Arsip

Archive for the ‘Bisnis Kreatif’ Category

Meracik laba dari gerai khusus ikan lele

Bisnis makanan memang tak ada matinya. Makanya, semakin banyak pemodal di negeri ini yang terjun ke bisnis makanan. Dari jajanan kelas pinggir jalan hingga berkonsep restoran di sejumlah mal.

Eloknya, para pelaku usaha di sektor makanan sekarang juga semakin kreatif menciptakan jenis usaha makanan yang bisa menarik selera pasar. Salah satunya, seperti yang dilakoni Andreas Andi Bayu, pemilik restoran Lele Saurus di Yogyakarta. Restoran ini khusus menjual menu makanan berbahan baku serba ikan lele.

Ada sekitar 32 menu masakan lele di restoran ini. Di antaranya menu lele lombok ijo, lele saus tiram, lele balado, lele asam manis, dan mangut lele. Sesuai dengan nama merek usahanya, Lele Saurus, menu di resto ini merupakan lele ukuran jumbo dengan berat antara 5 ons hingga 2 kilogram (kg).

Harga setiap menu lele di resto ini bervariasi. Mulai dari Rp 6.000 per porsi hingga Rp 50.000 per porsi. Dengan harga yang terjangkau itu, Lele Saurus mendapat sambutan bagus dari pasar.

Untuk semakin melebarkan sayap bisnisnya, Lele Saurus membuka tawaran kemitraan kepada masyarakat yang berminat membuka usaha ini . Saat ini, Lele Saurus memiliki tiga mitra dan empat gerai.

Ada empat jenis paket kemitraan yang ditawarkan Lele Saurus. Yakni, Paket Bedah Resto dengan investasi awal sebesar Rp 40 juta, Paket Mini Resto senilai Rp 72,5 juta, Paket Medium Resto dengan investasi Rp 90 juta, dan Paket Resto senilai Rp 115 juta.

Setiap paket tentu memiliki fasilitas berbeda. Misalnya, Paket Bedah Resto khusus bagi calon mitra yang telah memiliki restoran atau rumah makan, namun ingin memanfaatkan kemitraan Lele Saurus. Setelah paket kemitraan disepakati, manajemen Lele Saurus tinggal datang mensurvei lokasi.

“Pada paket bedah resto, mitra mesti siapkan sendiri segalanya. Kami tinggal branding saja,” kata Andreas.

Sebaliknya pada ketiga paket lain, pemilihan lokasi restoran, peralatan dapur dan makan, serta meja dan kursi makan, menjadi tanggung jawab mitra.

Siapkan lahan sendiri
Dalam Paket Mini Resto, Medium Resto, dan Resto, mitra akan mendapatkan pasokan seluruh perlatan dan perlengkapan usaha. Mitra juga akan mendapatkan materi promo, seperti papan nama, menu, seragam karyawan, dan brosur promosi. Mitra juga mendapat pelatihan dan pendampingan saat awal beroperasi. “Kami juga lakukan survei untuk pemetaan kompetitor dan pasarnya,” imbuh Andreas.

Mitra pun tak usah khawatir soal jaminan pasokan bahan baku. Pasalnya, Lele Saurus akan menjaminnya. “Jadi, mitra tinggal memesan dan membayar bahan baku sesuai kebutuhan restoran tiap bulannya. Biaya ongkos kirim kami bebankan ke mitra,” kata dia.

Namun, mitra harus menyiapkan sendiri gerai usahanya. Tiap paket menuntut luas lokasi berbeda. Buat Paket Resto seluas 50 meter persegi (m²), Paket Resto Medium seluas 40 m², dan Paket Resto Mini seluas 30 m².

Andreas mengklaim, untuk Paket Resto, omzet usaha bisa mencapai Rp 60 juta per bulan. Dengan omzet sebesar itu, mitra akan balik modal dalam sekitar 11 bulan. “Tapi itu semua tergantung lokasi outlet mitra,” ujarnya.

Konsultan bisnis Khoerusallim Ikhsan, menilai, tawaran kemitraan Lele Saurus cukup prospektif seiring tingginya konsumsi ikan lele di negeri ini. “Penetrasi ke kota besar masih terbuka. Tapi, mitra harus pintar mempertahankan kualitas rasa makanan olahan lele. Ini supaya pelanggan tetap loyal,” katanya. (peluangusaha.kontan.co.id)

Menguak Bisnis 'Bodyguard'

Jasa pengamanan artis dan orang penting semakin dibutuhkan saat semakin banyak kegiatan konser dan pertemuan besar. Lantaran bermodal kepercayaan, tidak banyak pemain di bisnis ini bertahan.

Beberapa tahun terakhir, Indonesia rutin menyelenggarakan perhelatan musik, seperti Java Jazz, Jak Jazz, dan Java Rockin Land. Penyanyi atau grup band asing sering menjadikan negara ini bagian rangkaian tur. Tren ini ikut menyuburkan bisnis jasa pengamanan atau pengawalan (bodyguard) artis atau tamu superpenting (VVIP).

Faktor keamanan merupakan hal paling mendasar dalam dunia pertunjukan. Marcia Rahardjo, Presiden Direktur Indika Production, mengaku, “Apa pun bisa terjadi dalam sebuah pertunjukan.” Adrie Subono, Chief Executive Officer (CEO) Java Musikindo, menambahkan, semakin besar jumlah tiket yang terjual, jasa pengamanan semakin dibutuhkan.

Tidak banyak pemain di bisnis khusus ini. Erby Dwitoro, Business Development Manager P1 Force Security, mengaku sudah mengawal tak kurang dari 556 artis dan orang penting sejak berkecimpung di bisnis pada tahun 1990. “Pertama kali, kami mengawal Richard Marx,” ujarnya.

Denny, pemilik PT Garuda Satria, yang berdiri sejak 2005, menyebutkan, tiap bulan paling sedikit mengawal dua sampai tiga artis lokal dan internasional. Untuk mengawal satu artis, ia biasanya mengerahkan 10 personel. “Tiap personel dibekali dengan skill bela diri dan senjata api,” ungkapnya.

Baik Erby maupun Denny menyatakan, sebagian besar permintaan jasa datang dari event organizer (EO) ataupun promotor musik. Tapi, sering, pemain bisnis ini langsung mendapat pesanan dari artis. “Malas kalau harus berurusan dengan EO yang ternyata bermasalah dari segi pendanaan,” ujar Adi Mahfudz, Presiden Direktur PT Esa Garda Pratama.

Erby menuturkan, jasa yang diberikan meliputi pengamanan secara personal ke artis, mulai dari kamar hotel hingga di atas panggung. “Pengamanan lebih difokuskan untuk menghindari benturan atau kontak fisik antara fans dan artis,” terangnya.

Layanan ke artis luar biasanya mulai dari bandara, kegiatan di hotel, perjalanan ke venue, dan pengantaran kembali ke bandara. “Artis luar selalu mengkhawatirkan faktor keamanan di Indonesia,” terang Erby.

Adi menerapkan sistem keamanan tertutup dan terbuka. “Tergantung dari permintaan,” terangnya. Sistem keamanan tertutup hanya mengamati si artis dari jarak jauh, sementara pengawasan dengan sistem terbuka dilakukan dari jarak dekat. “Setiap personel dilengkapi dengan skill bela diri, komunikasi, dan senjata api jika perlu,” ungkapnya.

Tarif sesuai dengan risiko

Meski tanggung jawabnya gede, sikap ke klien harus tetap menyejukkan. “Personel pengamanan juga harus bisa menjadi teman dan kooperatif dengan si artis,” papar Erby. Tapi, “Tetap harus menjaga privacy si artis,” tambah Adi.

Tarif jasa layanan ini berbeda-beda. Erby menuturkan, fee tergantung dari tingkat kesulitan pengamanan, salah satunya diukur oleh popularitas artis. “Biasanya kami mematok tarif Rp 1 juta sampai Rp 2 juta per 24 jam,” ungkap Erby. Jika event itu tur, ia biasa memasang harga paket dengan tarif tertinggi mencapai Rp 200 juta.

Denny menambahkan, makin besar risiko, makin mahal fee-nya. Tarifnya berkisar mulai Rp 1 juga sampai Rp 5 juta. “Paling murah untuk event sekelas kafe,” terang pria yang sering mengawal Ahmad Dhani ini.

Adi menjelaskan, khusus sistem kontrak, besar fee minimal Rp 20 juta. “Kami hanya mau mengawal artis yang reputasinya bagus,” catatnya.

Cukup banyak pemain di bisnis ini, tapi hanya sedikit yang bertahan. Sebab, layanan ini harus pintar melihat kebutuhan klien, tak cukup hanya bermodal badan tegap. Sebagai pemakai, Marcia menuntut jasa pengamanan mampu bertindak cepat dan tepat dalam keadaan apa pun.

Tak mudah mewujudkan syarat itu. “Ini bisnis kepercayaan. Sekali pemakai jasa kami kecewa, selamanya kami tidak akan dipakai lagi,” ucap Denny.

Ada yang berminat? (bisniskeuangan.kompas.com)

Kategori:Bisnis Kreatif Tag:

Bekerja Di Rumah, Mengapa Tidak?

Desember 31, 2010 Tinggalkan komentar

Ada sejumlah hal yang perlu dipertimbangkan masak-masak sebelum memutuskan untuk mulai bekerja di rumah. Pertimbangan apa sajakah itu?

Bila mulai berpikir untuk bekerja di rumah, ada baiknya Anda memiliki konsep bagus tentang bagaimana sebaiknya bekerja di rumah. Anda mungkin membayangkan, tak perlu lagi bangun pagi di jam tertentu, sarapan terburu-buru, duduk di ruang kerja, dan memulai pekerjaan dengan ceria.

Tetapi, pada kenyataannya tak selalu seindah yang dibayangkan, lho! Biasanya, seseorang justru harus bekerja lebih keras bila ia menekuni bisnisnya di rumah, dibandingkan bila bekerja di suatu perusahaan.

Memang, sih, bekerja di rumah akan memberi banyak keuntungan. Salah satunya, yang mendasari para ibu memilih menjalankan bisnis di rumah, adalah bisa dekat dengan anak. Nah, berikut ini sejumlah hal yang harus dipertimbangkan sebelum Anda mengambil keputusan bekerja di rumah.

1. Berapa Penghasilan Yang Diharapkan?
Sesudah menuliskan jumlah penghasilan yang diharapkan, tulis pekerjaan yang akan dilakukan di rumah dengan estimasi jumlah penghasilan yang akan diperoleh. Jangan lupa, perhitungkan pula tagihan telepon, listrik, dan peralatan lain yang digunakan jika memutuskan bekerja di rumah.

Lalu, bandingkan jumlah penghasilan tadi dengan jumlah penghasilan bila Anda bekerja di suatu perusahaan, sesuai dengan bidang yang dikuasai, lalu dikurangi uang transportasi dan uang makan yang harus Anda keluarkan.

2. Masih Perlukah Tambahan Fasilitas?
Pada umumnya, bekerja di rumah tak ada “benefit” seperti asuransi kesehatan atau asuransi jiwa. Namun, tentu saja ada beberapa pengecualian.

3. Pekerjaan Yang Tersedia
Bila dipekerjakan sebagai tenaga lepas misalnya, Anda harus mengerti, perusahaan yang pemberi pekerjaan tak wajib selalu memberi pekerjaan. Ada masa sibuk dan masa tenang.

Selama masa sibuk, mungkin Anda akan bekerja sampai 40-50 jam per minggu dan pada masa tenang hanya bekerja 10 jam per minggu. Bila penghasilan menjadi sangat penting bagi kebutuhan rumah tangga, Anda harus betul-betul menyadari hal ini.

Mungkin karena faktor itu pula, banyak orang memilih bekerja lebih dari satu jenis pekerjaan di saat yang sama, karena bila pekerjaan yang satu sedang tidak padat, mereka dapat mengerjakan proyek/ pekerjaan lainnya.

4. Apa Yang Memotivasi?
Bila Anda termasuk tipe orang yang selalu harus diberi dukungan dan dorongan, maka bekerja di rumah akan terasa sangat sulit. Anda harus betul-betul disiplin pada pekerjaan. Apalagi di rumah, Anda akan menghadapi banyak godaan.

Jadi, sikap disiplin, konsisten, dan fokus pada jadwal dan jam kerja yang telah ditentukan sendiri, harus ditaati. Persis seperti bila Anda bekerja di suatu perusahaan.

5. Keberatankah Dengan Suasana Sunyi?
Suasana bekerja di rumah tak sama dengan suasana bila bekerja di suatu perusahaan yang memiliki banyak pegawai. Bekerja di rumah, bila tak bekerja sendiri, paling hanya dibantu 1-2 asisten. Bila Anda biasa bergaul dan tak tahan dengan rasa sepi, bekerja di rumah akan terasa sulit dan menyiksa.

Tak mudah bagi Anda untuk menyesuaikan diri. Namun, walau bagaimanapun, Anda bisa tetap menjalin hubungan dengan teman-teman dan bertemu secara berkala. Bisa juga chatting dengan teman-teman melalui internet.

6. Fleksibilitas
Ada perusahaan yang meminta pegawainya bekerja sesuai jam kerja yang sudah ditentukan, tetapi ada juga yang lebih fleksibel dan mau menerima jam kerja yang Anda tawarkan, sebagai freelancer. Anda yang harus menentukan, tipe jam kerja seperti apa yang cocok bagi Anda. Pertimbangkan yang terbaik bagi Anda.

7. Penitipan Anak
Banyak kaum ibu ingin bekerja di rumah agar dapat memperhatikan anak sehingga tak perlu menitipkan anaknya di tempat penitipan anak. Padahal, bekerja di rumah dengan anak yang masih balita tidaklah mudah, karena perhatian Anda akan terbagi antara pekerjaan dan anak. Tetapi semuanya tergantung dari jenis pekerjaan yang dilakukan. Semakin besar usia anak, semakin mudah bagi Anda untuk bekerja di rumah.

8. Pilih Pekerjaan Yang Disukai
Hal ini sangat penting! Mungkin saat ini Anda merasa tak penting dengan jenis pekerjaan, sejauh mendapatkan uang. Percayalah, hal ini tak akan bertahan lama. Untuk bekerja di rumah, yang Anda perlukan adalah selalu memiliki motivasi dan disiplin diri yang besar, ditambah jenis pekerjaan yang Anda sukai!

Anda harus menyadari, termasuk tipe bagaimanakah Anda untuk tipe pekerjaan yang cocok. Apakah Anda kreatif atau pekerja keras? Cari tahu visi Anda tentang bekerja di rumah dan temukan pekerjaan yang sesuai.

9. Apakah Memang Ingin “Bekerja”?
Bila seseorang mengatakan ingin bekerja di rumah, berarti ia tak menginginkan pekerjaan tetap dan tak mau terikat. Yang mereka inginkan adalah kebebasan untuk mengatur jadwal dan jam kerja, serta melakukan pekerjaan yang memang disukai.

Tentu saja tak ada yang tak mungkin. Demikian pula dalam menemukan jenis pekerjaan seperti yang diinginkan. Namun, hal ini tak semudah yang dibayangkan. Pertimbangkan untuk memulai usaha sendiri dengan memusatkan talenta dan kemampuan. Bila pengetahuan Anda mengenai wiraswasta belum memadai, mulailah dalami. Anda bisa tnemukan sumbernya dari internet, buku, seminar, atau orang yang berpengalaman.

Tanpa melihat jenis pekerjaan yang Anda tentukan, yang harus dipahami, bekerja di rumah tidaklah semudah yang dibayangkan dan juga sangat menantang. Tetapi, banyak yang telah melakukannya mengatakan, bekerja di rumah cukup menyenangkan. Nah, bila artikel ini memberi kesan bekerja di rumah mungkin tak cocok bagi Anda, jangan lupa bila Anda bisa saja berubah pikiran.

Bila tak terlalu termotivasi, sebaiknya pelajari dan cari tahu apa sebabnya. Berikan tantangan pada diri sendiri setiap hari dan perkuat disiplin diri. Bila kemauan cukup kuat, yakinlah Anda pasti dapat merealisasikannya. Jangan pernah menyerah pada impian Anda! (tabloidnova.com)

Kategori:Bisnis Kreatif Tag:,

Bisnis Pakaian Hamil yang Modis

Desember 29, 2010 Tinggalkan komentar

Di zaman serba canggih seperti saat ini, ibu hamil sudah tak perlu pusing soal fashion. Banyak perempuan yang mengembangkan bisnis pakaian hamil, yang bisa menopang tubuh agar tetap proporsional selama menanti kehadiran sang buah hati.

Celana kantung perut
Melalui situs http://www.hamilcantik.com, Nuniek Tirta mengumpulkan kebutuhan fashion khusus ibu hamil. Salah satunya produk celana hamil. Celana hamil yang dijual Nuniek, memiliki kain lebar berkaret di bagian perut yang mengikuti besar kecilnya perut.

Ada juga celana tanpa kantung perut, tapi memakai tali berkaret untuk membesarkan atau mengecilkan celana. “Bagi wanita biasa, celana berkaret ini juga bisa dipakai. Bahannya juga bersifat stretch, jadi dipakai kapan saja bisa. Banyak, lho, ibu-ibu yang beli celana hamil ini.”

Jika usia kehamilan sudah 3 bulan ke atas, Nuniek menyarankan agar ibu hamil memakai celana berkantung perut karena lebih nyaman dipakai. Harga yang dipatok Nuniek adalah Rp 105 ribu untuk celana berkantung perut, dan Rp 100 ribu untuk celana serut biasa. “Yang paling laris adalah celana kantung perut dan celana kain warna hitam,” kata Nuniek yang memulai usahanya dari menjual baju hamil.

Gara-gara memakai baju hamil yang lucu, banyak temannya yang tertatik membeli. “Saat ada stok lebih, iseng-iseng saya foto dan dimasukin ke milis, eh ternyata laris. Selain baju hamil, banyak yang minta celana jins juga atau celana hamil kantoran,” papar ibu dua anak ini.

Menghadapi para pesaing, Nuniek memilih memperbanyak model dan pilihan celana. “Jika ada yang minta model tertentu, saya usahakan mencari. Yang paling penting, semua barang yang saya jual pasti sudah dicoba dulu saat hamil. Kalau enggak, saya tak mau jual. Makanya tidak asal jual, tapi tetap memperhatikan kualitas.”

Selanjutnya, Nuniek sangat ingin membuat sendiri celana hamil. “Banyak yang pesan. Tetapi, ingin kursus menjahit dulu karena tak bisa menjahit. Setidaknya saya harus tahu membuat patron agar hasilnya lebih bagus.”

Sayangnya, saat ini kendalanya ia tak punya karyawan, sehingga produksi agak tersendat. “Tentu saja yang terpenting, modelnya harus diperhatikan. Saya lebih mengarah ke model pensil tapi ada kantung perutnya.”

Celana lama dengan ekstension
Bermula dari kesulitan dua sahabat Carla Lydra dan Retna Witono mencari celana hamil saat berada di Australia, mereka pun sepakat membuka bisnis melalui situs http://www.vienband.com. Begitu pulang ke Jakarta pada 2006 mereka pun membuat Vienband. Bisnis dengan modal awal Rp15 juta ini menemui kendala utama pada bahan karet.

“Kelihatannya gampang, padahal sebenarnya sulit, lho. Untungnya kami senang menjahit, jadi ada gambaran sedikit tentang cara pembuatannya. Kami mencari kualitas karet yang elastis agar tetap bisa dipakai terus, tidak hanya sekali pakai. Lalu kain penutup dipilih dari bahan katun karena mudah menyerap keringat. Dicuci pun akan lebih mudah,” cerita Carla, ibu dua anak.

Vienband adalah kain penyambung yang bisa digunakan pada celana biasa. Celana lama pun bisa dipakai dengan menyambungkan Vienband ini dari lubang kancing dan bagian kancing.

“Celana apa saja bisa, mau kain atau jins bisa, asal yang ada kancingnya dan bukan yang memakai kaitan. Vienband terdiri atas karet penghubung dan kain penutup. Karet dimasukkan ke kain, lalu dikancingkan ke celana. Kain itu sebagai penutup celana yang sudah tak bisa diritsleting ketika perut makin membesar saat hamil,” kata Retna.

Kain penutup dengan tiga warna, biru, hitam, dan krem pun bisa dipadupadankan dengan celana lain. “Jadi, kalau celana panjangnya biru, pakai kain biru. Tidak hanya celana panjang, rok juga bisa tapi tidak bisa lama,” cerita Retna.

Mematok harga Rp 72.500, konsumen bisa langsung mendapat 3 ekstension ukuran S, M, L, dan tiga kain penutup warna hitam, biru, krem. Manfaatnya, bagi ibu-ibu yang ingin tetap rapi ke kantor, tapi enggan memakai celana longgar, masih bisa tetap tampil menarik.

Masih dalam rencana, ke depannya, mereka ingin membuat kemben agar bisa menutupi ekstensionnya. Hanya saja kendalanya ada pada bahan. “Sebenarnya produk ini sudah cukup memenuhi kebutuhan ibu hamil, kok.”

Belly Bandit, favorit selebriti dunia
Berawal dari hobi jalan-jalan, suka anak kecil dan aneka pernak-pernik, April tahun lalu Blenda Ticoalu (27) membuka Baby Empire, toko yang menjual berbagai kebutuhan anak dan ibu hamil. Tak hanya toko offline, Blenda juga melayani penjualan online di situs http://www.babyempire.net.

Salah satu produk yang paling laris di tokonya adalah Belly Bandit (BB) produksi Amerika. Di luar negeri, BB sudah dikenal, bahkan dipakai banyak pesohor dunia. Belly Bandit adalah korset yang terbuat dari bahan bambu tapi tak terasa kasar.

“Justru bambu adalah material paling halus di atas bahan organik. Usai hamil biasanya ibu-ibu pakai korset biasa untuk mengembalikan kondisi perut yang kendur akibat hamil. Tetapi, kadang terasa sakit karena ada kawat, dan bahannya membuat gerah.”

Nah, dengan menggunakan BB, pemakainya bisa bebas bernafas. “Mau dipakai berapa jam saja, rasanya seperti enggak pakai korset. Apalagi jika dipakai ibu-ibu yang habis melakukan operasi Caesar dengan kondisi jahitan yang masih yang basah. Dengan memakai ini, jahitan bekas operasi cepat kering. Bahkan langsung pakai pun tidak apa-apa,” cerita Blenda yang sudah mencoba sendiri produk ini.

Tak hanya sekadar mengembalikan kondisi perut, BB juga bagus untuk ibu menyusui. “Biasanya ibu-ibu, kan, masih lemah tapi harus menyusui. Akibatnya bisa menimbulkan efek bungkuk saat menyusui. Dengan produk ini, postur tubuh tetap bagus. Jadi, sangat membantu banget,” papar Blenda yang mematok harga Rp 1,2 juta.

Salah satu pelanggan Blenda adalah Pamela (27) yang telah membuktikan keunggulan BB. “Tadinya saya memilih korset untuk memulihkan kondisi perut usai melahirkan. Lalu saya dikenalkan produk ini dan tertarik. Apalagi sudah banyak artis luar memakai juga. Dipakainya memang nyaman di kulit, adem, dan enggak panas,” kata Pamela.

“Habis melahirkan, perut saya jadi gede banget dan ingin kembali kecil. Supaya hasilnya maksimal, saat pergi dan tidur pun tetap dipakai. Waktu dikenakan pun tidak kelihatan tebal, lho. Selama 3 bulan dipakai, sampai perutnya kembali rata. Tetapi, saya juga berolahraga setelah tiga bulan melahirkan. Sekarang saya tinggal menurunkan berat sebanyak 5 kg lagi,” kata ibu dari Cherish Tio (5 bulan) ini sambil tersenyum. (female.kompas.com)

Bisnis Katering dengan Menu Sehat

Desember 29, 2010 Tinggalkan komentar

Kesadaran penduduk kota besar untuk mengonsumsi makanan sehat tampaknya semakin meningkat. Terbukti dari semakin banyaknya rumah makan yang menyajikan makanan sehat. Begitu juga katering yang khusus melayani pelanggan yang ingin mendapatkan menu dengan gizi seimbang, bahkan yang khusus menu vegetarian.

Salah satu usaha katering yang menyajikan menu-menu sehat ini adalah My Choice, yang dirintis oleh Merry Syanti Dewi sejak 2003.

Katering ini menyajikan menu masakan yang diklaim menggunakan bahan-bahan yang sehat dan menerapkan gizi seimbang. Bahan-bahan masakannya menggunakan bahan organik, sedangkan nasi putih digantikan dengan beras merah, ubi merah, dan roti gandum.

My Choice juga tidak menggunakan penyedap masakan, seperti vetsin, bahkan tidak menggunakan garam. Kunci dari cita rasa masakannya adalah bumbu-bumbu yang didapatkan dari penggunaan buah-buahan. Contohnya, rasa asam diperoleh dari jeruk lemon, jus jeruk, atau apel, sedangkan rasa manis dari kayu manis. Sup tom yam, misalnya, bumbunya diracik dari buah apel, belimbing, jus jeruk, tomat, dan lemon.

Untuk beberapa makanan yang menggunakan santan, Merry menggantikan santan dengan susu kedelai. Kebanyakan menu yang disajikan dibuat dengan cara direbus atau dikukus atau ditumis dengan sedikit minyak.

“Minyak yang kami gunakan adalah minyak canola dan olive oil. Dua jenis minyak ini tergolong nonkolesterol dan aman untuk memasak,” ujarnya kepada Kompas Female.

Menu yang ditawarkan katering My Choice kebanyakan menu ala Barat, seperti chicken fillet, tenderloin steak, salmon steak, meat loaf, chicken honey, atau chicken pasta. Untuk satu set menu (lengkap), Merry mematok harga Rp 60.000-Rp 130.000, sudah termasuk ongkos kirim. Satu set menu lengkap terdiri atas sup, salad, menu utama (daging/ikan/ayam), dan dessert (jus, susu kacang, buah atau jelly).

Segi kesehatan dan keamanan juga diperhitungkan oleh Merry dalam menyajikan masakannya. Ia tidak menggunakan kotak kardus atau styrofoam, tetapi wadah yang berkategori foodgrade (aman untuk masakan panas).

Anak ikut kontes kebugaran
Ide awal mendirikan My Choice berasal dari anak tertua Merry, Felix Cahyono, yang pada 2003 berniat mengikuti kontes kebugaran yang diselenggarakan oleh tempat fitnesnya.

Merry, yang saat itu memang sudah memiliki usaha katering, lantas berinisiatif menyiapkan sendiri makanan sehat buat sulungnya itu. Ia hanya mengandalkan kemampuannya memasak untuk mencoba-coba berbagai menu makanan sehat. “Saya menggunakan panduan memasak sehat untuk diet olahragawan. Semua rata-rata menu dari buku masakan asing,” katanya.

Apabila selama ini makanan sehat identik dengan rebus-rebusan, hambar, dan tidak memiliki rasa, di tangan Merry makanan sehat memiliki cita rasa yang tak kalah dengan makanan pada umumnya. Bisa ditebak kemudian, teman-teman Felix ternyata menyukai masakan Merry. Dari sanalah pesanan makanan sehat bermula.

Usaha katering pun beralih mengkhususkan diri menyajikan menu sehat. Merry sadar, saat itu konsep makanan sehat belum populer di kalangan masyarakat. Untuk memperkenalkan kateringnya, Merry menyebarkan flyer ke berbagai pusat kebugaran, fakultas kedokteran di Universitas Atma Jaya, apotek, sport club, hingga rumah-rumah biasa. Ia juga menawarkan kerja sama dengan beberapa majalah kesehatan, seperti Prevention dan Muscle.

Agar informasi mengenai bisnisnya makin mudah dijangkau khalayak, “Kami membangun website khusus dan Facebook,” ungkap Merry.

Pada 2006, Merry berhasil menjalin kerja sama dengan Celebrity Fitness untuk memberikan demo masakan sehat. Untuk mendapatkan pelanggan, Merry menerapkan semacam sistem multilevel marketing. Para personal trainerdiajak ikut menggaet pelanggan. Jika berhasil, mereka akan mendapatkan keuntungan sebesar 10 persen per bulan.

Orang yang belum mengenal katering My Choice tentu masih ragu untuk menerima tawaran ini. Untuk itu, Merry memberikan beragam jenis diskon, misalnya diskon 15 persen untuk mereka yang ingin mencoba, diskon satu kali gratis pengiriman dalam satu bulan untuk pelanggan, dan jika pelanggan berhasil mendapatkan tiga pelanggan baru, mereka mendapat bonus gratis ongkos kirim.

Keuntungan Rp 30 juta-Rp 40 juta per bulan
Mendirikan katering dengan segmentasi khusus, seperti My Choice, menurut Merry, membutuhkan modal yang ekstra. Modal awal sebesar Rp 100 juta digunakannya untuk membeli peralatan memasak khusus yang diimpor dari Amerika, bahan makanan, wadah saji, sarana transportasi, hingga iklan atau kegiatan demo.

Setelah bisnis berkembang, Merry juga masih menemui sejumlah kesulitan. Mulai dari pangsa pasar yang terbatas, pelanggan yang rata-rata cepat bosan, atau pelanggan yang mengeluhkan rasa masakan yang hambar atau rasa kurang pas.

Rata-rata pelanggan juga mengeluhkan harga masakan yang mahal. Namun, Merry selalu berusaha menjelaskan bahwa harga yang mahal itu dikarenakan penggunaan bahan-bahan, pengemasan, hingga menu dan porsinya yang diperhitungkan dengan cermat.

“Akhirnya mereka sadar kalau harga itu sangat reasonable,” ungkap perempuan yang juga membuka toko penganan di Mal Ambassador, Jakarta Selatan, ini.

Karena keterbatasan lingkup pemasarannya itulah, rata-rata pelanggan Merry saat ini adalah personal trainer, anggota pusat kebugaran, dokter, hingga orang-orang yang memiliki problem kesehatan, seperti diabetes, hipertensi, dan sakit jantung.

Hingga saat ini, order yang datang mencapai 20-30 boks per hari. Jumlah ini di luar pesanan arisan, ulang tahun, atau pesanan dalam jumlah besar lainnya. Dalam sebulan, Merry bisa meraup keuntungan bersih Rp 30 juta-Rp 40 juta.

Berangkat dari kebiasaan makan makanan sehat dalam keluarganya, kini Merry bisa menularkan kebiasaan tersebut kepada masyarakat umum. Dan, mendapatkan keuntungan darinya. (female.kompas.com)

Berusaha Makmur dari Bisnis Jamur

Desember 29, 2010 Tinggalkan komentar

Bisnis makanan jamur olahan semakin terus menjamur. Tak sedikit para pelaku bisnis ini yang mencicipi kenyalnya laba jamur olahan. Bagi pasangan karib Nur Cholis dan Tririan Ariyanto, bisnis snack jamur alias kudapan jamur yang mereka rintis sejak dua tahun silam bukan asal-asalan.

“Ide awalnya ingin membuka warung makanan kecil-kecilan tapi jenisnya makanan sehat dengan rasa terjamin. Kebetulan, waktu itu teman saya punya kenalan petani jamur. Dari sinilah ide ini berkembang,” ujar Nur Cholis, pemilik gerai Muhsroom Factory mengawali percakapan.

Diceritakannya, tiga tahun silam, bisnis makanan ringan semacam ini masih dianggap remeh-temeh. Sampai saat ini pun, pelaku usaha sejenis masih bisa dihitung dengan jari. Tak hanya di Surabaya, bisnis makanan jamur olahan juga bisa dijumpai di daerah Bogor, Bandung, Jakarta. Jenis makanannya pun bervariasi, mulai jamur dibungkus tepung lalu digoreng, sate jamur, hingga nugget jamur.

Rasanya mak nyus! Kenyalnya mirip daging. Lidah penikmat menu vegetarian tentu mengakrabi rasanya. “Di Muhsroom Factory kita sediakan dua rasa, original dan tasty. Rasa original paling sering dibeli,” imbuhnya.

Jamur yang diolah saat ini jenis oyster atau tiram putih, enoki, dan jamur kancing. Cara mengolahnya cukup gampang. Jamur mentah dibungkus tepung plus bumbu rahasia kemudian digoreng dengan mesin penggoreng elektrik (deep fryer). Toppingnya sesuai selera, bisa saos merah mayonaise atau taburan keju. Jadilah kudapan lezat siap dinikmati.

“Saya tidak main-main ketika membuka gerai ini. Berapapun modalnya meskipun harus jual motor, kamera dan utang lewat kartu kredit saya rela. Saya melihat potensi makanan ini cukup bagus, belum ada pemain yang kuat di bidang ini,” sambungnya.

Jiwa wirausaha yang ia miliki diturunkan dari sang ayah. Sejak mahasiswa, pria kelahiran Surabaya 15 Maret 1984 ini sudah ulet berdagang, mulai kaos, kosmetik, sampai handset BlackBerry yang waktu itu masih belum se-booming sekarang.

“Hobi saya jualan apa saja. BlackBerry sekitar lima tahun lalu masih dianggap ponsel China sehingga harganya masih Rp 750.000. Pesanan dari teman-teman waktu itu cukup bagus,” kenang mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair ini.

Sekitar tahun 2005, Nur Cholis dipertemukan dengan teman SMA-nya Tririanto di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) Padang. Ide membuka usaha pun bersambut. Mushroom Factory kini digawangi satu lagi teman sekolah mereka ketika duduk di bangku SMAN 1 Sidoarjo yakni Rizal Atmaja.
“Saat ini kita kerjasama dengan petani jamur di Malang, dulu dengan petani jamur di Pacet tapi kemudian tidak berlanjut.

Di Malang ada sekitar 30.000 log jamur yang siap dipanen, setiap harinya bisa panen dua kuintal jamur tiram. Kalau jamur enoki masih kita impor dari Jepang dan Korea. Untuk kebutuhan toko hanya 70 kg, sisanya kita lempar ke pasar-pasar tradisional untuk dijual eceran,” katanya.

10 Gerai
Saat ini Mushroom Factory telah memiliki 10 gerai tersebar di mal-mal, dua diantaranya franchise yakni di WTC dan City of Tomorrow (Cito). Setiap harinya 500 bungkus bisa terjual. Per porsi ia jual Rp 15.000–16.000. Selain jamur, saat ini Nur Cholis juga mengembangkan kudapan brokoli dan bawang bombai.

Rupanya tak sia-sia Nur Cholis menjual sepeda motor GL-Pro dan kamera Nikon D40 sebagai modal usahanya. Buktinya kini ia bisa mendulang omzet sedikitnya Rp 25-30 juta per bulan.
“Beberapa gerai sudah BEP. Sisanya belum. Kalau yang franchise kita tawarkan hak patennya Rp 35 juta plus fee untuk perpanjangan lisensi per tahun nilainya 25 persen dari nilai investasi,” imbuhnya.
Tak ingin sukses sendirian, Nur Cholis pun menggandeng adik-adik kelasnya untuk mengikuti jejaknya. “Saya ajak mereka berwirausaha juga, salah satunya saya tawari frenchise yang Cito itu milik empat mahasiswa Unair,” katanya.

Sulung tiga bersaudara ini mengakui jika modal terbesar berwirausaha adalah nekad. “Modal uang bisa dicari kalau punya kemauan kuat dan nekad. Dulu saya beli satu unit deep fryer Rp 2,8 juta dan minyak goreng khusus yang memiliki titik didih sangat tinggi memakai kartu kredit. Saya rela buka account di beberapa bank untuk mendapatkan kredit dengan cara mudah,” sambungnya.

Ke depan, Cholis ingin mengembangkan usahanya dalam bentuk packaging food dan memperomosikannya lewat internet. “Sekarang saya sedang membuat website khusus. Nantinya saya mau bikin kudapan jamur ini dalam kemasan. Mau beli mesin pengeringnya dulu,” yakinnya.

Sukses yang dicapai Nur Cholis tak ada artinya tanpa konsumen. Rasa serta manfaat kesehatan yang didapatkan dari produknya menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Agustin Dwi Astuti, misalnya. Salah satu pelanggan Mushroom Factory ini mengaku kecanduan dengan kudapan ini sejak dua tahun silam.

“Suami saya yang memperkenalkan kudapan ini. Sekarang, tiap kali saya jalan-jalan ke mal pasti mampir untuk beli. Tidak cuma saya dan suami yang suka tapi adik-adik saya juga,” ujar wanita 28 tahun ini.

Penyuka rasa mushroom original ini mengaku berkali-kali mencoba resep yang sama namun hasilnya selalu saja berbeda. “Saya penasaran rasanya kok bisa crispy. Tapi pas bikin sendiri kok rasanya beda,” kata ibu satu anak asal Banyuwangi ini.
Menurutnya, porsi sebungkus dengan harga Rp 15.000 cukup terjangkau kalangan manapun. Tak heran jika kudapan ini selalu laris. “Dulu pas masih pacaran, suami selalu promosiin. Sekarang malah saya yang ketagihan,” imbuhnya.

Sadar Kesehatan
Pakar gizi FKM Unair Bambang Wirjatmadi menambahkan, jamur merupakan tanaman kaya serat dan protein. “Sudah lama jamur dijadikan makanan olahan terutama bagi kalangan vegetarian. Di Sleman makanan ini sangat familiar,” katanya.

Padahal, dulu tak banyak orang yang melirik tanaman ini. “Varian jamur sangat banyak. Hati-hati kalau memilih jenisnya, sebab hanya beberapa varian yang bisa dimakan,” ujarnya.

Bermunculannya para pelaku usaha yang menjadikan jamur sebagai bahan dasar, merupakan bentuk kesadaran tentang pentingnya kesehatan. “Masyarakat semakin bisa memilih mana tanaman yang berpotensi dijadikan makanan kaya gizi. Bahan baku jamur di Indonesia sangat melimpah, terutama di dataran tinggi. Budidayanya juga mudah. Saya yakin bisnis makanan dengan bahan dasar tanaman ini cukup prospektif,” jelasnya. (surya.co.id)

Kategori:Bisnis Kreatif

Pemesan Ukiran Harus Bawa Bahan Baku Sendiri

Desember 29, 2010 Tinggalkan komentar

Tidak ada rotan, akar pun jadi.

Pepatah ini sepertinya tepat digunakan untuk menggambarkan kreativitas perajin furnitur yang memanfaatkan akar kayu sebagai bahan baku utamanya. Ternyata, hasil kerajinannya memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibanding furnitur yang terbuat dari batang kayu.

Kerajinan ukiran kayu produksi Made Ardana, 49, boleh dibilang unik. Bahan bakunya terbuat dari akar kayu yang biasanya untuk kayu bakar. Oleh lelaki yang tinggal di Kelurahan Kepuharjo, Kecamatan Lumajang, Kabupaten Lumajang ini, akar kayu yang bentuknya tidak aturan itu diubah menjadi karya seni bernilai tinggi.

Ukir kayu bonggolan produk lelaki asal Banjar Trujuk Selatan, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan, Bali ini, sudah tidak dapat dihitung dengan jari. Hasil karyanya sudah tersebar mulai Jakarta, Surabaya, sebagian kota di Sumatra dan Kalimantan, hingga Indonesia Timur.

“Enggak, kami belum ekspor. Pembelinya masih orang sini,” aku Made, saat ditemui di ‘workshop’nya yang sederhana, pekan lalu.

Made Ardana menuturkan, untuk membentuk sebuah produk yang apik, dibutuhkan waktu agak lama dan harus memiliki keahlian khusus. Soal satu ini, pria yang hanya tamatan SD ini mengaku, telah mengasah keahliannya dengan malang melintang di Pulau Jawa dan Bali.

“Tapi, itu saja juga tidak cukup. Kunci utama, semua perajin ukir dituntut memiliki ketelatenan dan kesabaran,” ujar Made Ardana yang menikahi Ketut Maryati, dan telah memutuskan tinggal di Lumajang bersama dua anak mereka.

Kini, sehari-hari bersama empat karyawannya, ia menuangkan kepiawaiannya menyulap akar kayu di ‘workshop’-nya yang berupa bangunan sederhana dengan penyangga kayu dan beratap terpal plastik. Meski baru berkiprah enam bulan di kota pisang ini, karya ukir kayu bonggolannya telah terpajang di kediaman para pejabat dan pengusaha.

Dari sekian kerajinan yang dirampungkan, Made mengaku, bentuk dan ukirannya tidak dipengaruhi motif Bali. Menurutnya, dalam memola sebuah bonggol kayu, tergantung permintaan pemesan.

“Apa saja yang mereka pesan, ya kami garap. Kemarin ada yang pesan patung Ganesha dan sudah saya antar ke rumahnya. Kalau yang ini burung, anggota polisi yang memesan,” terang Made, yang mendapatkan modal awal usahanya dari menjual sepeda motornya.

Dalam menentukan pola akan digarap, Made mengatakan, harus mencari bonggolan yang bisa dibentuk sesuai permintaan pemesan. Jika mereka memesan sebuah burung, ia mencari bonggolan yang bentuknya mirip burung.

“Kami tidak pernah menambal sulam. Kalau memang kayunya seperti itu, ya kami kerjakan apa adanya. Motifnya kami sesuaikan dengan bentuk bahan bakunya, sekalipun besar dan panjangnya kurang,” jelas Made.

Dengan modal pas-pasan, Made mengaku, untuk bahan baku ia masih menggantungkan dari pemesan. “Uang darimana untuk kulak kayu. Ya pemesan yang membawa sendiri,” ungkapnya.

Hingga saat ini, ia belum memiliki keberanian menambah modal dengan meminjam uang dari bank. Bahkan, bantuan dari pihak Pemkab Lumajang pun belum pernah ia terima. “Pegawai pemkab pernah ke sini, nanya-nanya. Tapi, sampai sekarang saya belum dapat bantuan,” jelasnya.

Selain membuka usaha di depan tempat tinggalnya, ia juga mendirikan Sanggar Ukir yang diberi nama Layung Sari. Melalui sanggarnya, Made membuka pintu bagi siapa saja yang hendak mendalami kerajinan ukir.

“Monggo kalau ingin belajar, gratis kok. Saya akan memberikan semua kemampuan yang saya miliki. Kalau sudah mampu, ayo membuka usaha. Saya tidak takut mereka nanti akan menjadi pesaing. Rezeki itu sudah ada yang mengatur,” tutur Made, yang mengandalkan fasilitas internet untuk pemasarannya berkat bantuan rekannya Bambang Sukamto, guru SMP Sukodono.

Sayangnya, karya yang dihasilkan Sanggar Layung Sari ini tidak dapat dinikmati kalangan ekonomi menengah ke bawah, karena harganya relatif mahal. Untuk sebuah karya, Made mematok paling rendah kisaran Rp 4 juta. “Tergantung mas, minim Rp 4 juta. Kemarin, saya menggarap patung Ganesa harganya Rp 50 juta,” pungkas Made. (surya.co.is)

Kategori:Bisnis Kreatif
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.