkin itu adalah pengertian sekilas mengenai bisnis investasi forex yang mana sepertinya bisnis ini telah menjadi sebuah bisnis yang cukup banyak dijalankan oleh orang-orang yang telah mengerti akan manfaat dan hasil yang telah diperolehnya.

Awalnya trading forex ini dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar namun seiring berjalannya waktu trading forex ini bisa dijalankan oleh semua orang, tidak harus dikerjakan dikantor, dirumah pun sudah bisa. Akan tetapi sebelumnya harus mempunyai skill terlebih dahulu jika ingin menjalankan bisnis ini sendiri. Dengan membutuhkan seperangkat komputer dan koneksi internet sepertinya sudah bisa menjalankan bisnis ini sendiri tanpa harus perlu datang ke kantor setiap harinya kita sudah bisa mempunyai penghasilan.

Meski banyak yang beranggapan bahwa bisnis investasi forex ini adalah bisnis yang menurut beberapa pandangan orang adalah haram, karena mempunyai sifat mempertaruhkan atau bisa dikatakan judi ini sebenarnya tidak seperti demikian. Kalau memang bisnis ini bisa dikatakan seperti judi berarti hidup kita ini pun bisa dikatakan judi, semua langkah yang akan kita hadapi ini adalah pertaruhan.

Mau pilih sekolah A atau B jika A nanti resikonya seperti apa dan B seperti apa. Itu semuanya adalah pertaruhan, Jika nantinya anda bekerja di suatu perusahaan A dengan gaji yang sama diberikan oleh B namun keuntungannya kita belum tahu lebih menguntungkan di perusahaan mana. Ini semuanya adalah pertaruhan jadi hidup kitapun sebenarnya yang menentukan adalah kita sendiri. Baik atau tidaknya akan kita ketahui setelah kita menjalankannya, prinsip sederhananya adalah demikian.

Jadi apapun bisnis yang akan kita jalankan itu semuanya bisa dikatakan rugi atau tidak akan kita ketahui setelah melewatinya nanti. Begitu juga dengan investasi forex ini, semuanya bisa kita lewati asalkan kita telah mengetahui langkah-langkahnya dengan cermat dan tepat. Di dunia ini pasti semua orang tidak ada yang tidak menginginkan uang, namun kebanyakan orang juga tidak menginginkan pekerjaan.

Dalam arti mau uang namun tidak mau bekerja. Sebenarnya investasi forex ini hampir menjawab apa yang anda inginkan, bisa mendapatkan uang yang lebih namun semuanya kontrol ada pada diri anda sendiri, anda adalah yang jadi bos nya, tidak perlu karyawan dan tidak perlu melaporkan kegiatan anda setiap bulannya kepada bos. Manajemen semuanya anda lakukan sendiri tak terkecuali masalah waktu dan tempat anda yang menentukannya. (bn/detik.com)

Kategori:Peluang Bisnis

Peluang Bisnis Stik Drum

Januari 11, 2011 1 komentar

stik drumIndustri musik Tanah Air yang kian bersinar membawa keberuntungan bagi pengusaha penyedia aksesori dan alat-alat musik, termasuk produsen stik drum. Penyewaan alat musik dan kursus musik yang banyak bermunculan turut mendorong perkembangan bisnis itu. Tahun lalu, penjualan stik drum naik 20%.

Perkembangan industri musik yang pesat membuat perajin stik atau tongkat pemukul drum tersenyum lebar. Penjualan mereka tahun lalu meningkat sampai 20% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Stik drum merek lokal makin banyak dicari penabuh drum. “Tahun 2010 memang menjadi tahun penjualan yang bagus,” kata Tito Sudianto, pemilik toko aksesori musik di Jakarta.

Tito yang memulai usaha penjualan aksesori musik sejak lima tahun lalu hanya menjual stik drum dan picgitar. Selain melego pemukul drum tersebut, ia juga memproduksi stik drum dengan merek Paraddile.

Menurut Tito, pamor stik drum buatan lokal setahun belakangan makin berdentam. Bahkan, banyak penabuh drum grup musik terkenal di negara ini yang senang menggunakan produk anak bangsa. Selain berharga, kualitasnya juga jempolan.

Pada awalnya, tak mudah bagi Tito memasarkan stik drum buatannya, meski tokonya sudah cukup kesohor di kalangan pemain musik. “Waktu itu, respon pembeli tidak terlalu bagus, mereka lebih memilih stik drum bermerek sekalipun palsu,” ujarnya. Perlahan tetapi pasti, Paraddile pun mulai membetot perhatian para anak band karena kualitasnya tidak kalah dengan made in luar negeri.

Demi menjaga kualitas, Tito membuat produknya dengan teliti dan sesuai dengan standar ekspor. Setiap stik drum melalui tahap seleksi bahan baku, termasuk dalam proses oven sampai moisture content atau pelembapan. Semua proses itu dilakukan untuk menghasilkan produk yang tidak mudah retak dan memiliki serat halus.

Proses ini juga bertujuan untuk melindungi tangan penabuh drum termasuk menghindari warna berlebihan. Bahan dasar yang halus tidak akan melukai tangan.

Untuk lebih mengenalkan produknya, Tito menunjuk Ikmal, drumer band The Rock Indonesia-Ahmad Dania (TRIAD), menjadi duta merek Parradile.

Selain Tito, ada juga Eko yang merupakan perajin stik drum di Cilacap, Jawa Tengah. Ia mengklaim produknya telah menjadi primadona musisi daerah. Selain kekuatan dan harga yang murah, stik buatannya tidak merusak drum dan tahan lama. “Bahan baku dari kayu melinjo dan sono keling. Jenis kayu itu lebih lembut dibandingkan kayu sawo,” ungkap Eko.

Walau begitu, Eko mengatakan, bukan hanya bahan yang mempengaruhi kualitas stik drum, namun juga proses pembuatannya. Tahun lalu, saban bulan, ia mampu menjual 300 hingga 500 stik drum dengan harga Rp 4.500 dan Rp 15.000 per pasang.

Sedangkan Tito, setiap bulan, melego hingga 4.000 stik drum. Selain dari Jakarta, pesanan juga berasal dari daerah lain di Pulau Jawa dan Sumatra.

Harga paling murah yang ia tawarkan sebesar Rp 2.500. Untuk stik drum kelas menengah dibanderol dengan haraga Rp 15.000. Adapun, yang kelas atas, harganya Rp 35.000 per pasang, namun dijual terbatas. “Kebanyakan pembeli cari yang Rp 2.500 dan Rp 5.000,” ujar Tito. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Kotak Rokok Bermotif

kotak rokokJumlah perokok aktif di Indonesia yang terus bertambah membuat penjualan kotak rokok kayu bermotif lebih bergairah. Pembuatnya pun ikutan bertambah karena peminat kotak rokok makin banyak. Motifnya beragam, mulai etnik, kaligrafi sampai gambar tokoh nasional.

Asap rokok mengebul di mana-mana, merupakan pandangan yang sangat lumrah di Indonesia. Maklum, negara kita memiliki perokok aktif terbanyak ketiga di dunia.

Biar kelihatan lebih keren, sebagian perokok menaruh batang-batang rokoknya di kotak khusus. Selain lebih bersifat personal dan eksklusif, kotak rokok juga menangkal risiko rokok rusak atau patah.

Bentuk boleh sama-sama kotak, tapi sekarang ini ada pelbagai desain dan gambar di kotak-kotak rokok produksi lokal. Mulai dari motif batik, merek rokok, gambar tokoh terkenal, hingga kaligrafi.

Tengok saja kotak rokok buatan Ahmad Zamroni. Pemilik Zamzam Gallery di Jepara, Jawa Tengah ini telah memproduksi kotak rokok dengan motif sejak tahun 2000 lalu.

Zamroni memproduksi dua jenis kotak rokok. Pertama, kotak rokok dengan desain seperti bungkus rokok merek tertentu, sebut saja Marlboro, Gudang Garam, Surya Mild, dan Sampoerna A Mild. Kedua, desain dengan gambar kaligrafi.

Awalnya, Zamroni mengungkapkan, ia hanya membikin desain kotak rokok berdasarkan merek-merek rokok terkenal. Namun, suatu hari, dia mendapat pesanan dari pedagang grosir di Aceh yang memintanya mendesain kotak rokok dengan tulisan kaligrafi. Jadilah, sejak itu ia mulai membuat desain kedua sampai sekarang.

Zamroni menuturkan, pelanggannya terdiri dari pembeli grosir dan penikmat rokok yang memesan langsung kepadanya. Pembeli ritel yang kebanyakan perokok memesan kotak rokok untuk mereka pakai sebagai tempat penyimpan rokok. Tapi, ada juga pembeli ritel yang memesan kotak rokok untuk koleksi. “Soalnya, bentuknya bagus dan unik,” ujar Zahroni.

Adapun pemesan desain kaligrafi kebanyakan adalah pasangan yang mau menikah untuk suvenir perkawinannya. “Mereka juga minta nama mereka di desain,” ujar Zamroni.

Pesanan kotak rokok dengan motif kaligrafi banyak datang antara bulan haji dan sebelum Ramadan. Di bulan-bulan itulah banyak order untuk suvenir pernikahan.

Saat itu, omzet penjualan kotak rokok kaligrafi buatan Zamroni meningkat 50% dibanding bulan biasanya, dari hanya Rp 10 juta menjadi Rp 15 juta. Produksinya pun naik dari 800 kotak rokok menjadi 1.500 buah.

Tak kalah kreatif, Slamet Widodo, pemilik Shely Handycarft di Klaten, Jawa Tengah, membuat kotak rokok dengan motif bernuansa etnik, seperti motif melayu dan pahatan jawa.

Selama ini, Zamroni membuat kotak rokok dari bahan kayu sonokeling. Menurutnya, ada beberapa hal yang menjadikan kayu ini lebih unggul. Misalnya, kayu jenis ini keras. Serat kayunya yang berwarna kehitaman pun menarik bagi konsumen. “Kayu sonokeling juga tidak mudah dimakan rayap,” ungkap Zamroni.

Pembuatan kotak rokok dimulai dengan pemotongan kayu gelondongan dengan gergaji mesin hingga ketebalannya 1 centimeter (cm). Setelah itu, kayu dimasukkan ke oven untuk mengeringkan air di dalam kayu. Kayu yang sudah dioven lalu didesain sesuai pesanan pelanggan.

Untuk urusan pembuatan kotak Zamroni menyerahkannya ke tukang kayu. Prosesnya, pertama-tama kayu diserut dengan menggunakan ketam agar halus. Potongan-potongan bagian kayu ini dirakit menjadi kotak.

Kotak rokok setengah jadi ini kemudian disemprot dengan woodmill untuk menutupi pori-pori. Setelah itu, kotak rokok diwarnai dengan melanin dan terakhir dipres sablon agar warna tidak mudah pudar.

Menurut Zamroni, keunggulan produknya ada pada pengerjaan yang detail. “Kalau produsen lain, ada yang desainnya tidak persis dan sablonan catnya tidak rapi,” ungkap dia.

Zamroni mengatakan, dia masih ingin konsentrasi di pasar lokal. Di Indonesia, penjualan kotak rokoknya sudah menembus Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Aceh, Medan, dan Palembang. Sekitar tahun 2000 pernah ada orang Malaysia yang mengimpor produknya. Tapi pesanan itu tidak berlanjut. “Pasar lokal saja sudah banyak pesanan,” ucap Zamroni senang.

Farian pembuat kotak rokok yang berlokasi di Bandung juga merasakan berkah dari tingginya angka perokok di di Indonesia. Dia mengaku mampu meraih untung hingga Rp 17,5 juta setiap bulannya jika mampu menjual 500 kotak.

Namun, belakangan ini omzet Farian menurun. Ia pernah meraih penjualan terbaik tiga bulan lalu dengan 1.000 kotak seharga Rp 35.000 per kotak. Harga kotak rokok buatan Farian memang mahal karena dia juga melengkapi produk-produknya dengan lighter atau korek api.

Farian bilang, penurunan penjualan ini karena makin banyaknya pembuat kotak rokok dengan motif dan gambar menarik serta harga yang lebih murah. “Peminat dari kotak rokok ini makin tinggi,” ungkap dia.

Setahun lalu, belum terlalu banyak yang membuat kotak rokok. Tapi sekarang, para peminat kotak rokok makin banyak sehingga pembuatnya pun bertambah. “Dulu, ketika ingin memiliki kotak rokok, kita harus pesan terlebih dahulu, tapi sekarang sudah banyak di pasaran dan harganya lebih murah,” keluh Farian.

Untuk memenangkan persaingan, Farian pun memangkas harga jual kotak rokok bikinannya menjadi
Rp 20.000 per unit. Ia juga memesan produk sejenis dari China yang harga jauh lebih murah ketimbang membuat sendiri. Untung dari penjualan kotak rokok pun jauh lebih tinggi.

Meskipun mendatangkan produk dari China, Farian menyatakan, kotak rokok buatan lokal masih menjadi primadona, sekalipun harganya sedikit lebih mahal. Sebab, kotak rokok produksi lokal lebih memiliki banyak pilihan karena pilihan gambarnya lebih beragam.

Dulu, motif yang pernah tenar, misalnya, kotak rokok bergambar merek rokok, serta lambang dan tulisan Harley Davidson. Sekarang, banyak pembeli yang memesan kotak rokok bergambar tokoh-tokoh terkenal Indonesia, seperti Soekarno atau Bung Karno, Presiden RI Pertama.

Selain dapat memilih gambar atau motif, para pecinta kotak rokok bisa menambahkan nama atau kata-kata yang ditujukan untuk seseorang sebagai kado. Untuk mendapatkan ukiran yang berbeda dari yang lain, memang perlu waktu pesanan lebih lama ketimbang motif yang sudah tersedia, meskipun tidak ada tambahan biaya yang harus dirogoh para pembeli. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Tiket Online

Januari 11, 2011 1 komentar

tiket onlineKemacetan yang makin parah dan keterbatasan waktu mendesak konsumen mencari berbagai kebutuhannya di dunia maya, termasuk tiket pesawat. Penjual tiket pesawat online bisa menawarkan harga lebih murah dan prosedur lebih praktis ketimbang situs penjualan milik maskapai.

Tak hanya memburu baju atau pernak-pernik lainnya, banyak orang melakukan transaksi online untuk membeli tiket pesawat. Maklum, beberapa maskapai telah membuka penjualan lewat internet demi menghemat ongkos penjualan.

Melihat peluang ini, Rizki Akbar pun membuka usaha penjualan tiket online. “Saya ingin mencobanya, karena harga tiket antarmaskapai amat kompetitif dengan jumlah konsumen yang amat besar,” ungkapnya.

Maka, mulailah ia membuka website agen travel penyedia layanan penjualan tiket pesawat murah online: http://www.grahatour.com. Dalam usaha ini, Rizki menjalin kerja sama dengan sebuah biro perjalanan.

Dari agen perjalanan itulah Rizki memperoleh tiket semua maskapai dengan harga murah. “Pembeli diwebsite saya dapat diskon 1% dari harga tiket dibandingkan dengan penjualan di situs oline maskapai resmi,” katanya.

Tak hanya menjual tiket dengan harga murah, Rizki juga menawarkan layanan pembelian yang praktis. Pembeli tinggal memesan tiket melalui Yahoo Messenger (YM), telepon, dan pesan singkat (SMS).

Bila pembeli sudah mentransfer uang, tiket segera dikirim melalui e-mail. Pembeli bisa mencetak lembar konfirmasi untuk check-in di bandara. “Proses ini gratis,” ujarnya.
Rizki bisa melayani lebih dari 20 pemesanan tiket per hari. Bahkan, pada Desember 2010 lalu, Rizki meraup omzet Rp 10 juta per hari atau Rp 300 juta sebulan.

Lelaki 25 tahun ini melihat banyak orang yang lebih memilih menyimpan waktu dan tenaganya untuk berbelanja via online. “Perhitungan mereka kalau beli di biro, mereka butuh waktu dan uang sebagai ongkos. Pemesanan via online lebih praktis,” kata Rizki.

Modal utama di bisnis ini, Rizki berbagi rahasia, adalah membangun kepercayaan pembeli. Sekali tergelincir berbuat salah, maka otomatis matilah bisnis itu.

Seperti Rizki, Aditya Laksana juga menangkap peluang yang sama. Pemilik PT Web Wahana Wisata di Gresik, Jawa Timur ini memulai usahanya di 2009 setelah melihat maraknya penjualan pulsa elektrik. “Saya pikir hal sama juga bisa diterapkan untuk tiket pesawat,” ujarnya.

Saat ini, ia sudah memiliki izin dari hampir seluruh maskapai di Indonesia. Selain menjual tiket sendiri, Aditya juga menawarkan sistem kerjasama bagi yang ingin membuka usaha serupa. Kini, Adit sudah memiliki lima mitra. Tiap mitra mendapat komisi antara 3%-10%.

Tak heran, Adit bisa mengeruk omzet cukup besar, yakni berkisar Rp 900 juta hingga Rp 1,5 milar per bulan. Ini hasil dari penjualan 250-300 tiket per hari.

Berbeda dengan Grahatour, di Wahana Wisata, konsumen harus menjadi member melalui situs http://www.bisnis-tiket-pesawat.com. Setelah terdaftar, baru pelanggan mentransfer uang melalui bank yang ditunjuk. Pencetakan tiket juga bisa dilakukan di bandara.

Hanya, transaksi online mengandung kelemahan. “Sering ada member yang sudah mendaftar namun ternyata tidak melakukan pembayaran,” ujar Aditya. Kalau sudah begini, ia akan langsung melakukan pembatalan ke maskapai, bila menemukan calon pelanggan yang berlaku curang. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Sepeda Air

Permintaan sepeda air terus meningkat seiring bermunculan tempat hiburan baru yang menawarkan wisata air. Lonjakan permintaan sepeda air terutama datang sepanjang 2010, dengan kenaikan hingga mencapai 50% ketimbang 2009.

Saat ini, tempat wisata yang menawarkan permainan air kian menjamur. Bahkan, tak hanya tempat hiburan, beberapa pusat belanja dan resto keluarga juga melengkapi fasilitas dengan permainan air. Tak heran, permintaan pelbagai alat permainan air pun terus meningkat.

Salah satunya, sepeda air. Ebel Yasir, produsen sepeda air asal Solo, Jawa Tengah mengatakan, penjualan sepeda air di 2010 melonjak hingga 50% dibandingkan dengan 2009. “Ini karena banyak taman hiburan yang bermunculan,” ujarnya.

Dalam sebulan, Ebel mampu menjual lima hingga tujuh sepeda air. Dengan harga Rp 7 juta per unit, ia pun bisa mengantongi omzet Rp 30 juta hingga
Rp 45 juta saban bulan.
Ebel telah memasarkan sepeda air ke seluruh Indonesia, tapi pesanan paling banyak tetap datang dari Jakarta dan sekitarnya.

Peningkatan omzet pun dialami Sugiyono. Pemilik Rumah Fiber di Solo ini bisa meraup omzet hingga Rp 72 juta tiap bulan dari penjualan sepeda air.

Sugiyono bilang, konsumennya adalah industri pariwisata, restoran apung, pemancingan, dan pengembang perumahan. Ia pun pernah memasok sepeda airnya ke Perumahan Pertamina di Cikarang.

Namun, berbeda dengan Ebel, Sugiyono justru menuai banyak pelanggan dari pasar di luar Jawa. Soalnya, “Jumlah danau di luar Jawa lebih banyak,” tutur pria yang mulai memproduksi sepeda air sejak tahun 2004. Di luar Jawa, ia mengirim sepeda airnya ke Sumatra, Kalimantan hingga Papua.

Sugiyono membuat dua model sepeda air. Yakni, model angsa dan kuda laut, baik dengan satu atau dua pengayuh. Sepeda air satu pengayuh dibanderol Rp 4,5 juta per unit. Sedangkan sepeda dengan dua pengayuh dijual Rp 7,2 juta per unit. “Sampai saat ini, model dua pengayuh paling banyak diminati,” ujarnya.

Selain memajang sepeda airnya di showroom, Sugiyono juga berjualan melalui internet. “Lebih banyak yang memesan lewat internet,” kata dia.

Tak hanya memoles sepeda dengan bentuk yang bagus, produsen sepeda air juga harus memperhatikan sisi keamanan dan kualitas. Ebel menggunakan bahan baku dari fiberglass yang kuat. Dari sisi keamanan, dia selalu menyertakan pelampung pada baling-baling sepeda air.

Keselamatan dan keamanan memang menjadi jaminan nomor satu. Pasalanya, Ebel bilang, jika terjadi kebocoran, taruhannya adalah nyawa. “Lantas, taruhan selanjutnya kredibilitas si pembuat barang,” ucap pria yang memulai usaha pembuatan sepeda air sejak 2005.

Ebel yakin, pesanan sepeda air masih akan ramai di tahun-tahun mendatang. Sebab, makin banyak tempat-tempat wisata baru yang dibangun. Bahkan, pengembang perumahan juga gencar membangun fasilitas bermain air di kawasannya.

Sugiyono pun optismis, pasar sepeda air cerah. Apalagi, negeri ini banyak memiliki danau. “Masih banyak danau yang belum dikembangkan pariwisatanya dan belum dilengkapi sepeda air,” ujarnya. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis Kemitraan Bakmi Naga

Januari 8, 2011 2 komentar

Siapa yang tak suka mi? Rasa lezat dari kuah gurih pada semangkuk mi bisa membuat penikmatnya ketagihan. Makanan yang kaya karbohidrat tersebut telah menjadi panganan pengganti nasi.

Makanya, peluang usaha mi menggiurkan. Lihat saja, penjaja mi gerobak di pinggir jalan hingga restoran makin banyak saja. Saat jam makan siang dan malam, para penjual mi, mulai dari skala gerobak hingga restoran, selalu saja penuh dengan pembeli.

Sekalipun persaingan usaha begitu ketat, peluang usaha mi tetap terbuka. Maklum, peminatnya mulai anak-anak hingga orang dewasa.

Tawaran menjadi pengusaha mi datang dari PT Naga Jaya Sejahtera Indonesia yang mulai mewaralabakan usaha Bakmi Naga pada 2010 lalu.

Berdiri sejak 1980, Bakmi Naga dikenal sebagai mi yang memiliki cita rasa jempolan. Cita rasa tradisional turunan dari Ny. Liong yang mempertahankan rasa gurih mi, memang terasa mulai dari gigitan pertama hingga satu mangkuk mi kandas.

Susanty Widjaya, Direktur Naga Jaya sekaligus generasi ketiga dinasti Bakmi Naga, mengungkap, selain mempertahankan cita rasa mi resep neneknya, ia tetap memperhatikan kesehatan pembelinya.

Misalnya, konsumen yang menderita maag. Biasanya, penderita maag akan kembung dan kenyang berlebihan setelah menyantap mi. Sebab, kebanyakan mi memakai bahan pengawet berlebihan. “Bakmi Naga yang kami olah dengan kualitas baik dan higienis, aman untuk penderita maag,” jamin Susanty. Makanya, dia mengklaim, Bakmi Naga aman dikonsumsi balita hingga orang tua lanjut usia.

Keberhasilan Bakmi Naga mempertahankan cita rasa membuat sayap bisnis usaha mie turun temurun ini kian lebar. Setelah membuka 20 cabang yang tersebar di Kota Jakarta dan Surabaya, setelah 30 tahun berdiri, Bakmi Naga akhirnya menawarkan waralaba usahanya.

Sebelumnya, banyak yang ingin membuka cabang Bakmi Naga. Tapi sejatinya, Susanty mengatakan, sejak enam tahun lalu ia sudah mempertimbangkan untuk menawarkan waralaba. Tapi, baru sekarang Bakmi Naga siap mewaralabakan usahanya. “Kami membuka waralaba setelah melihat potensi pasar dan niat kami untuk bisa menjangkau daerah-daerah selain di Pulau Jawa,” katanya.

Bakmi Naga menyediakan tiga tipe investasi, yakni restoran, ekspres untuk lokasi di food court, dan gerobak.

Untuk membuka usaha tipe restoran, calon terwaralaba harus menyediakan investasi awal Rp 500 juta. Sedangkan, untuk tipe ekspres dan gerobak, masing-masing nilai investasinya sebesar Rp 250 juta dan Rp 55 juta.

Bakmi Naga mengutip biaya waralaba sebesar Rp 150 juta yang berlaku selama lima tahun untuk semua tipe investasi. Bakmi Naga juga mengutip biaya royalti sebesar Rp 6 juta dan biaya pemasaran Rp 2,4 juta per bulan.

Dengan perkiraan penjualan sebanyak 250 mangkok per hari, terwaralaba diperkirakan bakal balik modal dalam 14 bulan. Ini merupakan perkiraan investasi tipe restoran.

Konsultan Wirausaha dan Praktisi Bisnis A. Khoerussalim Ikhs menuturkan, prospek bisnis waralaba mi terbilang cerah, meskipun persaingan di pasar cukup ketat. Itu sebabnya, untuk memenangkan persaingan, waralaba mi harus memiliki keunggulan, baik rasa, kualitas, maupun pelayanan.

Soal kualitas, Khoerussalim bilang, memang menjadi faktor utama. Namun, “Perlu ada keunggulan lain yang harus dimiliki waralaba tersebut, misalnya, layanan, merek usaha, dan kenyamanan tempat,” ujarnya. Mitra bakal memilih waralaba yang sudah punya nama dan pangsa pasar. (peluangusaha.kontan.co.id)

Peluang Bisnis dari Ibu Hamil dan Menyusui

Semakin banyaknya ibu hamil yang bekerja, atau juga perempuan muda yang masih ingin tampil gaya saat hamil, membuka peluang yang tak ada habisnya. Anda hanya perlu jeli melihat kesempatan emas ini. Begitu pun dengan ibu menyusui, yang selalu menjadi inspirasi bisnis bagi perempuan.

Jika Anda mampir ke toko perlengkapan bayi, bukan hanya kebutuhan si kecil yang tersedia. Kebutuhan si ibu juga terpajang dengan berbagai pilihan. Produk ibu hamil tak sekadar untuk memenuhi kegemaran fashion agar tetap tampil cantik saat berbadan dua. Namun, berbagai produk ibu hamil juga memudahkan dan punya manfaat yang memang dibutuhkan ibu hamil atau ibu menyusui.

Pemilik usaha Milky Way, Jovita Roland (30), jeli melihat peluang dari perubahan pada ibu hamil atau menyusui, terutama di area payudara. Payudara yang membesar tentunya membutuhkan perlakuan berbeda. Salah satu produk Milky Way adalah sleeping bra, yang membuat ibu tetap nyaman saat sedang tidur.

Lain lagi dengan Lala Sirat (31) yang membangun bisnisnursing apron (celemek menyusui) Mamita sejak 2007. Ibu menyusui membutuhkan dukungan agar tetap konsisten memberikan ASI. Terutama bagi ibu bekerja atau ibu yang aktif. Kegiatan di luar ruang seharusnya tidak menjadi kendala bagi ibu menyusui. Karena dengan nursing apron yang cantik dan gaya, ibu bisa menyusui kapan saja dan di mana saja. Ibu tak lagi sungkan memberikan ASI untuk bayi di tempat umum sekalipun. Bukankah ini bentuk dukungan positif untuk ibu menyusui?

Kompas Female juga mendapatkan sejumlah celah bisnis dari ibu hamil melalui bisnis online. Ibu hamil tak perlu capek berbelanja di mal. Dengan kondisi fisik yang perlu dijaga ekstra, ibu hamil bisa berbelanja melalui komputer atau gadget lainnya sambil duduk santai di rumah. Sejumlah produk seperti celana dan baju hamil untuk ibu bekerja banyak peminatnya. Yang lebih laku adalah celana dalam untuk ibu hamil, seperti yang ditawarkan oleh salah satu butik online untuk ibu hamil dan menyusui. Produk pakaian dalam yang satu ini cepat sekali laris karena umumnya produk inilah yang dicari perempuan saat mengetahui dirinya hamil. Penyesuaian dengan bentuk tubuh yang mulai berubah menjadi alasan ibu hamil mulai berbelanja untuk kebutuhan dirinya.

Keinginan agar tetap tampil seksi juga menjadi alasan lain bumil. Seperti yang dialami Holy Setyowati (32) saat sedang hamil anak pertama 2006 lalu. Pengalamannya tinggal di Jepang memberikannya inspirasi bisnis busana ibu hamil. Jeans untuk bumil dipilihnya sebagai produk andalan. Ia melihat peluang bisnis tersebut sangat terbuka di Indonesia karena belum ada jeans bumil seperti yang ditemukannya di Jepang. Usaha ini pun membuahkan hasil. Tak hanya membangun kemandirian ekonomi, Holy juga terpilih sebagai salah satu penerima penghargaan Wirausaha BNI-Femina 2009 dengan label Yasashii Maternity Jeans.

Jeli melihat peluang menjadi kunci sukses para perempuan ini. Anda punya ide cemerlang lainnya untuk membangun kemandirian ekonomi melalui wirausaha? (female.kompas.com)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.