Arsip

Archive for the ‘Inspirasi Bisnis’ Category

Jualan Kosmetik via Online

Di zaman yang serba instan ini, orang tentu mau serba praktis dalam beraktivitas. Termasuk berbelanja kosmetika. Itu sebabnya, PT Ristra Indolab juga menjual produknya secara online. Tapi, baru menyumbang 1 persen dari total penjualan Ristra.

Penjualan melalui internet kian banyak dilakoni perusahaan, termasuk perusahaan kosmetika. Sebut saja PT Ristra Indolab. Perusahaan yang berdiri sejak Februari 1983 meluncurkan situs belanja online http://www.belanjaristra.com pada April 2010.

Operation Manager House of Ristra Dyah P. Sitawat mengatakan, dengan kehadiran situs ini konsumen yang tak punya waktu berbelanja tak perlu lagi datang ke konter-konter Ristra yang ada di sejumlah mal. Mereka yang tinggal di luar Jawa pun tak kesulitan mencari produk Ristra.

Itu sebabnya, “Lebih banyak konsumen dari luar Pulau Jawa seperti Makassar yang membeli produk-produk Ristra melalui situs ini,” ungkap Dyah.

Di situs belanja online ini, Ristra menyediakan aneka produk kecantikan dengan harga mulai Rp 50.000. Rista mensyaratkan pembelian minimal sebesar Rp 100.000 untuk dua produk.

Dyah mengungkapkan, rata-rata lima konsumen per hari yang belanja melalui situs online tersebut di bulan-bulan pertama setelah peluncuran. “Sekarang, jauh lebih banyak pelanggan yang memanfaatkan situs belanja ini,” ujarnya.

Untuk mendongkrak penjualan melalui situs belanja online itu, Ristra memberikan bonus menarik. Cara pemesannya pun gampang, konsumen tinggal memilih produk dan mencantumkan identitas di lembar formulir online. Selesai mendaftar, konsumen mendapat kode.

Selanjutnya, konsumen tinggal membayar produk dengan cara transfer ke rekening. “Barang dikirim 2×24 jam dengan garansi produk,” janji Dyah.

Melalui situs ini, konsumen juga dapat bertanya seputar produk serta berkonsultasi dengan dokter kecantikan. Sejauh ini, ada 8 hingga 15 orang per hari dengan kisaran usia 18 sampai 30 tahun yang berkonsultasi dengan dokter kecantikan.

Tentu saja, Dyah mengatakan, penjualan lewat situs belanja online tidak sebesar penjualan reguler di gerai-gerai Ristra dan toko kosmetik lainnya. “Penjualan online tidak sampai 1 persen dari total penjualan di konter Ristra dan toko kosmetik,” kata dia.

Untuk menggencarkan penjualan online tahun ini, Ristra bakal mempromosikan situs belanja online-nya di setiap konter dan membuat stiker untuk ditempel di kaca mobil.

Perusahaan kosmetik Martha Tilaar mencetak penjualan online yang lebih besar. Maklum, mereka sudah merilis gerai online-nya, yaitu http://www.marthatilaarshop.com pada Mei 2009.

Corporate Communication Manager Martha Tilaar Erlisativani menuturkan, penjualan gerai online perusahaannya di 2010 naik 300 persen dibandingkan dengan di 2009. Tapi memang, sumbangan penjualan online tidak sampai 10 persen dari total penjualan Martha Tilaar pada 2010 lalu yang mencapai Rp 800 miliar.

Masih kecilnya sumbangan penjualan online karena Martha Tilaar hanya menawarkan lima dari sembilan mereknya di toko online. Alasannya, tingkat kepercayaan konsumen terhadap belanja online masih minim. “Belum tentu semua konsumen percaya dengan cara ini. Ditambah lagi, tak semua konsumen punya kartu kredit,” ujar Erlisativani.

Toh Martha Tilaar melihat peluang penjualan online bakal bagus. Makanya, “Kami ingin menempuh seluruh jalur pemasaran termasuk gerai online,” kata Erlisativani. (female.kompas.com)

Jalan-Jalan ke Desa Produsen Boneka

Keuletan perajin boneka di Desa Sidokerto Kec Mojowarno, Jombang layak diacungi jempol Mereka masih saja bertahan di usaha kecil ini.

Tujuh ibu-ibu dan peremuan tampak sibuk memotong kain perca di rumah milik Muhammad Najib, salah satu perajin boneka di Desa Sidokerto.

Mereka tampak tekun memotong helai demi helai kain sesuai dengan contoh kertas motif itu. Usai memotong, mereka membawa ke rumah masing-masih untuk dibentuk menjadi boneka yang menjadi satu-satunya penghasilan mereka itu.

Keseharian seperti ini telah mereka lakoni sejak empat tahun lalu. Pekerjaaan yang membutuhkan ketelatenan ini memang menjadi satu-satunya pilihan untuk mengais rejeki, meski hasil yang mereka raih tak sebanding dengan keringat mereka itu.

Kondisi ini juga dialami sang pemilik usaha ini. Najib mengaku, sejak empat tahun lalu, harga boneka buatannya tersebut tak kunjung naik.
Padahal menurutnya, sejumlah bahan baku yang dipakai, beberapa kali mengalami kenaikan.

”Kain dan lem beberapa kali mengalami kenaikan. Tapi harga boneka ini tak ikut naik,” kata Najib.

Bisa demikian, Najib mengaku jika dari hasil produksinya itu, hanya dijual kepada perajin tas yang ada di Gresik dan Pasar Turi Surabaya. Sehingga menurut dia, harga ditentukan oleh dua penampung boneka mininya itu.

”Saya memang hanya melayani perajin tas dan pedagang Pasar Turi Surabaya. Karena memang boneka yang kami buat ini, khusus untuk aksesoris tas,” tutur Najib, pria tiga anak ini, Sabtu (16/2/2008).

Dari boneka yang dibuat itu, ia hanya mendapati harga Rp10-13 ribu per lusin. Praktis, untuk membuat satu boneka ini, ia hanya menerima rata-rata Rp1.000.

Itupun belum termasuk upah karyawan dan pembelian bahan baku berupa kain polar dan bulu yang ia beli dari Semarang dan Bandung itu.

”Untungnya tipis. Tapi yang membuat kami bertahan, ada banyak tenaga kerja yang bisa kami tampung,” kata Najib.

Dia menyebut, sedikitnya 50 rumah tangga ikut berkecimpung dalam usaha kecilnya itu. Mulai dari memotong, isi, menjahit, hingga menjadi boneka yang lucu itu.

Bahkan menurut dia, rata-rata penduduk di desanya menjadi perajin boneka dari tiga perajin yang ada. ”Rata-rata setiap rumah tangga ikut menjadi karyawan, meski bukan karyawan tetap. Karena desa ini memang sentra boneka,” katanya lagi.

Diapun dituntut untuk membuat boneka yang sedang tren di pasaran. Tak jarang, dia harus membeli sampel boneka yang banyak digemari anak-anak maupun dewasa.

Tujuannya, agar produksi boneka ini tetap jalan. ”Sementara ada sekitar tujuh jenis boneka. Mulai dari Sakera, Ikan, Panda dan jenis lainnya,” rincinya.

Kendati dalam kondisi yang demikian, dia mengaku akan tetap menjalankan usaha ini. Selain risiko yang minim, dia juga mengaku tak banyak membuang bahan yang ia beli dengan harga yang terus melambung itu.

”Semua lain perca bisa digunakan. Sisa potongan yang paling kecil, juga bisa dipakai untuk isi boneka,” ungkapnya sembari tersenyum.

Dalam sehari, dia dan puluhan karyawannya tersebut mampu memproduksi sedikitnya 100 lusin bonek berbagai macam bentuk. Memasuki pergantian tahun ajaran sekolah, produksinya bisa melonjak hingga dua kali lipat. ”Karena boneka ini untuk hiasan tas, dan tas itu sendiri ramai pembeli saat awal tahun ajaran baru,” ungkapnya.

Najip berharap, usaha kecil miliknya tersebut mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah setempat. Dia merasa, jika hanya mengandalkan pengiriman daru dua pasar tersebut, harga barang buatannya itu tak akan bisa beranjak naik.

”Minimal kami dibantu promosi ke daerah-daerah lain. Kami berani bersaiong soal kualitasnya,” pungkas Najib. (economy.okezone.com)

Raup Untung Jutaan Rupiah Lewat Bisnis TI

Bagi sebagian orang, berurusan dengan teknologi membuat kepala jadi pusing. Namun, bagi sebagian orang lagi, teknologi bisa menjadi hal yang sangat menyenangkan, bahkan menguntungkan.

Cerdas dan berbakat. Itulah Achmad Zaky. Pria berusia 24 tahun ini memutuskan untuk menggeluti bisnis di bidang teknologi informasi (TI). Zaky mengaku mempunyai hobi dengan apapun yang berhubungan dengan TI sejak masih kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dengan modal awal sekira Rp20 juta, lalu Zaky mendirikan sebuah perusahaan software developer SMS di Bandung pada 2006, yakni Deft Technology. Sebagai seorang wirausaha pemula, omzet yang didapatkannya bisa dibilang cukup besar, yakni sekira Rp15 juta untuk satu produk perangkat lunak. Pada saat itu, biasanya Zaky menangani enam proyek dalam satu tahun.

Setelah lulus kuliah pada 2008, Zaky memutuskan untuk meneruskan bisnisnya di Jakarta. Pasalnya, kata dia, potensi pasar di Jakarta jauh lebih besar daripada Bandung. Sesampainya di Jakarta, perjalanan yang dilalui Zaky tidak semulus seperti apa yang diharapkan. Bahkan, Zaky sempat ditolak beberapa klien ketika menawarkan proposal bisnis.

Namun, Zaky tidak langsung putus asa. Lambat laun, bisnisnya terus berkembang. Pada saat ini, perusahaan yang dijalankan Zaky berganti nama menjadi Suitmedia. Zaky lantas mengajak dua temannya, Nugroho dan Fajrin, untuk ikut bergabung.

“Mereka adalah teman baik saya dan mahasiswa terbaik pula di angkatan saya waktu itu, jadi saya ajak bergabung,” jelas Zaky ketika ditemui di kantornya di bilangan Mampang Prapatan, Jakarta.

PT Kreasi Online Indonesia (Suitmedia) adalah perusahaan yang memberikan berbagai jasa solusi new media seperti membuat perangkat lunak berbasis internet dan mengembangkan aplikasi Android dan BlackBerry untuk beberapa koran nasional. Selain solusi teknis, Suitmedia juga membantu perusahaan untuk menganalisis dan mengembangkan strategi.

“Akhirnya setahun lalu kita baru bikin Suitmedia dan ada badan hukumnya. Sebelumnya kan hanya CV. Saya memiliki rekan kerja yang sangat kompeten. Di sisi lain, saya tidak mau hanya kerja saja, tapi juga terpanggil untuk creating jobsdan memberikan manfaat terhadap orang lain lewat produk kami,” kata Zaky.

Menurutnya, Suitmedia telah dipercaya menangani proyek dari perusahaan-perusahaan besar, sebut saja Samsung, Telkomsel, dan PT Recapital Advisors. Maka, tak pelak, omzet yang didapat Zaky pun terus bertambah. Hingga akhir tahun 2010 saja, Suitmedia mampu meraup omzet sekira Rp800 juta, dengan modal kerja sebesar Rp40 juta per bulan. Zaky pun optimistis akan mendapatkan omzet hingga Rp1 miliar pada  2011.

“Sebenarnya ada enam proyek baru,tapi tiga di antaranya dikerjakan pada 2010. Adapun tiga proyek lain dikerjakan pada 2011,” tutur Zaky.

Suitmedia merupakan induk usaha dari beberapa anak usaha seperti Bukalapak.com. Pada saat ini, jumlah pengunjung Bukalapak.com sudah mencapai 11 ribu orang dengan page view sebanyak 200 ribu.

Padahal, website yang berbasis jual beli online ini baru resmi beroperasi pada April 2010. “Kami sadar manfaat Bukalapak.com ini banyak, tapi ada komunitas khusus yang bakal merasakan manfaat lapak ini. Nah, kami excited dengan hal ini,” papar Zaky.

Untuk memperkuat fondasi bisnisnya, Zaky melakukan dua pendekatan, yakni secara eksternal atau dengan klien dan internal atau dengan sumber daya manusia (SDM) di dalam perusahaan.

“Yang penting adalah bagaimana kita memberi nilai tambah yang lebih besar. Misalnya, kami janji memberikan lima, tapi pada hasil akhirnya memberikan tujuh, jadi klien juga senang. Untuk mendapatkan klien baru, biasanya kita terus menjalin komunikasi, mulai dari obrolan secara nonformal. Di situ kita jadi tahu kebutuhan mereka. Networking penting sekali,” ujar Zaky.

Selain itu, SDM juga merupakan salah satu poin yang menjadi prioritas Zaky. Pada saat ini, Suitmedia telah mempunyai karyawan 13 orang. Ke depan, Zaky akan merekrut tambahan SDM. “Kita sangat concern untuk pengembangan SDM, maka ada konsep mentor. Jadi seorang manajer harus bisa mementor lah, tidak bisa hanya perintah ini itu,” tutur Zaky.

Menurut Zaky, ke depan, bisnis TI sangat berpotensi besar untuk berkembang. Maka, Zaky berencana melakukan beberapa hal guna memajukan usahanya, yakni mulai dari memperbaiki sistem keamanan di Bukalapak.com hingga membuat website jejaring sosial.

“Ke depan, rencananya akan mengembangkan potensi-potensi yang kami punya. Untuk saya, bisnis adalah menciptakan nilai tambah,yakni bagaimana kita menyelesaikan masalah klien. Kita pikirkan yang terbaik untuk mereka,” ujar Zaky.

Zaky mengakui, hingga saat ini, dia masih terkendala beberapa hal seperti masalah komunikasi, terutama dengan klien asing, keterbatasan SDM hingga cara mengatur pemasukan dan pengeluaran.

“Tantangan berbisnis yang terbesar ya SDM tadi, rekrutmen sangat susah.SDM kita masih amat sangat susah. Kebanyakan TI di Indonesia lebih ke teknis dan bukan hal-hal yang fundamental seperti konseptual. Saya juga harus belajar bagaimana mengatur pemasukan supaya tidak kebanjiran order,” tegas Zaky.

Tak hanya itu, Zaky juga sadar betapa pentingnya untuk belajar lebih banyak mengenai manajerial. “Maka dari itu, setiap hari Jumat, kita biasanya datangkan tokoh-tokoh yang tahu betul tentang manajerial dan kita bisa belajar bersama di situ. Kawan-kawan di sini juga bisa terpacu masing-masing untuk mengembangkan diri mereka sendiri, melalui open source contohnya. Hal ini kan sangat menarik,” papar Zaky yang lulus kuliah dengan predikat cum laude ini.

Kendati demikian, Zaky memastikan, hingga saat ini dia belum pernah menerima keluhan yang serius dari klien.

“Soal keluhan dari klien ya hampir tidak ada. Mungkin pernah ya, kita kerjakan suatu project, tapi kendalanya lebih ke komunikasi. Bukan merupakan kekecewaan customerpada produk akhir kami,” jelasnya.

Zaky berharap, masih banyak anak muda Indonesia lainnya yang tertarik menggeluti dunia bisnis. Potensi anak muda Indonesia besar sekali. Pesan Zaky ke mereka yang mau memulai bisnis adalah kerjakan yang mereka suka dan tekuni saja. Tekun, sabar, dan kerjakan apa yang disukai. Lantas, jangan selalu ingin hasil yang instan karena semua butuh proses,” tandas Zaky. (economy.okezone.com)

Peluang Bisnis Tas dari Spanduk Bekas

Spanduk, poster, dan baliho boleh saja tidak terpakai lagi. Tapi, dengan sedikit sentuhan seni dan kreativitas, bahan-bahan bekas ini bisa menjadi produk mahal. Selain mengirit dana untuk modal bahan baku, bekas alat promosi tersebut juga bisa mengurangi sampah.

Semangat daur ulang telah menghadirkan produk-produk dari barang bekas. Dari isu lingkungan itu, pada 2006 lalu, muncul tren barang-barang yang terbuat dari bahan bekas spanduk, poster, dan baliho.

Salah satu pemain di bisnis ini adalah, Plastic Works yang memproduksi pelbagai tas dan produk lainnya. Mereka membuat tote bag, tas laptop, koper mini, sandal, dompet, gorden kamar mandi, map folder, dan agenda. “Awalnya, tren ini hanya berkembang di kalangan aktivis lingkungan hidup dan perusahaan untuk langkah Corporate Social Responsibility (CSR) mereka,” kata Aswin Aditya, pemilik Plastic Works.

Saat ini, menurut Aswin, orang-orang yang tak menganut paham hijau pun turut bangga menenteng produk-produk ramah lingkungan buatan Plastic Works. “Segmen pasarnya menengah ke atas, termasuk orang-orang yang has nothing to do dengan isu lingkungan,” ungkapnya.

Wajar saja, karena memang barang produksi Palstic Works berkualitas ekspor. “Sekitar 70% produksi untuk tujuan ekspor ke pelbagai negara, seperti Amerika Serikat, Belanda, Inggris, Australia, Singapura, dan Jerman,” tutur dia.

Aswin menuturkan, perusahaannya pernah mendapat permintaan dari Singapura sebanyak 2.700 pieces, Eropa 3.000 pieces, dan Amerika Serikat 1.500 pieces. “Permintaan kebanyakan dari green organization seperti A Lot To Say asal Inggris,” kata Aswin.

Jika sudah mendarat di negeri seberang, harganya pun melambung. “Tas laptop yang biasa saya jual di lokal Rp 350.000, kalau sudah sampai di luar negeri harganya menjadi € 46 (sekitar Rp 550.000),” ujar Aswin.

Banjir permintaan dari luar negeri itu tak lepas dari peran media. Aswin mengatakan, Stasiun Televisi CNN pernah meliput produknya pada tahun 2009 lalu.

Meski banyak pesanan dari negeri orang, Aswin bilang, ia tetap perlu mengidentifikasi selera pasar lokal. Pembeli di Indonesia biasanya memilih tas satu warna. “Sementara, konsumen Eropa dan Amerika Serikat lebih suka tas yang warna-warni dan eye catching,” imbuhnya.

Soal bahan baku, Aswin tak kesulitan mendapatkan, bahkan dengan harga yang relatif murah. Ia bekerjasama dengan pemulung. Melalui cara ini, Aswin berupaya mensejahterakan pemulung dengan membeli di atas harga standar. “Saya beli Rp 2.000 per kilogram,” katanya.

Selama ini, Aswin bisa merangkai spanduk bekas ukuran 40 m x 2 m menjadi satu tas laptop. Banner ukuran 40 m x 3 m menghasilkan empat tote bag.

Awin memiliki sembilan karyawan untuk mengolah bahan menjadi tas. Proses pembuatannya: Pertama, bahan yang sudah dicuci bersih direndam disinfektan selama setengah sampai dua jam agar steril; baru kemudian dijemur di bawah sinar matahari.

Kedua, bahan dipotong sesuai pola tertentu supaya bisa terbentuk model yang diinginkan. “Bagian ini yang tersulit karena membutuhkan kreativitas membentuk pola tertentu,” ungkapnya.

Ketiga, pola itu dijahit membentuk panel. Keempat, panel disatukan untuk proses penjahitan akhir dengan aksesori lainnya.

Harga aksesori pelengkap bervariasi. Misalnya, tali harganya Rp 9.000 per gulung. Satu gulung tali panjangnya 18 meter untuk membuat tiga hingga empat tas. Harga lining yang dipakai untuk bahan pelapis bagian dalam tas Rp 9.000 sampai Rp 35.000 per meter.

Aswin membanderol produknya mulai Rp 25.000 sampai Rp 350.000, tergantung tingkat ketelitian dan kreativitas. Harga jual memang berkali-kali lipat dari modal. “Di situlah letak penghargaan terhadap kreativitas,” ujarnya.

Selain perorangan, Aswin juga membidik pembeli perusahaan. “Biasanya perusahaan memesan khusus dengan spanduk atau poster bekas berlogo perusahaan mereka,” kata dia.

Bagi pembeli yang memesan dalam jumlah banyak, Aswin memasang harga Rp 30.000-Rp 100.000 per pieces. Tak heran, dalam sebulan, ia rutin meraup omzet Rp 20 juta-Rp 60 juta dari penjualan 500 sampai 1.000 produk.

Untuk pemasaran di dalam negeri, Aswin lebih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Pembeli biasanya datang sendiri ke workshopnya di Ciledug, Tangerang.

Beda dengan Aswin, Tarlen Handayani, pemilik Vitarlenology di Bandung, mengkombinasikan barang baru dan bekas untuk produknya. Ia menggabungkan spanduk dan poster bekas dengan aneka kain tradisional Indonesia. “Saya tertarik untuk mengeksplorasi kain dari daerah Timur Indonesia,” ujarnya. Sehingga, desainnya lebih condong ke pop art yang warna-warni.

Tarlen menjual produk tas laptop, dompet, dan tas belanja dengan harga Rp 40.000 hingga Rp 150.000. Namun, ia tidak memasang harga berdasarkan banyaknya bahan yang dipakai, melainkan tingkat kesulitan pembuatannya.

Konsumen berani membayar mahal untuk menghargai ide dan keunikan produknya. Kebanyakan barangnya dikoleksi oleh para penggila fanatik, yang mayoritas berasal dari kalangan menengah ke atas.

Dalam sebulan Tarlen mampu memproduksi sekitar 100 produk. Jumlah produksinya sedikit karena ia lebih mengutamakan keunikan. Ia menitipkan beraneka produknya di Selasar Sunaryo, Tobucil n Klabs, dan toko buku. (peluangusaha.kontan.co.id)

Potensi Bisnis Kerajinan Berbahan Baku Limbah

Bebek Bulu Lagi BarisProduk ramah lingkungan menjadi tren bisnis baru. Bukan hanya menimbun rupiah, niat ikut menyelamatkan lingkungan pun digaungkan para pelaku usaha ini. Kini, produk kerajinan berbahan baku limbah, seperti koran dan kardus, menjadi bisnis yang populer.

Aktivitas penyelamatan lingkungan atau yang populer dengan istilah go green kini telah mendunia. Banyak pihak berkomitmen untuk ikut serta mensukseskan gerakan ini.

Salah satu cara yang paling sederhana adalah dengan menggunakan produk-produk ramah lingkungan. Baik produsen maupun konsumen harus saling menyadari arti penting kegiatan penyelamatan lingkungan itu.

Belakangan, produk yang cukup sering ditemui yakni, barang-barang memakai bahan baku dari hasil daur ulang sampah. Maklum, bahan ini paling mudah dibuat pelbagai bentuk kerajinan tangan.

Jenis produk yang diciptakan makin beragam. Tak hanya kerajinan tas, produk lainnya, semisal sandal, tempat tisu, kotak kado, vas bunga, dan keranjang ramah lingkungan, pun ada.

Potensi bisnis yang besar tersebut memicu Wisnu Dhata menjalankan usaha CV Art Strawberry di Yogyakarta. Dagangannya berasal dari kertas kardus yang didaur ulang menjadi kertas kraft atau loom.

Lantas, dari kertas kraft ini dibuat aneka bentuk tas kertas atau goody bag, keranjang, tali kertas hingga wadah cantik serbaguna. “Tapi, fokus produk saya itu tas kertas,” katanya.

Tas kertas berfungsi menggantikan kantong berbahan plastik yang relatif sulit terurai di tanah ketimbang bahan kertas. Kapasitas produksi produk ramah lingkungannya sebanyak 300.000 unit per bulan.

Untuk membuat produk kerajinan sebanyak itu, Wisnu butuh hingga 25 ton kertas kraft sebulan. Harga tas kertas buatannya Rp 450 hingga Rp 1.350 per unit. Adapun harga jual kerajinan kotak dan keranjang sekitar Rp 50.000 – Rp 80.000 per unit.

Harga jual produk ramah lingkungannya relatif murah lantaran biaya tenaga kerja bisa ditekan. Ia memberdayakan masyarakat di sekitar Kampung Trini, Yogyakarta untuk membuat bermacam kerajinan tangan itu. “Ada sekitar 100 kepala keluarga yang bisa mendapat penghasilan tambahan dari keterlibatan mereka dalam produksi ini,” ujarnya.

Biasanya, pesanan terbanyak berasal dari kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Cirebon. Tak hanya pesanan lokal, tiap dua bulan Wisnu pun mendapat pesanan dari luar negeri, seperti dari Singapura, Jepang, serta Prancis.

Tiap kali pesan, rata-rata jumlah pembelian dari luar negeri sebanyak 10.000 unit. Omzet dari situ sekitar Rp 20 juta. Bila digabung dengan penjualan di pasar lokal, omzetnya tak kurang dari Rp 100 juta tiap bulan.

Bukan hanya kertas kardus, kertas koran bekas pun bisa menjadi bahan baku. Adalah Yunas Habibillah, perajin dari Yogyakarta yang menggunakan bahan baku kertas koran dan majalah untuk produk kerajinannya. Produknya, seperti sandal, tempat tisu, dompet, tas, dan tempat pensil, diberi merek Dluwang Art.

Yunas juga memadukan kertas daur ulang dengan beragam bahan lain. Antara lain, kain dan kulit sintetis untuk produk kerajinan ramah lingkungannya.

Rata-rata Yunas bisa membuat 500 pasang sandal dengan harga jual Rp 20.000 per pasang. Ia juga mampu membuat 200 unit tas yang harganya mulai Rp 15.000 hingga Rp 100.000 per unit. Kapasitas pembuatan kotak sebanyak 100 unit dengan harga jual Rp 10.000 sampai Rp 100.000 per kotak.

Omzet Yunas memang tidak sebesar Wisnu. Rata-rata omzetnya hanya Rp 10 juta per bulan. “Tapi omzet saya bisa melompat hingga Rp 20 juta ketika mengikuti pameran kerajinan di Jakarta,” katanya. (peluangusaha.kontan.co.id)

Mengolah limbah jarum suntik rumah sakit menjadi duit

Limbah dan sampah rumah sakit menjadi masalah lingkungan pelik, termasuk limbah jarum suntik. Apalagi, kalau limbah ini sampai dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Soalnya, jarum suntik mengandung pelbagai penyakit berbahaya, seperti hepatitis dan HIV/AIDS.

Problem sampah dari rumah sakit, balai pengobatan termasuk apotik sudah lama mengusik pakar kesehatan di negeri ini. Karena itu, sejak 2006 lalu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan alat pengurai sampah sektor kesehatan bernama Destromed.

Alat ini berfungsi untuk menghancurkan sisa jarum suntik. Sebab, jika dibuang begitu saja, bukan tidak mungkin jarum-jarum suntik tadi menyebarkan penyakit berbahaya, atau dipakai ulang oleh orang-orang tidak bertanggung jawab.

“Destromed diciptakan untuk memutus simpul dan mata rantai penyebaran virus penyakit yang dapat ditularkan dari sisa pemakaian jarum suntik,” kata Antonius Rahardjo, Manager Marketing PT Bintang Pratama Utama, satu-satunya perusahaan pembuat Destromed di Indonesia.

Antonius menjelaskan, Destromed mengusung teknologi pengapian alias electrical arc yang dapat menghancurkan bahan metal jarum suntik secara tuntas. Jarum suntik melebur saat terkena panas 1.500 derajat Celcius yang dihasilkan dari daya listrik 200 watt, sehingga menjadi partikel kecil menyerupai butiranstainless.

Tapi, leburan ini steril terhadap kuman, bibit penyakit, maupun mikroorganisme, jadi aman bagi kesehatan. “Bibit penyakit biasanya tertinggal di dalam jarum. Limbah jarum suntik sangat berbahaya dan dapat menjadi momok buat manusia,” ujar Antonius.

Sepi peminat

Seharusnya, kalangan medis terutama rumah sakit dan laboratorium sebaiknya memiliki Destromed untuk mengindari penyebaran penyakit. Sayangnya, menurut Antonius, sampai saat ini, belum banyak pihak yang mengetahui atau menggunakan alat penghancur jarum suntik itu. Sebab, “Kami hanya mengandalkan pemasaran via online dan dari mulut ke mulut,” kata Antonius.

Harga Destromed yang cukup mahal, sekitar Rp 3 juta per unit, juga menjadi kendala. Lantaran, proses pembuatan alat ini cukup rumit dan tidak boleh diproduksi massal. Bintang Pratama hanya memproduksi ratusan unit per bulan. Karena, dalam setiap produksinya harus mendapat pengawasan LIPI sebagai pemegang lisensi.

Sudah begitu, Destromed harus bersaing ketat dengan produk sejenis yang diimpor dari India, Amerika Serikat, dan Taiwan, yang saat ini membanjiri pasar. Apalagi, produk made in Taiwan dijual dengan harga yang lebih miring ketimbang Destromed. “Itu membuat permintaan Destromed tak terlalu banyak,” katanya.

Makanya, Antonius berharap, LIPI mengizinkan perusahaannya memproduksi massal Destromed, sehingga mampu bersaing dengan produk impor. Jika LIPI merestui, Destromed bisa dilepas ke pasar dengan harga Rp 1 juta per unit. Selama ini, permintaan Destromed belum terlalu besar dan berfluktuatif, antara 10-40 unit atau rata-rata 20 unit per bulan.

Dari penjualan itu, Bintang Pratama hanya mengantongi omzet sebesar Rp 20 juta per bulan. Soalnya, setiap Destromed yang laku terjual, sebagian besar harus disetorkan ke LIPI sebagai penemu alat penghancur limbah jarum suntik ini.

Tapi, Antonius yakin potensi pasar Destromed besar. Apalagi, rumah sakit dan laboratorium yang menggunakan mesin ini masih sedikit. Lisensi tunggal yang diberikan LIPI pada 2008 lalu, juga berdampak positif bagi perusahaannya. Pasalnya, akan mempersempit persaingan di tingkat lokal. Jadi, “Persaingannya hanya dengan produk-produk impor,” tegasnya.

Kalau Destromed sudah bisa diproduksi massal, dengan harga yang terjangkau, Puskesmas termasuk klinik-klinik kecil yang banyak tersebar di penjuru negeri ini bisa membeli alat ini. “Tentu akan memberikan efek positif bagi lingkungan dan kesehatan,” kata pria jebolan jurusan Mikrobiologi Lingkungan ITB ini.

Tapi, dalam waktu dekat, LIPI belum akan melepas Destromed untuk diproduksi massal. “Masih dalam tahap ujicoba sehingga masih butuh pengawasan kami,” kata Haryadi, kepala Unit Pelaksana Tugas Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI. Produksi massal baru bisa dilakukan jika proses ujicoba selesai. Sampai kapan, ia tidak bisa memastikan.

Yang jelas, Haryadi bilang, LIPI menyerahkan sepenuhnya proses produksi dan pemasaran Destromed ke pada Bintang Pratama sebagai pemegang lisensi tunggal, walau tetap dalam pengawasan mereka.
Haryadi menambahkan LIPI baru mengeluarkan lisensi alat tersebut sekitar 2 tahun lalu, sehingga masih perlu banyak pengembangan untuk menjadikan Destromed lebih sempurna.

Selain bentuknya yang akan diperkecil supaya lebih ramping dan ringkas, LIPI juga berencana mengembangkan alat ini bisa dibuat dari bahan plastik menggantikan bahan aluminium. Destromed yang lebih kecil dan ringan sangat diperlukan untuk posko kesehatan di wilayah bencana.

LIPI mengembangkan needle destroyer atau alat penghancur jarum suntik merek Destromed sejak 10 tahun lalu. Berangkat dari keprihatinan akan dampak yang ditimbulkan oleh jarum suntik bagi kesehatan dan lingkungan. Keterbatasan dana yang membuat LIPI lama melahirkan alat ini.

Yang pasti, Haryadi menuturkan, Destromed cukup mendapat respon positif dari kalangan medis. Karena, mereka tak perlu lagi memikirkan efek berbahaya dari limbah jarum suntik. Sisa hasil peleburan berupa butiran-butiran stainless yang steril juga bisa dimanfaatkan untuk bahan kerajinan, dengan cara mendaur ulang menjadi bentuk lain. (peluangusaha.kontan.co.id)

Penjualan Kain Songket Melonjak di Musim Pernikahan

Sebagai salah satu kain adat, keanggunan kain songket sudah terkenal. Seperti halnya batik, kain tenun asal Palembang ini kerap dipakai pada berbagai acara adat khas daerah Palembang maupun acara perkawinan. Tak heran, kerajinan kain songket ini banyak diburu pada saat banyak orang menggelar pesta perkawinan terutama di bulan setelah Lebaran.

Karena ada permintaan itulah, kini banyak orang yang menjual kain songket. Salah satunya, Nita Tarnita yang memang berasal dari Palembang.

Nita mulai menawarkan kain songket sejak 1999 Selain membuka toko, Nita juga menjual kain adat ini lewat dunia maya. “Ini merupakan cara ampuh untuk mengenalkan kain songket kepada pembeli dari luar Palembang,” tuturnya.

Langkah serupa juga dilakukan Hadi Putra. Pria Palembang ini mengatakan, penjualan secara online sangat membantu dalam pemasaran kain songket produksinya.

Saat ini, kain songket produksi Hadi telah diboyong oleh pelanggan dari Medan, Toba Samosir, Sumatra Utara, serta Balikpapan, Kalimantan Timur. Hadi melabeli produknya dengan nama Songket Cantik.

Namun, tak seperti pedagang kain lainnya, mereka justru tak meraup omzet tinggi pada masa Ramadhan. Maklum, kain-kain songket biasanya dikenakan pada acara adat atau pesta perkawinan.

Oleh karena itu, Nita sering memanfaatkan momen Lebaran ini justru untuk menimbun stok. Pasalnya, penjualan kain songket paling bagus justru pada bulan-bulan setelah Lebaran. “Penjualan bisa naik signifikan,” ujarnya.

Bila pada bulan-bulan normal Nita bisa mengumpulkan omzet hingga Rp 10 juta, pada saat peak penjualan bisa mencapai Rp 20 juta. Kini, pelanggan Nita tak hanya warga Palembang tapi sudah menyebar di beberapa daerah, seperti Bali, Jakarta, Medan dan Pekanbaru.

Nita pun mengklaim, motif kain songket miliknya termasuk eksklusif karena corak tiap kain tak akan sama. “Setiap motif, hanya dibuat satu kain saja,” ujarnya. Tak heran, Nita membanderol kain songketnya cukup tinggi, yakni mulai Rp 1,2 juta.

Nita memang memproduksi sendiri sebagian songket yang dijualnya. Pembuatan kain songket butuh waktu antara satu hingga tiga bulan, tergantung spesifikasi yang diinginkan konsumen. Selain itu, Nita juga menjalin kerjasama dengan perajin untuk memasok ke tokonya.

Lewat kerjasama ini, Nita dapat mengambil kain songket produksi para perajin yang menjalin kerjasama produksi dengan tokonya. Dia selanjutnya menjual dan mengambil keuntungan dari selisihnya.

Selain kain songket, Nita juga menawarkan kain jumputan dan kain bermotif serat nanas. Setiap pembuatan kain songket membutuhkan waktu yang cukup lama, yakni antara satu hingga tiga bulan, tergantung spesifikasi kain pesanan pembeli.
Hadi juga menempuh cara serupa dengan Nita. Saat ini, dia mempunyai sekitar lima sampai enam perajin tetap yang bekerja di tempat usahanya sendiri.

Dari tiap lembar kain yang laku, Hadi hanya menyerap keuntungan bersih antara 20% sampai 25%. Ia menjual kain songket dengan harga Rp 850.000 hingga Rp 3,5 juta per helai.

Dalam sebulan, Hadi bisa menjual lima hingga 10 kain songket. “Penjualan ini bisa melonjak hingga dua kali lipat pada bulan September hingga November,” ujarnya.

Menurut Nita, bisnis kain songket cukup potensial. Meski demikian, Hadi berharap pemerintah ikut berperan dalam pemasaran dan pengadaan bahan baku kain songket.

Hadi melanjutkan, ongkos produksi yang cukup tinggi. Pengusaha harus mengucurkan dana besar lantaran suplai benang emas untuk membuat kain songket ini harus diimpor dari Amerika Serikat dan Jepang. “Harganya cukup mahal, bisa mencapai Rp 2 juta per kilogram,” tandasnya. (peluangusaha.kontan.co.id)

Toko Online Raup Berkah Ajang AFF

Prestasi tim merah putih di ajang Piala AFF menular ke toko online yang menjual pernak-pernik tim nasional yang ditukangi Alfred Riedl. Penjualan mereka selama bulan ini melonjak hingga 30 persen ketimbang bulan lalu. Selain kaos tim nasional bergambar burung garuda di dada, pembeli juga banyak memesan jaket, syal, sarung tangan, dan sepatu bola.

Gemerlap Piala AFF 2010 yang diikuti delapan negara Asia Tenggara menghipnotis hampir seluruh penduduk Indonesia. Pasalnya, tim merah putih yang dimotori dua pemain naturalisasi Irfaan Bachdim dan Cristian Gonzales tampil gemilang tak terkalahkan dan menembus babak semifinal.

Minat masyarakat kita menonton penampilan tim nasional besutan Alfred Riedl menggila. Terutama yang ingin menyaksikan langsung di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, yang berkapasitas 80.000 orang.

Tentu, tak lengkap menonton tanpa menggunakan atribut tim nasional, terutama kaos. Kalau sudah begini, pedagang pernak pernik yang berkaitan dengan tim garuda senang bukan kepalang. Sebab, mereka untung besar. Termasuk para penjual yang menjajakan jersey tim merah putih melalui internet.

Pramudita Aulia, pemilik KaosBola.com, misalnya. Sejak perhelatan Piala AFF awal Desember lalu, ia mampu menjual minimal lima set kaos dan jaket berbau tim nasional. “Animo masyarakat untuk membeli kaos dan jaket meningkat dibandingkan dengan bulan-bulan biasa yang paling banyak laku cuma dua pieces per bulan,” katanya.

Ia melego kaos tim nasional mulai dari Rp 35.000 hingga Rp 40.000 per potong dan celana Rp 33.000 per pieces. Adapun untuk jaket, ia membanderol dengan harga Rp 50.000 sampai Rp 75.000.

Jualan pernak-pernik tim nasional toko online Munyie.com juga laris manis. Yofita, costumer service Munyie.com, menceritakan bahwa selain kaos dan jaket, sarung tangan, sepatu, bola, hingga boneka berbentuk replika pemain tim merah putih juga ikutan laku keras. “Desember ini, pesanan pernak-pernik tim nasional naik 30 persen,” katanya. Padahal, empat bulan sebelumnya, penjualan Munyie.com adem ayem.

Menurut Yofita, pembeli yang masuk ke tokonya di dunia maya tidak hanya datang dari kalangan perorangan, tapi juga banyak dari kelompok tertentu yang membeli dalam jumlah besar. “Yang paling banyak datang terutama pesanan kaos tim nasional, sarung tangan, syal, dan sepatu bola,” ungkapnya.

Setiap harinya, Munyie.com bisa menjual 10 kaos tim nasional dengan logo burung garuda di dada dan 15 sarung tangan. Sementara, sepatu bola, sejak awal Desember hingga pertengahan Desember, telah laku terjual sebanyak 86 pasang.

Yofita menuturkan, meski mengalami lonjakan pesanan, toko onlinenya tidak serta merta menaikkan harga jual produknya. Sebab, persaingan antarpenjual jersey tim nasional di dunia maya juga cukup ketat pascaprestasi Markus Horison dan kawan-kawan di ajang Piala AFF yang moncer.

Munyie.com menjual kaos tim nasioanl dengan harga mulai Rp 95.000 hingga Rp 100.000 per potong. Lalu, celana dan sarung tangan dengan berbagai ukuran dilego mulai Rp 100.000 per buah. Sedang sepatu bola berkisar Rp 300.000 sampai Rp 450.000 per pasang. Adapun, boneka dihargai Rp 100.000-Rp 150.000.

Memang, penjualan di toko online semacam KaosBola.com dan Munyie.com mengalami peningkatan cukup besar. Tetapi, dibandingkan dengan pedagang kaos dadakan di seputaran Stadion Gelora Bung Karno, penjualan mereka terbilang masih kalah banyak.

Tengok saja Dadang, penjual kaos yang mangkal di Pintu Timur, Gelora Bung Karno. Ia bisa menjual lebih dari 100 kaos tim nasional pada laga semifinal leg pertama, Kamis (16/12/2010) lalu, ketika Indonesia menghadapi Filipina. “Lumayan, dapat Rp 5 juta,” katanya girang. Dadang menjajakan kaosnya seharga Rp 50.000.

Meski begitu, Yofita tidak mau toko online-nya disejajarkan dengan para pedagang di pinggir jalan. Soalnya, pangsa pasar yang disasar jelas berbeda. “Kami hadir sebagai alternatif bagi para pembeli yang tidak punya waktu untuk berbelanja langsung,” ujar dia.

Yofita menegaskan, kualitas produk yang dijual Munyie.com juga boleh diadu dengan barang di toko-toko usat perbelanjaan maupun toko online lainnya. “Kami berani menjamin, produk yang kami jual berkualitas. Bisa dilihat dari bahan baku dan tingkat keawetannya” tegasnya. (bisniskeuangan.kompas.com)

Aroma Laba dari Bisnis Wewangian

Aroma nan wangi memang bisa membangkitkan suasana. Tak heran, banyak orang memakai wewangian untuk ruangan. Potpourry menjadi pilihan bagi banyak hotel dan rumah. Alhasil, usaha pembuatan wewangian yang berasal bunga-bunga kering ini terus berkembang.

Pelbagai jenis wewangian untuk mengharumkan ruangan kian jamak dipakai orang. Salah satunya potpourry atau potpouri. Wewangian yang berasal dari bunga, daun, serutan kayu, dan biji kering ini biasanya dimanfaatkan sebagai hiasan untuk pewangi ruangan di kamar tidur, kamar mandi, atau mobil.

Potpouri kian sering ditemui di pusat perbelanjaan. Harap maklum, proses pembuatan wewangian unik tersebut memang cukup mudah. Bahan bakunya bisa dari tanaman apa saja. Namun, yang paling populer adalah bunga mawar, melati, rosella, akasia, dan bunga edelweis yang kemudian dikeringkan.

Ada tiga cara pengeringan. Pertama, pengeringan dengan menggunakan oven. Cara ini relatif cepat. Hanya saja, warna bunga berubah kecokelatan dan tidak segar.

Kedua, dengan cara digantung atau diangin-anginkan. Cara tersebut memakan waktu hingga dua minggu, tapi warna asli bunga tetap bertahan.

Cara pengeringan terbaik adalah cara yang ketiga, yaitu dengan menggunakan silica gel. Kelebihannya, warna asli bunga tetap bertahan. Waktu pengeringannya pun relatif singkat, yaitu cukup satu hari.

Prinsipnya, silica gel berfungsi mengikat air dan kelembaban yang ada pada bunga. Setelah proses pengeringan selesai barulah ditetesi dengan minyak atau parfum aromatherapy. Wanginya bisa bertahan sekitar sebulan.

Namun, lantaran wangi yang bertahan hanya sebulan, Putri Adimukti Wibisono, pemilik Rempah Putri di Jakarta hanya membuat potpouri bila ada pesanan. “Sistemnya made by order. Saya tidak berani ambil resiko bila tak ada pesanan ,” ujarnya.

Inilah salah satu kelemahan bisnis potpouri. Yakni, produknya yang tidak bisa diproduksi secara massal. Kelemahan lain, yakni sulitnya mencari bahan baku. Apalagi, di kota-kota besar sudah jarang varietas bunga yang unik.

Tak heran, harga potpouri pun terbilang mahal. Putri membanderol produknya per kantong Rp 25.000. Ia bilang, dalam sebulan, minimal melayani 100 pesanan. Jadi omzetnya sekitar Rp 2,5 juta per bulan. Maklum saja, usaha potpouri milik Putri ini hanya bersifat bisnis sampingan dari usaha utamanya, yaitu penjualan produk spa dan lulur.

Lain halnya dengan Hanna, pemilik Miracle Souvenir di Jakarta, yang memproduksi aneka suvenir pernikahan. Tren potpouri turut menaikkan pamor salah satu produk suvenirnya, yakni wadahpotpouri dengan aneka bentuk lucu.

Wadah tersebut kemudian ia isi dengan potpouri yang dibeli secara kiloan di pasar. Permintaannya cukup lumayan. Per bulan ia bisa mendapat 500 pesanan. Produk tersebut ia banderol seharga Rp 17.000 sampai Rp 30.000, tergantung tingkat kesulitannya. Omzetnya per bulan sekitar Rp 15 juta.

Sementara, Rima Tan, pemilik Mekar Utama di Bandung membuat potpouri untuk melayani pesanan rutin dari Hotel Ritz Carlton di Jakarta. Hotel biasanya menggunakan potpouri untuk wewangian kamar.

Tapi, ia juga melayani pesanan bunga kering yang belum diwangikan untuk mal-mal besar, seperti Plaza Senayan dan Plaza Indonesia. Tak heran, dalam sebulan, Rima mampu meraup omzet hingga Rp 25 juta.

Menurut Rima, prospek bisnis ini sangat bagus. Pasalnya, hunian mewah selalu membutuhkan wewangian ruangan. Keistimewaan potpouri bebas dari bahan kimia. “Lebih aman untuk kesehatan,” ujarnya. (bisniskeuangan.kompas.com)

Pupuk Organik Jadi Peluang Bisnis Menjanjikan

Tingginya kebutuhan pupuk serta kenaikan harga eceran ter tinggi pupuk kimia menjadi peluang bagi pupuk organik sebagai pupuk alternatif. Di Bantul produsen pupuk organik semakin bertambah banyak karena permintaan pasar yang cenderung naik.

Suyoto, Ketua Kelompok Ngudi Mandiri, salah satu produsen pupuk organik, Senin (20/12/2010) mengatakan proses produksi pupuk organik butuh waktu 1-3 bulan. Tiap bulan produksinya mencapai 50 ton. Bahan bakunya berupa kotoran ternak dibeli seharga Rp 600.000 per truk.

“Kami yakin permintaan pupuk organik akan terus naik seiring dengan kesadaran petani. Disamping itu naiknya harga eceran tertinggi atau HET akan menjadi pertimbangan petani untuk menggunakan pupuk kimia,” katanya.

Kelompok Ngudi Mandiri mulai memproduksi pupuk tahun 2007 setelah mendapatkan pelatihan dari mahasiswa pertanian Universitas Gadjah Mada. Pada awalnya, bahan baku pupuk menggunakan sampah dari pasar Bantul. Produksinya juga masih dalam skala kecil yaitu 50 kg sampai 400 kg.

Mulanya pupuk yang dihasilkan belum dikomersilkan, tetapi diberikan secara gratis kepada petani. Langkah tersebut dimaksudkan sebagai promosi untuk mengenalkan produk mereka kepada petani dan sekaligus uji kualitas pupuk yang dihasilkan. (bisniskeuangan.kompas.com)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.